Tepat di hari pernikahan Aaron.
Zianca dan Aaron akhirnya di pertemukan kembali setelah berpisah selama bertahun-tahun. Ternyata kini Zianca tengah menjalin hubungan dengan kakak laki-laki Aaron, Lucas pria dingin dan misterius itu kini sangat mencintai dan terobsesi dengan sosok Zianca. Namun di balik hubungan Zianca dan Lucas, ada rahasia besar di dalamnya.
Setelah kembali bertemu, Zianca dan Aaron perlahan memperbaiki hubungan pertemanan mereka. Namun, siapa sangka jika Aaron masih menaruh hati padanya. Lucas yang menyadari hubungan antara Aaron dan Zianca yang tampak tak biasa itu mulai terganggu, ia mulai bersikap semakin posesif dan over-reaction terhadap Zianca, bahkan ia sampai menyakiti Zianca tanpa ia sadari.
Perselisihan semakin memanas di antara ketiganya, hingga akhirnya Lucas sadar jika Zianca selama ini tidak mencintainya, melainkan ingin membalas dendam padanya atas kemaatian kakak perempuannya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yunita tri maryadi Ramadhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 : Ancaman Tuan Besar
Saat Aaron bersiap berangkat, ayahnya tampak mencegatnya. Pria itu berdiri di depan pintu rumahnya.
"Kau tidak perlu berangkat sekolah.." ujarnya dengan tatapan serius.
"Apa maksud Daddy??" Tanya Aaron bingung.
"Hari ini semua berkas sekolah kamu akan aku cabut.. kau bakal ikut aku.."
"Daddy nggak bisa seenaknya sama hidup aku !!" Bantah aaron keberatan.
"Silahkan pilih !! Kau tetap disini?? Atau ikut?? Tapi kau harus ingat.. semua fasilitasmu akan aku sita.. bahkan rumah ini akan aku jual.. dan mobilmu juga.. silahkan kau rasakan hidup sendiri tanpa bantuanku sepeserpun.." ancamnya tegas.
"Daddy nggak bisa ngancam aku kayak gini !! Aku akan tinggal dengan Kak Lucas.."
"Bahkan kalian tidak pernah saling bicara.." timpal ayahnya sinis.
"Lucas juga akan ikut bersama kita.. Perusahaan disini akan di kelola tim profesional.. Sudahlah.. Jangan beralasan lagi.. Kau akan belajar mengolal perusahaan disana.. Dan kau bisa langsung masuk kuliah dimanapun kau suka.. Kau tidak perlu menunggu kelulusan disini.. Membuang-buang waktu saja.."
"D*mn !!!" Umpat Aaron melemparkan kunci mobilnya ke lantai lalu berhambus pergi. Ia melewati pria tua itu dengan kesal. Ia mengaku jika ia telah kalah debat dari ayahnya.
Ia segera menghubungi Dion untuk menjemputnya. Tak butuh waktu lama Dion tampak telah tiba menjemputnya dengan sepeda motor sportnya.
"Mobil lo mana?" Tanya Dion heran.
"Di sita bokap gue.."
"What?? Bokap lo disini??"
"Gila bener tu orang.. tiba-tiba nongol dan sekarang maksa gue buat ikut dia.."
"****.. jadi lo bakal pindah??"
"Nggak tau.. gue pengen tetap disini.."
"Lo nggak bakal bisa lawan bokap lo Ron.. lo ingat kan setahun yang lalu.. dia hampir bakar basecamp kita gara-gara lo ribut sama ibu tiri lo.."
"Sial*n.. masih inget gue.. gara-gara gue nggak mau makan sarapan yang dia buat.. ya gila aja lo gue di suruh makan salad sayur.. mana sayurnya yang pahit-pahit lagi.." gerutu Aaron mengingat momen itu.
"Mending lo ngalah aja deh.. lo pasti tau lah bokap lo gimana.. dia selalu dapetin apa yang dia mau.."
Aaron hanya terdiam memikirkan ucapan Dion yang benar. Ia paham betul seperti apa ayahnya. Dia tidak pernah puas pada keputusan orang lain, baginya keputusannya lah yang terbaik.
