NovelToon NovelToon
BAYANG BAYANG MASA LALU

BAYANG BAYANG MASA LALU

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Penyesalan Suami / Selingkuh
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Dinarta Firdaus

Enam tahun membina rumah tangga, Kirana merasa pernikahannya dengan Aris adalah definisi kebahagiaan yang sempurna. Namun, semua hancur saat Kirana menemukan kenyataan bahwa Aris kembali menjalin hubungan rahasia dengan Sarah, mantan kekasihnya yang dulu gagal dinikahi karena terganjal restu. Alih-alih menangis dan meminta cerai begitu saja, Kirana memilih jalan yang lebih gelap: menghancurkan Aris dari dalam dengan mendekati Bimo, sahabat karib sekaligus rekan bisnis Aris. Sebuah permainan ego, pengkhianatan, dan cinta yang keliru pun dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinarta Firdaus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RETAKAN DALAM JIWA SANG PEMENANG

​Aris mundur satu langkah, lalu perlahan-lahan tubuhnya merosot berlutut di atas lantai parket. Seluruh energi amarahnya menguap, digantikan oleh kehancuran mental yang mutlak. Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangan, dan suara tangisan yang parau—tangisan seorang pria yang menyadari bahwa ia telah kehilangan seluruh pilar hidupnya—mulai terdengar memenuhi ruangan.

​"Kenapa... kenapa kalian harus melangkah sejauh ini..." ratap Aris di sela tangisnya. "Jika kamu ingin cerai, Kirana... aku akan memberikannya. Jika kamu ingin harta... aku akan membaginya. Tapi kenapa harus menghancurkanku sampai ke akar-akarnya seperti ini? Kenapa harus memenjarakanku?"

​Kirana berdiri mematung, menatap suaminya yang kini bersimpuh di bawah kakinya.

​Melihat pemandangan itu—pemandangan yang selama berbulan-bulan ini selalu ia impikan sebagai puncak kemenangan dan kepuasan hidupnya—Kirana mendadak merasakan sebuah kehampaan yang luar biasa besar merayap masuk ke dalam dadanya. Rasa puas yang ia bayangkan akan meledak seperti kembang api di dalam hatinya, ternyata tidak kunjung datang.

​Yang tersisa hanyalah keheningan yang mati dan pemandangan seorang manusia yang telah hancur lebur.

​Kirana menatap tangannya sendiri yang baru saja digunakan untuk menampar Aris. Tangannya bergetar. Kulitnya terasa dingin. Ia melihat pantulan dirinya di cermin besar yang ada di dinding apartemen Bimo. Di dalam cermin itu, ia melihat seorang wanita dengan mata yang kosong, rahang yang mengeras penuh dendam, dan ekspresi yang begitu kejam—ekspresi yang sangat mirip dengan ekspresi Aris saat pria itu memanipulasinya dulu.

​Sebuah kesadaran yang mengerikan menghantam kesadaran Kirana seperti godam yang berat.

​“Aku telah menang,” batin Kirana, dadanya mendadak terasa sesak hingga ia kesulitan bernapas. “Aku telah mengambil perusahaannya, uangnya, reputasinya, dan sahabatnya. Tapi dalam proses melakukan semua itu... apa yang tersisa dari diriku sendiri? Aku telah menjadi seperti dia. Aku berbohong, aku memanipulasi emosi orang lain, aku merancang jebakan, aku menggunakan tubuh dan perasaanku sebagai senjata bisnis. Aku telah mengotori tanganku sendiri dengan dosa yang sama indahnya dengan dosa Aris. Aku telah berubah menjadi orang asing yang paling kubenci.”

​Rasa mual yang amat sangat kembali menyerang lambung Kirana, namun kali ini bukan karena pengkhianatan Aris, melainkan karena kejijikan yang mendalam terhadap dirinya sendiri. Air mata yang sejak semalam ia tahan dengan sekuat tenaga, kini perlahan luruh membasahi pipinya. Bukan air mata kesedihan untuk Aris, melainkan air mata kedukaan untuk hilangnya jiwa Kirana yang dulu murni dan penuh cinta.

​Bimo yang melihat air mata Kirana langsung melangkah mendekat. Ia mengulurkan tangannya, mencoba merangkul pundak Kirana untuk memberikan kekuatan yang ia rasa sangat dibutuhkan oleh wanita itu.

