true story....
Noviant Juan adalah seorang pria yang tertutup, dia seakan punya dunia sendiri tapi semua berubah karena kedatangan seorang gadis di hidupnya.
Meyda Shakira harus mu hidup bersama orang yang tak mengharapkan kehadirannya.
Naira putri Noviant adalah cahaya cinta keduanya.
akankah mereka bahagia?
atau Vian akan kembali pada cinta lamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meidina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
masalah itu namanya Rini
"pulang," kata Vian pada Kadir.
Kadir pun mengerti jika Vian sedang merasa kesal, pasalnya bukan berterima kasih Rini malah mengejek Vian.
mereka pun sampai di rumah Vian, terlihat Aira sedang bermain dengan sepupunya itu, Vian menghampiri Akira.
"wah lagi min apa ini?" tanya Vian.
"lagi main ular tangga om, ya kan Aira," kata Nanda.
"baiklah ayah masuk dulu kalau begitu, Aira mana bunda?" tanya Vian.
" di dalam, Aila panggilkan sebental," kata Ira berlari ke dapur.
tak lama Akira menghampiri Vian yang duduk di kursi kayu di teras rumah, Akira pun menaruh wedang jahe hangat di samping Vian.
"di minum dulu, biar badannya hangat mas," kata Akira.
"kenapa? aku baik-baik saja kok," jawab Vian.
"iya biar badannya anget saja, tadi mas habis minum es kan, jangn jadi Aira ya," jawab Akira duduk di samping Vian.
"habis panas dek, aku hanya tak kuat dengan hawa panasnya," jawab Vian.
"ya sudah, mas mau mandi dulu, biar aku siapkan semuanya, dan juga ada-" kata Akira terpotong karena melihat kedatangan seseorang.
"mas ada mbak Rini," kata Akira pada Vian yang sedang memejamkan matanya sambil menyandar di bahu Akira.
Vian langsung bangun dan melihat Rini datang, "hai aku datang mau berterima kasih, tentang hari ini," kata Rini dengan senyum yang mengembang.
"aku ke dalam dulu," pamit Akira yang tak ingin bermasalah dengan Vian karena wanita itu.
"tunggu dek, Aira dan Nanda kalian masuk," perintah Vian.
Aira dan Nanda pun masuk tanpa membantah, Vian mengandeng tangan Akira, dan menghampiri Rini.
Rini pun makin kesal melihat Vian makin lengket dengan Akira, dan dia tak menyukai itu.
"kenapa ku repot ke sini," kata Vian.
"aku hany mu berterimakasih tentang tadi, kau begitu menghawatirkan aku sampai rela membantuku," kata Rini sambil mendekat kearah Vian.
Akira tak bereaksi, Vian malah mundur saat Rini mendekat, "aku tak masalah, lebih baik sekarang kamu pulang, mungkin suamimu sedang mencarimu," kata Vian.
"ku tak mengizinkan ku masuk, padahal aku tadi dari rumah istirahat kita di Pacet Mojokerto , dan kau ingat dulu kau membangun rumah itu untukku kan," kata Rini memancing Akira.
Akira menoleh pada suaminya, dan berarti rumah yang semalam mereka datangi adalah rumah milik Rini yang di bangun oleh Vian.
"aku akan menjualnya, atau mungkin membongkarnya," jawab Vian.
"kenapa, bukankah rumah itu ku yang merancangnya," tanya Rini kaget.
"karena aku akan membangun rumah Bru untuk istri dan anakku, dan menghilangkan masalalu kelam ku, jadi sekarang kau pergi karena kehadiran mu tak di undang," kata Vian.
"awas ku Vian, ku pastikan kau akan mengemis di kakiku," kata Rini sebelum pergi.
"kenapa istriku lebih baik dari segalanya di banding dirimu," jawab Vian.
Rini pergi dengan perasaan dongkol, pasalnya dia tak bisa menggoyahkan Vian saat ini, dan Rini tak suka itu.
Rini tak suka Vian memilih wanita kampung dan melupakan dirinya, Krena bagi Rini kesakitan Vian adalah kepuasan tersendiri.
Akira pun langsung meninggalkan Vian dan masuk ke dalam rumah, Vian memilih duduk di kursi tadi.
Vian memegangi kepalanya, dia tak menyangka jika Rini terus menganggu rumah tangganya bersama Akira.
Akira kembali ke tempat Vian, " mas katanya mau mandi, kok masih duduk di teras?" tanya Akira.
"oh oke," jawab Vian yang langsung meminum wedang jahe itu.
"mas itu panas," kata Akira melihat Vian langsung meminumnya.
"gak kok, cuma hangat," jawab Vian langsung menuju ke kamarnya.
sedang di dapur, Vera dan yang lain masih sibuk menyiapkan bahan-bahan pelengkap bakso.
Aira menghampiri Akira yang akan pergi membantu Bu Ageng dan yang lain.
"bunda tadi itu siapa? kok malah malah sama ayah, Aila gak suka," kata Aira menarik jubah Akira.
"sayang bunda, Aira gak boleh ngomong seperti itu ya, ibu tadi sedang menasehati ayah dan bunda jadi dua sedikit marah," kata Akira.
