Zainna Keisha Nugraha, seorang Mahasiswi kampus ternama di Jakarta harus menerima pernikahannya dengan seorang Profesor yang merupakan salah satu dosennya yang berstatus sebagai duda beranak satu. Inna menerima pernikahan ini karena sudah terlanjur sayang pada Putri kecil yang sangat manis dengan nasib yang sama dengannya yaitu ditinggalkan oleh ibu kandungnya. Namun Inna juga harus menelan pahit bahwa suaminya masih sangat mencintai istri pertamanya dan sangat sulit untuk Inna dapat menggantikannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon desih nurani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Puluh Tujuh
"Kenapa kamu tidak mendengarkan perkataanku, Inna? Apa sangat sulit menuruti perintah suamimu ini huh?" Samuel semakin menghimpit Inna di dinding. Membuat Inna tak mampu bergerak.
"Inna bosan di rumah." jawab Inna ketus seraya memalingkan wajahnya.
Samuel kesal, lalu menarik dagu Inna agar kembali menatapnya. Namun, Inna masih enggan untuk menatapnya.
"Tatap aku Inna." Perintah Samuel mulai geram. Lalu Inna pun memberikan tatapan tajam. Samuel menatap dalam netra istrinya, mencari sebuah jawaban atas sikap aneh istrinya.
"Lepasin Mas, jika orang lain melihat kita, mereka akan berpikir yang bukan-bukan." Desis Inna kesal dengan apa yang Samuel lakukan padanya. Bahkan ia tahu, tempat ini sangat jarang di lalui orang. Ia juga tidak peduli jika orang lain melihat, toh Samuel suaminya. Justru ia senang jika orang lain melihatnya, agar mereka tahu Samuel adalah miliknya. Tetapi saat ini Inna masih kesal pada Samuel. Kenapa lelaki itu tak pernah jujur sekali saja?
"Jangan perdulikan orang lain. Kenapa kamu tidak mendengarkan ucapan suami kamu ini Inna. Apa aku kurang tegas huh?" Samuel menekan setiap perkataannya.
Inna kembali memalingkan wajahnya. Dadanya terlihat naik turun karena emosi. Inna sendiri bingung, kenapa ia sangat marah pada Samuel hanya karena mendapat panggilan dari Yola. Apa mungkin Inna sedang cemburu?
"Tatap aku Inna." Pinta Samuel dengan nada dingin. Inna langsung melayangkan tatapan tak suka. Ia tak suka jika Samuel berbicara dingin padanya.
"Lepaskan aku Mas, aku mau ke toilet." Inna mencoba melepaskan diri dari Samuel. Tetapi Samuel tak berniat melepaskannya dengan mudah.
"Kamu masih sakit Inna," ucap Samuel seraya menyantuh bibir seksi istrinya.
"Pergi saja dengan wanita itu, jangan pedulikan istrimu, Mas." Kesal Inna memukul dada Samuel.
Dan akhirnya Samuel mengerti. Ternyata dugaannya benar, istrinya saat ini sedang cemburu karena panggilan pagi tadi. Tentu saja Samuel tahu, karena ia melihat riwayat panggilan di ponselnya. Samuel tersenyum bahagia. Istrinya terlihat menggemaskan saat sedang cemburu.
"Aku ingin menciummu saat seperti ini, Sayang." Bisik Samuel dengan tatapan tertuju pada bibir menggoda istrinya. Inna yang mendengar itu mendengus kesal. Samuel tersenyum penuh arti, kemudian langsung menerkam bibir istrinya dengan buas. Inna sama sekali tak menolak atau membalas.
"Ups... Sorry." Kaget Dita yang tiba-tiba muncul. Sebenarnya Dita menyusul Inna karena sedari tadi sahabatnya itu tak kunjung kembali. Ia takut terjadi sesuatu padanya, tetapi ia tidak menyangka jika matanya harus melihat adegan mesra antara Inna dan Samuel.
Samuel mengerang geram karena Dita sudah menganggu kesenangannya.
"Sebaiknya kalian bermesraan jangan di tempat umum dong. Kasian kalu ada orang jomblo yang lihat. Anda juga Prof. sebaiknya bawa Inna bulan madu. Jadi kalian bisa bermesraan dengan bebas. Di sini terlalu terbuka untuk membuat adegan dewasa." Ujar Dita sebelum melesat pergi. Ia tak ingin lebih dulu mendapatkan skor dari Samuel.
