Rizar Abran Maulana seorang pria tampan dan sholeh sudah jatuh cinta kepada seorang wanita cantik yang dia temui di sebuah pesta tapi wanita itu tidak menyadarinya, hingga suatu saat sahabatnya ingin menjodohkannya dengan adik kandungnya sendiri yang ternyata adalah wanita yang selama ini Rizar cari.
Jihan Addara Puteri seorang wanita cantik yang merupakan seorang artis dan model papan atas, Jihan yang biasa dipanggil Darra tidak menyangka kalau hidupnya sangat menyedihkan, disaat pacar yang dia cintai mengkhianatinya dan selingkuh dengan sahabatnya sendiri, sekarang Darra harus menerima perjodohan dengan pria yang sama sekali tidak dia kenal.
Akankah Rizar bisa membuat Darra jatuh cinta kepadanya dan menerima Rizar sebagai suami seutuhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kabar Menyakitkan
✈️
✈️
✈️
✈️
✈️
Rizar memegang kepalanya yang terasa masih berdenyut, ia mendudukkan tubuhnya dan seketika melotot saat mengingat apa yang sudah ia lakukan tadi malam.
Rizar celingukkan memindai setiap sudut kamar hotel, ia merasa lega kalau saat ini dirinya ada di kamarnya sendiri. Rizar beranjak dari bangunnya mencari keberadaan istrinya.
Tok..tok..tok..
"Sayang, apa kamu ada di dalam?" seru Rizar menggedor pintu kamar mandi.
Tidak ada suara, Rizar pun beranjak dan mencari lagi keberadaan Darra. Betapa terkejutnya Rizar saat menyadari kalau koper Darra sudah tidak ada di tempatnya, Rizar sangat panik dan dengan cepat Rizar membersihkan dirinya dan cepat-cepat mengganti bajunya.
Setelah selesai, Rizar segera menggeret kopernya dan keluar menuju lobi. Jadwal kepulangan ke Indonesia satu jam lagi dan semuanya sudah bersiap dengan koper masing-masing.
"Mel, kamu lihat Darra ga?" tanya Rizar.
"Loh, bukannya Darra masih ada di kamarnya?"
"Ga ada, kopernya pun sudah ga ada."
"Astaga, kemana dong?" tanya Amel khawatir.
Amel menghubungi ponsel Darra tapi sayang, ponselnya tidak aktif. Rizar melihat ke arah Eriska yang saat ini wajahnya lebam tapi Rizar tidak tahu apa yang sudah terjadi.
Mereka semua pun segera menuju Bandara, untuk pulang ke Indonesia. Selama dalam perjalanan Rizar dan Amel tampak khawatir dan cemas, entah saat ini Darra berada dimana.
***
Darra terduduk di kursi tunggu yang berada di Bandara. Darra bangun pagi-pagi sekali, dan langsung menuju Bandara tanpa sarapan terlebih dahulu.
Darra masih tidak ingin melihat wajah Rizar, melihat wajah Rizar mengingatkan akan kejadian tadi malam, Darra ingin sendiri dulu.
Hingga akhirnya rombongan pun sampai di Bandara, Rizar tampak celingukkan mencari keberadaan Darra.
"Mas Ri, bukannya itu Darra?" tunjuk Amel.
Rizar pun melihat ke arah yang di tunjukkan oleh Amel. Betapa sakitnya Rizar saat melihat istrinya tertidur di kursi tunggu dengan bertumpu pada koper miliknya.
Rizar merasa sangat bersalah sekali, selama dalam perjalanan Amel sudah menceritakan semuanya tentang kejadian tadi malam dan bisa di pastikan kalau Darra merasa kecewa.
Rizar berlutut dan mengusap pipi Darra, membuat Darra mengerjapkan matanya. Darra menatap wajah suaminya yang saat ini sudah berada di hadapannya, Darra langsung membenarkan posisi duduknya dan memalingkan wajahnya.
"Kamu belum sarapan, mumpung masih ada waktu yuk kita sarapan dulu," ajak Rizar lembut.
"Darra ga lapar."
Rizar duduk di samping Darra, Darra kembali memalingkan wajahnya. Rizar mencoba meraih tangan Darra tapi Darra menepisnya membuat Rizar menghela napasnya berat.
"Sayang, maafkan Mas. Mas salah."
