"Kau takkan bisa lepas dariku, Diana. Sampai kapanpun kau akan tetap bersamaku, selamanya."
Sesosok pria asing datang dan mengatakan hal itu padaku. Tidak hanya itu, dia juga memiliki kekuatan layaknya karakter fantasi. Aku yang hanya manusia biasa hanya bisa apa? Apa yang harus kuperbuat untuk menyingkirkan stalker ini?
.
.
.
Publish: 20 Januari 2021
>Diperkenankan komentar positive
>Yang mau saling dukung dimohon like dari bab akhir, ya. Sekian terima kasih :))
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ItsMeMar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
WIH #26
Happy Reading!
"Hey kau!" Seruan pria bertubuh gempal yang berdiri beberapa meter dari Sky berhasil menarik perhatiannya.
"Gawat!"
Seketika benak pria bersurai merah itu berhamburan mendapati sang guru yang berjalan menghampirinya. "Maaf pak! Saya ada keperluan penting, saya permisi."
"Mau kemana setelah tertangkap basah kabur dari jam pelajaran, anak baru?" sindir pria bertubuh gempal setelah dekat.
"Apa? Tidak, pak--"
"Ikut saya ke ruang guru!" titahnya tak terbantahkan, guru tersebut menarik daun telinga Sky untuk mengikuti langkahnya, "dasar, kau memanfaatkan listrik mati ini untuk kabur sehingga wajahmu tidak tercantum di CCTV, bukan?"
"T-tidak, pak! Saya--"
"Sudahlah, tidak usah berbohong, saya sudah banyak berpengalaman menghadapi siswa seperti dirimu."
Tak butuh waktu lama, langkah mereka memasuki ruangan yang dituju, mengundang beberapa pasang mata oleh kehadiran Sky yang tercantum sebagai murid pindahan belum-belum memperoleh tindakan keras dari sang guru.
"Lihat, kau dengan teman pindahanmu itu sama saja! Baru sehari sekolah di sini sudah bernyali kabur dari pelajaran."
Sky mematung mendapati Eve, Rico dan Key yang berhadapan dengan pak wali kelas yang duduk bersandar di kursi mejanya. Memperoleh kegagalan, Eve hanya bisa memejamkan matanya kasar yang diiringi hembusan nafas pelan.
...\=\=\=\=\=❤\=\=\=\=\=...
Diana menangis sesegukan, gadis itu meraba setiap kantung seragamnya dengan panik. Benda pipih yang biasa ia bawa tak lagi menetap di kantungnya, kala Diana teringat waktu terakhir ia meletakkan ponselnya di loker bangku beserta tumpukan buku-buku sekolahnya.
Kini sudah tak ada lagi harapan baginya selain menunggu dan menunggu, gadis itu meluruh duduk dan bersandar dengan wajah yang terbenam di antara lututnya.
Sesungguhnya ia sangat takut dengan kegelapan, ruangan yang tak berpenghuni dengan debu yang tersebar di segala penjuru ruangan bak tak terurus membuat benaknya berimajinasi hal-hal yang menakutkan.
"Siapapun tolong aku ... Sean, dimana kau," lirih Diana yang entah bagaimana bibirnya memanggil nama Sean yang bahkan ia tak pernah mengharapkannya.
Berselang detik kemudian, Diana mengangkat sedikit wajahnya yang basah oleh cairan bening kala telinganya menangkap suara tapak kaki yang lebih seperti sepatu pantopel. Sesaat suara tersebut menghilang, menyisakan keheningan yang mulai terasa mencekam.
Gadis itu mencoba untuk tegar dan menganggapnya sebagai halusinasi belaka. Tak ingin berpikir aneh-aneh, Diana kembali menyembunyikan wajahnya di antara lututnya, berusaha menghadapi rasa takut yang terus menghantam pendiriannya.
Namun semilir angin yang berhembus membuat Diana kembali mengangkat wajahnya. Ya, sesuatu yang ganjal ketika Diana menyadari bahwa hembusan tersebut tak terasa sejuk, melainkan terasa hangat di kulitnya.
Telapak tangannya gadis itu menengadah dengan alunan lambat, merasakan dan mengamati terpa'an angin yang terasa begitu lembut dan menenangkan.
Tiba-tiba sesuatu yang hangat menyentuh tangannya, spontan Diana kembali menarik tangannya dengan jeritan. Gadis itu mengedarkan pandangannya dengan mata membulat, ini bukan lagi angin hangat yang menerpanya, melainkan sesuatu yang benar-benar terasa padat.
Seketika jantungnya kembali berdegup kencang, menyadari yang dialaminya barusan bukanlah halusinasi belaka. Diana bergegas berdiri, memandangi kekosongan di depannya dengan alis menekuk ke atas.
"Aku tak berbuat apapun di sini, tolong jangan ganggu aku." Diana berucap dengan suara gemetar yang disusul isakkan tangisnya.
Sesaat kemudian, lampu kembali menyala, menyilaukan Diana yang kini berusaha beradaptasi dengan cahaya sekitar.
"S-Sean?" lirih Diana dengan tatapan yang terpaku pada sosok pria yang tengah mengarahkan tangannya ke bola lampu.
Pria dengan pemilik nama tersebut menoleh dengan senyum tipis, "maaf, aku telah menakutimu."
