Arka selalu mengira air mata adalah tanda kelemahan—sampai dia menyadari air matanya bisa membuka pintu menuju masa lalu.
Setiap kali kesedihannya mencapai titik paling dalam, dunia di sekelilingnya luntur, dan ketika dia membuka mata lagi, dia sudah berada di hari yang berbeda—hari-hari sebelum ibunya tiada. Bagi Arka, ini adalah keajaiban yang selama ini dia doakan: kesempatan untuk mengubah segalanya, untuk membuat ibunya tetap hidup.
Tapi waktu tidak memberi tanpa mengambil.
Setiap kali Arka mengubah satu detik di masa lalu, satu orang dari masa depannya menghilang—bukan mati, tapi terhapus, seolah tak pernah ada. Sahabat yang selalu ada untuknya. Seseorang yang dia cintai. Bahkan dirinya sendiri, versi demi versi, mulai memudar dari dunia yang dia kenal.
Arka harus memilih: berhenti sekarang dan menerima kehilangan yang sudah terjadi, atau terus melangkah lebih jauh ke masa lalu—mempertaruhkan semua yang tersisa—demi satu pelukan terakhir dari ibunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hyouketsu no Namie , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penemuan yang Tidak Terduga
Setelah malam itu—setelah toast ibunya, setelah pengakuan yang membuat Arka merasa, untuk pertama kalinya, benar-benar diterima—Arka mulai merasakan ketenangan yang berbeda. Bukan ketenangan karena masalah selesai, tapi ketenangan karena dia berhenti mencari jawaban yang mungkin tidak ada.
Album foto Damar masih tersimpan di laci. Mimpi-mimpi tentang "Arka lain" mulai berkurang frekuensinya—meski belum sepenuhnya hilang.
Hidup berjalan. Nadia mendapat promosi lagi. Arka mulai mengajar fotografi part-time di sebuah komunitas, sesuatu yang dia temukan dia nikmati—berbagi, mengajar, terhubung dengan orang-orang.
Tapi suatu hari, sekitar enam bulan setelah makan malam itu, sesuatu terjadi yang tidak pernah Arka duga.
Arka mengajar di sebuah workshop fotografi kecil di sebuah galeri seni di pusat kota. Salah satu pesertanya—seorang pria sekitar usia Arka, dengan kacamata yang terus-menerus melorot, datang terlambat dan duduk di bangku belakang.
Arka tidak terlalu memperhatikannya pada awalnya. Tapi saat sesi tanya-jawab, pria itu mengangkat tangan.
"Maaf," katanya, "tapi teknik yang Mas Arka jelasin tadi—soal komposisi negative space—itu mirip banget sama yang pernah diajarin sama temen aku dulu. Tapi temen aku itu... aku lupa namanya sekarang, aneh banget."
Arka merasakan sesuatu yang familiar—sesuatu di suara pria itu, di cara dia tertawa kecil sambil bicara.
"Boleh tau, Mas namanya siapa?" tanya Arka, mencoba terdengar kasual.
"Saya Bayu," kata pria itu. "Bayu Pratama."
Nama itu—Bayu—membuat sesuatu di kepala Arka bergetar. Bayu adalah nama teman masa kecil Arka di "dunia lama"—rumah yang ingin dia kunjungi pada 14 Maret, hari kecelakaan itu seharusnya terjadi.
"Bayu," kata Arka, mencoba menjaga suaranya tetap stabil, "kamu... kamu dulu tinggal di mana? Waktu kecil?"
Bayu mengangkat alis, sedikit bingung dengan pertanyaan itu, tapi menjawab. "Daerah Cipayung. Kenapa?"
Cipayung. Daerah yang sama dengan jembatan—jembatan di mana, di dunia lama, ibu Arka mengalami kecelakaan.
"Saya... saya rasa kita mungkin pernah kenal," kata Arka, jantungnya berdebar. "Dulu, waktu kecil. Saya Arka."
Bayu menatap Arka lama, mengerutkan kening, seperti mencoba mengingat sesuatu yang ada di ujung lidahnya tapi tidak bisa dia raih.
"Arka..." gumam Bayu, pelan. "Kayaknya... kayaknya saya pernah denger nama itu. Tapi—" dia menggeleng, tertawa kecil, "—aneh, ya. Mungkin cuma déjà vu."
Setelah workshop selesai, Arka mengajak Bayu untuk minum kopi—Bayu menerima dengan ramah, meski terlihat sedikit bingung dengan ketertarikan Arka yang tiba-tiba.
