" Ubah panggilan mu itu kepadaku, kalau tidak aku akan mencium mu " ucap Bima dengan nada dingin.
" APA " jawab Zahra merasa kaget
kemudian Zahra yang melihat tatapan Bima yang seolah ingin menerkamnya itu, kemudian Zahra menyikan perkataan suami dinginnya itu karena dirinya merasa ketakutan.
" Ba.. .baaiklah su. .. suuamiku, apa anda sudah puas "
ucap Zahra sedikit kesal.
" hahaha,. . . coba ulangi sekali lagi dengan jelas "
ucap Bima dengan gaya angkuhnya padahal di dalam hatinya Bima berusaha menahan tawanya melihat tingkah polos Zahra.
" apakah anda berniat mempermainkan saya tuan "
ucap Zahra seperti merasa di kerjai oleh tuan mudanya itu.
" apa aku terlihat mempermainkan mu hah "
kemudian Bima mendekatkan dirinya ke arah Zahra dan pandangan mereka pun bertemu, kemudian Bima menarik tengkuk leher Zahra dan mencium bibir Zahra dengan sangat lembut.
Fatimah azzahra, gadis yang masih berusia 18 tahun yang harus merelakan dirinya menjadi gadis jaminan penebus nyawa ayahnya, dia harus rela menerima perjodohan dengan seseorang lelaki yang berwatak dingin yang tak pernah ia kenal,dan ternyata lelaki itu adalah seseorang yang selama ini mengincarnya yang ingin menjadikannya istri.
Bima Madan Sinaga, seorang CEO yang sangat tampan dan mempunyai kekayaan yang mungkin tidak akan habis sampai tujuh turunan, dia mempunyai sifat yang sangat dingin, tetapi di balik sifat nya yang dingin dia adalah kepribadian yang sangat hangat kepada seseorang gadis yang di jodohkan dengannya, dan ternyata dia adalah gadis yang selama ini menjadi incaranya untuk di jadikannya istri.
karya pertama aku
masih tahap revisi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hima aja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 27
ahhh aku sudah menduganya pasti dia mengira aku menggodanya duluan gumam zahra dalam hati.
" bukan seperti itu sayang aku tidak berniat menggoda mu tadi " rengek zahra yang tetap tak terima atas tuduhan suaminya itu
"ahh sudahlah yang penting kau tadi yang berniat menggodaku duluan sayang " Bima terus ngotot membenarkan perkataan istrinya.
tetap saja ujung-ujungnya aku terus yang berniat menggodanya,ahh terserahlah zahra bermonolog sendiri dalam hatinya.
" sayang aku merindukanmu, kau sampai kapan di rumah ibu " tanya Bima kepada istrinya di seberang telfon.
" suamiku kau kan baru tadi pagi mengantarkan ku ke rumah ibu, besok aku akan sudah pulang "
" APA besok, ahh tidak tidak aku tidak mengizinkanmu zahra, kau akan ku jemput sepulang ku dari kerja, sore nanti "
" sayang kau yang mengizinkanku menginap di rumah ibu, tapi kenapa sekarang seperti nya kau menyuruhku pulang " ucap zahra sedikit kesal kepada suaminya itu.
maunya apa sih dia itu, tadi pagi dia menyuruhku menginap di rumah ibu dan mengantarku, dan sekarang dia akan menjemputku sepulang kerja sebenarnya apa sih maunya zahra terus bergumam dalam hatinya lagi dan lagi.
" aku tidak bisa lama - lama jauh dari mu zahra itu sebabnya kenapa aku ingin segera menjemputmu pulang sayang kau mengerti"
" ya sayang aku tau, tapi " di akhir pembicaraan Zahra sedikit menggantungkan perkataanya.
" tapi apa hahh '' sahut Bima yang penasaran dengan kelanjutan kata-kata istrinya itu.
" tapi aku. . . .aku masih ingin disini sayang " jawab Zahra dengan nada manja.
bima yang mendengarkan suara istrinya yang serasa manja itu merasa gemas sendiri dan sebenarnya dia juga tidak tega tapi apa boleh buat rasa rindu yang mengalahkannya terlalu dalam.
'' ahh tidak ada kata penolakan " ucap Bima dengan tegas.
" kenapa kau tega sekali padaku sayang " sahut Zahra memelas kepada suaminya kemudian panggilan itu di matikan oleh Zahra karena merasa kesal kepada suami dinginnya itu.
Bima mendapati panggilan telfon itu di matikan sepihak oleh istrinya, kini dia merasa sedikit kesal kepada Zahra meskipun didalam hatinya ada rasa sedikit kasihan terhadap istrinya.
sedangkan di kediaman bu Fatma kini Zahra yang berada di kamarnya merasa kesal karena kelakuan suaminya yang mau menang sendiri.
tring
tring
tring
bunyi ponsel Zahra yang sedari tadi terus berbunyi dan tak di angkatnya,sesekali Zahra melihat layar ponselnya dan terlihat ada sebuah panggilan masuk ("suamiku tercinta").
sekali - kali melihatnya bingung sepertinya seru hahaha. . .
terus saja menelfon aku tidak akan mengangkatnya siapa suruh menyebalkan
zahra sesekali cekikikan di kamarnya karena panggilan telfon suaminya sengaja tak diangkat nya.
