Shakira baru saja memulai lembaran baru di bangku kelas 2. Namun siapa sangka di halaman pertamanya ia bertemu dengan Aji, sosok pria yang notabene digandrungi banyak hawa karena image cool yang keterlaluan.
Pada kenyataannya lain untuk gadis temperamen semacam Shakira, di mana ia menemukan image sebenar dari Aji. Dari itu pula misteri tentang Aji mulai merangsang keingin tahuan Shakira. Satu per satu akan Shakira temukan dalam tiap lembaran kertas kehidupan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reirin Mitsu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
[SEASON 2] Catatan Shakira - Teman Belajar Baru
"Kir, ada yang mencarimu!"
Ketukan pintu berbahan kayu itu memang tak mengusik waktu tidur Shakira kalau hanya sekali dua kali. Semakin keras bunyinya, tidurnya makin terganggu. Mungkin 3 menit ada lah dia ketuk-ketuk pintu. Gadis berkerudung jeblus warna cokelat lumpur ini mengerang malas—kesal mungkin lebih tepat.
"Kir, cepetan buka! Masya Allah!"
"Iya, Bi. Bentar!" Tubuh kerdilnya menggeliat bak beruang kutub, lantas bangkit duduk sambil menguap lebar-lebar. Mata pun masih terpejam, letak kerudung juga belum dibenarkan. Ia masih tak mau berpisah dari alam mimpi, kenapa harus ada tamu segala?
"Shakira!" Lagi-lagi Bibi kosan berteriak, memberikan separuh energi di matanya. Iris emeraldnya menelusuri keadaan sekarang. Laptop sudah mati tanpa harus dilipat, tak lupa dengan beberapa piring kotor bekas makan demi begadang.
"Iya, bentar!" Kaki jenjang tanpa alas mulai turun dari tempat singgasana, siap melangkah menuju pintu keluar dengan tergontai-gontai. Nasib baik ia pakai piyama model lengan dan celana panjang.
Ia segera menekan engsel pintu, ditarik untuk memperlihatkan sosok berkerudung yang menggaruk pipi ini. Pemilik tangan berkulit putih masih menggenggam engsel pintu, sedangkan sosoknya malah menyandarkan kepala di sisi pintu.
"Waalaikumsalam," kata Shakira masih dalam keadaan setengah sadar, bahkan sempat-sempatnya mendengkur di hadapan tamu.
"Ini ada yang nyariin kamu, Kir. Tidur mulu kerjaannya ngeboo terus." Seorang wanita paruh baya mendesah pasrah. Daster yang dia pakai sangat sesuai dengan postur tubuh—dia gemuk. Wanita dengan roll pengeriting rambut di atas kening pun melirik ke sosok di belakangnya. "Silakan, Neng. Bibi permisi dulu, ya."
"Ah, iya. Makasih dah repot-repot nganterin saya ke sini," ucap dia membungkuk sopan. Ah, ada rasa berbunga-bunga di hati Bibi kos bila dia berlaku sopan. Anak-anak zaman sekarang susah sekali cari yang seperti ini.
"Heh, bangun!" Lain dengan Shakira, ia malah asyik tidur meski tengah bertatap langsung. Kehadirannya membuat Bibi kos naik pitam. Buktinya dia langsung menepuk lengan atas Shakira dengan keras.
"Astagfirullah, eh, Emak!" Tak biasanya Shakira berlatah, bahkan dirinya sendiri tidak tahu kenapa bisa berlatah. Tetapi, bersyukurnya ada Bibi kos, matanya melek dan mendelik melihat sosok di depan.
Sosok itu memiliki postur ramping, sejengkal lebih tinggi ketimbang Shakira. Bukan itu yang membuat Shakira kaget kepalang. Dia justru berpakaian pendek. Mengenakan gaun di atas lutut, tanpa penggunaan stocking, rambut merahnya pun terurai panjang dan bergelombang. Sejujurnya, ia tak kenal dengan orang ini. Sama sekali tak kenal.
"E-elu gak salah ketemu orang?" Mata belok Shakira menyipit, terteleng untuk memastikan bahwa ia tak salah lihat. Sesekali ia mengusap pipinya yang berlumuran iler kering.
Gadis itu justru tertawa kecil. Dia terlihat sangat anggun saat punggung tangan menutup bibir merahnya. "Gak lah, Kir. Aku ke sini pengen ngomong sesuatu sama kamu."
"Haa?"
****
"Ah, jadi gitu?" Dua cangkir berisi teh manis hangat mencairkan suasana canggung di pertemuan per individu ini. Gadis dengan piyama gambar boneka teddy bear itu mengangguk paham, sengaja tak bertatapan langsung pada lawan bicara. "Lu minta gua buat ngajarin lu? Lu tau gua dari mana? Gua juga baru pertama kali lihat lu."
"Iya, Kir," kekehnya menyesap hidangan sang pemilik kamar kos. "Aku tau kamu dari Aji sih. Katanya kamu pinter banget soal materi kimia. Ah, kebetulan aku sekelas sama Aji."
Cih, tuh anak enak bener ngomongin tentang gua, batin Shakira menggerutu. Matanya mengerling tajam sekilas, menjalar rasa malas kala berhadapan dengan orang tak dikenal. "Betewe, siapa nama lu?"