Darra hanya diam saja, hingga akhirnya panggilan untuk keberangkatan pun sudah terdengar. Darra segera menggeret kopernya meninggalkan Rizar yang masih terdiam.
Selama dalam perjalanan, Darra tidak bicara sama sekali. Bahkan saat ini Rizar melihat Darra mengusap airmatanya dan lagi-lagi membuat hati Rizar terasa di remas. Rizar paling tidak suka melihat istrinya menangis.
Setelah menempuh perjalanan panjang, akhirnya rombongan pun sampai di Indonesia. Di saat Darra ingin turun dari pesawat, tiba-tiba tubuhnya oleh untung Rizar dengan sigap menangkapnya.
"Sayang kamu kenapa? wajah kamu pucat banget," seru Rizar panik.
Darra melepaskan tangan Rizar dan kemudian melanjutkan langkahnya tanpa bicara sedikit pun. Rizar semakin khawatir, Galih hanya bisa menepuk pundak sahabatnya itu dengan perasaan kasihan.
"Yang sabar, Zar. Mungkin Darra butuh waktu untuk sendiri," seru Galih.
"Tapi aku khawatir, Lih. Wajah Darra pucat banget."
Darra jalan sempoyongan, dari awal masuk peaawat Darra memang merasakan kalau perutnya sangat sakit tapi Darra menahannya. Tapi sekarang Darra sudah tidak bisa menahannya lagi, perutnya sakit sekali seperti di remas-remas.
Darra akhirnya jatuh pingsan...
"Darraaaa....!" teriak Amel.
Rizar dan Galih langsung berlari menghampiri Darra, sementara semua orang tampak berkerumun melihat Darra yang jatuh pingsan.
"Sayang, bangun. Kamu kenapa?" seru Rizar panik.
Rizar menepuk-nepuk pipi Darra, hingga Amel berteriak histeris membuat semuanya kaget.
"Kamu kenapa, Mel?" tanya Galih.
"Da---darah."
Rizar melihat ke arah betis Darra yang sudah mengalir darah segar, tanpa menunggu lagi Rizar langsung mengangkat tubuh Darra dan membawanya ke rumah sakit.
Selama dalam perjalanan, Rizar begitu panik dan cemas. Dia bertanya-tanya, ada apa dengan istrinya sampai bisa berdarah seperti itu.
"Nah kan, itu karma karena tadi malam dia sudah membuat kita terluka," seru Jeslin.
Eriska hanya diam saja tidak mau ikut berkomentar. Berita Darra yang pingsan di Bandara dengan mengeluarkan darah seketika langsung tersebar, beritanya sampai kemana-kemana.
Praaannnggg....
Mama Wina menjatuhkan gelas yang sedang di pegangnya, membuat Papa Rahman terkejut.
"Kenapa, Ma?"
"Darra, Pa."
"Darra kenapa?"
Mama Wina menunjuk ke arah televisi, dan Papa Rahman tampak khawatir. Papa Rahman langsung menghubungi Rizar dan menanyakan dimana keberadaan mereka, setelah tahu dimana Darra, Papa dan Mama Darra pun segera menyusul ke rumah sakit.
"Sayang, bertahanlah jangan buat Mas khawatir," seru Rizar.
"Maaf Pak, Pak tunggu di sini saja jangan ikut masuk biar Dokter memeriksa keadaan istri Bapak," seru Suster.
"Baiklah, tolong lakukan yang terbaik untuk istri saya."
"Pasti Pak."
Rizar tampak sangat khawatir, Galih dan Amel hanya bisa menenangkan Rizar. Tidak lama kemudian Papa Rahman dan Mama Wina pun datang dengan terburu-buru.
"Rizar, bagaimana keadaan Darra?" tanya Papa Rahman.
"Belum tahu, Pa. Masih di periksa Dokter."
"Kenapa Darra bisa seperti ini?" tanya Mama Wina.
"Maaf, ini salah Rizar, Ma. Rizar sudah membuat Darra marah dan kecewa," lirih Rizar dengan menundukkan kepalanya.
"Sudahlah Rizar, jangan menyalahkan diri sendiri yang penting kita berdo'a saja supaya Darra baik-baik saja."
"Amin."
Satu jam kemudian, pintu ruangan pun terbuka dan semua orang langsung menghambur mendekati Dokter.
"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Rizar.
"Bapak, bisa ikut dengan saya. Ada yang harus saya bicarakan dengan Bapak."