***
Tiba di sekolah, saat baru saja masuk gerbang, Aaron melihat Ayah Zianca tengah berada disana dengan wajah kalut.
Ia berdiri di sisi mobilnya dengan wajah gusar. Saat mata mereka bertemu, ayah Zianca tampak melambaikan tangannya pada Aaron, meminta Aaron untuk mendekatinya.
"Pagi om.." sapa Aaron ramah dan sopan.
"Kamu ada komunikasi dengan Zianca??" Tanya ayahnya tanpa basa-basi.
"Memangnya ada apa ya om?"
"Zianca kabur dari rumah.." ujar ayahnya lirih.
Aaron sudah menduga hal itu. Ia bahkan tak terkejut mendengarnya.
"Kamu bisa bantuin om buat cari Zianca??" Pinta pria berwibawa itu penuh harap.
"Om tenang aja, Zianca baik-baik aja kok.." ujar Aaron menenangkan.
"Kamu tau dimana Zianca?"
"Hmm.." angguk Aaron pelan.
Sontak wajah ayah Zianca tampak lega, ia bahkan mengusap wajahnya lega.
"Apa dia cerita sesuatu sama kamu??"
"Dia nggak cerita apa-apa om.. aku juga nggak berani bertanya apapun sama dia.. tadi malam aku nggak sengaja ketemu Zianca.. dia cuma duduk diam.. dia nginap di guest house Permata om.. cukup jauh dari sini.. tapi om jangan salah sangka sama aku.. aku cuma ngantarin dia kok.. aku cuma nungguin dia sampe pagi ini di parkiran.. aku khawatir ada apa apa sama dia.. jadi aku nungguin Zianca di parkiran sampe pagi ini.." jelas Aaron lugas agar tidak ada kesalahpahaman.
"Terima kasih nak Aaron.."
"Sama-sama om.. oh iya alamatnya jalan permata no.17.."
"Terima kasih banyak.." ucap Ayah Zianca sekali lagi.
"Om.." seru Aaron lirih.
"Aku harap semuanya baik-baik aja.."
"Om berharap juga begitu.." angguk pria itu dengan mata berkaca-kaca.
Aaron dapat membayangkan betapa sedihnya Zianca saat ini. Tapi ia tak bisa melakukan banyak hal. Bukan tidak peduli, tapi ia hanya ingin menghargai privasi Zianca itu sendiri.
Tak lama, Ayah zianca tampak segera pergi darisana. Saat hendak melangkah masuk ke dalam area sekolah, langkah Aaron di hentikan oleh Puput dan Fina
"Apa yang lo bicarain sama bokap Zianca??" tanya Puput dengan tatapan penasaran.
"Kepo banget sih !" tukas Aaron sinis
"Ya iyalah, Zianca itu sahabat kita !!" seru Fina tegas.
"Kalau kalian emang bener sahabatnya, harusnya kalian tau apa yang di alamin temen kalian.. Masalah apa yang di alami sama temen kalian.."
"Maksud lo apa? Zianca kenapa??"
"Nggak tau deh.. Tanya aja sendiri sama orangnya.."
"Ihhh.. Kasih tau kita.. Lo pasti tau kan??"
"gue nggak tau apa-apa !!"
"Terus kenapa lo ngobrol lama banget sama bokap Zianca??"
"Ya karena gue deket sama bokapnya.." jawab Aaron santai nyelonong pergi.
Puput dan Fina hanya ngedumel kesal.
"Fin, Zianca kenapa ya?? Perasaan gue nggak enak deh.." ujar Puput khawatir.
"Apa kita tanyain sama kak Mikha aja?" usul Fina.
"Ihh.. Jangan deh.. Lo tau sendiri kan kak Mikha juga nggak dirumah, lagian dia juga nggak begitu deket dengan Zianca.." mereka tau jika Mikha dan Zianca tidak begitu akrab meski mereka saudaraan. Bahkan mereka lebih sering bertengkar karena masalah sepele, tapi biasanya pemicu utamanya adalah Mikha.
"Iya juga sih.. Terus gimana dong??"
"Ntar kita coba telfonin Zianca terus aja ya.."
"Oke deh.." angguk Fina setuju.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dukung aku selalu 🥰😘
Kaka gak ada akhlak