pasti kau sedang bingung kan sekarang, itu yang aku rasakan tuan muda ketika kau sengaja mengerjai ku hahaha...
tetapi kenapa aku merasa kasihan ya padanya, zahra terus saja berbicara sendiri sambil berguling - guling di kasur kesayangan itu.
ponsel Zahra terus saja berbunyi dan setelah itu ponselnya berbunyi lagi untuk yang ke lima belas kalinya.
tring. . . tring
bunyi tanda pesan masuk di dalam ponsel Zahra,zahra sedikit melirik layar ponselnya tersebut kemudian Zahra segera mengambil benda tipisnya itu dan membuka isi pesan masuk di dalam ponselnya, dan ternyata itu adalah pesan dari nomor yang telah tersimpan bernama (" suamiku tercinta ")yang tak lain adalah Bima suaminya sendiri, bagaimana tidak tersimpan karena suaminya sendirilah yang menyimpan dan menamai nomornya sendiri di ponsel Zahra.
Zahra pun mulai membukanya dan membacanya * jaga batasan mu sebagai seorang istri zahra * isi pesan dari Bima
zahra yang membacanya pun kini nyalinya mulai menciut seketika
iyakan pasti dia mengancam ku dengan kata-kata nya, ah kenapa kau selalu seperti itu sih suami dinginku aku harus bagaimana sekarang.
dan ponsel Zahra pun kini berbunyi lagi panggilan masuk untuk yang kesekian kalinya.
tring
tring
tring
aku harus apa sekarang ayo Zahra berfikir - berfikir mengangkatnya atau membiarkannya ah aku jadi takut begini ya, tadi kan aku berniat mengerjainya kenapa jadi begini sih.
ah iya sebaiknya aku pura - pura sakit perut saja seperti nya itu alasan yang masuk akal hahaha.... tapi memang aku sedikit sakit perut sih,kau memang pintar Zahra.
Zahra terus saja berbicara sendiri sedari tadi dia bingung dengan permainannya sendiri ingin mengerjai tuan muda dinginnya itu.
Dan Zahra kini mulai memberanikan diri untuk mengangkat telfon suaminya yang saat ini merasa kesal.
" ya Halo saa . . aayang " jawab Zahra dengan suara terbata - bata.
" kenapa telfon ku tidak kau angkat " sahut Bima dengan suara dinginnya
" ma. . ma . .maafkan aku sayang " jawab Zahra masih dengan suara terbata - bata
" apa maaf katamu " Bima tetap dengan nada suara yang begitu dinginnya kepada Zahra
" ma. . ma. . maafkan aku sayang aku sakit perut sedari tadi dan aku tidak bisa mengangkat telfon mu dan membalas pesan mu, kau boleh menghukum ku jika kau mau "
" Apa , kenapa bisa kau sakit perut sayang, apa kau sudah minum obat, atau kau salah makan,atau belum makan " tanya Bima yang khawatir dengan keadaan Zahra
" aaa. . aaa.. aku hanya sakit per . . .'' belum selesai Zahra menjelaskan kemudian Bima memotong perkataannya.
" sudah jangan kau lanjutkan, aku akan segera ke sana sayang menjemputmu "
" tapi say. . . " belum sempat Zahra melanjutkan perkataannya Bima langsung mematikan telfonnya diseberang sana.
sedangkan ditempat lain, tepatnya di gedung pencakar langit SINAGA Group. Kini CEO tampan itu tengah bingung dengan keadaan istri kesayangannya itu.
" sekertaris Revan batalkan semua jadwalku hari ini,Zahra sedang sakit disana " ucapnya mantap kepada sekertaris Revan.
" baik tuan muda " jawab Revan
" hubungi dokter Toni " ucap Bima sambil memakai jasnya yang diletakkan di kursi kebesarannya itu kemudian melangkahkan kakinya keluar ruangan di ikuti sekertaris Revan di belakangnya, tak beberapa lama mereka pun memasuki sebuah mobil dan mobil yang mereka naiki pun kini melaju membela jalanan yang begitu ramai.
" lebih cepat sedikit " ucap Bima langsung kepada sopir nya.
Zahra bagaimana keadaanmu sekarang sayang, kenapa kau tidak bilang kalau kau sedang sakit, Bima terus berbicara sendiri sesekali melihat ke jalanan luar dengan siku tangannya bersandar di jendela mobil.
" tenanglah sedikit tuan " ucap sekertaris Revan mencoba menenangkan tuan mudanya saat ini .
" bagaimana aku bisa tenang van " sahut Bima sambil memijat sedikit keningnya.
sebesar itukah cinta anda kepada nona Zahra tuan, dan sebesar inikah pengaruh nona zahra dalam hidup anda gumam sekertaris Revan.
sekertaris Revan yang melihat keadaaan tuan mudanya sekarang seperti tak bisa berfikir dengan sehat karena memikirkan wanita yang dia cintai.
" tuan kita sudah sampai di rumah nona Zahra " ucap sekertaris Revan
Bima tak menggubris ucapan sekretaris nya itu dan Bima langsung membuka pintu mobilnya sendiri tanpa menunggu sekretaris Revan membukakannya, sekretaris Revan yang melihat ke arah tuan mudanya itu terdiam sejenak, kemudian melanjutkan langkahnya lagi mengikuti tuan mudanya itu yang memasuki rumah Zahra.