“Bodoh! Kamu udah siap apa?” tanya seorang anak laki-laki berumur delapan tahun yang telah menyelamatkan anak perempuan berumur enam tahun yang hampir tenggelam di sungai persawahan
“siap apa?” tanya anak perempuan tersebut yang hampir tenggelam tadi
“siap di kubur” balas si laki-laki sembari menjitak anak perempuan tersebut
“ngga ada satupun yang aku kuasai. Baik mata pelajaran maupun olahraga. Aku Cuma ingin berusaha” kata anak perempuan tersebut sembari mengusap handuk yang sengaja ia bawa dari rumah
“udah sore, ayo aku antar pulang” kata laki-laki tersebut lalu menggendong anak perempuan yang diselamatkannya tadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayusyah putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
R G
"bawa pil herbalnya?" tanya Livi yang fokus pada kemudinya
"bawa" balas Felisa, kemudian matanya terfokus pada tulisan arah jalan
.
.
.
“hah? Tadi plangnya mengarah ke bandara... kak Livi kamu salah jalan yah?” Felisa menghadapkan kepalanya ke belakang
“engga tuh, sangat menyenangkan sekali, saat memikirkan kita akan bepergian bersama untuk pertama kalinya, ya kan?”” Livi tersenyum dengan senyuman jail
“Kenapa ngga ke pantai yang dekat saja? Pakai pesawat sepertinya agak...” belum sempat Felisa melanjutkan kalimatnya sudah dipotong Livi
“tidak bisa, aku udah pesan tiketnya” Livi menunjukkan tiket yang sudah dipesannya
“ah, aku benar-benar ketipu, ngga bisa pergi... ngga mauuu” keluh Felisa tapi tidak didengarkan suaminya
Di dalam pesawat. Felisa memandangi penumpang yang lain. “kak tolong bantu aku membuat kursiku seperti kursi mereka” tunjuk Felisa pada penumpang yang kursi penumpangnya miring tiga puluh derajat.
“ah, nyaman” kata Felisa
“janji ya, untuk tidur selama perjalanan, ngga lama... pesawatnya sampai” setelah Livi membantu memiringkan tempat duduk Felisa
“bawa laptop? Katanya udah dipecat... masih ngerjain tugas yang belum selesai?” tanya Felisa melipatkan tangannya
“aku mau buat kejutan untuk para pegawai D.C, hadiah tambahan karena pemecatanku” balas Livi mengetik dengan cepat menggunakan kesepuluh jarinya
“awalnya aku takut ketinggian karena memang belum mencobanya, sekarang menurutku ngga begitu buruk. Sepertinya aku bisa sering bolak-balik naik pesawat untuk menambah inspirasi karyaku. Dengan sering mendatangi tempat yang belum pernah ku kunjungi. Bosan juga, hanya berkutat di kota itu-itu saja. Atau bagaimana kalau kita keliling dunia? Mau negara apa yang kita datangi lebih dulu? Jepang? Atau Jerman? Aku ingin lihat kampus kak Livi yang di Jerman, Kak Livi kamu dengerin aku ngga sih?” Felisa menatap sebal ke arah suaminya
“aku tidak bisa mengatakan, bahwa aku tidak bisa menulis karena bersamamu” balas Livi yang masih terfokus pada layar laptopnya
“ih, kejamm... meskipun aku kedinginan? Aku kedinginan” rengek Felisa tidak ingin dicueki suaminya
“baiklah, aku kalah... aku menyerah” Livi menarik nafas panjang lalu menutup laptopnya, kemudian tubuh besar Livi merangkul tubuh mungil istrinya tersebut. Sembari mendengarkan cerita Felisa, kemudian tertidur dengan kepala saling bersenderan.
Sesampainya di Pulau Bali. “pantai...” teriak Felisa ia langsung berlari saat turun dari mobil
“Lisa... kita taruh barang dulu di penginapan” kata Livi
Livi sudah melakukan reservasi dan langsung mendapatkan keytag dari resepsionis. Ia langsung mengajak Felisa menuju kamar yang hendak mereka tempati. Livi membukakan pintu kamar tersebut, dan langsung terlihat pemandangan yang disuguhkan hotel itu begitu cerah dan nyaman, dengan pemandangan deburan ombak pantai sangat indah dilihat dari lantai atas.
