Sequel "Dua Suami"
Hiatus
Mencintai seorang janda mungkin sudah menjadi sebuah kutukan untukku. Setelah ditinggal istri dan anaknya yang masih dalam kandungan membuatku menutup hatiku rapat-rapat.
Hingga pertemuan dengan wanita hamil tanpa suami membuatku teringat dengan mantan istriku yang sudah meninggal membuatku ingin sekali berada di sisinya untuk menjaganya.
Namun lambat laut bukan perasaan ingin melindungi, tapi mencintainya membuatku mampu membuka hatiku yang telah lama tertutup rapat.
Namun aku harus dengan rela melepaskan saat bayi yang ada di dalam kandungannya membuatku harus rela menyerahkan pada suaminya yang ternyata adalah sepupuku sendiri. Oh tidak, dunia itu ternyata begitu sempit.
Saat diriku ingin sekali menutup hatiku rapat-rapat lagi. Wajah yang sama namun orang yang berbeda membuat kami dekat. Apalagi dia juga seorang janda dengan satu putra.
Apakah aku bisa membuka hatiku untuknya? Meski sifat dan wataknya yang berbeda, namun wajahnya membuatku ingat dengannya?
Maaf semuanya, sementara Hiatus dulu. Aku sedang menyelesaikan karyaku yang lain. 🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arazy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Bram masih setia memeluk pinggang istrinya erat pagi itu. Setelah semalam menunggu istrinya mandi. Bram harus rela meredam hasratnya. Dengan langkah malu-malu keluar dari dalam kamar mandi dengan bath rope masih melekat di tubuhnya. Lia meringis merasa bersalah pada suaminya.
"Mas.." Panggil Lia menatap suaminya merasa bersalah.
Bram langsung menoleh menatap istrinya sumringah namun wajah rasa bersalah istrinya mengganggu pikirannya. Dia merasakan firasat buruk dengan tatapan mata istrinya.
"Ya?"
"Bisa minta tolong?" pinta Lia ragu-ragu.
"Apa?"
"Ah, aku akan minta layanan resort ini saja." Lia mengalihkan perhatian menuju telpon rumah yang ada di nakas kamar mereka.
"Untuk apa? Kau butuh sesuatu?" Cegah Bram memegang pergelangan tangan istrinya.
***
Disinilah Bram sekarang, di minimarket terdekat dari resort mereka. Bram berdiri di depan rak tempat perlengkapan kaum wanita ditata. Dia menatap barang yang dijajar di atas rak itu dengan seksama. Bingung untuk menentukan pilihan. Karena barang-barang itu tampak sama dan hampir mirip spesifikasinya. Dia tadi lupa menanyakan pada istrinya.
Merk dan ciri-ciri yang biasa digunakan oleh istrinya. Istrinya hanya mengatakan apa saja tak apa. Bram langsung mengiyakan dan pergi meninggalkan resort tersebut meski ragu istrinya apa berani sendiri diresort itu. Kalau saja bukan karena keadaannya yang tidak memungkinkan, akhirnya Lia terpaksa ditinggalkan di resort sendirian.
Bram berjanji akan segera kembali begitu mendapatkan apa yang diinginkan istrinya dapat. Namun ternyata Bram harus bimbang karena banyak pilihan. Sejenak dirinya berpikir. Apa yang harus dilakukannya. Dia ragu untuk minta bantuan pada karyawan minimarket, selain malu, apa yang akan dikatakan mereka nanti. Akhirnya Bram mengambil semua produk tersebut satu persatu dari setiap merk, warna dan bungkusnya.
Dan alhasil dalam tas belanjanya hanya berisi pembalut wanita dengan berbagai merk dan kemasan. Saat menuju kasir, karyawan itu menatapnya heran dan menahan senyumnya. Bram tersipu malu melihat karyawan kasir itu menahan tawanya. Bram merasa ingin tenggelam ke dasar laut saja saking malunya.
Dia segera meninggalkan minimarket itu cepat-cepat sebelum rasa malunya semakin besar jika semua karyawan minimarket itu menggosipkannya begitu dia pergi. Bram menghela nafas berat setelah sampai di depan pintu resortnya.
"Huft gagal lagi ya?" bisik Bram lirih hingga akhirnya dia memutuskan masuk ke dalam kamar mereka dan menyerahkan pesanan istrinya.
Lia terkejut dan melongo melihat begitu banyaknya pembalut yang dibawa suaminya lengkap dalam setiap merk-nya.
"Kenapa... banyak sekali mas?" tanya Lia keheranan.
"Aku tak tahu bagaimana yang kau inginkan, jadi aku mengambil semua di setiap merk-nya." jawab Bram malu-malu, dia tak mungkin mengatakan yang sebenarnya.
Dia sungguh sangat malu, itu terakhir kalinya dia membeli barang itu, itupun karena kasihan pada istrinya dan tak mungkin dia membiarkan istrinya pergi dalam keadaan yang seperti itu.
"Ini terlalu banyak mas?"
"Cepatlah kau pakai! Bisa dipakai untuk bulan berikutnya." Sangkal Bram.
"Kalau bulan depan aku hamil, ini akan mubadzir..." Lia terdiam menyesal dengan ucapannya sendiri.
Bram menatap melongo dengan ucapan istrinya. Hamil? Pasti akan menyenangkan melihat istriku hamil? batin Bram tersenyum senang, entah kenapa hatinya membuncah bahagia mendengar kalau istrinya menginginkan hamil anaknya.
"A... aku akan ganti." Elak Lia menghindari suaminya karena malu.
Dia merutuki bibirnya karena ucapannya. Wajahnya tersipu malu saat hendak masuk ke dalam kamar mandi.
TBC
lanjuuut