Cherly Aurora, seorang wanita yang sederhana tapi cantik yang menikahi pria misterius bertopeng. Dia dipaksa menikah oleh ayah dan ibu tirinya karna kesalahan besar yang dilakukan oleh adik tirinya. Adik tiri Cherly menabrak lari seorang wanita yang ternyata istri dari Gino Alexander, Presdir Group R.K.
Gino Alexander, seorang pria tampan yang ingin balas dendam atas kematian istrinya Selena yang sangat ia cintai. Dia terpaksa menikah hanya untuk membalas dendam, dan dia menyembunyikan wajahnya dibalik topeng tidak ingin identitasnya diketahui oleh Cherly dan keluarganya.
Kontrak pernikahan 5 tahun yang ditandatangani Cherly berdampak buruk, ia harus menuruti segala sesuatu yang diinginkan Gino.
Pernikahan mereka tanpa cinta, tapi bisakah benci berubah menjadi cinta?
Simak yuk ceritanya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Aquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terkilir
Cherly mengikuti langkah Mr.A yang begitu cepat berjalan karna kakinya yang jenjang.
"Bisa pelan~pelan dikit kek..." Gumam Cherly kesal.
Akibat berusaha mengejar langkah Mr.A, Cherly sedikit tersandung dan itu membuatnya terjatuh.
"Aaahhh... " Teriak Cherly kesakitan.
Gino langsung menoleh ke asal suara teriakan itu, dilihatnya Cherly sudah duduk di lantai dengan tangan memegang kaki yang terkilir.
"Ada apa?" Tanya Gino mempercepat langkahnya menuju Cherly.
"Hmmm... Kamiku kayaknya terkilir," Jawab Cherly berusaha menahan sakit.
Saat Cherly berusaha berdiri, Gino menhalangi dan langsung menggendong Cherly.
"Ehhh..." Ucap Cherly kebingungan.
"Katanya kakimu sakit? yaudah aku turungkan lagi." Tanya Gino berusaha meletakkan Cherly kelantai namun Cherly langsung angkat bicara.
"Ehhh... Bukan, maksudku kakiku memang sakit. Aku hanya sedikit kebingungan, ternyata sifat seorang Mr.A bisa lembut seperti ini." Jawab Cherly berusaha akrab.
"Itu sebuah pujian atau sebuah sindiran?." Tanya Gino Sinis.
"Maaf... Mungkin saya salah bicara." Jawab Cherly sedikit menyesal.
"Wahhh... Ternyata dia terlihat putih dari dekat, bentuk bibirnya seperti bibir seorang wanita. Aku jadi sangat penasaran dengan wajahnya di balik topeng, apakah dia sangat tampan? Hmmmm... Leharnya panjang terlihat seksi, ternyata dia dari dekat sungguh menggiurkan." Batin Cherly sedang mengamati Gino.
"Ada apa menatapku?." Tanya Gino dengan wajah datar.
"Ah.. Tidak... Aku hanya... Sedikit melamun karna kakiku sangat sakit." Jawab Cherly berusaha mencari alasan.
Gino menggendong Cherly menuju kamar.
"Kok balik lagi?." Tanya Cherly kebingungan.
"Aku tidak ingin orang pincang yang membuatkanku sarapan, itu kelamaan. Waktuku sangat berharga." Jawab Gino dingin.
"Kamu tidak usah turun ke bawah, aku makan diluar ajha." Ucap Gino lagi~lagi dengan ekspresi dingin.
"Bagaimana denganku? jika kau melarangku turun, bagaimana aku bisa sarapan?." Tanya Cherly mengerutkan dahi.
"Kamu nggak usah makan." Celetuk Gino meletakkan Cherly di ranjang.
"Haahhh... Dengan santainya dia mengatakan nggak usah makan?" Batin Cherly kesal.
"Ihhh... Dasar makhluk nggak punya hati!." Batin Cherly kesal.
Gino sudah pergi, dan Cherly masih berbaring di ranjang.
"Ihhh... Aku bosan... Dia melarangku turun, apa aku harus melamun meratapi kakiku yang sakit? Ihhh... Dasar Coco yang menyebalkan!" Teriak Cherly dengan kesal.
Kruyuk... Kruyuk... Kruyuk...
"Aku lapar lagi, cacing~cacing di perutku berdemo meminta makanan." Gumam Cherly kesal.
***
Gino berjalan menuju nenek yang dari tadi mengepel lantai.
"Nek... kalau nenek capek istirahatlah sejenak, jangan paksakan diri." Ucap Gino lirih.
"Tuan muda, ini sudah pekerjaan saya." Jawab nenek sopan.
"Nek... apa aku boleh minta tolong?" Tanya Gino dengan ekspresi dingin.
"Ya tuan muda... Apa yang bisa saya bantu." Jawab nenek dengan sebuah pertanyaan.
"Nek... Kaki Cherly terkilir, setelah aku pergi, panggil dokter yah tapi nenek jangan beri tahu Cherly bahwa aku yang memberi tahu nenek. Begini saja, nenek buatkan sarapan untuk Cherly dan pura~pura tidak tahu bahwa kaki Cherly terkilir, nenek pura~pura saja memegang kakinya yang keseleo jika Cherly bereaksi kesakitan, nenek panggilkan dokter dengan alasan itu." Jelas Gino membuat Nenek kebingungan.
"Baik tuan muda" Balas nenek dengan mengangguk.
"Wahhh... Tuan muda perhatian sekali sama nona... Apa mereka udah saling suka?" Batin nenek dan tersenyum.