Rizar menatap Mama dan Papa mertuanya, mereka menganggukkan kepalanya dan tersenyum.
"Baiklah, Dok."
Rizar pun mengikuti Dokter ke ruangannya..
"Silakan duduk, Pak."
"Terima kasih, Dok. Bagaimana keadaan istri saya Dok? dia tidak apa-apa kan?"
"Alhamdulillah istri Bapak kondisinya sudah membaik."
"Alhamdulillah, terus kenapa tadi istri saya mengeluarkan darah, Dok?"
"Nah, itu yang mau saya bicarakan. Sebenarnya istri Bapak keguguran."
Jeddaaarrrr...
Rizar sangat terkejut mendengar ucapan sang Dokter yang bagai petir di siang bolong itu.
"Ke---gu--gu--ran."
"Iya Pak, istri anda sedang mengandung usia kandungannya kira-kira baru dua mingguan. Maaf apa kalian baru saja melakukan perjalanan jauh?"
"Iya Dok, kami baru pulang dari China. Saya tidak tahu kalau istri saya sedang hamil, soalnya dia tidak memberitahukan kepada saya."
"Mungkin istri Bapak juga tidak menyadari kalau beliau sedang hamil, selain akibat perjalanan jarak jauh, sepertinya istri anda juga mengalami stres dan emosional yang sangat tinggi sehingga mengakibatkan beliau harus keguguran."
Lemas sudah tubuh Rizar, mata Rizar mulai memerah menahan rasa kesal dan amarah yang sudah menjadi satu.
"Kalau begitu terima kasih Dokter, saya pamit."
"Iya, silakan Pak. Bapak yang sabar."
Rizar hanya menganggukkan kepalanya, Rizar melanglahkan kakinya dengan gontai. Tangannya tampak mengepal dengan kuat, rahangnya mengeras, sungguh dia tidak bisa bayangkan kalau Darra sampai tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Eriska...awas kamu," gumam Rizar dengan mengeraskan rahangnya.
Ceklek...
Rizar membuka pintu ruangan rawat Darra perlahan, di lihatnya Darra masih memejamkan matanya.
"Apa kata Dokter?" tanya Mama Wina.
Rizar hanya menundukkan kepalanya...
"Rizar, jawab pertanyaan Mama."
"Darra keguguran, Ma."
"Apa!" seru semuanya bersamaan.
"Jadi, Darra sedang hamil?" tanya Mama Wina.
"Rizar tidak tahu Ma, kalau Darra sedang hamil kemungkinan besar Darra pun tidak menyadarinya kalau dia sedang hamil, tapi kata Dokter usia kandungan Darra baru dua minggu dan Darra keguguran karena Darra sudah melakukan perjalanan jauh," sahut Rizar.
Rizar tidak berani memberitahukan apa yang sudah terjadi di China, karena Rizar tidak mau menambah masalah lagi.
"Maafkan Rizar, Ma, Pa karena Rizar sebagai suami tidak becus menjaga istri Rizar," sesal Rizar.
"Berhenti menyalahkan diri kamu sendiri, mungkin kali ini belum rezeki kalian untuk mendapatkan anak tapi Papa yakin, kalian akan cepat dapat momongan lagi," seru Papa Rahman.
"Amin."
Amel dan Galih pamit untuk pulang karena waktu pun sudah malam, begitu pun dengan Mama dan Papa Darra mereka pulang karena Rizar menyuruhnya untuk pulang.
Rizar menggenggam tangan Darra yang sampai saat ini belum juga membuka matanya. Di ciumnya tangan Darra berulang-ulang, dan tanpa terasa airmata Rizar pun menetes.
"Maafkan Mas, sayang. Mas tidak bisa menjaga kamu dengan baik, sampai-sampai calon anak kita harus keluar sebelum waktunya. Mas janji, Mas akan urus wanita itu dan Mas pastikan kalau dia tidak akan mengganggu rumah tangga kita lagi," gumam Rizar.
Rizar kembali menciumi tangan Darra, perasaan bersalahnya begitu sangat besar apalagi Darra melihat dirinya sedang melakukan hal yang tidak pantas dengan Eriska.
"Awas kamu Eriska, kali ini kamu sudah keterlaluan dan aku tidak akan memaafkan kamu lagi," gumam Rizar dengan mengeraskan rahangnya.
✈️
✈️
✈️
✈️
✈️
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
TERIMA KASIH
LOVE YOU