NovelToon NovelToon
Sebatas Pendamping

Sebatas Pendamping

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Contest / Patahhati / Poligami / Tamat
Popularitas:1.2M
Nilai: 4.8
Nama Author: heni

Novel ini hanya lucu di awal, semakin ke ujung ada sedikit bawang. Semoga suka.

*******

Mulutmu harimau-mu. Pepatah itu sering kita dengar. Tapi sering kita lupa. Sehingga sangat gampang berucap tanpa memikirkan dampak dari ucapan kita sendiri.

Aurelia Syafitri. Gadis cantik berumur 25 tahun, pribadi yang periang, suka bercanda dan gemar melancarkan jurus bucin. Bagi orang itulah yang menyenangkan bagi Syafi. Tapi, tidak berlaku bagi calon suaminya. Ucapan calon suaminya saat menjelang hari pernikahan bagaikan air yang melunturkan semua warna pada hidup Syafi. Bukan cuma ucapan itu yang menyakitkan bagi Syafi. Tapi di tinggal saat menjelang akad nikah. Menjadi tamparan keras di wajahnya. Duka menjelang hari pernikahan itu membuat Syafi kehilangan jati dirinya.

Bagaimana nasib Syafi yang di tinggal saat menjelang pernikahan? Atau akan ada keajaiban yang bisa membuat Syafi kembali menjadi pribadi yang ceria dan menyenangkan? ‘’


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25 Hancur

Mereka semua melajukan mobil dengan kecepatan tinggi menuju Rumah Sakit. Perjalanan mereka lancar, mobil Mayfa baru berhenti di parkiran Rumah Sakit. Syafi langsung turun dari mobil Mayfa, tanpa pamit pada siapapun

Syafi langsung berlari menuju ruangan Pamannya. Melihat Syafi berlari tanpa memerdulikan mereka, Dirga juga segera berlari mengejar Syafi. Sesampai di ruangan Pamannya, terlihat dokter dan beberapa perawat memeriksa Pamannya.  Melihat Syafi masuk kedalam ruangan, tatapan mata semua orang tertuju kearahnya. Syafi memandangi wajah-wajah yang Nampak cemas itu, pandangan matanya terhenti saat menatap sang dokter yang menangani Pamannya, seakan memberi isyarat padanyaa. Dokter langsung mendekati Syafi.

Berulang kali dokter berusaha untuk bicara, tapi dia bingung memulai dari mana. “Berbicaralah pada Pamanmu, sampaikan suatu hal yang membuat Pamanmu lega, sehingga dia bisa pergi dengan tenang.” Dokter melihat Dirga juga mendekat, dokter berjalan kearah Dirga, dia menepuk Pundak Dirga.

Syafi melangkah mendekati pamannya, dia meraih tangan pamannya. “Paman ….” Mencium tangan yang tidak berdaya itu.

Sedang di pintu ruangan itu, terlihat Mayfa, Eren, Rosalina dan Pak Said baru sampai di ruangan itu. Mayfa meraih tangan Dirga, dia menarik Dirga. Dirga pasrah mengikuti tarikan tangan Mayfa, hingga mereka berdua berdiri di dekat Syafi. Mayfa mendaratkan telapak tangannya di bahu Syafi. Berusaha menyemangati temannya.

Tatapan mata Syafi masih tertuju pada pamannya. Tangannya masih menggenggam tangan Pamannya. “Paman … aku dan kak Dirga sudah menikah.” Syafi menundukkan wajahnya begitu dalam.

Dirga segera mendekat pada Ardhin. “Paman, sekarang Aurelia Syafitri, sudah sah menjadi istriku, sekarang dia menjadi tanggung jawabku, Paman. Paman jangan khawatir, insya Allah … aku akan menjaga Syafi, melindunginya, menyayanginya dan mencintainya.” Sedang yang di sebut tenggelam dalam lamunannya, tidak mendengari apa yang Dirga ucapkan.

Pak Said mendekat juga pada Ardhin, mendekatkan wajahnya ke sisi telinga Ardhin, berbisik di sana. Terlihat wajah Pak Said sedikit lega, saat mendengar sayup suara Ardhin walau tidak jelas. Tidak berselang lama suara monitor terdengar, pada layar pun terlihat garis lurus.

Syafi berusaha menahan tangisnya. Melihat temannya begitu terluka Mayfa mengusap punggung Syafi. Menyadari di sampingnya ada Dirga, Mayfa menarik Dirga agar mendekati Syafi, sedang dia melangkah mundur ke belakang.

“Jangan di tahan Fiy, tumpahin … lepasin … walau itu tidak mengurangi rasa sakitmu,” Ucap Mayfa.

