Perjodohan, pernikahan yang tidak didasari cinta ini hanya mempunyai dua kemungkinan. Saling jatuh cinta dan ikatan pernikahan itu akan abadi, atau berpisah karena kecocokan itu tidak kunjung terlihat.
Wanita yang berdiri di atas tempat tidur dan menghadap figura besar di dinding, batinnya bergejolak. Diusapnya figura itu pertanda dia sudah memantapkan hati dan keputusannya.
"Divina...."
Suara itu membuat sang wanita berbalik dan mengulas senyum lembut, membuat laki-laki yang tadi memanggilnya itu merasa resah.
>>> Hihi.... Cerita baru, padahal yang lama masih belum juga dilanjut👉🏻👈🏻
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ainuru Fitori, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15 Minggu
Pagi-pagi sekali, semua pelayan di mansion sudah begitu sibuk. Bayaran besar yang mereka dapatkan tentunya harus ditebus dengan kinerja yang baik dan rapi.
Di kamar utama yang terletak di lantai dua, kamar begitu hening. Revan yang sudah bangun sejak tadi itu sibuk memperhatikan wajah Divina yang masih tertidur. Ini memang kebiasaan barunya, terasa menyenangkan saja jika melakukannya.
Revan sudah menghubungi dokter obgyn terbaik untuk datang ke rumah hari ini. Dia ingin melihat bagaimana pertumbuhan anaknya di dalam perut Divina. Dikarenakan semua peralatan medis sudah begitu lengkap di mansion ini, maka dia tidak perlu membawa Divina ke rumah sakit.
Anak buahnya memberi informasi beberapa saat yang lalu kalau Devandra dan Matthew memperluas daerah pencarian mereka hingga ke Perancis. Revan tidak ingin dua orang itu menemukan dan membawa Divina pulang sebelum waktu satu bulan berakhir. Dia masih begitu menginginkan waktu kebersamaan bersama Divina.
Mata Divina tampak mengerjap beberapa kali sebelum terbuka perlahan. Wajah bahagia Revan terlihat sedikit buram waktu dia membuka sempurna kedua matanya.
"Selamat pagi, Sayang" bisik laki-laki itu lembut yang langsung membuat kedua pipi Divina memerah.
"Selamat pagi." Bumil itu membalas sambil memegang dadanya yang berdebar begitu kencang. Takut jika Revan mendengar debaran memalukan itu.
"Ayo mandi, kita akan melihat perkembangan baby sebentar lagi." Beranjak duduk dan membantu Divina duduk.
"Mas duluan," ujar Divina yang malu jika harus mandi berdua.
"Nggak boleh nolak, Div." Revan langsung menggendong Divina menuju kamar mandi. Bumil itu terpaksa harus menerima setiap perlakuan nakal Revan pada tubuhnya.
Menghabiskan sekitar dua puluh menit di kamar mandi, dua orang itu keluar dari pintu ruang ganti. Revan dengan pakaian santainya dan Divina dengan dress rumahan.
"Kita ke rumah sakit?" tanya Divina menatap Revan yang sedang mengetik sesuatu di hpnya.
"USG di sini, aku takut keluargamu menemukan kita dan membawamu pulang sebelum waktu satu bulan berakhir." Revan meraih sebelah tangan istrinya itu dan menggandengnya keluar kamar.
Dari ucapan Revan, Divina bisa mengambil kesimpulan bahwa keluarganya sedang mencarinya di Perancis.
Tiba di ruangan yang khusus untuk pemeriksaan, Divina langsung diminta untuk berbaring. Bajunya disingkap ketika akan memulai USG.
"Baby sehat, pertumbuhannya juga baik. Mommy harus selalu jaga kesehatan dan pola makan teratur, ya. Di usia kehamilan 15 minggu ini, perkembangan baby benar-benar baik." Dokter itu memberi penjelasan sambil melihat layar yang memperlihatkan janin kecil yang baru mulai berkembang itu.