"Aku Aura," katanya sembari merapikan rambut ke belakang dengan jemari. "Maaf banget tiba-tiba aku datang ke kamu gak kasih tau."
"Eh, iya ... gak apa-apa kok, Au." Sungguh gugup rasanya ketika harus berpindah topeng, dari muka kesal ke muka ramah. Rasanya agak ambigu. "Gua mau tanya dua hal. Yang pertama, tujuan lu mau belajar sama gua apaan?"
"Aku pengen belajar sama kamu biar lebih paham soal teknik kimia. Secara, Aji tau segala hal tentang kimia gara-gara kamu, dia sendiri yang—"
"Bilang aja lu pengen deket sama Aji. Iya, kan?" Ia bersandar di sofa tempatnya tidur tadi, berkata demikian dengan entengnya. Ayolah, Shakira bilang apa adanya, sesuai yang dia katakan barusan. Ucapan dia terkesan curiga, seperti ada modus mau dekat dengan lawan jenis. Tak bisa ia biarkan!
"Gak kok, Kir. Aku emang pengen belajar sama kamu biar wawasanku makin luas. Itu aja. Boleh, kan?" Sampai-sampai dia memohon pada Shakira.
Desahan pelan mendampingi jemari lentiknya yang siap mengambil teh hangat untuk disesap. Sensasi aroma teh hitam dan gula membuat tubuh terasa lebih rileks. Ah, ia menyukai rasa ini.
"Lalu, lu bisa atur waktu lu sendiri buat janji temu sama gua?" kata Shakira, memasang wajah tanpa keramahan sedikit pun. Inilah ciri khas dari sosok Shakira: wajah temperamen. "Gua gak mau tau kalo diawal ketemu lu gak bisa janji datang tepat waktu. Gua benci orang kayak gitu. Paham lu?"
"Oh, oke oke. Siap!" Dia mengacungkan kedua ibu jarinya, sedikit meyakinkan. Hanya saja senyum manis di bibir mengkilap dia, merangsang rasa curiga. Apa sebaiknya ia antisipasi? Bukan apa-apa, Shakira tak mau dirinya ditipu oleh orang asing.
Bukan berarti Shakira su'udzon, ini kenyataan yang sering dialami Shakira begitu diminta belajar bersama.
"Sekarang, kapan mau ketemuan buat belajar bersama? Gua mau belajar bersama di perpustakaan, mulai besok. Gua gak mau tau alasan lu gak dateng ketemu gua. Sekali gua bilang besok, lu harus tepati."
"Ih, jangan di perpus dong belajarnya. Di kafe aja, sekalian makan-makan gitu lho, Kir." Aura menggembungkan pipi. Shakira tahu kalau dia tipikal plin-plan, ia benci orang itu. Apa lagi dengan muka memohonnya, ih, jijiknya!
Lidah Shakira berdecak, memutar bola mata dengan malas. "Iye, tapi lu kudu tepat waktu. Ngerti?"
"Pastinya, Kir." Tangannya terulur menggenggam tangan Shakira, jangan sampai kuku-kuku lancipnya kena kulit. Bisa-bisa Shakira ganti rugi kerusakan kuku Aura. Benaknya sempat bertanya, butuh berapa uang untuk sekadar pedicure?
Dalam hati ia menampar dirinya sendiri, bukan saatnya memedulikan kuku-kuku cantik Aura.
Mari kita lihat apakah Aura menepati janjinya atau tidak, tersampaikan lewat senyum miring di bibir merah jambu.
****
Cuaca cukup bersahabat kali ini—lebih harmonis malah. Sinar jingga dari senja mampu menghangatkan badan Shakira, yang duduk dekat jendela tanpa bingkai. Sore-sore begini, kafe rekomendasi Aji tampak ramai akan gadis-gadis bahenol. Mungkin hanya dirinya yang memilih pakai jaket katun dan rok panjang berwarna monokrom—baju putih namun kerudung jeblus dan rok warna hitam.
Ada beberapa pria juga, sih.
Sudah 15 kali ia melirik jam di ponsel. Shakira bosan menunggu sekitar dua jam, meski ia isi waktu senggang dengan mengetik skripsi. Terus-terusan ditanya oleh pelayan kafe untuk memesan setidaknya satu menu, Shakira memilih pesan satu kopi hitam dengan sedikit gula.
Awalnya Shakira akan pulang begitu jam menunjukkan pukul setengah enam. Tetapi ini ....
Sudah pukul enam lewat lima menit!
Desah gusar mengiringi sosok yang memijat kening lebarnya. Decakannya pun terdengar jelas ditelinga para pelanggan yang asyik bersenda gurau pasal skincare. Tangan berbalut sarung hitam menutup laptop—tidak sampai tertutup rapat.
"Udah gua duga gak bakal ke sini." []
Gimana? Seru gak?
Sedikit spoiler ya, di bab selanjutnya memakai sudut pandang Aji. Hayooo, siapa yang kangen Aji? Acungkan tangan! /cuma authornya yg ngacung/
Jangan lupa terus dukung cerita He So Shy!! beserta authornya yaa.
See you
Reirin Mitsu
semangat thorr nexttt❤️❤️❤️
Next thorr