Amelia Kusumawardhani, seorang dokter forensik yang blak-blakan dengan kehidupan sederhana yang dipenuhi novel, anime, dan kerajinan tangan, tidak pernah menyangka kematiannya akan membawanya ke dalam novel favoritnya.
Lebih buruk lagi, ia terlahir sebagai anak pungut keluarga penjahat dalam cerita asli yang ditakdirkan untuk menghancurkan kerajaan.
Dan dia sendiri?
Ia hanya memiliki satu akhir dalam novel.
Yaitu mati.
Berlatar di sebuah Kerajaan Fantasi bergaya Eropa, akankah Amelia mampu bertahan, menemukan kebenaran, dan mengubah takdir yang seharusnya menjadi miliknya. Bagaimanakah kelanjutan kisahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinnox, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Strategi Bertahan Hidup
Bastian membawa Eve kembali ke kamar dengan langkah yang tidak terlalu cepat. Sepanjang perjalanan, Eve tidak banyak bicara. Tangannya masih menggenggam tangan Bastian, tetapi pikirannya sudah jauh lebih tenang dibandingkan beberapa menit lalu. Rasa takut yang sempat membuat tubuhnya kaku perlahan digantikan oleh rasa kesal setiap kali dia mengingat wajah Lucien.
Sampai sekarang dia masih tidak habis pikir bagaimana seorang manusia bisa berubah dari sekadar menyebalkan menjadi hampir membuatnya kehilangan nyawa hanya karena ketahuan menguping.
'Tidak, dia bukan manusia. Dasar iblis'
Begitu tiba di depan kamar, Bastian membuka pintu dan membiarkan Eve masuk lebih dulu. Eve berjalan menuju tempat tidur, tetapi baru beberapa langkah dia berhenti dan menoleh ketika Bastian ikut masuk.
"Nona, Anda ingin makan siang di ruang makan atau di kamar?" tanya Bastian sambil memperhatikan wajahnya.
Eve sempat berpikir. Sebenarnya dia tidak keberatan makan di ruang makan, tetapi kalau harus bertemu Lucien lagi sekarang, rasanya dia belum siap menguji keberaniannya untuk kedua kalinya.
"Di kamal caja," jawabnya akhirnya.
Bastian mengangguk. Dari jawaban singkat tersebut, dia sudah bisa menebak alasannya. Vins memang tidak menjelaskan seluruh kejadian, tetapi cukup banyak untuk membuatnya memahami bahwa pertemuan Eve dengan Duke tadi tidak berjalan dengan baik.
'Mungkin Nona masih takut bertemu Yang Mulia.' pikir Bastian saat itu.
Bastian menahan napas pendek. Dia tidak ingin membuat Eve semakin tidak nyaman, jadi dia memanggil seorang pelayan dan meminta agar makan siang dibawakan langsung ke kamar. Setelah memastikan kebutuhan Eve sudah terpenuhi, dia membantu gadis kecil itu naik ke kursi sebelum meninggalkan ruangan.
Tidak lama kemudian, makanan datang.
Eve duduk di depan meja kecil dekat jendela. Semangkuk sup hangat, roti, daging panggang yang dipotong kecil-kecil, serta beberapa buah diletakkan di hadapannya. Perutnya yang sejak tadi mulai terasa kosong langsung menyambut aroma makanan tersebut.
Dia mengambil sendok dan mulai makan.
Setelah beberapa suapan, Eve merasa pikirannya kembali jernih.
'Tadi serem banget ya Tuhan'
Namun kalau dipikir-pikir lagi, Lucien tidak benar-benar menyentuhnya. Dia berhenti begitu Vins datang. Artinya, Eve masih punya kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya. Lagi pula, kalau dia memang berniat membunuhnya, mungkin Vins tidak akan bisa menghentikannya semudah tadi.
Eve mengunyah sambil mengerutkan kening.
'Berarti masalahnya bukan cuma gue ketahuan nguping kan?.'
Dia menelan makanannya.
Percakapan yang sempat dia dengar kembali terlintas dalam kepalanya. Seorang bangsawan tua bahkan terang-terangan mengatakan akan mendukung Lucien jika dia melakukan pemberontakan. Reaksi Lucien ketika mendengar utusan Kekaisaran datang juga tidak bisa disebut biasa.