“wah, pemandangannya luar biasa!! Ya kan?” Livi menatap dari jendela kamar hotel yang dipesannya
Felisa melihat sekeliling dengan kening berkerut, lalu menelpon pada telpon yang sambungannya langsung ke resepsionis hotel
“halo, saya ingin tahu, apakah anda punya kamar lain? Ah, ada ya? kami akan turun, terima kasih” Felisa menutup panggilannya
“ayo turun, kita harus berhemat setelah pemecatanmu. Kenapa menyewa kamar semewah ini?” Felisa berjalan mendahului
“kita di sini saja” kata Livi
“dengan mantan-mantan kak Livi dulu, kak Livi juga selalu menghabiskan banyak uang seperti ini?” tanya Felisa tiba-tiba membuat Livi tersentak
“lho? Kok jadi bahas itu? Kamu percaya ocehannya Kenan?” balas Livi dengan ekspresi tidak senang
“ngga, bercanda... makanya ayo turun” ajak Felisa
Kamar hotel lain. “berapa harga kamar ini? pasti puluhan juta kan?” tanya Felisa berjalan mengelilingi kamar tersebut.
“kartu kreditku mendapat diskon 30% di hotel ini. puas?” ucap Livi dengan nada datar
“berapa harganya setelah diskon?” tanya Felisa
“ok, kita ganti kamar saja” balas Livi langsung, ia tidak mau menjawab pertanyaan istrinya
Hotel lain selanjutnya. “wow... kamar ini bagus. Berapa harganya permalam? Benar hanya lima ratus ribu permalam?” Felisa mengambil gagang telpon yang disediakan hotel dan Livi reflek ingin memegangnya juga tapi keduluan Felisa yang langsung menghubungi pihak resepsionis
“halo...ini dengan kamar 21176. Kamar ini benar hanya seharga lima ratus ribu permalam? Ah, lima puluh juta?” Felisa melirik ke arah Livi yang memalingkan mukanya
“kita pergi ke hotel lain saja” ajak Felisa setelah menutup panggilannya
“aku lelah... ini udah ke tujuh kalinya, kenapa ngga di sini saja?” ucap Livi dengan wajah memelas
“kak Livi saja disini, aku akan ke tempat lain” balas Felisa berjalan mendahului, mau tidak mau Livi mengikuti
Masih mencari hotel. “gimana? Dia tahu hotel yang murah?” Felisa meminta Livi menanyakan hotel murah pada penduduk lokal sekitar
“ya” balas Livi
“tuh, kan. Sudah ku bilang orang lokal pasti tahu. Kau harus tahu kalau istrimu itu sangat cerdas, yang membantu suaminya berhemat uang. Wanita mana yang mau menderita begini. Benar, kan?” ucap Felisa dengan nada sombong
“benar” balas Livi
“kak Livi cepat sekali jawabnya. Kak Livi benar-benar tipeku” kata Felisa menunjukkan jempolnya dengan nada senang
Saat melihat hotel murah yang ditawarkan penduduk lokal. “di sana seratus lima puluh ribu per kamar” Livi dan Felisa mengamati hotel tersebut dengan kening berkerut, karena terkesan kumuh, catnya terkelupas dimana-mana, pagarnya tidak bisa ditutup, sarang laba-laba yang menggantung, sampah-sampah kecil yang menghiasi sudut hotel dan pakaian yang sembarangan dijemur.
“ini pertama kalinya kita bepergian bersama setelah menikah, tinggal di hotel kumuh itu pasti akan menjadi pengalaman yang tidak terlupakan. Bagaimana? Mau sewa kamar di sini?” tanya Livi menahan emosi
“kenapa, kak Livi keliatan marah?” tanya Felisa sedikit merengut
“siapa? Aku?” balas Livi
“sekarang kak Livi marah dan kesal padaku. Setiap kata yang kak Livi keluarkan terdengar begitu, ada sedikit nada membentak. Benarkan?” tanya Felisa
“ya, aku marah. Ini adalah pertama kalinya bepergian denganmu. Jadi meskipun perlu sedikit mengeluarkan uang, tak masalah buatku. Sekarang aku mau tanya, tujuan Lisa kemari untuk apa? Mau jalan-jalan atau menghitung uang? Dari awal sampai sekarang, hanya uang saja yang Lisa pikirkan. Lisa sama sekali mengabaikan niat baikku, perasaanku. Fakta bahwa ini pertama kalinya kita bepergian...” belum sempat Livi melanjutkan omelannya sudah dipotong Felisa.
