Bela Tiandra Kusuma mengenal seorang Alan Adha secara tidak sengaja. Ia sangat tidak menyukai Alan sampai ia selalu mencari masalah dengan Alan. Alan menjadi penyebab kekesalannya karena ia merasa sial setelah bertemu dengan Alan. Lama kelamaan ras benci berubah menjadi cinta. Tapi ketika ia mulai menyukai Alan, ia mengetahui bahwa ada seorang cewek lain mencintai Alan. Feby Anggita wanita yang bersahabat dengan Alan semenjak pertama kuliah juga mencintai Alan. Namun ia baru berani mengakui ketika lulus kuliah. Siapakah yang dikejar oleh seorang Alan? Perempuan yang mempunyai masa lalu kelam ataukah sahabatnya yang selalu ada bersamanya ketika sedih dan senang?
Yuk baca cerita serunya di Mengejar Cintamu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Sikumbang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27
Bella dilarikan kerumah sakit keluarganya karena sempat pingsan dirumah. Jarak rumah sakit yang jauh dari kecamatan membuat keluarganya menginap di kota. Mendengar Bella yang sakit, semua keluarganya dari Jakarta balik ke pulau Sumatera.
Alan mengetahui kepergian keluarga Bella menuju pulau Sumatera. Alan semakin yakin bahwa kepergian keluarga Bella ada hubungannya dengan Bella.
Beberapa jam setelah kepergian keluarga Bella ke pulau Sumatera, Alan mendapat kabar dari mata - matanya bahwa Bella berada dirumah sakit. Alan tidak mau kehilangan Bella lagi, ia langsung menyusul Bella ke pulau Sumatera.
Sesampainya di kota tempat Bella dirawat, Alan lansung ke rumah sakit. Alan sudah tidak sabar bertemu dengan Bella.
Namun langkahnya terhenti di pintu ketika melihat ada laki-laki yang tidak dikenalnya duduk di sebelah ranjang Bella. Laki-laki itu nampak sedang menyuapi Bella makan. Hati Alan seakan berkecamuk melihat pemandangan didepan matanya.
Alan mendehem agar Bella menyadari kedatangannya. Bella dan Rey menengok ke arah suara. Bella sangat terkejut melihat Alan ada dipintu kamar inapnya.
"Kenapa dia bisa tau aku disini? apa Siska yang memberi tahu?" tanya Bella dalam hati dengan wajah dingin.
Rey melihat ada yang berbeda dengan perubahan wajah Bella. Bella nampak agak lebih tegang ketika melihat kedatangan laki - laki yang didepan pintu.
"Apa hubungan Bella dengan lelaki ini?" tanya Rey dalam hatinya.
Alan masuk dan berjalan menuju sisi ranjang kiri Bella. Ia menatap kearah lelaki yang duduk di sebelah kanan Bella.
"Bisa tinggalkan kami berdua?" tanya Alan dengan nada dingin.
"Maaf, anda siapa?" tanya Rey masih belum mau berdiri.
"Saya calon suami dia." ucap Alan dengan percaya diri.
"Nggak usah Rey, tetap aja disini." ucap Bella agak syok ketika Alan mengaku sebagai calon suaminya.
"Kita harus bicara, lari dari kenyataan tidak akan menyelesaikan masalah." ucap Alan dengan nada dingin.
"Kita tidak ada kepentingan apa - apa, jadi tolong keluar dari sini." ucap Bella juga dengan nada dingin.
Rey memandang keduanya secara bergantian. Ia melihat ada sesuatu hubungan yang belum selesai di antara keduanya. Rey berdiri dari kursinya lalu beranjak melangkahkan keluar.
"Ada baiknya kamu selesaikan masalah kalian dulu." ucap Rey menutup pintu kamar Bella.
Bella dan Alan sama - sama diam ketika Rey keluar dari kamar rawat Bella. Bella memalingkan pandangannya dari Alan.
Alan duduk dikursi yang diduduki Ray tadi. Ia memandang Bella dengan pandangan rindu. Bella merasa risih dengan pandangan Alan.
"Ngapain kamu kesini?" tanya Bella dengan nada dingin.
"Bel, kenapa kamu lari dari aku?" tanya Alan.
"Lari? kenapa aku lari dari kamu? aneh-aneh saja." jawab Bella dengan nada mengejek.
"Kamu mencoba menjauhi aku, apa salah aku bel?" tanya Alan dengan wajah memelas.
"Sudahlah, ngapain kamu kesini ngabisin waktu, bukannya kamu mau nikah? atau mungkin udah nikah." ucap Bella tertawa mengejek.
"Menikah? tunangan? ternyata kamu masih mengikuti perkembangan tentang aku?" ucap Alan sambil tersenyum. Alan merasa senang ketika tau Bella masih peduli sama dia.
"Jangan GR deh, siapa juga yang mengikuti kamu." ucap Bella jengkel. Bella sebenarnya memang merindukan lelaki yang duduk disampingnya akan tetapi dia ingat bahwa laki-laki itu sudah milik orang lain.
"Tau darimana aku tunangan?" tanya Alan lembut.
"Nggak penting, silahkan keluar." ucap Bella masih dengan nada kurang bersahabat.
JEGLEK
Tiba-tiba pintu terbuka dan menampakkan sosok Galuh. Galuh penuh amarah ketika melihat ada Alan di kamar Bella. Galuh lansung menuju Alan dan melayangkan sebuah tinju kepada Alan.
Alan lansung tersungkur karena dalam posisi tidak siap. Bella juga terkejut melihat hal yang tidak diduganya.
"Masih berani kamu menemui adikku." ucap Galuh menarik kerah baju Alan.