Gino yang melihat senyum nenek langsung mengerti dan angkat bicara.
"Nenek jangan berpikir aku tertarik dengan wanita itu, aku hanya tidak ingin dia mati dengan cepat karna aku belum puas menyiksanya." Ucap Gino dingin.
Nenek hanya mengangguk, namun sebenarnya hatinya merasa bahagia. Tuan muda yang selama ini ia rawat dari kecil sudah menemukan istri pengganti selena yang layak.
Gino berjalan keluar rumah dan menyuruh sopir pribadinya mengantarnya ke kantor.
***
Sedangkan nenek memasak makanan untuk Cherly dan mengantarnya ke kamar Cherly.
Tok... Tok... Tok...
"Masuk..." Suara teriakan dalam kamar.
Nenek membuka pintu kamar Cherly, membawa sebuah nampan berisikan makanan.
"Nona belum sarapan jadi saya membuatkan makanan untuk nona." Ucap nenek sembari meletakkan nampan ke meja dekat ranjang.
"Wahhh... Makasih yah nek." Jawab Cherly tersenyum manis.
"Apa nona baik~baik saja?" Tanya nenek pura~pura tidak tahu.
"Iya... Emangnya kenapa?" Tanya Cherly kebingungan.
"Ohhh... Nggak apa~apa!" Jawab nenek menggelengkan kepala.
Nenek berusaha mencari alasan agar menelpon dokter.
"Kata tuan muda aku harus menyentuh kaki nona." Gumam nenek.
"Oh... aku pura~pura jatuh aja, lagi pula aku udah tua jalan sudah lambat kayak siput." Gumam nenek tersenyum dengan ide briliannya.
Nenek berjalan dan pura~pura terjatuh dan menyentuh kaki Cherly, namun itu tidak memberi reaksi pada Cherly.
"Nenek... apa nenek baik~baik saja? apa ada yang sakit?" Tanya Cherly berusaha menggapai nenek.
"Kok nona nggak kesakitan saat aku menyentuh kakinya. Apa karna aku menyentuh kaki yang salah? tadi aku menyentuh kaki kanannya, apa yang sakit kaki kiri?" Batin nenek kebingungan.
"Ohhh... saya baik~baik saja nona." Ucap nenek berusaha berdiri.
"Bagaimana kalau nenek memanggil dokter? lagi pula lutut nenek pasti sakit gara~gara terjatuh tadikan." Tanya Cherly berusaha meyakinkan nenek.
"Saya benar~benar nggak apa~apa nona." Jawab nenek menggelengkan kepala.
"Nona yang sakit... kok aku yang akan dipanggilkan dokter!" Batin nenek.
"Nggak nek... pokoknya nenek harus panggil dokter sekarang, untuk memastikan lutut nenek baik~baik saja." Ucap Cherly meyakinkan nenek.
"Baiklah." Nenek hanya mengangguk mengiyakan, lebih memilih mengalah dengan Cherly.
Nenek berjalan keluar kamar, untuk menelpon dokter.
"Pokoknya nona yang harus diperiksa." Gumam nenek dengan ambisi dihatinya.
Cherly masih duduk di ranjang mengamati kakinya.
"Untung nenek terjatuh tadi, jadi aku punya alasan untuk menelpon dokter. Tapi kasihan nenek, pasti lututnya sakit, lagi pula dokter akan datang untuk memeriksa nenek, sekaligus memeriksaku." Gumam Cherly tersenyum.
"Ini semua gara~gara Si Coco itu, masa... udah tahu kakiku terkilir, malah mengabaikanku. Memang aku tidak boleh berharap kepadanya, dia bahkan tidak mengobati lukaku. Dan masih untung nenek membawakanku sarapan."Gumam Cherly kesal.
"Dia benar~benar menginginkanku mati dengan sangat menyedihkan." Lanjut Cherly.
Cherly menoleh ke meja tempat nenek meletakkan nampan tadi.
"Aku lapar... aku makan dulu deh." Batin Cherly menggapai nampan yang ada di meja.
Setelah makan, kebetulan dokter sudah datang dan masuk ke dalam kamar Cherly bersama nenek.
"Loh... nenek udah diperiksa dok?" Tanya Cherly kebingungan.
"Nenek bilang... yang sakit adalah anda." Jawab dokter ikut kebingungan.
Nenek langsung angkat bicara.
"Ehhh... dokter... silahkan diperiksa, Kaki nona tadi terkilir." Ucap nenek mempersilahkan dokter memeriksa Cherly.
"Nenek tahu aku terkilir? mungkin tadi dia melihatku terjatuh." Batin Cherly.
Dokter memeriksa luka Cherly dan mengatakan sakitnya tidak parah, dan memberi salep ke Cherly untuk mengobatinya supaya tidak bengkak.
"Ini nggak apa~apa kok." Ucap dokter mengemasi perlengkapan medisnya.
Dokter pamit undur diri dan Cherly menatap ke arah nenek penuh dengan tanda tanya.
"Kenapa nenek tahu dengan kakiku?" Tanya Cherly teliti.
"Ahh... ituu... itu... nona... tadi tuan muda menyuruh saya untuk memanggil dokter." Ucap nenek terbata~bata.
"Maaf tuan muda... saya tidak punya alasan lain lagi." Batin nenek menunduk.
*\~BERSAMBUNG\~*
dah lah kita pembaca hanya bisa baca doang jangan banyak komentar,
tancep terus goyang, 🤣🤣🤣
di tunggu ya
Saling mendukung yuk.. Dengan komen di episode baru.. Punya mu sudah ku masukan ke daftar favorite..