Inna menatap Samuel tajam. Lelaki itu masih bergeming. Dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Siang nanti Mas tunggu kamu di parkiran." Ujar Samuel sebelum meninggalkan istrinya yang masih terdiam.
Setelah kepergian suaminya, Inna kembali melanjutkan niatnya untuk ke toilet. Dan setelah itu ikut bergabung dengan kedua sahabatnya.
"Kok lama banget sih Na?" tanya Juju yang kini tengah makan kentang goreng.
"Maklum ada pangeran tadi di toilet." Sahut Dita yang berhasil membuat Inna melotot.
"Serius lo Ta? Ada pangeran di toilet?" tanya Juju memasang wajah penasaran.
"Ada dong, pangeran kodok." Jawab Dita yang langsung tergelak. Inna yang melihat itu mendengus kesal dan langsung duduk di sebelah Juju.
"Ih Dita... selalu deh ngerjain gw." rangek Juju sambil mengerucutka bibirnya.
"Cih... Lo aja yang gampang banget diboongin." Kesal Dita sambil menjulurkan lidahnya. Lalu menatap Inna yang entah kapan melamun.
"Woi... Kenpa Lo? Baru aja mesra-mesraan udah ngelamun aja. Sorry deh, tadi gw ganggu lo. Lagian kalian mau mesra-mesraan di kampus." Ujar Dita yang berhasil menarik perhatian semua mahasiswa di kantin. Secara, sejak Inna menikah dengan Samuel, gosip tentang mereka menjadi santapan hangat di kampus. Siapa sih yang tidak mau menikah dengan Profesor setampan Samuel? Hot Daddy yang selalu menjadi incaran cewek kampus.
Inna langsung melayangkan tatapan tajam pada Dita. Pasalnya ia sangat malu ketika semua orang mulai berbisik dan menatapnya.
"Dita... Lo bisa gak sih kalau ngomong disaring dulu." Kesal Inna.
"Sorry gw keceplosan." Jawab Dita sambil cengengesan. Inna hanya memutar kedua bola matanya jengah. Benar-benar tidak habis pikir bisa mendapatkan sahabat yang aneh seperti Dita.
***
Tepat pukul dua belas lewat lima belas menit, Inna langsung menuju parkiran khusus dosen. Benar saja, disana Samuel sudah menunggunya sambil bersandar dimobil. Melihat kedatangan istrinya, Samuel mengangkat tangan untuk melihat arloji.
"Telat lima belas menit." Ucap Samuel menatap Inna lekat.
"Ada apa Mas nyuruh Inna ke sini?" tanya Inna to the point.
"Masuk dulu ke mobil, setelah itu kita bicara." Perintah Samuel.
Tidak ingin membuang waktu, Inna langsung menuruti perintah suaminya. Samuel tersenyum penuh arti. Lalu mengikuti jejak istrinya masuk ke dalam mobil. Samuel melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Mas kita mau ke mana? Tadi katanya mau bicara, mobil Inna masih dikampus dari kemarin." Curiga Inna karena sudah lima belas menit Samuel belum bicara apa pun.
"Jadi kamu lebih mementingkan mobil dari pada suami kamu huh?" tanya Samuel sambil tersenyum tipis.
"Ck, terserah Mas aja deh." Kesal Inna memalingkan wajahnya ke luar jendela. Samuel yang melihat itu cuma bisa tersenyum. Ia tahu saat ini istrinya masih merajuk.
Lima belas menit berlalu, mobil yang mereka kendarai memasuki sebuah restoran terkenal di Jakarta. Restoran milik keluarga Willson tentunya.
"Kenapa kita ke sini?" tanya Inna penuh curiga.
"Kamu terlalu cerewet," sahut Samuel yang kemudian meminta Inna untuk turun. Lalu mereka pun memasuki restoran yang dipenuhi oleh pengunjung.
Di meja paling sudut terlihat seorang wanita cantik melambaikan tangannya kearah Inna dan Samuel. Lalu keduanya pun menghampiri orang itu. Inna sempat kaget saat melihat wajah wanita itu. Tetapi ia kembali menormalkan ekspresinya saat Samuel menatapnya dan memintanya untuk duduk.
