Warning!!!
Hasil meras otak sampe kering, jadi jangan copas👌👌
Terdapat beberapa 21+ harap dewasa dalam menanggapi.
Silahkan Follow dulu akun author.
Follow juga ig author: @dee_h.s
Perempuan dingin dengan segudang misteri ke bungkamannya.
Dengan sikap yg dingin melebihi kutub utara, dengan amarah yg mudah meledak kapan saja membuat tindakannya meyerupai psikopath.
Sampai akhirnya ia bertemu dengan lelaki yg mampu menjadi peredam dari semua sikap yg ia sendiri tidak bisa kendalikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dee h.s, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 27
Beberapa hal tidak perlu di utarakan bukan? Tapi ada hal yg juga butuh kepastian.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹*
Setelah mengantar Elen pulang, ia langsung kembali ke rumahnya tanpa masuk atau duduk sebentar di rumah Elen meski Katrina dan Elen sangat memaksa.
Bukan karena ia tidak suka rumah mereka, tapi ia merasa lelah dan butuh istirahat. Akhir-akhir ini terlalu banyak kejadian yg menguras otak dan emosinya.
Tapi akhirnya ia puas karena berhasil mempermalukan Alina tengik itu. Tentu ini semua berkat bantuan Gior dan juga berkat kemenangannya saat bermain game.
Ia jadi teringat malam itu, dimana ia meminta Gior melakukan hal yg tidak ingin Gior lakukan.
"Luca kok lo bisa ngalahin gue sih? Lo curang ya?" Tanya Gior saat makan malam mereka.
"Lo aja yg payah." Luca tersenyum merendahkan Gior.
"Kalah apaan sih??" Tanya Galaxi yg tidak tahu apapun.
"Gior kalah main ML dari Luca." Jawab Galang.
"What? Lo seriusan kak? Seorang Gior di kalahkan?" Galaxi tertawa bahagia seakan merayakan kekalahan adiknya.
"Kok bisa? Selama ini cuman kak Galang yg bisa ngalahin lo, dan sekarang Luca berhasil pecahin record itu?" Gerald ikut menimpali kekalahan adiknya.
"Gak usah ketawa lo berdua, Gue yakin Luca pasti curang." Gior menatap tajam ke arah Luca.
"Gak usah mimpi." Luca tersenyum simpul melihat wajah Gior cemberut karena di hina oleh kakak-kakaknya.
"Kak gue mau ke atas, males makan." Ujar Gior menatap kedua kakaknya yg masih menertawainya.
"Yeeehhh baperan bocah." Galaxi tidak bisa berhenti tertawa melihat ekspresi adiknya.
"Tunggu, ikut guye. Lo harus nepatin janji." Luca melangkah meninggalkan meja makan, Gior memahami maksud Luca langsung membuntutinya di belakang.
"Lo mau apa? Gak usah yg aneh-aneh ya." Tanya Gior.
"You know Alina? Bit,,ch di bar MILAN." Tanya Luca.
"Maksud lo?"
"Gak usah sok begok, gue tau lo penghuni di sana." Luca memutar tubuhnya membelakangi Gior
.
"Kok lo bisa tau?" Tanya Gior kaget.
"Gak usah banyak nanya, intinya lo kenal apa nggak?" Luca memandang kembali Gior karena terlalu bertele-tele menurutnya.
"Okay gue kenal dia."
"Gue mau lo lakuin sesuatu buat gue." Luca membisikkan sesuatu kepada Gior yg membuatnya melotot.
"Lo gila?"
"Lakuin aja apa yg gue bilang, dan jangan kasi tau siapapun." Luca pergi meninggalkan Gior yg masih kaget dengan permintaan Luca.
Luca tidak pernah meminta apapun tanpa alasan, pasti ini karena ia ingin membalas Alina. Gior sangat yakin akan hal itu.
Bagaimana Gior bisa menolaknya jika ia sudah berjanji, pantang baginya untuk mengingkari janji sebagai laki-laki.
"Entah apa yg ada di otaknya." Gior berlalu ke kamarnya.
"Lo bicara apa tadi sama Gior." Langit datang menghampiri Luca yg sedang memainkan ponselnya.
"Aku minta uang buat jajan." Ucapnya asal.
Galang menutup pintu kamar dan ikut berbaring di sampingnya.
"Gue gak suka di bohongin Luca." Galang mengusap wajah Luca dengan lembut.
Entah mengapa setiap sentuhan Galang seperti sesuatu yg berhasil menghangatkan sikap angkuh dalam dirinya, seperti gumpalan es yg mampu mencairkan segala amarahnya.
"Lo percaya gue kan? Jadi gak usah di tanya." Luca membenamkan wajahnya pada bantal karena merasa aneh pada hatinya saat Galang menyentuhnya.
"Gue cuman gak mau lo ngelakuin hal-hal buruk."
"Apa gue seburuk itu di mata lo?" Luca kembali menengadahkan wajahnya menatap Galang.
"Luca belajarlah menahan amarah."
"Gue gak pernah diajarin nahan amarah, jadi gue gak bisa." Jawabnya.
"Oke, kalo gitu sekarang kita belajar, gue yg bakalan ngajarin lo." Galang mengecup bibir Luca singkat.
"Lo bisa gak sih jangan asal nyium gue." Luca menatap Galang dengan menautkan kedua alisnya.
"Gue gak bisa, dan gak akan pernah bisa."
"Apa hak lo nyium gue?" Luca menanyakan apa yg ada di otaknya.
"Karena lo punya gue. Dan lo gak bisa nolak gue."
"Maksud dari kalimat lo tuh apa sih? Gue gak ngerti." Luca mendudukkan tubuhnya dan cemberut menatap Galang.
"Gue sayang sama lo."
"Oke sebagai om, lo emang harus sayang sama gue." Luca berusaha menetralisir perasaannya yg berkecamuk sedari tadi.
"Bukan sebagai om."
Bluuuussshhhh!!!
Pipi Luca merona, Galang tersenyum mengusap wajah gemas ponakannya. Ia sangat cantik saat sedang merasa malu.
"Gue gak ngerti Galang." Luca menjauhkan tangan galang dari wajahnya.
Galang hanya tersenyum dan pergi dari kamar Luca.
"Galangggggggg." Teriak Luca kesal, kenapa ia merasa di gantung. Apa maksud Galang sebenarnya?
Entah mengapa hatinya terasa senang sekaligus malu saat Galang mengatakan hal itu meskipun Luca tidak mengerti maksud Galang.
Bukan sebagai Om? Lalu sebagai apa?
Seharusnya Galang mengatakan dengan jelas, sebenarnya bagaimana? Atau apa hubungan mereka?
Luca tidak mau memikirkan hal yg salah dan berharap nantinya. Ia benci berharap.
.
.
.
.
.
.
Selalu tinggalkan jejak kalian ya, dan kalo kalian suka bisa di tambahkan menjadi favorit kalian.
btw jangan lupa mampir di karya ku :
‘Aku Tak Mengerti’
budayakan saling support 🤍💗
aku bolak balik ngintip g ada bab baru