Mereka duduk di kafe dekat galeri, dan Arka, dengan hati-hati, mulai bertanya tentang masa kecil Bayu.
"Aku punya temen waktu kecil," kata Bayu, mengaduk kopinya. "Tapi... aneh, aku nggak bisa terlalu jelas mengingatnya. Kayak ada gap. Aku ingat main sama dia, tapi nggak ingat namanya, nggak ingat wajahnya jelas. Aneh banget, kan? Padahal dia temen yang paling deket waktu itu."
Arka merasakan dadanya sesak. "Kamu... kamu masih punya foto-foto dari waktu itu?"
Bayu berpikir sejenak, lalu mengeluarkan ponselnya, mencari di galeri lamanya—file-file yang dia scan dari foto-foto fisik bertahun-tahun lalu.
Dia menunjukkan satu foto ke Arka.
Foto itu menunjukkan dua anak laki-laki—satu di antaranya jelas adalah Bayu kecil. Yang satunya...
Arka menatap foto itu, dan napasnya tercekat.
Anak laki-laki di sebelah Bayu kecil itu adalah Damar.
"Itu... itu siapa?" tanya Arka, suaranya bergetar, menunjuk ke arah Damar dalam foto.
Bayu menatap foto itu lama, mengerutkan kening lebih dalam. "Aku... aku nggak tau. Aneh banget. Aku tau ini foto dari acara ulang tahun aku, tapi aku nggak bisa ingat siapa anak ini. Tapi—" Bayu berhenti, menatap Arka dengan ekspresi aneh, "—tapi aku ngerasa dia penting. Kayak... kayak dia orang yang harusnya aku kenal banget."
Arka menatap foto itu, dan untuk pertama kalinya, sesuatu mulai masuk akal.
Bayu juga mengingat sesuatu—sebagian. Damar pernah ada di hidup Bayu juga. Mungkin... mungkin Damar nggak sepenuhnya "menghilang." Mungkin ada jejak-jejaknya yang tersisa, tersebar di berbagai tempat, di berbagai orang—jejak yang nggak cukup kuat untuk jadi "ingatan penuh," tapi cukup untuk meninggalkan... bekas.
"Bayu," kata Arka, suaranya pelan, "nama anak itu Damar. Damar Setiawan."
Bayu menatap Arka, matanya melebar. "Damar..." Dia mengulang nama itu, seperti mencicipi sesuatu yang familiar tapi terlalu lama tidak dia rasakan. "Damar... iya. Iya, aku... aku ingat sekarang. Sedikit. Dia... dia sahabat aku."
Air mata mulai menetes di pipi Bayu, mengejutkan dirinya sendiri. "Aku nggak tau kenapa aku nangis. Tapi... tapi rasanya kayak baru ingat sesuatu yang udah lama banget aku lupa. Sesuatu yang penting."
Arka menatap Bayu yang menangis tanpa benar-benar mengerti kenapa, dan untuk pertama kalinya, dia menyadari sesuatu yang memberi sedikit kedamaian:
Damar nggak benar-benar hilang. Dia ada—sebagai jejak, sebagai bekas, di orang-orang yang pernah mengenalnya. Bahkan jika dunia "menulis ulang" cerita besar, beberapa hal kecil—perasaan, kesan, "rasa kenal" yang nggak bisa dijelaskan—tetap tertinggal.
Mungkin itu caranya seseorang tetap "ada," bahkan setelah dunia berubah. Bukan sebagai bagian dari cerita besar, tapi sebagai jejak-jejak kecil, tersebar, di hati orang-orang yang pernah mereka sentuh—meski orang-orang itu nggak selalu sadar.
Arka tersenyum—senyum yang sedih, tapi juga penuh syukur.
"Bayu," katanya, "makasih udah cerita."
Bayu menyeka matanya, tersenyum kecil, masih sedikit bingung dengan emosinya sendiri. "Sama-sama. Aneh, tapi... entah kenapa, aku ngerasa lega. Kayak ada sesuatu yang akhirnya... selesai. Walaupun aku nggak tau itu apa."
Mereka bertukar nomor sebelum berpisah—Bayu mengundang Arka untuk ikut acara reuni kecil yang dia adakan untuk teman-teman lama, meski "Damar" tidak akan pernah benar-benar bisa hadir.
Tapi Arka tahu, dengan caranya sendiri, Damar akan tetap "ada" di sana—dalam kenangan-kenangan samar, dalam jejak-jejak yang tersisa, dalam cerita yang mungkin akan diceritakan kembali, meski tanpa nama yang lengkap.
Dan untuk Arka, itu—untuk saat ini—terasa cukup.