Syafi langsung menenggelamkan dirinya ke pelukan orang yang ada di sampingnya. Dia mengira itu Mayfa. Menumpahkan tangisnya dalam pelukan itu. Seketika tubuh Dirga bergetar hebat, Syafi memeluknya. Berusaha mengontrol perasaannya, Dirga membalas pelukan Syafi, mengusap lembut punggung wanita yang kini menjadi istrinya. Sedang di depan sana, tim perawat mengurus jasad Ardhin. Sedang Syafi masih menumpahkan tangisnya dalam pelukan Dirga.

Pak Said langsung mengabari keluarga Ardhin yang tinggal dekat rumah Ardhin, untuk mempersiapkan persiapan menyambut jenadzah Ardhin nanti di rumah.

***

Suara sirine ambulan memecah kesunyian, beberapa warga sudah siap menanti jenadzah Ardhin. Terlihat Syafi dan Dirga juga keluar dari mobil Ambulan, para warga menyalaminya, sedang Syafi hanya diam, pandanganya entah tertuju kemana, walau dia menyambut uluran tangan para warga yang menyalaminya. Entah kenapa, rasa malu itu hilang dari perasaan Dirga, dia menarik Syafi dalam dekapannya, hingga wanita itu bersandar pada bahunya. Warga yang melihat maklum, karena mereka tau kalau lai-laki itu suami Syafi. Dari cerita saudara Kamal yang ikut menyaksikan akad nikah.

Keluarga Pak Said datang, Dirga meminta Mayfa untuk menemani Syafi, sedang dirinya membantu proses yang lain. Kini wanita itu bersama Mayfa dan saudari-saudari Mayfa. Syafi menyandarkan dirinya dalam pelukan Mayfa. Suasana duka itu kembali menyelimuti kediaman Ardhin, Syafi selalu setia di samping jasad pamannya, baru saja kemaren jasad Kamal terbaring di tempat ini, sekarang jasad pamannya juga terbaring di sini. Tidak menunggu lama jasad Ardhin akan segera di makamkan sore ini.  Hanya air mata dan pemandangan yang menyesakkan dada yang terlihat di kediaman itu, bahkan sampai saat pemakaman Ardhin.

Malam harinya langsung diadakan pengajian untuk Ardhin dan Kamal. Selesai acara pengajian, hanya sepasang pengantin baru itu saja yang ada di rumah itu.

Keduanya berdiam diri di ruang tengah, beberapa kali Dirga melirik kearah Syafi, tapi tatapan mata Syafi entah tertuju ke mana.

“Fiy, lebih baik kamu istirahat saja, saya mohon izin untuk menempati kamar paman dan bibi,” ucap Dirga.

Syafi menoleh kearah Dirga. Melihat wajah Dirga biasa-biasa saja, Syafi hanya menganggukkan kepalanya, menanggapi ucapan Dirga. Dirga segera masuk ke kamar yang dulu dia tempati bersama Ardhin, sedang Syafi langsung masuk ke kamarnya. Pengantin baru itu tidur di kamar yang terpisah.

Syafi menghempas kasar badannya duduk di sisi tempat tidurnya. Matanya tertuju kearah lemari kecil, di mana dia menyimpan Handphone yang di serahkan oleh pelayat di hari saat kamal meninggal. Syafi teringat kalau handphone Mayfa tertinggal di rumah ini. Syafi segera beranjak mengambil Handphone itu, beruntung pengisi daya handphone itu sama dengan handphone miliknya. Syafi segera mencolokkan kabel pengisi daya pada Handphone itu. Pikirannya terbang entah kemana, bingung dengan semua duka yang datang tiba-tiba.

Sudah lebih 30 menit handphone itu terhubung dengan pengisi daya. Syafi segera melepas kabel pengisi daya yang terhubung pada handphone itu. Menghidupkan handphone itu. Saat layar handphone itu menyala, terlihat foto Mayfa di layar handphone itu. Syafi lega, ternyata ini handphone milik temannya. Syafi ingin menaruh handphone itu ketempat semula, tiba-tiba dia teringat saat menghentikan rekaman yang berlangsung saat waktu kematian bibinya. Dia membawa handphone itu menuju tempat tidur. Duduk di tempat tidur sambil membuka handphone itu, beruntung handphone itu tidak pakai kunci keamanan.

Jemarinya terus mengusap layar benda persegi Panjang itu, mencari video tersebut. Syafi menarik napas begitu dalam saat menemukan video yang di cari, mengumpulkan keberanian untuk menonton video itu. Simbol play dia sentuh.

Rekaman Video menunjukkan rekaman yang memperlihat kan barang-barang yang tersusun di lantai, terdengar suara Mayfa menjelaskan kalau barang itu kiriman dari Erli, Bos Restoran tempat mereka bekerja dulu. Seketika jantung Syafi seakan meledak mendengar percakapan Arnaff dan paman juga bibinya, air mata Syafi mengalir deras saat mendengar Arnaff menghina dirinya, dan mendengar permohonan pamannya, agar Arnaff tidak membatalkan pernikahan. Syafi sangat hancur setelah menonton semua video itu. Tangisnya pecah di kamar itu. “Abah … mama ….” Jeritnya.

