NovelToon NovelToon
Geranium

Geranium

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Murni
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: you see me

Aku Abhinav Ruchir mencintaimu dengan cara yang mungkin membuatmu sesak aku menginginkan seluruh perhatianmu, seluruh waktumu, dan seluruh duniamu hanya untukku. Cintaku padamu seperti geranium yang tumbuh liar ia menuntut ruang untuk terus berada di dekatmu, terkadang melupakan batasan, hanya karena ia takut kehilangan tempatnya di sisimu.

Aku tahu caraku mencintaimu mungkin terasa dominan. Aku tidak ingin berbagi satu detik pun darimu dengan dunia lain, karena bagiku, kamu adalah satu-satunya nutrisi yang membuat hatiku tetap bertahan hidup. Ada kalanya aku merasa egois karena ingin memilikimu seutuhnya.

Namun, inilah caraku menjaga hubungan ini tetap bersemi dengan memegangmu seerat mungkin, meski aku tahu keegoisan ini mungkin akan melukai kita berdua.

Biarkan aku menjadi orang yang paling 'membutuhkanmu' di dunia ini. Bukan karena aku lemah, tapi karena di antara segala kesibukanmu, aku selalu ingin menjadi alasan utama mengapa kamu harus pulang dan tetap tinggal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon you see me, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26

Abhinav memasuki kamar dengan langkah yang pelan namun tegas, menciptakan irama yang menekan atmosfer di dalam ruangan. Bersamaan dengan setiap langkahnya, aroma parfum maskulin yang tajam dan mewah mulai tercium, perlahan menyebar, mengisi setiap sudut hingga mendominasi udara yang ada.

​Caca terpaku di atas tempat tidur. Ia hanya bisa terdiam, tubuhnya terasa kaku seolah kehilangan kemampuan untuk bergerak atau sekadar mengeluarkan suara. Tatapannya terkunci pada sosok Abhinav yang kini berdiri di hadapannya, membawa ketegangan yang membuat napas Caca terasa tertahan di tenggorokan. Suasana di dalam kamar mendadak terasa begitu sempit, terisi penuh oleh kehadiran Abhinav dan kesunyian yang mencekam di antara mereka.

Abhinav mendekat, lalu duduk di tepi tempat tidur tepat di sampingku. Kehadirannya yang hangat membuat suasana yang semula tegang perlahan mencair. Tanpa sepatah kata pun, ia mengulurkan tangan, menyisir helaian rambutku yang berantakan karena baru bangun tidur dengan gerakan jemari yang sangat lembut dan penuh kasih.

​Ia menatapku lekat-lekat, membiarkan jemarinya bertahan sejenak di dekat pelipisku sebelum akhirnya berbisik dengan nada yang begitu lirih namun sarat akan ketulusan, "Cantik... kamu selalu cantik dalam keadaan apa pun."

Namun, kelembutan itu menguap secepat ia datang. Ekspresi Abhinav kembali mengeras, matanya menatap lurus ke depan dengan tatapan yang kembali dingin dan tidak bisa dibantah.

​"Bersihkan dirimu," ucapnya datar, suaranya kini kembali tajam memotong suasana. "Setelah itu sarapan, dan kita akan bicara."

​Aku tidak membalas. Lidahku terasa kelu, dan aku memilih untuk tidak menyuarakan apa pun. Tanpa menatapnya kembali, aku segera beranjak dari tempat tidur, berusaha menjaga jarak secepat mungkin agar bisa segera melangkah menuju kamar mandi untuk menghindari tatapan dinginnya yang masih menusuk punggungku.

Setelah aku selesai membersihkan diri, pemandangan di balkon kamar menyambutku. Meja kecil di sana sudah tertata rapi dengan hidangan sarapan yang masih mengepulkan uap hangat. Abhinav sudah berada di sana, duduk dengan punggung tegak, satu tangannya memegang segelas kopi yang masih berasap, sementara tangan lainnya sibuk bergerak lincah di atas layar ponsel.

​Aku menghampirinya dengan langkah ragu, lalu menarik kursi di hadapannya dan duduk dalam diam. Suasana pagi yang tenang itu terasa berat oleh aura yang ia pancarkan. Tanpa mengalihkan pandangan sedikit pun dari ponselnya, ia meletakkan benda itu di atas meja dengan suara denting yang cukup keras sebelum menatapku tajam.

​"Makan dan habiskan," ucapnya dingin. Nada suaranya tajam, tidak memberikan ruang untuk penolakan ataupun perdebatan.

Aku menyuap makanan ke mulutku dengan ritme yang tenang dan terkontrol, berusaha keras untuk menekan rasa gugup yang bergejolak di dalam dada. Aku sengaja mengabaikan keberadaannya, menatap piring di depanku seolah-olah ia hanyalah bayang-bayang yang tidak nyata di balkon itu.

​Namun, di balik ketenanganku yang pura-pura, aku bisa merasakan beratnya atensi yang ia berikan. Abhinav tidak beranjak, tidak pula kembali meraih ponselnya. Ia terus memperhatikanku dengan intensitas yang menyesakkan. Setiap gerakan tanganku saat menyuap makanan hingga saat aku menyesap minuman, semuanya berada di bawah pengawasan ketatnya. Tatapan tajam itu seperti sepasang belati yang tak pernah lepas sedikit pun dariku, seolah ia sedang menunggu tanda keretakan dalam ketenanganku atau menuntut sesuatu yang tak mampu aku terjemahkan.

Rasa sesak akibat tatapannya yang mengunci gerak-gerikku akhirnya mencapai batas. Aku menghentikan kunyahanku, perlahan mengangkat kepala, lalu membalas tatapan tajamnya tanpa berkedip.

​"Makanlah," ucapku tenang, meski hatiku berdegup kencang karena keberanianku sendiri. "Jangan hanya meminum kopi saja."

​Abhinav terdiam. Ia tidak mengalihkan pandangannya, tidak pula menunjukkan reaksi apa pun selain menyipitkan mata sedikit. Keheningan yang tercipta justru terasa lebih berat daripada sebelumnya, seolah-olah ia sedang menimbang setiap kata yang baru saja kulontarkan, menatapku dengan sorot yang tetap tajam dan sulit dibaca.

1
Umi Fitriani
semangat thorr
you see me: Terima kasih kakak /Whimper/😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!