Pada hari ia terbangun kembali tujuh tahun lalu, Wulan Ardani sadar bahwa pernikahannya dengan Panglima Senja, Nalendra, akan menimbulkan tragedi. Dalam hidup sebelumnya, ia menolak, keluarga hancur, dan sang pria yang menolongnya gugur di Lembah Sigar. Kini ia menerima takdir itu, menyimpan rahasia sebagai putri malam dari Paguyuban Niskala. Saat intrik istana, racun mematikan, dan perebutan takhta mengejar, Wulan harus memilih: menebus masa lalu atau menulis takdir baru bersama lelaki yang pernah mati demi menyelamatkannya.
note : support para pembaca sangat berarti bagi penulis untuk tetap berkarya dan upload minimal 3 bab per hari
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26 - PERTEMUAN RAHASIA DI HARI PERNIKAHAN
Wulan menunduk dan tidak berkata apa-apa. Ia tumbuh dalam semalam. Butuh tujuh tahun baginya untuk tumbuh dalam semalam, tujuh tahun yang ia bayar mahal dengan darah kerabat yang tak terhitung jumlahnya di Puri Ardani, dan bahkan dengan darah Nalendra sendiri. Semua itu hanyalah tebusan untuk sebuah nyawa — nyawanya — dan setiap kematian itu masih membekas di ingatannya seperti luka yang belum mengering. Ia tidak akan pernah bisa membayar lunas, tetapi setidaknya ia bisa memastikan bahwa kali ini, tidak ada satu pun dari mereka yang akan mengorbankan dirinya lagi. Di dalam dadanya, tekad itu menetap seperti akar pohon yang menjulur semakin dalam, tidak akan tercabut oleh keraguan apa pun.
Intan tidak memperhatikan kerumitan di matanya, tetapi berkata dengan nada serius, "Tetapi tidak peduli seberapa banyak Nona berubah, dalam hati Intan, Nona akan selalu menjadi Nona yang sama seperti dulu."
"Nona dulunya diintimidasi oleh dua putri dari keluarga kedua tanpa menyadarinya. Sekarang Nona bisa melindungi dirinya sendiri. Intan sangat berbahagia untuk Nona." Ia berbicara dengan tulus, dan setiap kata yang keluar dari mulutnya terdengar seperti doa yang selama ini ia panjatkan diam-diam. Wulan tahu, gadis kecil ini menunggu hari ini sejak lama — hari ketika tuannya tidak lagi menjadi bulan-bulanan para sepupu yang licik.
Wulan memiliki perasaan campur aduk di hatinya setelah mendengarkan kata-katanya. Ia tidak akan pernah bisa melupakan bahwa Intan ditikam lebih dari selusin kali demi memberikan dirinya kesempatan untuk melarikan diri. Gadis kecil yang hidup itu mati tepat di depan matanya, dan karena ia sendiri tengah diracun, ia hanya bisa menonton tanpa daya, tidak bisa berbuat apa-apa selain berteriak sekencang-kencangnya di dalam hati yang tak sanggup bergerak.
Itulah salah satu mimpi buruk yang paling sering menghantuinya sepanjang sisa hidupnya. Setiap kali ia terpejam, ia selalu melihat kembali wajah Intan yang pucat dan tubuh mungil itu bersimbah darah, dan setiap kali pula dadanya diremas oleh rasa bersalah yang tak pernah usai.
"Intan, aku akan melindungimu." Ia meremas tangan Intan erat-erat dan tiba-tiba meletakkan tangannya di kepala gadis kecil itu, menundukkan pandangannya untuk menatapnya dalam-dalam. Gadis kecil ini telah banyak menderita dari kedua putri di keluarga kedua karena dirinya selama bertahun-tahun. Ia dianiaya, dilecehkan, dan diperlakukan seperti hina. Dalam kehidupan ini, ia tidak akan membiarkan hal itu terjadi lagi. Sumpah itu ia ucapkan dalam hati dengan tekad yang tidak bisa ditawar oleh siapa pun.
Intan sedikit terkejut saat mendengar nada suaranya yang tiba-tiba menjadi dingin dan tegas, lalu dengan cepat mengangguk dengan senyum naif dan berkata, "Intan tahu bahwa Nona selalu menjadi orang terbaik bagi Intan." Jawaban itu polos, tetapi hangat, dan untuk sesaat Wulan merasa ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokannya — perasaan yang sulit ia namakan.
Wulan menekan rasa dingin di matanya, tersenyum, dan tidak berkata apa-apa lagi. Ada terlalu banyak hal yang harus ia selesaikan, dan kata-kata tidak akan menolong apa pun. Yang ia butuhkan hanyalah tindakan, dan ia telah menyiapkan semuanya jauh hari sebelumnya.