Siska segera berlari menarik Galuh setelah sadar dari kagetnya. Ia memeluk Galuh agar tidak memukul sahabatnya lagi.
"Sayang berhenti." mohon Siska kepada Galuh.
"Menjauh Siska, jika kamu tidak ingin kena." ucap Galuh dengan sedikit emosi melihat Siska.
"Aku nggak akan pergi, jangan kamu pukul lagi sahabat aku, jika kamu pukul sekali lagi jangan harap kamu bisa pulang ke Jakarta bareng aku." ucap Siska mencoba mengancam Galuh.
Galuh semakin emosi mendengar ucapan Siska yang terang - terangan membela Alan. Ia mengepalkan kepala tinjunya sambil berkata,
"Beraninya kamu mengancam aku setelah kamu memberitahu dimana Bella kepadanya." ucap Galuh dengan dingin dan menyakitkan.
Siska merasa sakit hati ketika suaminya menuduhnya tanpa bukti. Ia yang memang dalam fase sensitif semenjak kehamilannya.
"Kamu menuduhku tanpa bukti, jika kamu masih tidak percaya sama aku, nggak usah jadi suami aku." ucap Siska penuh amarah dan berlari keluar kamar.
Alan dan Bella kaget mendengar ucapan Siska. Alan merasa bersalah kepada Siska karena dirinya sahabatnya itu bertengkar dengan suaminya.
Galuh hanya diam tanpa mengejar Siska. Bella agak geram dengan sikap abangnya hanya diam tanpa mengejar istrinya yang sudah hamil 6 bulan.
"Kejar bang." ucap Bella kepada Galuh.
"Biarkan saja, dia udah salah masih saja mengelak." ucap Galuh masih penuh amarah.
Alan merasa geram melihat sikap Galuh kepada istrinya. "Jika dia kenapa-napa jangan harap kamu bisa mendapatkannya lagi, aku tau Bella disini dari orang suruhan aku, Siska tidak tau apa - apa." ucap Alan meninggalkan Galuh dengan geram.
Alan berusaha mengejar sahabatnya yang sudah berlari duluan. Ia tidak ingin sahabatnya kenapa - Napa. Alan mempercepat langkahnya agar bisa menyamai langkah Siska.
"Sis tunggu." ucap Alan mencoba menghentikan Siska.
Siska menghentikan langkahnya. Ia pikir itu suara suaminya tapi ia kecewa karena yang mengejarnya adalah sahabatnya.
"Terima kasih kamu telah menolong aku, tapi jangan kamu jadiin masalah aku jadi masalah rumah tangga kalian." ucap Alan setelah sejajar dengan Siska.
"Biarin aja dia berpikir, aku hanya kesal sama dia, hanya menggunakan kekerasan tanpa berpikir." ucap Siska masih kesal dengan suaminya.
"Ayok kita cari tempat untuk minum coklat panas, biar kamu bisa agak rileks." ajak Alan kepada sahabatnya.
Siska berjalan mengikuti Alan. Mereka memang belum terlalu mengenal kota ini, tapi mereka mencoba mencari tau dimana tempat asyik untuk minum coklat.
Setelah mendapatkan informasi dimana tempat yang asyik untuk nongkrong, mereka pergi berdua. Seakan lupa masalah tadi pagi, Alan mencoba menghibur sahabatnya terlebih dahulu.
"Setelah ini kamu balik ya ke rumah sakit lagi." ucap Alan.
"Nggak, aku mau pulang ke Jakarta aja, biar aja dia tau rasa." ucap Siska masih kesal dengan suaminya.
"Nggak boleh lari dari masalah, kamu pikirkan anak kamu loh." ucap Alan tersenyum kepada Siska.
"Pokoknya aku mau kasih dia pelajaran, ah aku punya cara." ucap Siska membisikkan sesuatu kepada Alan.
"Kamu serius?" tanya Alan mengingat apa yang di dengarnya. Sahabatnya ini masih belum berubah, ia masih iseng seperti dulu.
"Biar dia tau rasa, kamu itu punya salah apa sih sampai Bella lari dari kamu." ucap Siska dengan nada mengejek.
"Itu yang aku pikirkan sampai sekarang, aku tidak menemukan apa salahnya aku." ucap Alan mencoba memikirkannya.
"Udahlah nanti aku coba cari tau, nanti aku kabari kamu." ucap Siska tersenyum senang.
Ditempat lain Galuh resah karena Siska tidak balik lagi kekamar rawat Bella. Galuh memutuskan untuk pulang ke hotel. Ia yakin bahwa Siska berada di hotel tempat ia menginap.
Sesampainya di kamar ia tidak menemukan Siska. Galuh mencoba mencari keberadaan istrinya. Ketika tidak menemukan, Galuh mulai resah dengan ancaman Siska tadi.
Tiba-tiba pandangannya tertuju kepada surat yang terletak di atas nakas samping kasur. Galuh membaca surat itu dengan hati yang kacau.
[Maaf aku pergi.]
Kertas yang ada ditangan Galuh jatuh kelantai. Galuh berlari keluar kamar ingin mencari Siska sebelum jauh. Galuh paham betul karakter istrinya jika marah. Bisa - bisa bukan hanya meninggalkannya ke Jakarta tapi bisa meninggalkannya selama - lamanya.
Galuh menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena Siska tidak pernah main - main dengan ancamannya. Apalagi semenjak kehamilannya, Siska semakin sensitif. Galuh mencari Siska makin frustasi.
...****************...
Terima kasih atas kunjungannya. Terima kasih juga atas likenya. Semoga para pembaca semakin suka.
otw kisah mira