Sekte kuno Pedang Langit yang berjaya selama seribu tahun, dalam lima ratus tahun terakhir mengalami kemunduran akibat seluruh guru besar dan murid sekte bahkan sesepuh serta ketua sekte tewas dalam perang melawan Klan Iblis. Hanya tersisa, seorang murid luar Li Tianchen dan mendapatkan warisan dari guru besar. li Tianchen menjadi ketua sekte Pedang Langit.
Hidup damai dan nyamannya mulai terusik, saat Sekte -sekte baru menyerang dan ingin menguasai wilayah sekte Pedang Langit.
Mampukah Li Tianchen mempertahankan sekte pedang Langit? Dapatkah Tianchen mendapatkan murid untuk membantu sekte meraih puncak tertinggi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SEKTE KUNO 22
"A-Apa-apaan ini?!" teriak Ziyan dengan mata membelalak lebar. "Guru! Kau ingin membunuhku ya?!"
Tetapi tidak ada jawaban dari Tianchen. Yang ada hanyalah raungan binatang buas dan derap langkah ratusan boneka yang menerjang ke arahnya!
Ziyan menyapu keringat di dahinya dengan kasar. Bibirnya melengkung membentuk senyuman tipis yang nekat, senyuman yang sangat mirip dengan gurunya saat sedang serius.
"Baiklah! Kalau begitu mari kita bertarung sampai gila!" jerit Ziyan. Ia menerjang maju ke tengah-tengah lautan musuh, mengayunkan pedangnya dengan irama yang kian hari kian sempurna.
Di dalam Menara Sepuluh Waktu, hari demi hari berlalu tanpa henti. Tahun demi tahun bergulir dalam kesendirian dan pertempuran tiada akhir.
Ziyan terus bertarung, terluka, bangkit, berlatih, dan menembus batasan dirinya. Rasa malas dan manja yang dulu melekat pada dirinya terkikis habis, digantikan oleh ketenangan, kecerdasan bertarung, dan pemahaman seni pedang yang makin mendalam. Rambutnya makin panjang, tatapan matanya semakin tajam bagaikan pedang yang baru diuji di atas batu asah.
Langkah kaki Su Ziyan terasa makin berat, namun matanya memancarkan keteguhan yang belum pernah ia miliki sebelumnya. Di dalam ruangan menara yang tak bertepi itu, hari berganti hari tanpa ada perbedaan antara siang dan malam. Selama dua hari penuh, yang terasa seperti dua puluh tahun pertempuran tanpa henti bagi jiwanya, Ziyan telah mengayunkan pedangnya ratusan ribu kali.
Ia bertarung melawan ratusan boneka perunggu purba, menghindari cakaran Serigala Angin, dan memotong tebasan bayangan yang terus memburunya. Setiap incaran senjata lawan, setiap tetes keringat, dan setiap rasa sakit yang menjalar di sekujur tubuhnya telah terpatri menjadi pengalaman bertarung yang mengakar di dalam tulang.
Pada akhir hari kedua di dalam Menara Sepuluh Waktu, tumpukan boneka perunggu yang hancur di sekitar Ziyan perlahan berubah menjadi debu cahaya dan menghilang. Suasana menara mendadak menjadi sangat hening. Ziyan berdiri terengah-engah, memegangi pedang besinya yang bersimbah qi tipis.
Tiba-tiba, dada Ziyan bergetar hebat. Dantian di perut bagian bawahnya memanas, seperti ada lahar cair yang mendidih dan ingin mendobrak keluar. Aliran qi di dalam pembuluh darahnya mengalir begitu kencang dan meluap-luap, menabrak dinding penghalang ranah kultivasinya.
"Sensasi ini..." gumam Ziyan dengan suara serak. Matanya membelalak. "Penghalang ranahku... longgar! Aku akan menerobos?!"
Tanpa membuang waktu sedetik pun, Ziyan menyilangkan kakinya dan duduk bersila di atas tanah batu menara. Ia meletakkan pedangnya di atas pangkuan, merapatkan kedua telapak tangannya di depan dada, dan memejamkan mata rapat-rapat. Ziyan mulai masuk ke dalam taraf meditasi tingkat dalam, memusatkan seluruh jiwa dan raga untuk menyerap energi spiritual menara demi memicu penerobosan tingkat kultivasinya.
Sementara Ziyan berjuang dalam meditasinya di dalam menara, suasana di luar terasa jauh lebih tenang dan damai. Udara sore berhembus lembut melintasi pelataran Balai Leluhur, membawa aroma wangi bunga mekar dan kayu cendana.
Tianchen berjalan perlahan menyusuri koridor kayu berukir menuju kamar pribadinya. Ia mendorong pintu berukir naga itu tanpa menimbulkan suara.