“ayo pergi” kata Felisa
“kemana? Airport? Kau mau pulang?” tanya Livi
“ngga... ngga... nggaaa... kita ke hotel yang lain saja jangan yang ini” Felisa berjalan mendahului
@#$%^&*
Setelah memutari beberapa hotel, akhirnya pilihan jatuh di Lokha Derlavota Resort. Hotel pribadi milik ayah Livi sendiri. “kasih kami kamar biasa, dan jangan beri perlakuan khusus” bisik Livi pada resepsionis
“berapa permalamnya?” tanya Felisa pada resepsionis
“kami sedang promo akhir bulan, nyonya. Jadi kami kasih harga spesial... hanya Rp 508.999 permalamnya” balas resepsionis berbohong mengenai harga aslinya setelah diberi kode Livi
“ambil ini aja kak” ucap Felisa
“ok... akhirnya aku bisa istirahat” balas Livi
“tapi...” kata Felisa tidak melanjutkan ucapannya membuat Livi gugup
“tapi apa?” tanya Livi menelan ludah
“nama hotelnya hampir mirip dengan nama belakang kak Livi, Lokha Derlavota... Livius Deravota... haha, hanya beda di huruf L” kata Felisa tertawa dan Livi ikutan tertawa
Terserah kamu aja sayangku... bisik Livi merasa lega karena Felisa tidak curiga
Suasana malam di dalam kamar. “sini aku keringin rambutnya” ucap Livi setelah istrinya mandi
“jari kak Livi kenapa?” tanya Felisa melihat jari-jari suaminya bergetar
“terlalu banyak mengetik sepertinya. Tapi...” Livi membalikkan tubuh istrinya hingga posisinya kini berhadapan dengannya. Kemudian menyelipkan rambut Felisa ke belakang daun telinganya. “tapi kurasa, sekarang aku gugup karena berduaan denganmu”
“ck... kak Livi mandi dulu sana” balas Felisa
“haruskah aku mandi?” tanya Livi dengan tatapan nakal
“jangan deh, aku takut ketiduran saat kak Livi mandi” balas Felisa
“kita sudah jauh-jauh kemari...” Livi mendekatkan wajahnya ke istrinya
“bentar... kak Livi, aku mau tanya... kenapa pria suka tidur dengan wanita?” kata Felisa tangannya menahan Livi mendekat
“kata siapa? Aku ngga bisa tuh, tahan berjam-jam tidur denganmu. Tidurnya Lisa kan muter-muter kaya jarum jam. Kadang mendekur, kadang garuk-garuk kaki” goda Livi dan Felisa memukul bahu Livi
“kak Livi nih, ngga ada romantisnya. Masa iya aku disamain kaya baling-baling” kata Felisa dengan nada kesal
“kalau gitu coba kali ini Felisa yang lebih mendominasi. Sejujurnya, di otakku penuh dengan keinginan tidur dengan Lisa” kata Livi
“huuu... mulai mesumnya” Felisa menyoraki suaminya
“itu bukan mesum Lisa, hanya naluri alamiah. Kaum pria terkadang mengkhayalkan wanitanya memegangnya lebih dulu, seperti ini...” tangan Livi perlahan memegang kepala Felisa dan mendorongnya ke depan. Hingga bibirnya bersentuhan dengan bibir Felisa.
Mau bagaimana lagi... sepertinya, kali ini aku lagi yang mendominasi...
tapi akhirnya bahagia ya thor
ko lisa ninggalin livi aku sedih mereka berpisah meski ga berantem mungkin lisa ga kuat hidup d lingkungan orkay yg serba apa2 uang soal lukisan orng d beli d atas namakan lisa itu aku juga kecewa mamerin karya tp karya orng aku ngerti perasaan lisa
lisa kynya pergi cmn buat bikin livi sadar kalo yg dia lakuin (bunuh orang) itu salah
dn livi salah malah suruh lisa terima itu
semangat thor d tunggu lisa ma kak livinya 😘😘😘😘😘
up up up semangt kk San
penasaran aku kk😊
Semangat skripsi nya kk San... Ditunggu up nya😊😊😘😘