Gadis itu tak sanggup berkata-kata, seketika perasaan takutnya terganti oleh perasaan senang yang tak terbendung. Dengan mata yang berlinang cairan bening, gadis itu berlari dan memeluk Sean yang menyambut kedatangan Diana ke dalam dekapannya.
"Hiks, hiks ... kemana saja kau, Sean?? Aku sangat takut di sini ..." Diana mengeratkan pelukannya tanpa sadar.
"Maafkan aku, Diana. Aku terlambat." Sean mengabaikan derai air mata Diana yang membasahi pakaiannya dan terus mengusap helaian rambut gadisnya dengan lembut, "apa yang terjadi padamu? Katakan padaku semuanya, Diana, aku akan mendengarkanmu."
Diana menengadahkan kepalanya, menjangkau wajah Sean dengan mata sembabnya.
"Apa yang terjadi pada Jessi dan kawan-kawannya jika aku mengatakan yang sebenarnya? Hati-hati, Diana. Sean bukanlah manusia biasa, dia bisa saja melakukan apapun dengan kekuatannya. Jika dia melenyapkan Jessi, apa yang terjadi pada sekolah dan orang tua mereka? Jangan libatkan sekolah ini, Diana. Kau harus bisa atasi masalahmu sendiri!"
"Ada apa? Katakan yang sebenarnya, Diana, aku disini untukmu," ucap Sean dengan lembut seraya menghapus jejak air mata di pipi Diana dengan jempolnya.
Blush.
"Em, itu ..."
Diana melempar pandang, wajahnya yang tersipu malu dan jantung yang berdegup kencang membuatnya nyaris kehilangan kata-kata. "Bagaimana aku bisa lupa kalau tubuhku masih berada dalam dekapan Sean?!"
Reflek, Diana memundurkan tubuhnya hingga lengan Sean yang awalnya melingkar di pinggangnya kini mengendur seketika, "em, aku terkunci di sini, Sean, lalu ... tiba-tiba listrik padam, dan aku sangat ketakutan."
Sean yang tadinya menarik senyum simpul kini menyusut perlahan, mengetahui Diana yang masih menjaga jarak darinya.
"Bisa bantu aku, Sean?" Diana kembali angkat suara mendapati keterdiaman pria di depannya.
"Kau yakin karena itu?"
"I,iya ... dan karena kau di sini, aku ingin minta tolong padamu untuk membukakan pintunya."
Sean bungkam, matanya yang tertuju pada pintu kini kembali terarah pada Diana yang berdiri selangkah darinya, "setelah ini, aku akan mengeluarkanmu dari sini."
"Maksudmu nanti? Kenapa? Sean, aku harus segera kembali ke kelas untuk mengikuti pelajaran. Bahkan jika aku tak kunjung kembali, guru akan menghukumku atau lebih parahnya menganggapku membolos pelajaran."
Di tengah celoteh Diana, tatapan Sean terpaku pada bayangan kaki yang terhenti di depan pintu. Dengan cepat, pria itu membekap mulut Diana, dan membawanya pergi berteleport seiring dengan lampu gudang yang kembali padam.
Tap tap tap ...
Lagi-lagi jantung Diana berdegup kencang atas keterdekatan Sean yang nyaris menempel padanya. Ya, Diana tak berkutik dengan posisinya saat ini yang berada di antara dinding dengan pria di depannya. Gadis itu mati-matian membendung rasa malu yang mulai menimbulkan semu merah di pipinya.
Perlahan, Sean menjauhkan tangannya dari mulut Diana dan ganti meletakkan jari telunjuk di depan bibirnya.
"Dimana sapunya?"
Mata Diana membelalak, menangkap suara yang tak asing di telinganya, "Key? Itu suara Key, bukan?"
"Sepertinya di atas kotak itu."
"Rico??"
"Ah, kau benar."
"Huft ... Aku sangat malas melakukan hukuman ini, Key. Apalagi bersama dua orang itu! Rasanya semakin menjengkelkan saja."
"Tak apa. Jika pangeran tak ingin, aku bisa melakukannya untuk pangeran."
"Ah, Key. Panggil saja aku Rico, bagaimanapun, kita sudah berteman lama dan rasanya tak nyaman jika kau memanggilku begitu."
"Em, baiklah jika itu yang kau mau, hehe ..."
"Ya sudah, ayo kita segera selesaikan ini dan segera mencari Diana sebelum mereka menemukannya lebih dulu."
Brak!
Senyap kembali menengah usai kepergian Rico dan temannya. Merasa aman, Sean melangkah mundur, memberi ruang bagi Diana yang sejak tadi terhimpit olehnya.
"Pangeran? Apa-apa'an itu? Dan mereka dihukum karena pergi mencariku di tengah jam pelajaran? Lalu, Rico menyebut seseorang di kalimatnya, apa itu maksudnya Leora dan Clair? Tapi sejak kapan Rico membenci mereka??"
"Diana." suara bariton Sean membuyarkan lamunan gadisnya.
"Apa?"
"Mengapa kau terkunci di sini? Jika hanya mengambil atau menaruh barang, mustahil bukan tiba-tiba terkunci di ruangan ini?" Sean menatap Diana dengan raut serius.
"Hm? Aku memang terkunci di sini, Sean, tidak ada alasan la--"
"Kau berbohong. Katakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi?"
...WHO IS HE?...
...To be continue ......
like dan fav uda mendarat.
salam dari "Pernikahan impian."
makasih😁😁
saling support yaa 🙏