Hatinya sangat hancur, saat itu dia begitu lepas bernyanyi, bahkan suara nyanyiannya ikut terekam dalam video itu. Dia berteriak bahagia di luar rumah, sedang di dalam rumah Paman dan bibinya bersedih.

"Mama ... Abah ...." jeritnya. Melepaskan handphone yang dia pegang, lalu menenggelamkan wajanya di bantal guling yang dia peluk.

Rumah Ardhin bukan beton, hanya bangunan dari papan, sehingga sangat jelas Dirga mendengar suara tangisan dari arah kamar Syafi. Dirga cemas, dia langsung menuju kamar Syafi. Berulang kali mengetuk pintu kamar, tidak ada sahutan, hanya suara isak tangis Syafi yang semakin jelas. Dirga perlahan memutar gagang pintu, beruntung kamar itu tidak di kunci. Terlihat di arah tempat tidur seorang wanita menangis sambil memeluk guling.

Hati Dirga hancur, melihat wanita yang ia cinta menangis seperti itu, dia segera mendekati Syafi duduk di sisi tempat tidur, mendaratkan telapak tangannya di Pundak Syafi.  Wanita itu tetap larut dalam tangisnya. Dirga melirik kearah samping Syafi, terlihat sebuah handphone masih menyala, menayangkan rekaman video. Dirga meraih benda pipih berbentuk persegi Panjang itu, mengulangi rekaman dari detik nol. Seketika kemarahan menyelimuti dirinya, saat menonton rekaman video itu, beruntung dia tidak satu kota dengan Arnaff, andai dia di kota mereka, saat ini juga dia melampiaskan kemarahannya pada Arnaff, yang menorehkan luka terlalu dalam pada hidup Syafi.

Dirga meninggalkan kamar Syafi, melangkah cepat menuju kamarnya, untuk mengambil handphone-nya, setelah dapat dia segera Kembali ke kamar Syafi, mengirim video dari handphone yang menyimpan rekaman detik-detik terakhir kehidupan Kamal itu pada handphonenya. Selesai, Dirga segera menyimpan dua benda pipih itu di nakas yang ada di samping tempat tidur. Sedang Syafi masih tenggelam dalam tangisnya.

Dirga naik ketempat tidur Syafi, berbaring di samping wanita itu, lalu menariknya kedalam dekapannya. “Tumpahkan saja, tumpahkan semuanya,” ucapnya. Tangannya mengusap punggung Syafi. Tangisan wanita itu semakin keras. Membuat mata Dirga juga ikut bocor mengeluarkan air mata, ikut merasakan kepedihan wanita yang menangis dalam pelukannya.

***

*Bersambung.

Hiks hiks hiksss ...

Akoh syedih ... untuk besok aku nggak janji bisa up, berapa hari ini aku nangis mulu, kayak orang putus cinta aja. huwaaaa bahu mana bahu buat author bersandar 😭😭😭😭😭🤧

1
Dida Riyada
mangatoon
Yanti Yuli Anti
tengkiwww thor atas cerita nya..udh aku kasih hadiah yaa😘😘
Yanti Yuli Anti
sebel nya sam dirga...selalu menyerah sama keadaan..coba perjuangkan hati mu dirga..jangan lembek kayak tahu gitu ihh
Yanti Yuli Anti
harus nya dirga jujur sm syafi..pasti syafi mengerti dengan keadaan dirga..klo ga jujur ya syafi akn sakit hati terus
Yanti Yuli Anti
lha..kenapa jadi begini😭😭
Yanti Yuli Anti
terima kasih mba author karena sudah menyuguhkan cerita yg sangat bagus..tp aku berharap semoga ada kelanjutan nya d part 2...ngarep.com🤭
Yanti Yuli Anti
semoga yg ada d pikiran ku ga terjadi...Aamiin
Yanti Yuli Anti
kaka author berhasil bikin aku penasaran 🥴🥴
Yanti Yuli Anti
semangat Dirja semoga lelah mu menjadi lillah
Yanti Yuli Anti
semangat kk...
Yanti Yuli Anti
mantap samm....
Yanti Yuli Anti
aku jd terbawa suasana ..syafiii ohh syafii
Yanti Yuli Anti
cerita yg sungguh sangat sanagt luar biasa..👍
Yanti Yuli Anti
visual semua pemeran sangat cocok dengan karakter masing"...good job mba author
Yanti Yuli Anti
cerita nya sangat bagus...alur cerita mudah d pahami dan menghidupkan suasana
Yanti Yuli Anti
suka banget cerita nya...bikin hidup suasana
Yanti Yuli Anti
assalamualaikum...ikut manteng
Khairul Azam
aku gak respek banget sama si lala dan romi ini
Khairul Azam
lala sama romi ini model orang yg mementingkan dirinya sendiri.
Khairul Azam
nolong boleh baik boleh tp gak harus mengorbankan kluarga, diri sendiri
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!