Saat membuka mata aku mendapati bahwa semuanya berbeda.
Mulai dari penampilan hingga tempatku sekarang ini, tentu saja aku senang karena bisa hidup kembali setelah mengalami kecelakaan yang membuatku meninggal dalam keadaan tragis.
Padahal masih banyak yang lain, tapi kenapa harus di tubuh ini? Seorang putri Marquess bernama Cassiopeia Maximpratix Charcraes, antagonis terjahat dari awal sampai akhir.
Demi menghindari akhir yang tragis sebagai antagonis aku memilih untuk hidup dengan caraku sendiri. Termasuk untuk menjadi seorang kesatria, meski tak mudah karena banyak halangan dan rintangan tapi itu tak akan membuat tekadku hancur.
Namun, sekuat apapun aku berusaha tapi kenapa terus saja tertarik masuk ke dalam alur. Lalu, apa-apaan dia? Kenapa orang ini selalu mengikutiku? Apa karena aku mengetahui identitas aslinya ataukah hal lain?
Akankah aku bisa bertahan hidup di dalam dunia ini? Ikuti ceritanya!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quensly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alagiressal
Kaki depannya sudah mengangkat ke atas, cakar-cakar tajam mulai di perlihatkan.
Panik mulai menghampiri ku, sarung pedang itu sangat sulit untuk diambil dari mayat yang sudah bersimbah darah ini.
Tak mau mati, aku pun beralih mengambil pedang nya saja walaupun sedikit bagian kulitku tergores oleh tajamnya pedang.
Sring...
Prang...
Dalam hitungan detik dia menyerangku dengan cakarnya secara membabi-buta.
Suara pertentangan yang sangat gaduh antara pedang dan cakar tajam monster itu menjadi irama di pertarungan kami.
Dengan segala kemampuan yang aku pelajari selama 1 tahun ini, aku bisa dengan mudah menangkis serangan menggunakan pedang.
Namun, tanpa Gladeladi sangat sulit untuk mengalahkan monster ini.
Ratusan kali pun aku mencoba membunuhnya hasilnya tetap saja nihil.
Setiap sudut aku menusuk tubuhnya tetap tidak ada gunanya.
Brak...
Tubuhku terlempar karena serangan monster itu dan menabrak dinding dengan keras.
"Ugh... uhuk!" Darah segar keluar dari mulutku.
Beberapa kali aku memuntahkan darah segar.
Monster itu berjalan ke arahku menggunakan keempat kakinya dengan perlahan.
"Cih, kau memang terlalu kuat. Tapi," Aku menggantung ucapan.
Berusaha untuk berdiri walaupun seluruh tubuhku sudah sangat lemah. Jika ini terus berlanjut maka, aku akan berada di ambang batas. Akan tetapi,
"Aku tidak akan kalah!" teriakku seraya menegakkan pedang dan berlari ke arah monster itu.
Aku tahu ini mustahil. Tapi, izinkan aku menggunakan cara gila ini sesekali.
Crat...
Darah segar muncrat ke segala arah.
Darah seger tersebut terus saja mengalir dari mata sang Monster.
Dia meraung-raung dan mengamuk.
"Aku minta maaf. Tapi, tidak ada cara lain." kataku kepada Monster yang masih menggila.
Sesaat pikiranku melayang entah kemana, akibatnya nyawa menjadi taruhan.
Jleb...
Bruk...
Dentuman keras itu menyadarkan ku, saat aku sadar. Monster tersebut sudah terkapar tak berdaya dengan luka yang berbentuk seperti lubang sangat besar di bagian samping perutnya.
Pandanganku mengedar mencari siapa penyebab Monster itu mati, lagi-lagi hasilnya nihil. Tak ada siapapun selain aku, Monster dan mayat-mayat yang berserakan.
"Siapa kau?! Keluar sekarang! Tunjukan dirimu!" teriakku.
Bruk...
Aku segera beralih ke arah suara.
Seseorang berjubah hitam dengan sebuah senjata di tangannya.
Tubuhku bergerak sendiri, mundur terus ke belakang sering sosok itu yang semakin mendekat.
Hingga bertabrakan dengan tubuh monster yang terbujur.
Tiba-tiba, tubuh monster ini bergerak. Dia berdiri dengan sangat cepat dan hampir menerkam ku.
Aku menutup mata tak tahu lagi harus berbuat apa, seluruh energi ku sudah terkuras habis.
"Apa kau gil*?!" pekik seseorang.
"Eh, bukannya aku sudah mati? Lalu suara apa itu?"
Perlahan aku membuka mata, tudung penutup wajah sosok berjubah hitam tadi terbuka dan menampakkan sesosok laki-laki yang sangat aku kenal.
"Lord Ry!"
"Bisakah kau tidak usah berteriak?" tanyanya, dengan wajah datar.
"Tadi saja khawatir, sekarang malah sok-sokan datar." gumamku.
Bruk...
"Aw...!" Aku memekik ketika tubuhku dilempar olehnya.
"Hua! Sakit!"
