Memet dan Bety telah menikah. Dan mereka menikmati kehebohan menjalani bahtera rumah tangga karena menikah muda.
Keduanya kerab kali cek-cok mempermasahkan hobi Memet yang suka main game online.
Sementara Bety, ia sangat kesal diabaikan oleh suaminya itu.
Suatu ketika Bety membuat rencana, memberi obat pada minuman Memet, sehingga lelaki itu mabuk tak sadarkan diri.
Bety memutuskan untuk pergi meninggalkan Memet setelah malam pertama mereka.
Tak ada angin tak ada hujan, di saat Memet pusing memikirkan istrinya, sembilan bulan kemudian tiba-tiba saja orang mengantarkan bayi laki-laki kepadanya. Orang itu mengatakan kalau Bety telah meninggal setelah melahirkan anaknya.
Lima tahun kemudian Bety kembali dari luar negeri. Ia menyamar dengan dua anak kecil berumur lima tahun.
Ia melakukan itu untuk menghindari Memet, ia yakin kalau Memet masih marah kepadanya karena telah berani membohonginya.
Tetapi penyamarannya terbongkar, ia ketahuan oleh Memet, hingga membuat lelaki itu murka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kulid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
tertangkap
Bety duduk di bangku lorong, dengan cemas menunggu hasil analisis dokter. Ia benar-benar bingung dengan banyaknya alasan dokter yang tidak bisa dimengerti untuk pendaftaran ibunya.
Awalnya ada masalah dengan indikator ibunya. Kemudian, tiba-tiba saja ada terlalu banyak pasien dan kekurangan kasur cadangan sehingga membuat Bety harus menunggu di luar.
Agar bisa mendapatkan perawatan yang tepat dan efektif untuk ibunya, Bety tidak bisa melakukan apapun selain menunggu hasil.
Tiba-tiba, beberapa pria mengenakan kacamata dan berpakaian jas hitam mendekatinya. Bety merasakan ada sesuatu yang aneh saat itu juga dan ketika ia hendak pergi, orang-orang yang sama muncul di ujung koridor.
“Nona, bisakah kau ikut dengan kami?” Banzai melepas kacamatanya dan tersenyum sopan.
Bety akhirnya menyadari kalau saat ini ia telah masuk ke dalam jebakan Memet. Ia mulai cemas.
“Siapa kalian? Dan kenapa aku harus pergi dengan kalian?” kata Bety mencoba untuk bertanya santai.
Banzai menjawab dengan lantang, “ Nona, jangan membuat kami memaksamu. Petugas kami cenderung agak kasar. Satu kecelakaan kecil dan kami mungkin mematahkan salah satu anggota tubuhmu secara tidak sengaja.”
Itu adalah ancaman yang cukup serius. Bety tahu kalau pengawal Memet sudah terlatih dan tidak akan bisa dibujuk sedikitpun. Lebih baik dia menurut sekarang.
Ketika mereka sampai di ruang tunggu, Bety ragu-ragu untuk masuk. Banzai membanting pintu dan mendorongnya untuk masuk ke dalam ruangan. Bety terperosok beberapa langkah langkah ke depan dan berhenti tepat di hadapan Memet.
Memet duduk di atas sofa berwarna hitam yang sangat cocok dengan setelan jas hitamnya. Wajah itu memancarkan aura kesombongan yang sangat memuakkan.
Ketika Bety masuk, Memet langsung menatap wajahnya.
“Bersihkan wajahmu di wastafel sebelah sana,” kata Memet menyuruh Bety.
Keangkuhan yang tampak dari wajah Memet memicu kemarahan yang luar biasa dalam diri Bety.
“Pak, kau sangat tidak masuk akal dan tidak sopan,” Bety memilih untuk berpura-pura bodoh.
Memet mendekat dan berbicara dengan tajam, “ Maafkan aku, tapi mungkin aku tidak bisa melihat kecantikanmu.”