Dia menghela napas kecil lalu kembali makan. Setidaknya hari ini dia sudah mendapatkan beberapa informasi baru. Hubhngan Keluarga Valois dengan Kekaisaran ternyata sedang buruk, para bangsawan tidak puas akan keluarga Kekaisaran, dan juga mereka sudah memiliki niat untuk memberontak.
Eve baru saja mengambil sepotong roti ketika terdengar ketukan dari pintu.
Tok. Tok.
Tangannya berhenti di udara.
"Nona Aveline?" suara Vins terdengar dari balik pintu.
Eve menatap pintu.
'Jangan bilang...'
Pintu terbuka setelah Vins meminta izin masuk. Ajudan Lucien itu berdiri di ambang pintu dengan sikap rapi seperti biasa.
"Yang Mulia Duke memanggil Nona," ujar Vins sambil sedikit menundukkan kepala.
Potongan roti yang masih berada di tangan Eve perlahan turun.
'Hah? GUE BARU AJA DUDUK, MAKAN, NAPAS PUN BARU BEBERAPA MENIT? MAUNYA APA SIH?'
Eve menatap Vins seolah pria itu baru saja menyampaikan kabar bahwa dunia akan kiamat sore ini. Dia melirik mangkuk makanannya, lalu kembali kepada Vins.
'Kenapa rasanya sama seperti kehidupan lamaku? istirahat bentar pun gak bisa'
Beberapa jam lalu dia hampir mati gara-gara menguping percakapan. Sekarang orang yang sama memanggilnya lagi.
Eve menaruh roti di piring dengan wajah masam.
'Dia mau apaan lagi?'
Bukan rasa takut yang membuat perutnya mual kali ini. Lebih tepatnya campuran antara panik, curiga, dan kesal karena dirinya bahkan belum sempat menikmati makan siang dengan tenang.
Eve turun dari kursi.
Dia berdiri sebentar sambil menatap Vins dengan wajah tidak puas. Kalau boleh memilih, dia ingin pura-pura tidak mendengar panggilan tersebut lalu bersembunyi di bawah selimut sampai Duke lupa keberadaannya.
Sayangnya, tubuhnya masih terlalu kecil untuk melakukan aksi pelarian dengan elegan.
Vins memperhatikan perubahan ekspresi Eve dan hampir tersenyum.
"Nona tidak perlu khawatir," katanya sambil berjongkok sedikit agar sejajar dengannya. "Yang Mulia hanya meminta Anda datang ke ruang kerjanya."
Eve menyipitkan mata.
'Kalimat kayak gini biasanya justru bikin orang makin khawatir, tahu gak?'
Dia menghela napas, lalu meraih tangan Vins dengan wajah pasrah.
"Yuk."
Vins terdiam sesaat mendengar jawabannya yang terdengar begitu menyerah.
"Baik, Nona."
Eve berjalan keluar kamar sambil masih menggenggam tangan Vins. Namun baru beberapa langkah, dia menoleh ke belakang, memandangi makan siangnya yang belum selesai.
Hatinya terasa berat.
'Nasib gue.'
Dia menghela napas kecil.
'Sampai jumpa makanan tercintaku.'
Eve berjalan di samping Vins melewati beberapa lorong sebelum akhirnya mereka berhenti di depan sebuah pintu kayu besar. Pintu tersebut tidak memiliki hiasan berlebihan, tetapi keberadaannya saja sudah cukup membuat Eve tahu siapa pemilik ruangan di baliknya.
Langkah Eve berhenti.
Dia menatap pintu beberapa detik, lalu menelan ludah dengan keras. Tenggorokannya terasa kering meskipun dia baru saja selesai makan. Tangan kecilnya masih menggenggam tangan Vins, Eve sedang menahan dirinya agar tidak berbalik dan lari kembali ke kamar.
'Tenang.'
Dia menarik napas pelan.
'Gue cuma dipanggil. Belum tentu mau dibunuh kan?
Eve menatap gagang pintu.
'Walaupun beberapa jam lalu tangannya memang hampir nyentuh gue. Tapi yakali baru di pungut udah di bunuh'
Pikiran tersebut sama sekali tidak membantu.
