karena sebuah hutang, Rere Margaretha, seorang remaja cantik yang berusia 19 tahun harus dipaksa menikah dengan CEO di perusahaan di mana Rere bekerja.
Sean Agipratama, seorang pria dewasa berusia 32 tahun, pria dingin dan arrogant, harus menikahi gadis yang tidak ia cintai karena tujuannya.
akankah pernikahan yang mereka jalani sesuai dengan tujuan Sean, atau malah sebaliknya.
ikuti terus ceritanya agar tau kelanjutannya 🤗
ikuti ig author untuk informasi MPH
@aran_diah
Terima kasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arandiah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 27
Selamat membaca,,, 😘😘😘
...****************...
Tokk tokk tokk
“Tuan muda, Nona muda, sarapan sudah siap di meja makan,” ucap Pak Sam di balik pintu.
“Baik Pak Sam, kami akan segera turun,” ucap Rere sedikit berteriak dan itu mengusik Beruang yang sedang tidur memeluknya dengan erat.
“Apa kau pikir ini hutan belantara yang bisa sepuasnya berteriak,” ucap Sean dengan suara serak khas bangun tidur tanpa membuka matanya dan itu terdengar sangat seksi di pendengaran Rere.
‘Ya, Anda adalah Beruangnya, hey kenapa Anda malah memeluk saya semakin erat Tuan muda Sean yang terhormat,’ batin Rere kesal karena perutnya terasa sesak.
“Tuan, ini sudah pagi,” ucap Rere mengingatkan sekaligus memberi kode agar suaminya itu segera melepaskan pelukannya itu.
“Lalu?” tanya Sean yang semakin menyusupkan wajahnya di ceruk leher istrinya itu.
“Tuan, Saya mau mandi, tadi Pak Sam sudah menjemput kita,” jawab Rere sambil menggeliat karena geli, hembusan napas Sean begitu terasa, wajah Rere berubah merah padam, jantung berdesir dengan hebat, entah perasaan apa itu Rere pun tak tau.
“Baiklah, pergilah jika kau memang tidak mau aku peluk,” ucap Sean mendengus kesal sambil melepaskan pelukannya dari Rere.
‘Kenapa dia sangat sensitif pagi ini, tapi ya sudahlah aku juga tidak mau terus begini dan membuat jantung ku seakan ingin lari dari tempatnya’ batin Rere yang tak habis pikir dengan suaminya itu.
“Terima kasih, Tuan,” ucap Rere sambil beranjak dari tempat tidur.
“Pergilah jika kau mau keluargamu yang akan menanggung perbuatan mu ini,” ucap Sean santai dengan berisi racun ancaman di dalamnya dan itu berhasil membuat Rere mematung di tempatnya.
“Saya mohon Tuan, jangan sakiti mereka, mereka sama sekali tidak bersalah,” ucap Rere yang sudah naik kembali ke atas tempat tidur dengan mata berkaca-kaca.
“Mereka salah, apa begini cara mereka mendidik putrinya melayani suaminya,” ucap Sean yang masih membuang muka ke arah lain.
“Tuan, ini semua salah saya, lagi pula kontrak pernikahan kita tinggal 2 bulan lagi,” ucap Rere mengingatkan agar Sean sadar bahwa pernikahan mereka hanyalah kontrak dan akan segera berakhir.
Sean yang mendengar Rere menyebutkan ‘pernikahan kontrak dan akan berakhir’ sangat marah, bahkan wajahnya merah padam menahan gemuruh di dadanya.
‘Tidak akan aku biarkan kau pergi Re, sesuatu yang sudah menjadi milik ku akan tetap bersama ku dan tidak akan aku biarkan seorangpun yang dapat merebut mu dariku, dengan cara apapun aku akan mempertahankan dirimu,’ batin Sean yang sangat geram dengan penuturan dari istrinya itu.
Sean langsung menarik tangan Rere dan membalik posisi mereka, yang kini Rere ada di bawah kungkungan Sean, tanpa aba-aba, Sean langsung men**cium bibir Rere dan mel***umatnya sedikit kasar, karena Rere tak kunjung memberi balasan dan menutup mulutnya, Sean akhirnya menggigit bibir bawah Rere agar membuka mulutnya itu, sedangkan Rere yang memberontak dari tadi sudah kehabisan tenaga.
“Eemmmpph emmph emmph,” Rere mencoba menghentikan tindakan Sean sambil terus mendorong dada Sean, namun semuanya hanya sia-sia karena tenaga Sean jauh lebih Kuat, dengan air mata yang mengalir deras akhirnya Rere pasrah.
Sean yang menerima pemberontakan itu pun sangat tertantang, bahkan Sean seakan buta ketika air mata Rere mengalir, Sean terus mel***umat bibir Rere, tak lupa juga dirinya memasukan lidahnya ke dalam mulut Rere dan mengabsen setiap rongga mulut istrinya itu.
“Emmuach,,,emuachh muach,” bunyi cecapan ciuman mereka.
“Hhhaa, hhhaah, hhhaah,” deru napas mereka memburu setelah melepas ciuman panas mereka.
“Maafkan aku, ccuuup, aku akan mandi, siapkan pakaianku,” ucap Sean dengan lembut karena takut Rere akan semakin takut padanya dan segera beranjak dari tempat tidurnya, sedangkan Rere hanya menganggukkan kepalanya dan memperhatikan kepergian suaminya hingga pintu kamar mandi tertutup.
*Rere Margaretha baru bangun tidur di pagi hari 😍*
*To be continue*
Terima kasih,,,
...****************...
Tekan favorit agar dapat notifikasi jika sudah up,,, 😘
Jangan lupa sedekah dengan like, vote, hadiah dan komen tentang ceritanya,,
Follow IG Author @aran_diah