“Eh…”
“Ada banyak bunga yang cantik, begitupun dengan manusia. Tidak salah jika kau berpikiran sempit,” kata Bety menahan amarahnya.
“Baiklah. Jika kau tidak mau mencuci wajah, aku akan menyuruh orang-orangku untuk melakukannya,” Memet berkata dengan lembut, tetapi suaranya menusuk kedalam tulang belakang Bety.
“Tidak perlu!” Bety berdiri dengan canggung. “ Aku akan melakukannya.”
Bety berjalan menuju wastafel, memutar keran dan mencipratkan air ke wajahnya. Ia kemudian mengelap wajahnya dan berjalan ke arah Memet.
“Selesai.”
Memet menatap ke wajah yang dirias itu dan mengerutkan keningnya. Kemudian ia menyentuh wajah Bety dan berkata, “Apakah ini riasan tahan air?”
Bahkan setelah menyentuh riasan tebal dan mencolok itu, tangan Memet tidak ternoda.
“Aku akan memberimu waktu tiga menit. Sekarang juga. Bersihkan riasan wajahmu. Kalau tidak, aku akan meminta orang-orangku untuk menguliti wajahmu..” suara Memet terdengar sangat dingin sehingga Bety merasa bahwa saat ini ia sedang berada di daerah kutub.
Bety tetap duduk dengan tegas di sofa di seberangnya.
“Aku tidak bisa mencucinya,” kata Bety keras kepala.
“Masuklah!”
Atas perintah Memet, muncul dari luar segerombolan pria sangar masuk ke dalam ruangan dan membentuk dua barisan di dekat Bety.
Bety terperangah. Ia tergagap, “Tidak…. Maksudku…ini adalah riasan. Apakah ini benar-benar perlu?”
Memet menatap pria itu dengan penuh arti dan kemudian beberapa pria jangkung dengan agresif meraih Bety. Salah satu dari mereka mengencangkan tangannya di sekitar leher Bety sehingga dengan cepat membuat Bety kesulitan bernapas.
Satu orang lagi mengambil sebotol penghapus riasan dan menyemprotkannya dengan asal ke wajah Bety. Sebagian air itu masuk ke dalam matanya dan membuatnya terasa sangat perih.
Kemudian, pria lain mengambil sikat gigi dan menggosok wajah Bety dengan kasar. Setelah itu, satu pria lagi mengambil air mineral dan membasuh wajah Bety.
“Kalian semua adalah orang-orang terpelajar. Mengapa kalian bertindak seperti binatang?” kata Bety berteriak marah.
Dengan bantuan kasar dan keras dari para orang-orang itu, wajah asli Bety perlahan terlihat. Dan di saat wajah Bety mulai jelas, ekspresi Memet menjadi semakin suram.
“Bety!”
Setelah tugas mereka selesai, para orang-orang itu akhirnya melepaskan Bety dan segera meninggalkan ruangan dengan tertib.
Saat Itu, Bety tampak sangat menyedihkan seperti baru habis tenggelam dengan wajah basah kuyup dan pakaiannya basah.
Ia terlihat sangat memalukan.
“Lantas kenapa kalau aku memanglah Bety? Gigit aku!” Bety dengan marah memperagakan tinjunya pada Memet dan terlihat sangat marah.
Kalau Memet tidak merasa kasihan pada Bety saat lima tahun yang lalu, ia pasti tidak punya belas kasihan untuknya sekarang.
Kejengkelan Bety hanya membuat senyuman jahat Memet semakin lebar. Lihatlah, pria itu menampilkan seringaian jahat hendak merencanakan sesuatu kepadanya.
Wanita itu dulunya adalah istri yang sangat dicintainya dan berperilaku barbar dan selalu jadi jagoan.
Siapa yang menyangka bahwa ia ternyata adalah cumi-cumi bertinta hitam yang licik.
“Menggigitmu? Tentu saja aku tidak akan sudi menempelkan anggota tubuhku pada sesuatu yang kotor seperti dirimu!” kata Memet sambil menaikkan alisnya.
