Pada 2 dimensi waktu yang berbeda, 2 gadis sedang terpana pd takdirnya masing masing. Serasa mimpi yang melintasi waktu, apa yang mereka alami seperti siklus kejadian yang sama untuk dilakoni.
Menjalani takdir cinta untuk kebaikan keluarga.
Melepas keinginan hati untuk mencintai belahan jiwa.
Tapi memgapa rasa takdir itu semakin menunjukkan keserakahannya.
Apakah 1 belahan hati tidak memuaskanmu, wahai takdirku ?
Tidakkah kamu tau, jika rasa yang terlalu banyak akan menghancurkan jiwaku ?
Membusuk oleh beratnya amarah dendamku.
Aku tak tau.
dan biarkanlah aku menjadi diriku.
Drupadi dan Drew Araceli.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AntiSmg, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KONSULTASI
" Ma, Drew sudah sadar. " kata Nakula memberitahu kami dari pintu kamar tamu.
" Sa, tolong mintalah teh hangat pada bi Iyah. Atau kamu yang bikin sendiri, kalau dia sudah tidur. "
Kami bergegas masuk kamar tamu dan mendapati Drew duduk menangis di atas ranjang.
" Maaf merepotkan keluarga Dr. Kunti lagi. " katanya sambil terisak.
Naluri keibuan Kunti tersentuh dan segera memeluk gadis itu, membiarkannya melepas kebingungan hatinya.
" Apa yang kamu rasakan saat ini Nak ? Sebenarnya ibu ingin berbicara denganmu panjang lebar. Tapi hanya jika Drew sudah sehat. Oke ? "
" Saya kenapa Dok ? Tadi terasa badan saya kosong dan mendadak saya tidak bisa menguasai diri saya sendiri. Saya tidak bisa berpikir, tidak bisa bicara dan menggerakkan tubuh." jelas Drew sambil terus terisak.
Mungil, aku sedih melihatmu seperti ini.- batin Bima ikut terisak.
Selang beberapa waktu, Sadewa masuk membawa teko dan beberapa gelas untuk kami semua.
" Sudah..sudah..Mari kita minum teh hangat bersama karena Drew sudah siuman. " Keriangan Sadewa muncul di saat yang sangat dibutuhkan.
" Betul..betul..
Mari kita minum supaya bisa rileks dan berpikir jernih. "
Yudhis segera mengambil 2 gelas dan memberikan pada Mamanya dan Drew.
" Ambil sendiri sendiri ya..Drew, kamu butuh obat sakit kepalakah ? " tanya Sadewa pada Drew yang masih memegang gelasnya.
" Kalo boleh saya minta 1 buah.
Dan tidak usah minum penenang ya Dok. Saya ingin bisa berpikir jernih. " kata Drew sambil meminta persetujuan Dr Kunti.
" Justru Drew harus minum lagi walau hanya setengah dosis. Supaya malam ini kamu bisa istirahat sehingga besok badanmu lebih fresh. Karena ibu ingin Drew ketemu 2 orang yang akan membantumu memahami kejadian pingsan ini. " kata Dr. Kunti kemudian.
" Kalau dokter Kunti bilang seperti itu, baiklah saya menurut ".
Sadewa segera menyerahkan 2 butir obat pada Arjuna untuk diminumkan pada Drew.
" Minumlah 2 obat ini sayang, supaya bisa segera sehat ." ujar Arjuna lembut.
Drew mengangguk dan obat tersebut segera diminumnya dalam beberapa teguk.
" Kalian keluarlah semua. Mama mau bicara sedikit dengan Drew , supaya dia tidak khawatir dan bisa istirahat. "
Tanpa bersuara kamipun segera keluar dan duduk di sofa besar.
Juna berjalan paling ahkir, sekilas dia mencium kening Drew untuk memberi support pada gadis itu.
Setelah 1 jam lebih berlalu, Dr. Kunti terlihat keluar kamar tamu.
" Drew sudah tertidur lelap, efek dari obat yang diminumnya. Jadi kalian beristirahatlah."
Sadewa dan Nakula, besok bangunlah pagi pagi dan jemput eyang di rumahnya. Malam ini Mama akan menelepon beliau ".
" Bima dan Arjuna, kalian tidurlah menemani Drew. Dan karena di dalam hanya ada 1 sofa panjang, ambillah 1 kasur lipat lagi supaya kalian bisa tidur nyenyak ".
" Yudhis, tidurlah di kamar Mama untuk melanjutkan pembicaraan kita. "
Kami semua segera masuk kamar sesuai instruksi Mama, karena malam memang sudah larut.
DREW
Saat kuterbangun, di dalam kamar masih gelap, tapi kurasa sudah pagi karena samar samar terdengar suara azan subuh dari masjid terdekat.
Kutengok jam di tangan kiriku untuk memastikannya.
Masih jam 4 lebih dan aku ingin ke toilet.
Saat menutup pintu toilet, membias sinar lampu dari kamar mandi sehingga aku bisa melihat Mas Bima dan Mas Arjuna masih tertidur di sofa dan feltbed, menemaniku sepanjang malam.
Mendengar dengkuran mereka yang bersahut sahutan, kutau diriku baik baik saja.
Terimakasih atas kebaikan kalian. - batinku terharu.
Merenungkan kembali penjelasan Dr. Kunti semalam, aku baru tau jika selama beberapa waktu, saat tubuhku terasa kosong ada jiwa lain yang mengambil alih kesadaranku.