Dua hari berlalu dalam sekejap, dan hari pernikahan segera tiba. Setelah Wulan mengizinkan para gadis berdandan, ia meminta Intan untuk mengajak semua orang keluar, dan ia duduk diam di kamar sendirian. Di dalam, saputangan besar berwarna merah di kepalanya menghalangi semua kebisingan dunia luar. Ia duduk dengan mata terpejam, dan kenangan akan kehidupan masa lalunya mengalir deras seperti banjir yang menerobos bendungan, membawa setiap detail yang tidak pernah ia biarkan hilang.
Ia mengingat dengan jelas semua yang terjadi hari ini di kehidupan lampau. Sepupu baiknya, Aryati, yang mengaku baik padanya, memberitahunya bahwa Pangeran Cendana sedang menunggunya di halaman kecil tidak jauh dari pintu belakang Puri Ardani. Pada saat itu, pikirannya bergerak, dan ia mengikuti Aryati untuk menemui Pangeran Cendana dengan penuh rasa terima kasih, mengira sepupunya sedang membantunya.
Akibatnya, setelah bertemu Pangeran Cendana, Nalendra, Adipati Pramana, nenek tua dari keluarga Ardani, dan Pangeran Panji muncul satu demi satu, dan bahkan banyak orang lain yang datang menonton tanpa mengetahui kebenarannya. Semua orang menyaksikan pemandangan yang membuat keluarga Ardani kehilangan muka, sementara Aryati berdiri di antara kerumunan itu dengan senyum tipis yang tidak seorang pun curigai.
Ketika Pangeran Cendana melihat pemandangan ini, ia berada dalam kebingungan. Ia bersikeras bahwa Wulan-lah yang memiliki sesuatu yang penting untuk didiskusikan, jadi ia harus mengambil risiko meninggalkan istana untuk menemuinya. Bahkan Aryati berdiri di samping Pangeran Cendana, membela dirinya dengan segala macam alasan. Di pihak lain, Wulan tidak bisa berdebat untuk beberapa saat, terjepit di antara dua orang yang sama-sama bersikeras membela kebenaran versi mereka.
Putri Senja mengadakan pertemuan rahasia dengan kekasihnya di hari pernikahannya, dan bahkan mencoba melarikan diri dari pernikahan tersebut untuk merayu kekasihnya dan kawin lari. Kejadian ini tidak hanya menyebabkan Nalendra dan keluarga Ardani kehilangan muka, tetapi juga menjadikannya bahan tertawaan seluruh Kota Pelantar. Nama baik yang dibangun bertahun-tahun runtuh dalam satu malam, dan Wulan menjadi buah bibir di setiap pasar dan kedai teh. Ada yang mengejeknya dengan sinis, ada yang menyebutnya tidak tahu malu, dan tidak sedikit pula yang diam-diam mengasihani Pangeran Senja yang menanggung aib itu dengan tenang.
Ia sangat tertekan karena kejadian ini sehingga ia hampir berhenti berkomunikasi dengan siapa pun, mengurung diri di kamar seperti burung yang kehilangan sayapnya. Nalendra tidak ingin ia terluka oleh rumor tersebut, jadi pada akhirnya dialah yang melangkah maju untuk meredam kejadian itu, menanggung segala ejekan dan mengubur berita itu dalam-dalam demi melindungi gadis yang sebenarnya tidak pernah ia miliki.
Tiba-tiba pintu diketuk dua kali. Wulan ditarik kembali ke lamunannya, dan sedikit memiringkan kepalanya ke arah sumber suara. Siapa yang datang di saat seperti ini? Ia sudah meminta Intan untuk tidak mengizinkan siapa pun masuk, dan kerudung pengantin masih menutupi wajahnya.
Suara Aryati terdengar melalui kertas jendela yang tipis. "Sepupu Ketujuh, apakah kamu di sana?" Suaranya terdengar cemas, tetapi di baliknya tersembunyi sesuatu yang jauh dari tulus — kegelisahan orang yang sedang menunggu rencananya berjalan mulus.
Wulan menyeringai di sudut bibirnya, menurunkan kerudung yang menutupi kepalanya, berjalan perlahan, dan membuka pintu. "Sepupu." Ia memanggil dengan nada yang datar, tidak menunjukkan apa pun, sementara matanya diam-diam mengamati setiap perubahan ekspresi di wajah sepupunya itu.
"Sepupu Ketujuh, bukankah kamu mengatakan kamu akan menemui Paduka Pangeran Cendana kemarin lusa?" Aryati memandang dengan cemas untuk menanyakan situasinya, sambil mengulurkan tangan untuk menepi, seolah ingin membawa Wulan pergi secepat mungkin sebelum semua rencananya gagal. Matanya menari-nari gelisah, tidak berani bertatapan lama, dan jari-jarinya sedikit gemetar — tanda-tanda kecil yang dulu tidak pernah Wulan perhatikan, tetapi Sekarang ia baca sejelas air di musim kemarau.