Memet berdiri dari sofa hitamnya dan mendekati Bety selangkah demi selangkah. Ia memandang Bety dengan arogan dari tempat berdirinya.
“Bety… jadi bagaimana kau akan membayar apa yang telah kau lakukan padaku lima tahun yang lalu?” Memet bertanya dengan sinis.
Ingatan akan Bety pada malam itu sungguh jelas. Lima tahun yang lalu, dengan bantuan sedikit obat, ia…
Ia memberikan obat-obatan pada pria itu dan kemudian..
“A… aku sudah menebusnya!” Bety mencoba untuk berkilah.
Kekehan muncul di wajah Memet yang terlihat lebih muram.
“Bagaimana jika aku membayarmu sepuluh kali lipat dan memintamu untuk tidur dengan seorang laki-laki, Nona?” Memet mencengkram dagu Bety. Kemarahannya benar-benar terlihat seperti harimau kelaparan, siap untuk menerkam kapan saja.
Bety bisa melihat kilatan cahaya kemarahan di mata Memet. Memet benar-benar terlihat seperti seekor predator buas dan membuat Bety benar-benar takut.
“Apa yang kau inginkan?”
Tangan Memet bergerak ke leher Bety dan ia menarik dengan sekuat tenaga gaun campuran katun linennya. Sobekan terdengar.
“Bety, ingatkah kau memperlakukanku waktu itu? Hari ini aku akan membalas dua kali lipat dari apa yang telah kau lakukan padaku,” suara iblisnya terdengar berbisik di telinga Bety.
“Katakan, pria seperti apa yang menjadi tipemu? Aku akan memastikanya untuk memuaskanmu! Kalau satu orang tidak cukup, maka aku bisa memberikan dua orang padamu.”
Bety bisa merasakan setiap anggota tubuhnya membeku akibat kemarahan Memet. Setiap kata yang memet ucapkan dipertegas oleh kegembiraan balas dendam yang terasa seperti sayatan pisau di kulitnya.
“Aku ingin membuatmu merasakan bersetubuh dengan orang yang kau benci! Bety, beraninya kau mempermainkanku! Aku akan menujukkan padamu akibatnya!”
Bety di dorong ke sofa, kemudian tubuh Memet yang besar dan tinggi menekannya. Ia mencengkram dagu Bety dan memaksa Bety untuk menatap matanya.
Memet mengambil sebuah pisau buah dan mengarahkannya ke dekat wajah Bety.
“Aku tidak ingin melihat wajahmu lagi. Wajahmu benar-benar membuatku muak. Aku akan menghancurkan wajahmu, membuangmu ke rumah pelacuran dan kau tidak akan pernah bisa melihat matahari lagi!”
Aura jahat terpampang di wajah Memet.
“Aku ingin membuatmu merasakan keputusaan yang aku rasakan.”
Pisau itu mengores wajah Bety perlahan-lahan, dan Bety mulai merasakan sakit yang mendalam di bagian wajahnya.
Bety menatap Memet dengan tatapan sedih, tapi kemudian ia tersenyum lirih.
“Kau sungguh sangat membenciku?” bisiknya.
Dari tatapan Memet yang melihatnya jijik, cukup untuk menjawabnya.
Bety menutup matanya. Melihat wajah pria yang dulu dicintainya menatap dengan jijik kepadanya, membuat perasaan Bety teramat terluka. Bety pasrah.
Terserah! Jika ini adalah takdirnya, maka terjadilah.
Saat Bety menunggu kematiannya yang sebentar lagi datang, telepon tiba-tiba berdering.
Baik Memet maupun Bety secara tidak sadar mengeluarkan ponsel mereka bersamaan. Memet menatap Bety dengan mengejek.
“Ini ponselku. Mengapa kau mencari ponselmu?”
Bety tercengang.
ayo promo thor, jangan biarkan karya anda terbengkalai