Haloo... ini novel pertamaku..
yg di judul sebelumnya aku tamatin karna ada kesalahan. So, aku pindah ke judul ini aja..
Enjoy reading...
- - - -
Bagaimana rasanya kalau calon suami tercinta tertangkap basah sedang berkhianat??
belum sembuh luka hati, tiba-tiba...
"menikahlah dengan mas Bara, dek!"
Kata-kata itu yang sekarang membuat Nadia dilema. Menikah dengan kakak ipar sendiri??? Are you serious!??
Pengkhianatan, Kekecewaan, lalu pernikahan dadakan...
Sanggupkah Nadia melalui semua itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27
BAB 27
Saat ini mereka tengah berada dalam perjalanan menuju ke rumah orang tua Nadia untuk mengambil barang-barang milik Nadia sekaligus menjemput Lea dan Bu Lika.
“Mamaa…Papa…. Aku pulang..” Teriak Nadia setelah sampai di ambang pintu dan melihat kedua orang tuanya sudah siap menyambutnya pulang.
“Hei, sayang. Pelankan suaramu, kau ini sudah jadi istri kok masih aja kayak anak-anak. Apa kau tidak malu pada suamimu?” ucap mama Mel menyambut Nadia dan menantunya.
“mama…” Nadia mengerucutkan bibirnya setelah mendengar ucapan mamanya.
“Dimana my baby Lea ma?” pandangan Nadia menyusuri ruangan sekitarnya mencari keberadaan bayi mungil nan lucu itu.
“Lea sedang berada di gazebo taman belakang sama Bu Lika.” sahut mama Mel
“Yasudah, aku mau kesana dulu yaaa. Aku sudah rindu sekali” Nadia melenggangkan kakinya meninggalkan ruang tamu menuju ke taman belakang rumah.
Tinggallah mama Mel, papa Johan, dan Bara di ruang tamu.
“sini nak, duduk dulu” mereka berjalan menuju sofa di ruang tamu itu.
“sebentar ya mama tinggal ke dapur dulu” pamit Mama Mel
“Bara, boleh papa mengatakan sesuatu.” ucap papa Johan sepeninggal Melia.
“Silahkan, pa” sahut Bara
“Bara.. kami tau kalian berdua menjalankan pernikahan ini karena terpaksa. Papa tau kamu masih terasa berat mengiyakan pernikahan ini karena jauh di dalam hatimu kamu masih mencintai putriku Nadia. Tapi papa harap kalian tidak mempermainkan pernikahan ini.” Ucap Johan
“Nadia dan Safira itu sama-sama putriku. Tapi mereka memiliki sifat yang berbeda. Kalau safira bisa secara gamblang menceritakan masalahnya pada kami, lain dengan Nadia. Dia adalah anak yang manja, ceroboh dan perasaannya sensitif. Tapi meskipun begitu dia tidak pernah mau menyusahkan orang disekitarnya, kalau punya masalah dia akan menanggung dan menyelesaikan masalah itu sendiri. Dia tidak ingin menjadi beban untuk orang lain.” Kepala Johan menengadah mengingat-ingat bagaimana sifat putri bungsunya itu.
“Maka dari itu papa harap kau bisa bersabar menghadapi sikapnya itu. Dan papa mohon, jaga putriku ini dengan baik sebagaimana kau menjaga Safira. Papa yakin kalian bisa melalui pernikahan ini dengan baik.” Johan menatap mata Bara secara intens menandakan bahwa ucapannya itu benar-benar sangat serius.
“Baik, pa aku janji akan menjaga putri papa dengan baik sekalipun pernikahan kami ini tidak didasari dengan cinta. Tapi aku akan berusaha untuk tidak mengecewakan papa, mama, dan Nadia.” Ucap Bara mantap
“Good, terima kasih.” Johan menyandarkan punggungnya ke punggung sofa.
“So, bagaimana dengan usahamu?”
“sejauh ini masih lancar, Pa. Baru-baru ini ada beberapa toko produksi dan tempat perbelanjaan yang mengajukan kerja sama dengan perusahaan Bara. Bulan depan perusahaan akan mengekspor bahan kain ke partner kita yang ada di luar negeri.” Jelas Bara
“Wow, itu hal yang bagus. Semoga kedepannya usahamu semakin maju dan lancar”
-----
Di taman belakang
“waah..seru banget ini mainnya” Melia menghampiri putrinya yang sedang bermain dengan Lea.
“eh.. mama disini” sahut Nadia melihat mamanya datang
“Kayaknya Lea udah bener-bener nempel banget sama kamu, nak” ucap Melia melihat Lea yang asyik menempel pada mama barunya itu.
“Iya nih ma, dari tadi sejak aku datang langsung heboh jingkrak-jingkrak minta sama aku”
“Nak, mama bisa ngomong sesuatu sama kamu?” tanya Melia
“Iya bisa ma”
“Mbak Lika tolong bawa Lea masuk dulu ya. Kasian kalo kelamaan di luar.”
“Iya nyonya. Sini sayang sama mbak dulu ya…” Mbak Lika pun berlalu pergi dengan baby Lea di gendongannya
“Nak, mama mau ngomong serius sama kamu.” Raut wajah Melia benar-benar menunjukkan keseriusan
“Ada apa ma?”
“bagaimana perasaanmu sekarang?” tanya mama Mel
“maksud mama perasaan yang seperti apa?” Nadia mengerutkan keningnya
Mama Mel menghela nafas terlebih dahulu sebelum melanjutkan ucapannya. “Mama tau pernikahan ini bukanlah hal yang kamu inginkan, kalian menikah hanya supaya bisa memberikan Lea keluarga yang utuh dan menepati janji kalian pada mendiang Safira.” Nadia menundukkan kepalanya mendengarkan ucapan Melia.
“Mama juga tau kamu sebenarnya masih enggan untuk menikah karena kegagalan sebelumnya, begitupun Bara yang masih sangat mencintai kakakmu. Tapi mama minta sama kamu, biar bagaimanapun kamu sekarang sudah menjadi seorang istri dan seorang ibu. Jadi mama harap kamu bisa melakukan tugasmu dengan baik. Tolong jaga rumah tangga kalian, pertahankan sampai maut yang memisahkan.” Ucapan Melia membuat Nadia mendongakkan kepalanya dan menatap ke arah mamanya.
“Iya ma, Nadia akan berusaha sekuat tenaga untuk menjaga pernikahan ini. Nadia janji akan melakukan tugas Nadia sebagai seorang istri dengan baik.” ucap Nadia sambil menggenggam tangan mamanya.
“iya sayang, semoga rumah tangga kalian selalu bahagia dan langgeng selalu. Dan mama sangat berharap semoga tumbuh cinta diantara kalian berdua.” Melia memeluk putrinya dengan sayang
“Iya ma, terima kash” Nadia membalas pelukan mamanya.
**Cintaa…..memang ada cinta, cinta kak Bara pada kak Saf. Dia tidak mencintaiku dan aku juga tidak mencintainya. Ini hanya demi Lea… maaf ma, maaf pa. Tapi aku janji akan selalu menjaga pernikahan ini dan berusaha menjadi istri dan ibu yang baik.**
- - - - - - -
~halooo semuanyaa. Maaf yaa lama nggak up karna kemarin lagi ada beberapa masalah, jadi belom sempet nulis...
Tapi semoga setelah ini bisa rajin nulis dan up lagi....
Terimakasih