"Nyonya ada keluhan?" tanya dokter kemudian setelah membersihkan gel di perut Divina.
"Nggak ada, Dokter."
Divina sama sekali tidak memiliki keluhan di kehamilannya. Hanya muntah sesekali jika mencium bau yang menurutnya menyengat. Lain dari itu, semuanya aman-aman saja. Dokter pun hanya meresepkan vitamin untuk Divina.
Setelah memastikan semuanya baik, dokter pun pamit. Dia akan diantar oleh para anak buah Revan agar keberadaan mereka tidak bocor.
"Mau makan apa?" tanya Revan menggiring Divina menuju ruang makan.
"Sandwich telur, sausnya harus super pedas!" jawab Divina yang sudah membayangkan makanan itu sejak mandi tadi.
Revan mengangguk kecil dan menyuruh Divina duduk, sedangkan dia sendiri mengambil segala bahan untuk sandwich yabg diinginkan sang istri. Revanlah yang akan memasak untuk Divina, dia ingin anaknya terbiasa memakan makanan buatannya sejak dalam perut.
Divina memerhatikan Revan yang sibuk dengan pan dan spatula di depan sana, senyum tipis tampak menghiasi wajahnya. Andai saja lelaki itu memperlakukannya seperti ini sejak awal, mungkin mereka tidak akan terluka. Memperbaiki pun tampaknya sudah tidak mungkin bagi Divina. Dia ragu akan kata cinta yang diucapkan Revan. Fikirannya selalu saja tertuju pada hubungan Revan dan Cindy.
Apa mereka masih berhubungan?
Apa aku orang ketiga dalam hubungan mereka?
Dan masih banyak lagi pertanyaan yang menutup rasa percaya diri Divina sebagai seorang istri. Dia masih ingat waktu kuliah dulu, setiap hari dia melihat Revan dan Cindy bergandengan tangan. Bahkan beberapa kali dia melihat mereka berciuman di perpustakaan. Rasanya tidak mungkin jika hubungan mereka benar-benar usai.
"Mikirin apa?"
Divina terkejut dan menatap Revan yang sudah duduk di sampingnya. Kemudian beralih ke sepiring sandwich yang sudah terhidang di depannya.
"Makasih, Mas." Divina mengulas senyum lembut ke arah suaminya yang menatapnya intens. Dengan perasaan tak menentu, Divina mulai menyantap sandwich buatan Revan itu.
"Gimana? Enak nggak?" tanya Revan sembari mengusap kepala Divina.
Divina mengangguk lucu, membuat Revan tersenyum lebar. Baru Revan sadari jika menjadi suami itu benar-benar menyenangkan. Melihat istri menyukai makanan yang dia buat saja, rasanya begitu bahagia. Seharusnya dulu dia memanjakan istrinya seperti para kolega bisnisnya yang selalu memperlakukan istri mereka seperti seorang ratu.
"Kamu nggak bisa bawa mobil, kan? Mau aku ajari?"
Mendengar tawaran itu, Divina tampak begitu berbinar. Dengan semangat dia mengangguk dan tersenyum senang. "Divin mau!"
"Nanti sore, ya." Revan ikut senang. Hal sederhana memang berdampak begitu besar pada istrinya.
"Iya, Mas."
.
.
.
.
.
Ya Allah, sebulan hiatus 😭😭😭
Maaf bangettttt, aku lagi sibuk sama tugas dan ujian. Aku harap kalian sabar menanti kelanjutannyaa, ya🙏🏻🙏🏻🙏🏻
utk divina kl ada sesuatu yg ganjal di hati/sebuah pertanyaan utk sang suami hrus diutarakan/ditanyakan langsung,krn sebuah hubungan hrus sling terbuka gak bisa klo cuma diem di batin aja, krn zaman skg sdah jrang org puya ilmu kebatinan,iya gak sodara2..??!!
good job thor, ttp smangat n Fighting ✊✊✊