"Sorry terlambat." Ucap Samuel pada wanita itu dan ia pun ikut duduk di sebelah istrinya.
"Tidak apa apa El." Wanita itu memberikan senyuman tulus pada Samuel. Lalu pandangannya teralih pada Inna.
"Hai Sayang, kita ketemu lagi." Sapa wanita itu pada Inna. Ya, wanita itu adalah orang Inna tabrak kampus kemarin.
Inna langsung memberikan tatapan penuh tanda tanya pada suaminya.
"Mas akan jelaskan." Ucap Samuel seakan mengerti dengan tatapan istrinya. Lalu Inna kembali mengalihkan pandangan pada wanita itu.
"Perkenalkan, Yolanda Ariana Putri. Kamu bisa memangilnya Yola. Kami sudah bersahabat selama 10 tahun. Dan Yola, kenalkan ini istriku, Zainna Keisha Willson." Ujar Samuel memperkenalkan keduanya. Inna tampak kaget mendengarnya. Ia tidak pernah tahu jika wanita dihadapannya ini adalah sahabat Samuel. Bahkan ia sudah berburuk sangka pada sauminya dan wanita ini. Inna merasa bersalah.
"Hai Inna, aku sudah mendengar tentang kamu dari El. Dia sudah menceritakan semuanya dan aku benar-benar bahagia bisa langsung bertemu kamu. Ah, sebenarnya sejak kemarin kita sudah bertemu. Hanya saja suami kamu sama sekali tidak mengatakannya. Bahkan sikap kalian kemarin sama sekali tak memperlihatkan pasangan suami istri. Oh iya, aku juga minta maaf sudah membuat kesalahpahaman di antara kalian soal telpon tadi pagi." Jelas Yola panjang lebar. Membuat Inna semakin merasa bersalah.
Inna mengigit bibirnya, ia bingung harus berkata apa. Ia benar-benar sudah salah paham. Samuel melirik Inna yang masih terdiam.
"Bagaimana? Jadi kamu masih akan terus mengabaikan aku setelah mendapatkan penjelasan dari Yola huh?" tanya Samuel menatap Inna dengan senyuman khasnya. Inna yang melihat itu langsung menggengam tangan Samuel.
"Mas, Inna minta maaf. Inna memang salah karena cemburu tanpa tahu yang sebenarnya." Kata Inna penuh penyesalan. Samuel tersenyum mendengarnya, ia juga mengusap punggung tangan istrinya dengan lembut. Lalu tatapan Inna pun tertuju pada Yola.
"Mbak, Inna minta maaf. Inna sudah berburuk sangka sama Mbak. Inna mengira... Mbak itu selingkuhan Mas El. Sekali lagi Inna minta maaf," ucap Inna dengan tulus.
Yola tertawa renyah mendengar pengakuan Inna. Untuk pertama kalinya seseorang mengatakan dirinya sebagai selingkuhan. "Ah, ini benar-benar lucu. Di mana kamu dapat istri yang menggemaskan seperti ini El?"
"Entahlah, aku menemukannya di jalan." Gurau Samuel yang berhasil mendapat cubitan dari Inna. Yola yang melihat itu tersenyum manis.
"Aku sangat iri, kalian terlihat sangat serasi." Kata Yola menatap Inna dan Samuel bergantian.
"Cepatlah mencari pasangan, mau sampai kapan kamu sendiri Yola? Kamu seorang dokter, pasti banyak yang mengantri." Ujar Samuel. Yola yang mendengar itu cuma tersenyum simpul.
"Mbak Yola seorang dokter?" tanya Inna tak percaya.
"Iya, lebih tepatnya dokter kandungan dan anak. Apa aku tidak terlihat seperti dokter?" tanya Yola saat mendengar pertanyaan Inna.
"Bukan seperti itu, Mbak. Mbak lebih mirip seperti seorang model, sangat cantik." Jelas Inna tak ingin membuat Yola salah paham. Benar adanya, Yola memang lebih mirip seperti seorang model. Karena tubuhnya yang tinggi semampai dengan warna kulit eksotis. Sangat proporsional untuk menjadi seorang model.