"tapi bunda tidak pelnah malah malah, ibu tadi jahat bunda," kata Aira.
"sayang tidak boleh ngomong seperti itu ya, ibu tadi lebih tua jadi Aira harus hormat, oke," kata Akira.
Aira hanya mengangguk mendengar perkataan Akira yang menasehatinya, "sekarang kita makan bakso mau," ajak Akira agar putrinya itu tak sedih.
"mau bunda, Aila mau bakso dan somay ya bunda," kata Aira semangat.
"somay apa sayang gubis atau kulit pangsit?" tanya Akira.
"sayul bunda," jawab Aira.
"oke, sekarang kita ke dapur, ayo bang Nanda," ajak Akira.
semua sudah sibuk di meja makan saat Akira datang, sayang Ela sudah pulang ke Mojokerto pasalnya Robi harus menjual rumah milik Vian.
"sekarang kita tunggu mas Fandi dan bang Vian," kata Anis.
"aku di sini tak perlu di tunggu," jawab Fandi.
"tunggu biar aku lihat mas Vian dulu ya, kalian semua bisa makan dahulu," kata Akira pergi setelah mengambilkan untuk Aira.
benar saja baru masuk ke dalam kamar, Akira terkejut melihat Vian sudah tertidur di ranjang.
Akira langsung menyentuh dahi Vian dan terasa begitu panas, Akira pun mengambil alat kompres.
"kenapa mbak?" tanya Vera yang melihat Akira begitu khawatir.
"maaf ya, mas Vian demam, kalian makan saja, biar saya rawat mas dulu," kata Akira yang membuatkan bubur untuk Vian.
dan tak lupa air rebusan waluh jangan, Akira terlihat begitu cekatan, tak lama semuanya pun siap.
"mau ibu bantu nak?" tawar Bu Ageng.
"tidak Bu, Akira sudah biasa, ibu lanjut makan saja, dan titip Aira ya," kata Akira yang menuju ke kamarnya dengan nampan.
Akira membantu Vian bangun, "mas makan dulu yuk?" kata Akira.
"gak ah, mulutku rasanya pahit," jawab Vian lemah.
"ayolah mas, tiga suap saja ya," mohon Akira.
Vian pun melihat bubur di tangan Akira, dia pun akan mengambilnya tapi Akira terlebih dahulu menyuapi dirinya.
Vian pun bisa melihat kekhawatiran istrinya itu, sedang Akira terus menyuapi dengan telaten.
"sudah dek," kata Vian pada Akira.
"satu suap lagi," kata Akira yang menyodorkan sendok ke depan Vian.
Vian pun menurut, setelah itu Akira memberi minum air rebusan yang tadi, "mas istirahat ya," kata Akira.
"kamu mau kemana? tetap disini," kata Vian.
"baiklah mas," kata Akira naik ke ranjang.
Vian pun tidur dengan berbantal paha Akira, sedang Akira pun tak keberatan dengan itu.
akhirnya Vian tertidur, dan suhu tubuhnya juga sudah turun, tapi Akira tak bisa bergerak karena pelukan Vian.
saat Aira masuk ke dalam kamar, "bunda ayah," panggil Aira cukup keras.
"ssttss .. ayah sedang tidur sayang, sini," panggil Akira.
Aira pun naik keranjang, Aira pun ikut tidur di samping Vian yang sedang sakit.
"semoga ayah lekas sembuh ya, Aila sayang ayah dan bunda," kata Aira memberi ciuman pada Vian yang terlelap.
"amiin," jawab Akira.
Kalau berkenan boleh mampir dan support karyaku yang berjudul Sungguh Mencintainya 🙏😉☺️
tegas mirip Romo Jalal
pernah suatu waktu anaknya nangis g mau diam.lsg dibawanya kerumah.alhamduliah begitu kami gendong si baby lsg tenang.
aku sarankan untuk mencari ustadz yg berpengalaman.krna anak ini ada yg jagain.jdi klo ada yg niat g baik dg mengirimi sesuatu, penjaganya marah. itu yg buat si anak rewel..
alhamdulillah..skrg si anak sdh balita.
semangat Thor..🤩🤩
cerita ini sesikit banyak mengingatkan tentang kampung halaman.
pohon rambutan kembar di depan pintu. dijaga macan loreng putih. begitu diceritakan banyak yg tak oercaya dan beranggapan hanya bualan.
giliran surup (menjelang magrib datang) ada balita yg membagikan jajanan beng-beng ke maung di dwpan beberapa ibu2 tetangga.
padahal mrka tak melitah apapun didepan balita itu.
begitu ditanya,si balita bilang..jajannya buat miong yg duduk baik.
nah loh.. kicep lsg para emak2 yg denger.auto bubar masuk rumah masing2..😁😁
apakabar akira selama ini vian..??
hempaskan susukk..😆😆😆
g ada yg nyangka klo jenasah blm mau pulang tanpa maaf dri orang tsb.
jagalahblisan dan perbuatan. krna kadang tanpa kita sadari kita menyakiti orang lain tanpq sengaja dan meninggalkan luka yg mendalam.