Eve mengembuskan napas melalui hidung, lalu mencoba menyusun kemungkinan yang paling masuk akal. Lucien pasti memanggilnya karena percakapan di lorong tadi. Dia ketahuan menguping pembicaraan yang jelas bukan urusan anak kecil. Wajar kalau Lucien curiga.
Masalahnya, Eve tidak mungkin mengatakan bahwa dia sedang menyelidiki kemungkinan kematian dirinya sendiri berdasarkan alur novel yang pernah dia baca.
Mana mungkin seorang Duke percaya kalau anak berusia empat tahun tiba-tiba berkata, Halo, saya tahu masa depan karena saya berasal dari dunia lain.
Bisa-bisa bukan cuma dianggap aneh. Bisa langsung dipanggil pendeta.
Eve menggigit bibir bawahnya.
'Jadi sekarang gue harus gimana?'
Dia sudah punya beberapa kemungkinan jawaban, tetapi semuanya terasa buruk. Mengaku penasaran? Terlalu jujur. Mengatakan tersesat? masuk akal, tapi dia sudah sempat bersembunyi dan mendengarkan percakapan mereka. Mengatakan tidak mengerti? Lucien mungkin akan bertanya lebih banyak.
'Jangan panik. Otakku ayo berfungsi.'
Eve menatap tangannya sendiri
'Fokus.'
Vins mengetuk pintu dua kali sebelum membuka sedikit.
"Yang Mulia, Nona Aveline sudah datang," lapornya.
Suara Lucien terdengar dari dalam, rendah dan singkat.
"Masuk."
Vins membuka pintu lebih lebar. Eve melangkah masuk dengan langkah kecil, lalu berhenti beberapa meter dari meja kerja.
Lucien sudah duduk di belakang meja. Beberapa dokumen tersusun di hadapannya, tetapi tidak ada satu pun yang sedang dia baca. Tatapannya langsung tertuju kepada Eve.
Eve otomatis menegakkan tubuh.
Tatapan merah tersebut masih sama seperti di lorong tadi.
'Wah. Mantap, mati gue.'
Vins masuk setelah Eve, lalu menutup pintu. Suara klik dari kunci pintu terdengar kecil, tetapi cukup membuat Eve melirik sebentar ke belakang.
Lucien tidak membuang waktu dengan basa-basi.
"Kau mata-mata Kekaisaran?" tanyanya datar. "Atau kau boneka mereka?"
Eve langsung menatapnya.
'Apa?!'
Kening kecilnya berkerut. Rasa takut yang tadi menempel perlahan tergeser oleh rasa kesal.
'Bisa-bisanya dia mikir sejauh itu cuma gara-gara anak empat tahun jalan-jalan di mansion.'
Namun Eve segera menahan ekspresinya. Dia tahu kalau membalas dengan emosi justru akan membuat keadaan semakin buruk. Dia hanya perlu terlihat seperti anak kecil yang tidak memahami tuduhan sebesar itu.
Bibirnya bergerak pelan.
"Tidak... acu tidak... begicu."
Lucien sedikit menyipitkan mata.
"Lalu apa?"
Lucien sedikit menyipitkan mata. "Sebaiknya kau mengatakan yang sebenarnya. Kalau tidak-"
Lucien membiarkan beberapa detik berlalu sebelum melanjutkan, "Memata-matai bangsawan tingkat tinggi seperti Duke dapat dianggap sebagai ancaman pembunuhan atau konspirasi kudeta. Hukuman paling umum adalah kematian. Pelaku bisa dieksekusi di depan umum, atau dibawa pergi oleh ksatria dan tidak pernah terlihat lagi."
Eve mulai diam.
"... "
"Kadang mayat pelaku akan digantung di gerbang wilayah kekuasaan bangsawan yang menjadi sasarannya, sebagai peringagan bagi orang lain," lanjut Lucien.
Vins yang berdiri tidak jauh dari pintu mulai mengerutkan kening.
'Yang Mulia sedang menjelaskan hukum kepada anak empat tahun?'
Lucien belum selesai, ia kembali melanjutkan perkataan nya.
"Jika dianggap memiliki informasi penting, kau akan dibawa ke penjara bawah tanah. Orang-orangku akan menanyakan siapa yang mengirimmu, siapa dalangnya, dan apa tujuanmu, dan kau akan disiksa berkali-kali lipat sampai mendapatnya jawaban yang memuaskan."