"Itu cita-citaku dulu, tapi takdir berkata lain. Sekarang aku menjadi seorang dokter." Ujar Yola sambil menaikkan kedua bahunya.
"Menjadi dokter itu sangat mulia Mbak, bisa membantu banyak orang."
"Kamu benar." Kata Yola. Inna tersenyum ramah sambil terus memperhatikan Yola. Ia mengagumi wanita itu.
"Oh iya El, aku hampir lupa. Bagaimana kabar Elya? Pasti dia sudah besar kan? Oh ya ampun, pasti pipinya semakin cubby." Ujar Yola sambil membayangkan wajah menggemaskan Elya.
"Dia sehat, dan sekarang sudah besar. Ditambah adanya Inna, pipinya semakin bulat seperti bakpau." Sahut Samuel seraya mengusap punggung Inna.
Tak lama hidangan makan siang pun sampai. Mereka menjeda obrolan sejenak.
"Mbak Yola kenapa gak datang sih pas kami menikah?" tanya Inna penasaran.
"Owh... waktu itu Mbak dapat tugas dari rumah sakit dan tidak bisa ditinggal. Jadi Mbak tidak bisa datang. Apa El tidak cerita tentang itu?" Yola melempar pandangan pada Samuel.
Inna menggelengakan kepalanya. Karena Samuel memang tidak mengatakan apa pun. Bahkan hubungan mereka baru membaik malam tadi.
"Tega sekali kamu El, bahkan kamu tidak menceritakan tentang aku pada istrimu. Aku sangat kecewa El." Kata Yola yang berpura-pura merajuk.
"Aku kira itu bukan hal penting." Ujar Samuel dengan santai.
"Kamu lihat Inna? Seberapa menyebalkannya suami kamu itu. Huh, entah kenapa aku bisa mendapatkan sahabat sepertinya?" Geram Yola yang disambut tawa oleh Samuel. Sedangkan Inna cuma tersenyum ramah. Inna menyukai sifat Yola yang ramah dan humble. Membuat rasa bersalahnya pada wanita itu samakin besar.
"Mbak, sekali lagi Inna minta maaf sudah berprasangka buruk terhadap Mbak Yola." Ucap Inna menatap Yola penuh harap. Ia ingin hubunganya ke depan dengan Yola jauh lebih baik.
"It's ok, honey. Jika aku di posisi kamu, aku juga akan melakukan hal yang sama pastinya. Ditambah lagi suami kamu ini sedikit menyebalkan. Jangan pikirkan hal itu lagi, ok?" Yola mengenggam tangan Inna. Lalu keduanya pun tertawa renyah.
Setelah mengobrol panjang, mereka melanjutkan dengan makan bersama. Yang diselingi canda dan tawa. Hingga tak menyadari ada seseorang yang menatap mereka dengan penuh kebencian.
"Awas saja, aku akan segera menghilangkan senyumanmu Inna." Ucap orang itu sebelum pergi meninggalkan restoran.
ceritanya keren,bagus
dan mantap
sukses
semangat
mksh
Ini kata Jidan pada Samuel
"Lepaskan dia kalau lo tdk bisa balas cintanya, karena gue yang akan mencintai dia, biarin dia bahagia, sudah cukup selama ini dia menderita"
Tau tidak Jidan itu kekasihnya didi dan di episode 28 dia melamar didi. Ini keistimewaan pebinor di novel2 egois, apapun kelakuannya selalu dibenarkan,
Kenapa novel harus egois dan tidak adil, pelakor dilakanat dibuat hina dan dihancurkan sedangkan pebinor begitu dipuja2, diistimewakan, dispesialkan, apapun salahnya selalu dibenarkan
Simple pertanyaan untuk author
Jika suami atau kekasihmu sangat perhatian dan membela mati matian istri orang lain, dan suami mengatakan seperti Jidan katakan pada samuel, (ini kata Jidan pada samuel "Lepaskan dia kalau lo tdk bisa balas cintanya, karena gue yang akan mencintai dia, biarin dia bahagia, sudah cukup selama ini dia menderita"). Apa kau akan bilang suamiku hebat karena perhatian dan mau merebut istri orang dan mencintai istri orang ituu