"Diam lah!" bentaknya yang langsung membuatku diam tak berkutik.
"Padahal kau takut mati. Tapi, justru malah menghampiri kematian. Bisa-bisanya ada orang sepertimu di dunia ini," sindir Lord Ry.
"Untuk apa Lord datang ke tempat seperti ini?" tanyaku.
"Untuk mengambil inti Alagiressal," jawabnya.
"Alagiressal? Sepertinya aku pernah mendengar nama itu," gumamku, mulai mengingat-ingat kembali.
Sekarang aku ingat, itu adalah nama salah satu monster tingkat 3 yang menjadi episode dimana kekuatan tokoh utama wanita bangkit.
Tapi, kenapa Alagiressal muncul di saat seperti ini? Bahkan tokoh utama wanita belum hadir.
"Awuuuu!"
Alagiressal melolong, lolongan yang sangat keras.
Tiba-tiba bumi menjadi bergetar. Tak berselang lama, kepulan debu datang dari arah belakang Alagiressal.
"Sial, dasar hewan hierarki!" cemooh Lord Ry.
"Bagaimana bisa aku lupa dengan fakta bahwa serigala adalah hewan hierarki, ck. Padahal aku kira dengan membuatnya mati saja sudah cukup, kini jangankan membunuh semua. Satu saja sudah menyusahkan,"
"Kenapa kau diam saja?!" bentak Lord Ry.
"Ma maaf Lord,"
"Aku menolongmu tidak gratis ya, sebagai bayarannya bantu aku untuk membunuh mereka semua." kata Lord Ry tersenyum simpul.
"Tapi, kekuatan saya sudah habis total." jawabku.
"Ck, kau ini bod*h atau apa? Bukankah kau adalah sword master?"
Aku tersentak mendengar dia mengetahui hal itu.
"Benar tidak?!" tanyanya dengan suara tinggi.
"Benar,"
Dia berbalik lalu menatapku.
"Hah~ dasar." katanya dengan nada kecil tapi masih bisa terdengar olehku.
"Gunakanlah aura!"
"Aura?"
"Tak ada waktu menjelaskan, kau atur pernapasan dalam tubuhmu. Lalu usahakan untuk bisa menggunakan dan mendali kan aura tersebut, aku akan mengulur waktu." tuturnya.
"Apa? Tapi bagaimana jika saya gagal?" bantahku.
"Aku yakin kau pasti bisa," ucapnya, seraya tersenyum singkat.
Wajahnya dalam penampilan laki-laki dingin seperti serigala itu begitu tampan walaupun tersenyum sedikit.
"Aku serahkan kepadamu,"
Lord Ry berlari ke arah puluhan Alagiressal itu.
"Sadarlah! Aku harus bisa mengeluarkan aura, sekarang atau tidak selamanya."
Aku segera melemparkan pedang lalu duduk bersila.
Mengatur pernapasan agar tetap tenang.
•••
Di sisi lain.
"Bagaimana? Apa kau menemukan Kakak?" tanya Deo kepada wanita yang baru saja sampai setelah berlari.
"Maafkan saya Tuan Muda," ucapnya.
"Ck, bagaimana bisa seperti ini? Seharusnya aku tidak mengizinkan Kakak pergi keluar,"
"Sebaiknya kita melaporkan hal ini kepada Tuan Besar Marquess Tuan Muda," usul seseorang.
"Apa maksud mu Lady Clovis?"
"Yang Mulia juga tahu bahwa saat ini ibukota sedang kacau 'kan? Apalagi di tambah kemunculan para Monster itu menambah kerusuhan, dengan menggunakan kekuatan militer Tuan Besar. Saya yakin bahwa Nona akan segera ditemukan," jelas Ava.
"Kau ini bagaimana? Jarak antara kediaman dengan ibukota sangat jauh, di tambah kita kehabisan sumber daya di sini." ucap Deo.
"Itu saran saya Yang Mulia, keputusan ada di tangan anda." balas Ava.
Mereka semua berdiam diri karena semuanya sibuk dengan pemikiran masing-masing.
Namun, keheningan itu tak bertahan lama ketika tamu tak diundang datang.
"Hormat kami kepada sang bintang Kekaisaran Stannis Magna, Yang Mulia Pangeran ke empat Pangeran Achazia Rexsapiens Stannis Magna." ucap orang-orang serentak.
Deo tersadar dari lamunannya dan segera memberi salam.
"Ada apa Yang Mulia Pangeran datang ke tempat ini?" tanya Deo, sopan.
"Aku diutus langsung oleh Baginda Kaisar untuk mengatasi kerusuhan akibat pada monster yang turun gunung," jawab Achazia.
"Tapi, bukankah terlalu berbahaya jika Yang Mulia Pangeran langsung turun tangan seperti ini?" sanggah Deo.
Hal itu berhasil memancing emosi Achazia.
...----------------...
Halo reader's, author balik lagi untuk merekomendasikan karya bagus lainnya yang sayang banget untuk di lewatkan.
slam dri My ice girl sranghae..
sudah q favorit ya