Sebagian besar cerita berdasarkan kisah nyata dari narasumber (Nisa dan Gendis).
.
.
.
SERIES KE LIMA DARI UNIVERSE NOVEL "TIRAKAT"
Kini... Gendis sudah menjadi anak angkatku, dengan nama baru yaitu "Harum" yang kuberikan untuknya...
Harum menjalani kehidupan barunya bersamaku, setelah tragedi yang hampir merenggut sukma jiwanya di pondok pesantren daerah Kediri itu...
Aku menjalani kehidupan yang bahagia bersama Harum, tapi juga dengan segala bahaya yang mengintai jiwaku dan jiwanya...
DISCLAIMER!
Jika terdapat kesamaan detail nama tokoh, latar tempat, seni, budaya, agama, dan jenis laku tirakat tertentu dengan para pembaca, bukan karena unsur kesengajaan penulis. Harap dimaklumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26 SILSILAH KELUARGA YANG TAK TERDUGA
"HAH???!!!" respon spontan Haruma dan ibunya bersamaan.
Ibunya Haruma, dan Haruma sendiri, sangat terkejut mendengar jawabanku.
Sama saja denganku sedari tadi. Aku terkejut merasa tak percaya saat Haruma bilang bahwa nama bapaknya adalah Diki.
"Tunggu-tunggu. Coba ulang lagi, Harumi!" kata ibunya Haruma.
"Iya, Bu... Diki itu juga nama Bapak kandung saya." jawabku dengan sangat jelas.
Mereka berdua kembali saling pandang. Aku pun hanya bisa menatap mereka, dengan detak jantung dan napas yang masih belum bisa kutenangkan sepenuhnya.
Ibunya Haruma kemudian memandangku, dan berkata.
"Sebentar, sebentar... Bisa jadi, cuma kebetulan aja kan nama Bapakmu sama kayak nama Bapaknya Haruma. Kan nama Diki itu, umum. Bisa aja emang kebetulan namanya sama, kan?"
Seketika, otakku berpikir. Iya juga, bisa saja itu memang sebuah kebetulan.
Akan tetapi, masih terasa janggal bagiku.
Aku merasa, ini seperti bukan hanya kebetulan biasa.
Aku pun menjawab, "Iya sih, Bu... Mungkin aja emang kebetulan namanya sama. Soalnya kan, nama Ibu kandung ternyata beda..."
"Maaf, Haruma. Tadi, siapa nama Ibu kandung kamu?" tanyaku pada Haruma.
"Fitri..." jawab Haruma.
"Nah, kan... Beda namanya..." kataku.
"Emang nama Ibu kandung kamu, siapa?" tanya Haruma.
"Kalo nama Ibu kandung aku, Riris." jawabku.
Dan, secepat kilat, muncul ide dalam kepalaku. Untuk meyakinkan diriku sendiri, bahwa kemungkinan kebetulan ini, ya memang hanya sebuah kebetulan saja.
Aku ingat betul, di dompet kecil dalam tas sekolahku, selalu kuselipkan foto kedua orang tua kandungku itu.
Aku pun meraih tas sekolah di sampingku. Dan segera kubuka resletingnya.
Sementara, ibunya Haruma masih memperhatikanku. Dan Haruma juga masih menatapku dengan mata putihnya.
"Ibu, ini foto dua orang tua kandung saya..." ucapku, sambil memberikan foto mereka berdua pada Ibu Haruma.
Dan, sungguh...
Sesuatu yang amat sangat mengejutkan, kembali terjadi, saat ibu Haruma itu memegang foto kedua orang tua kandungku di tangannya itu.
.....
.....
((Berpindah ke sudut pandang Nisa))
Harumi pun memberikan foto kedua orang tua kandungnya itu padaku.
Sontak...
Kedua mataku terbelalak.
Tangan kananku sampai menutup mulutku sendiri.
Dengan sangat jelas, SANGAT JELAS!
Di foto yang sedang kupegang ini...
SOSOK BAPAK KANDUNG HARUMI TERNYATA MEMANG BENAR-BENAR SOSOK YANG SAMA DENGAN BAPAK KANDUNG HARUM, ANAKKU!
Jantungku pun berdebar lebih cepat.
Kepalaku seperti ingin pecah rasanya, saat mengetahui kenyataan yang tak pernah kuduga ini.
Aku sampai kehabisan kata-kata.
Aku tak tahu harus bilang apa pada Haruma dan Harumi.
.....
.....
((Kembali lagi ke sudut pandang Harumi))
"Bu? Ibu? Kenapa?" tanyaku pada ibu Haruma.
Dia terlihat sangat terkejut untuk kesekian kalinya, sambil menatap foto orang tua kandungku di tangannya.
"Ibu? Kenapa, Bu? Ada apa lagi, Bu?" tanya Haruma juga, sambil menggoyangkan paha ibunya itu.
"Ha-Harum..." terbata suara ibunya Haruma.
"Iya, Bu?" jawabku dan Haruma hampir bersamaan.
"E-em... I-ini... Fo-fotonya..."
Aku dan Haruma semakin penasaran.
"Ternyata... Bapak kandung kalian, sama!"
"HAH???!!!" respon aku dan Haruma kaget, bersamaan.
Haruma menatap tak percaya pada ibu angkatnya itu.
Sama sepertiku.
Rasanya...
Aku seperti merasakan sebuah sengatan listrik di sekujur tubuhku.
Rasa tak percaya...
Bingung...
Kutatap wajah Haruma.
Kutatap dalam-dalam mata putihnya.
Seketika itu juga, aku langsung mengingat sesuatu.