Di dalam kamar yang luas dan harum, tampak Yuanling sedang duduk anggun di tepi ranjang. Jemarinya yang lentik memegang jarum perak dan benang emas, dengan penuh ketelitian menyulam motif awan pada sebentang kain jubah berwarna biru gelap, jubah yang khusus ia buatkan untuk suaminya. Wajahnya yang rupawan tampak tenang, dipayungi sinar matahari sore yang menerobos masuk dari jendela kayu.
Tianchen melangkah mendekat. Suara langkah kakinya membuat Yuanling menoleh. Senyuman manis dan hangat seketika terbit di bibir pemuda itu.
"Suami... Kau sudah kembali?" ucap Yuanling lembut. Ia buru-buru meletakkan sulamannya di atas meja kecil di samping ranjang, lalu bangkit berdiri untuk menyambut Tianchen. "Bagaimana dengan Ziyan di dalam menara?"
"Gadis itu sedang berjuang keras," jawab Tianchen dengan nada suara yang melunak. Ia menatap Yuanling dari atas ke bawah, memperhatikan pancaran aura yang menyelimuti tubuh istrinya. "Tapi aku kemari bukan untuk membahas Ziyan."
Tianchen meraih tangan kanan Yuanling. Jemari Tianchen yang hangat melingkar perlahan di pergelangan tangan Yuanling, menempelkan ibu jarinya tepat di atas urat nadi itu untuk memeriksa kondisi internal tubuhnya.
Yuanling menahan napas sejenak, membiarkan energi spiritual suaminya berkeliling dengan lembut di dalam jalur darahnya.
"Bagaimana, Suami?" tanya Yuanling pelan dengan mata berkedip cemas.
Tianchen melepaskan genggamannya, lalu tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sangat jarang ia perlihatkan, namun selalu berhasil membuat jantung Yuanling berdegup kencang.
"Kondisi tubuhmu sudah pulih sepenuhnya, Yuanling," ujar Tianchen. "Bahkan jauh lebih baik dari perkiraanku. Efek racun masa lalu sudah bersih, dan Tubuh Sakti Harmonis Selaras milikmu telah bangkit sepenuhnya. Jalur kultivasimu yang dulu tersumbat kini sudah terbuka lebar."
Yuanling membelalakkan mata, rasa haru menyusup ke dalam dadanya. "Maksud Suami... aku sudah bisa kembali bertani... maksudku, bertumpu pada jalan kultivasi?"
"Tentu saja," sahut Tianchen tegas. "Bahkan kau bisa melompat jauh lebih cepat dibanding kultivator biasa. Karena itulah, kau membutuhkan teknik bertarung yang tepat. Pergilah ke Perpustakaan Agung sekte. Di sana, pilih beberapa kitab jurus yang cocok untuk tubuh saktimu."
Yuanling agak ragu. "Perpustakaan Agung? Tapi Suami... apakah aku, seseorang yang baru bangkit ini, pantas memasuki tempat sakral itu?"
"Kau adalah istriku, Yuanling. Pemilik Sekte Pedang Langit ini adalah milikmu juga," jawab Tianchen, membelai pipi Yuanling dengan lembut. "Pergilah. Dengarkan nalurimu saat memilih."
Dengan perasaan campur aduk antara gugup dan bahagia, Yuanling mengangguk mantap. "Baik, Suami. Aku akan pergi sekarang."
Langkah kaki Yuanling membawanya menuju puncak bukit sebelah timur, tempat bangunan Perpustakaan Agung berdiri megah. Bangunan bertingkat tujuh itu terbuat dari batu pirus kuno yang memancarkan pendar cahaya keemasan. Pintu gerbang raksasanya terbuat dari kayu jati purba berlapis ukiran mantra perlindungan.
Saat Yuanling melangkah melintasi ambang pintu, pintu besar itu tertutup rapat secara otomatis dengan suara berdentung pelan.
Suasana di dalam sangat hening, begitu luas hingga seperti berada di dalam dimensi tersendiri. Tumpukan rak kayu setinggi puluhan meter membentang sejauh mata memandang, menampung ribuan gulungan jurus, kitab-kitab kulit domba tua, serta beberapa senjata sakti yang mengapung melayang di udara dengan selubung aura berwarna-warni.
Yuanling tertegun, matanya membelalak takjub melihat pemandangan luar biasa di hadapannya. Namun, sebelum ia sempat melangkah lebih jauh, sebuah suara gaib yang amat berat, dalam, dan bergema dari segala arah mendadak memenuhi ruangan.
"Siapa yang berani melangkah ke dalam perpustakaan sakral ini tanpa izin?"
tuhh dengar apa kata guru mu ziyan ikut aja..
tenann yunnn... tuan Tian sangat tampan kokk JD nikmatin aja🤭
murid yg pintar langsung bisa tepat sasaran 🤣🤣🤣
ziyan ayo pasti bisa kamu ngelewatin ini 🤣
udah pada datang sendiri..
hanya tinggal bersatuu dan bangkit