Vins menatap Lucien dengan tatapan datar.
'Dia benar-benar mengancam anak kecil.'
Bahkan menurut standar Lucien yang terkenal tidak ramah, cara ini terasa berlebihan. Eve baru berusia empat tahun. Anak seusianya mungkin bahkan belum memahami arti konspirasi, apalagi mengerti bahwa menguping percakapan seorang Duke bisa dianggap pengkhianatan.
Namun Lucien terus berbicara seolah sedang menjelaskan laporan militer.
"Jika tindakannya dianggap tidak cukup berat untuk dijatuhi hukuman mati, pelaku bisa dipenjara seumur hidup. Ada pula yang dikirim ke tambang sihir atau wilayah perbatasan."
Vins menahan napas.
'Yang Mulia, nona bahkan mungkin belum tahu cara membayar pajak. Tuanku, anda benar-benar sudah kehilangan akal.'
"Dan dalam kasus tertentu, hukuman dapat diberikan kepada keluarga pelaku. Status mereka bisa dicabut, bahkan diperlakukan sebagai bagian dari hukuman pengkhianatan."
Vins akhirnya memalingkan wajah sebentar. Dia sudah bekerja bersama Lucien cukup lama untuk mengetahui bahwa Duke tersebut tidak selalu memiliki cara berpikir yang mudah dipahami. Namun kali ini dia benar-benar tidak mengerti.
'Kalau tujuan Anda membuat Nona Aveline mengaku, kenapa harus menjelaskan seluruh daftar hukuman seperti sedang membacakan peraturan kerajaan?'
Vins kembali melirik Eve.
Gadis kecil tersebut sekarang hanya berdiri diam dengan wajah yang tampak terkejut.
Vins hampir menghela napas.
'Duke benar-benar tidak punya naluri menghadapi anak kecil.'
Sementara Vins sibuk mengutuk atasannya dalam hati, Eve sendiri sedang berusaha menahan emosinya.
'Orang gila dari RSJ mana ini?.'
Bagi Eve sangat tidak masuk akal, rang dewasa menjelaskan hukuman untuk seorang anak kecil yang hanya ketahuan menguping. Ancaman Lucien masih berputar di kepalanya. Eksekusi, Kerja paksa, dan lainnya.
Lucien jelas sedang menguji dirinya. Kalau dia memberikan jawaban yang terlalu dewasa atau malah mampu menjelaskan alasan keberadaannya dengan detail, kecurigaan pria itu mungkin akan semakin besar. Eve tidak mungkin mengatakan alasan sebenarnya.
'Gue harus jawab sebagai anak empat tahun.'
Lalu sebuah ide muncul, sebenarnya ide tersebut sangat memalukan. Eve pernah membaca cukup banyak novel rofan. Dalam beberapa cerita, ketika seorang anak kecil memiliki ayah yang dingin dan menakutkan, mereka biasanya menggunakan satu strategi sederhana untuk mendapatkan kasih sayang sang ayah.
Bersikap manis, minta digendong, pura-pura merindukan ayah.
Eve memejamkan mata sebentar.
'...Ah, bodo amat.'
Kalau strategi ini gagal, harga dirinya memang akan hancur. Kalau berhasil, setidaknya dia tidak dicap sebagai mata-mata.
Eve membuka mata kembali.
Kedua tangannya perlahan direntangkan ke arah Lucien. Wajahnya dibuat semanis mungkin, meskipun di dalam kepala dia sedang mempertanyakan seluruh keputusan hidupnya.
"Papa..." panggilnya kecil.
Vins langsung menoleh.
Eve melangkah mendekat sedikit, lalu semakin memajukan bibirnya hingga membentuk pout.
"Ape cuma mawu ketemu Papa," katanya dengan suara cadel. "Ape kangen cama Papa."
Vins tersedak tanpa sadar, sudut bibirnya bergerak sedikit, tetapi dia segera menetralkan ekspresinya ketika menyadari Lucien masih berada di depan mereka.
Sementara Eve tetap mempertahankan wajah polosnya.
Dalam hati, dia sudah menjerit.
'Please berhasil, kalau gak, gue benar-benar malu seumur hidup.'