Mengingat semua perjalanan hidupku sendiri.
Mengingat semua kata-kata almarhumah ibuku, Riris.
Kemudian, ibunya Haruma berdiri, dan melangkah pelan. Lalu duduk tepat disampingku.
Ia sentuh pundakku dengan lembut, lalu bertanya, "Harumi, Ibu jadi penasaran banget sama dirimu, Nak."
Kutatap wajah ibu Haruma itu. Dan terasa, memang ada aura penasaran yang begitu besar darinya.
"Coba, kamu ceritain singkat gimana dirimu sama kedua orang tua kandungmu ini, Nak?"
Dan...
Dengan mencoba tenang...
Kuceritakan saja kisah hidupku pada ibu Haruma, didengarkan juga oleh Haruma.
"Bu, aku... Gak nyangka sama sekali, ternyata... Haruma ini adalah saudaraku, Bu..." kataku, membuka cerita singkatku.
"Ya Ibu juga gak pernah nyangka, loh... Coba, ayok ceritain, Nak. Pelan-pelan..." kata ibunya Haruma.
Sejenak, kutatap kedua mata putih Haruma yang ikut penasaran dari tadi.
"Dulu, Ibu kandungku pernah cerita, kalau Bapak hampir gak pernah pulang ke rumah."
"Maksudnya?" tanya ibunya Haruma.
"Aku juga sebenernya belom paham, Bu. Dari kecil, aku juga jarang banget, malah hampir gak pernah ketemu sama Bapak." kataku.
"Tapi, Ibu selalu bilang kalo Bapak sibuk kerja di luar kota. Aku cuma disuruh sabar buat hadapi kehidupan, yang kami jalani. Cuma berdua sama Ibuku." tambahku.
"Tapi, Ibumu pernah bilang, gak? Tentang status sebenarnya antara Ibu dan Bapak kandungmu itu?" tanya ibu Haruma.
"Maksudnya? Status gimana, Bu?" tanyaku, karena aku tak mengerti maksudnya.
"Maksud Ibu, apakah status Ibu dan Bapakmu itu, beneran menikah, atau gimana?"
"Emmm..." aku coba berpikir sebentar, mencoba untuk mengingat apakah pernah Ibuku cerita tentang itu.
"Oh, iya! Ibuku pernah cerita soal itu, Bu!" kataku, saat sudah mengingatnya.
"Kata Ibu, status pernikahan mereka berdua itu cuma sirri, Bu..." kukatakan saja apa adanya, dengan penuh kejujuran.
"Bu, sirri itu, apa?" tanya Haruma.
Dan ibunya Haruma pun menjelaskan.
"Nikah sirri itu, nikah yang gak resmi secara negara, Nak." katanya.
"Maksudnya?" tanya Haruma lagi. Aku pun sama ingin bertanya begitu. Karena aku juga belum paham, apa itu nikah sirri.
"Gini, nikah sirri itu maksudnya, nikah yang gak dicatat dalam administrasi negara, Nak. Cuma tetap sah secara agama."
"Oooh, gituuu..." responku dan Haruma bersamaan.
"Tapi Harumi, boleh Ibu nanya lagi?"
"Iya, Bu. Boleh..." kataku.
"Usia kamu berapa sekarang, Nak?"
"Aku sekarang udah 13 tahun, Bu..." jawabku jujur.
"Yaa Alloh..." respon ibunya Haruma.
Aku dan Haruma benar-benar fokus pandangannya kepada ibunya Haruma.
.....
.....
((Pindah lagi ke sudut pandang Nisa))
"Yaa Alloh..." ucapku spontan, saat Harumi sebutkan usianya itu.
Kini, Harum (Haruma) dan Harum (Harumi), menatap wajahku dengan amat serius dan terlihat kebingungan.
Aku...
Berada di posisi yang entah harus bagaimana sekarang.
Masih memegang foto kedua orang tua Harumi, aku mencoba untuk memahami semua alurnya.
Aku mencoba untuk mencerna. Menyusun setiap kepingan fakta cerita dari Harumi, anak perempuan itu, agar benar-benar menjadi benang merah cerita yang utuh.
Mulai dari informasi bahwa orang tua kandung Harumi yang menikah secara sirri saja. Tidak menikah resmi di KUA.
Kemudian orang tua kandung anak angkatku itu, Haruma, yang menikah secara resmi (bukan sirri).
Dan, fakta bahwa ternyata sosok "BAPAK" dari Haruma dan Harumi ternyata sama. Hanya saja berbeda "IBU".
Kemudian fakta tentang usia mereka berdua. Haruma usianya sekarang 14 tahun, sedangkan Harumi usianya 13 tahun.
Apakah...
Jangan-jangan...
Almarhum Diki itu memiliki dua istri?
Istri sahnya secara KUA adalah Bu Fitri, sedangkan istri sahnya secara sirri itu adalah Bu Riris?
Begitukah?
Apakah benar memang begitu?
Jika memang benar...
Berarti...
Harum Sekar Putri Purnamasari (Haruma), anak angkatku ini, adalah kakak sedarah untuk Harum Intan Purnamasari (Harumi)?
Hanya saja, mereka berdua berasal dari kandungan ibu yang berbeda?
Benar begitukah?
Ya Alloh...
Pantas saja, Haruma dan Harumi, memiliki bentuk wajah dna tubuh yang hampir sangat mirip!
Pantas saja, mereka berdua tampak seperti saudara kembar!
Ternyata...
Almarhum Pak Diki itu, adalah bapak kandung mereka berdua!
😧😧😧😧😧