Hatiku sangat tidak nyaman atas hal itu.
Ada rasa marah sekaligus tidak berdaya yang membuat hati sedih sekaligus frustasi.
Apa yang dia lakukan saat meminjam tubuhku ?
Bagaimana jika yang dia lakukan adalah hal hal buruk ?
Apakah aku benar mempunyai kepribadian ganda ?
Bagaimana menghentikannya ?
Dan banyak sekali pertanyaan dan kekuatiran yang berseliweran di kepalaku.
Kuingin segera pagi sehingga aku bisa bertemu Dr. Abhiyasa dan Eyang Mas Juna.
Saat sulit dan menakutkan seperti ini, kujadi ingin lebih khusuk berdoa, berterimakasih atas pertolonganNya melalui keluarga Dr. Kunti sekaligus memohon kekuatan untuk menjalani kesulitan ini.
Tanpa terasa aku menangis dalam kekhusukan doa hingga sinar matahari membias ke dalam kamar dan menyinari wajahku yang menghadap ke jendela.
Namun saat membuka mata, kulihat mas Bima dan Mas Juna memandangku dengan rasa waswas.
" Jangan khawatir, aku hanya berdoa. Ternyata sudah pagi ." Kataku sambil tersenyum menenangkan mereka berdua.
Dan mereka memelukku erat.
" Terimakasih Mas Bima..mas Juna.." kataku sambil berusaha supaya air mataku tidak tumpah lagi.
Setelah beberapa menit dalam keheningan, kulepaskan diri dari tangan mereka.
" Aku ingin mandi supaya wangi. Apakah kalian ingin menjagaku di dalam juga ? " kataku mencoba bercanda.
" Aku mau.." Kata mas Juna dan bergegas masuk kamar mandi.
Saat melihatku diam saja, kepalanya muncul lagi di pintu.
" Jadi nggak ? " tanya mas Juna kepadaku.
" Nggak bisa. Tanganku dipegang mas Bima ! " kataku mendadak menggenggam tangan mas Bima, pura pura dipegangnya.
Dan dengan suara beratnya di menoleh lembut ke arahku.
" Jangan macam macam !
Ntar pingsan lagi gimana ? " kata mas Bima dengan candanya yang garing.
Dan kamipun tertawa bersama.
ARJUNA
Betapa kagetnya aku saat mendengar suara isakan lirih yang berasal darimu yang sedang duduk di atas ranjang menghadap jendela kamar.
Kubangunkan mas Bima sebelum berjalan cepat ke arahmu.
Ternyata kamu sedang berdoa.
Kupandang wajah cantikmu yang menyiratkan kecemasan. Ingin segera kupeluk dirimu dan mengatakan bahwa semua akan baik baik saja.
Namun hatiku menjadi lebih cair saat melihatmu sudah menemukan keceriaanmu kembali dengan mengajak kami mandi.
Ahh.
Seandainya mas Bima tidak ada, aku akan di dalam menjaga mandimu.
Hahaha..Maksud kamu apa ? Piktor mulu isi kepalamu Jun...teriak batinku ceria.
***
DREW
Setelah sarapan, seluruh keluarga kecuali Dr. Nakula dan Sadewa, duduk di sofa besar sambil menunggu kedatangan Dr. Abhiyasa, psikiater sahabat Dr Kunti.
" Drew.. saat Dr Abhi memeriksamu, rileks dan jawablah pertanyaan pertanyaan nya dengan jujur. Karena dari diagnosa yang tepat, keputusan tindakan berikutnya akan lebih maksimal. " Kata Dr. Kunti sambil
menggenggam tanganku.
Dan aku mengangguk perlahan, karena akupun ingin mengetahui kebenarannya.
" Dr. Kunti, menurut dokter apakah sebaiknya saya menghubungi Mama dan kakak ? " tanyaku meminta pendapat beliau.
" Jangan dulu Drew. Setelah semua jelas, kamu bisa menghubungi mereka.".
Aku memahami kecemasan Dr. Kunti. Karena jika Mama tahu hal ini. keputusan Mama bisa jadi justru kontraproduktif terhadap penyelesaian masalah yang rasanya belum terbuka semua.
Tak berapa lama, mobil Dr. Abhiyasa memasuki halaman depan dan segera disambut oleh Dr. Kunti.
Tampak mereka berbincang intens sebelum masuk ke dalam rumah.
" Yang mana nih pasien cantiknya ? " kata Dr Abhi menyapaku dan berusaha menjalin hubungan.
Dan aku tersenyum mendekatinya, supaya saat konsultasi nanti sudah terjalin engagement pada beliau.
" Aduh. Sudah pada sarapan ya. Om Abhi ketinggalan nih, semoga Drew tidak ketiduran saat konseling nanti. " katanya lagi sambil mengerling padaku dengan sudut matanya.
Dr. Abhi seorang spesialis kejiwaan bertubuh gempal dengan senyum yang selalu tersungging di bibirnya. Kerutan di sekitar mata dan garis senyum, tampak lebih tajam dibanding area yang lain.
Dan kacamata bulatnya semakin menonjolkan pribadinya yang ceria.
Rasanya aku akan mudah melewati sesi ini.
" Mas Abhi pakai kamar tamu saja sebagai tempat konseling ". kata Dr. Kunti sambil mengarahkan Dr. Abhi dan aku mengekor di belakang mereka setelah melempar senyum kecil pada mas Juna yang berdiri di dekat pintu.