​"Kirana... tidak apa-apa. Semuanya sudah selesai sekarang," bisik Bimo dengan nada suara yang sangat lembut, matanya memancarkan binar kebahagiaan yang telah ia pendam selama bertahun-tahun. "Bajingan ini sudah mendapatkan balasannya. Dia tidak akan bisa mengganggumu lagi. Sekarang, kita bisa memulai hidup yang baru. Saham perusahaan sudah atas namamu, aset Sentul sudah aman. Kita bisa membangun kembali semuanya bersama-sama, Kirana. Aku akan menjagamu seumur hidupku."

​Bimo menatap Kirana dengan pandangan penuh harapan masa depan—sebuah masa depan di mana ia tidak lagi menjadi pengamat di luar garis batas, melainkan pria utama yang berdiri di samping ratunya.

​Namun, saat tangan Bimo menyentuh pundaknya, Kirana merasakan sebuah penolakan yang instingtif dari dalam tubuhnya. Ia bergeser selangkah ke samping, membiarkan tangan Bimo melayang di udara yang kosong.

​Bimo tersentak, ekspresi wajahnya berubah menjadi bingung. "Kirana? Ada apa?"

​Kirana menatap Bimo, pria yang selama beberapa bulan terakhir ini membagi ranjang dan dosa bersamanya. Dalam temaram cahaya pagi, Kirana melihat Bimo bukan sebagai seorang penyelamat, melainkan sebagai bagian dari ilusi dan kegelapan yang ia ciptakan sendiri.

​"Bimo..." ucap Kirana, suaranya terdengar sangat lelah dan hambar. "Terima kasih untuk semua yang sudah kamu lakukan. Kamu adalah pengacara yang jenius, dan sekutu yang sangat luar biasa."

​"Sekutu?" Bimo mengulang kata itu dengan nada yang sedikit terluka. "Kirana, apa yang terjadi di antara kita... malam di apartemen ini, ciuman kita, semua pernyataan cintaku... apakah itu semua hanya urusan sekutu bisnis bagimu?"

​Kirana memejamkan matanya selama beberapa detik, mencoba mengumpulkan sisa-sisa kejujuran di dalam jiwanya yang telah retak.

​"Malam itu, Bimo... saat aku datang kepamu dengan alasan mobil mogok, aku tahu persis apa yang kulakukan," Kirana membuka matanya, menatap Bimo dengan pandangan yang penuh rasa bersalah yang jujur. "Aku memanipulasimu. Aku memanfaatkan rasa cinta yang kamu pendam selama enam tahun untuk menjadikannya senjata pembunuh bagi Aris. Aku tahu kamu tidak akan pernah menolakku, dan aku menggunakan kelemahanmu itu demi kelancaran rencana balas dendamku."

​Bimo menggelengkan kepalanya, wajahnya mendadak pucat. "Tidak, Kirana. Kamu terpengaruh alkohol malam itu. Kamu terluka karena Aris. Aku tahu kamu juga memiliki perasaan yang sama denganku. Sentuhanmu, desah napasmu... itu tidak mungkin kebohongan!"

​"Mungkin ada bagian dari diriku yang merasa nyaman bersamamu, Bimo," lirih Kirana, air matanya terus mengalir. "Tapi kenyataan yang sesungguhnya adalah: setiap kali aku memelukmu di atas ranjang ini, setiap kali aku menyambut ciumanmu... aku tidak sedang melihatmu sebagai Bimo yang tulus. Aku melihatmu sebagai alat untuk membalas dendam kepada Aris. Aku menggunakan cintamu yang murni untuk mengotori hubungan persahabatan kalian. Dan itu membuatku menjadi manusia yang sama jahatnya dengan Aris."

​Kirana mundur mendekati pintu keluar apartemen. "Jika aku tetap bersamamu di Jakarta, Bimo... setiap kali aku melihat wajahmu, aku hanya akan diingatkan pada malam-malam penuh manipulasi ini. Aku akan selalu diingatkan pada monster yang aku ciptakan di dalam diriku sendiri. Hubungan kita... didirikan di atas fondasi bangkai pernikahan dan dendam yang berdarah. Tidak akan pernah ada kebahagiaan sejati yang bisa tumbuh dari tanah yang beracun seperti itu."

​"Kirana, tolong... jangan lakukan ini padaku," Bimo memohon, langkah kakinya bergerak mengejar Kirana, namun langkahnya terhenti saat Kirana mengangkat tangan kanannya, mengisyaratkan agar Bimo tidak mendekat.

​"Jangan, Bimo. Biarkan aku pergi. Ini adalah satu-satunya cara agar aku bisa menyelamatkan sisa-sisa kemanusiaan yang masih ada di dalam diriku," ucap Kirana dengan keputusan yang mutlak.

1
Ara putri
mampir ya kak. Jika berkenan mampir juga keceritaku TUAN AYAZ, TOLONG BERHENTI!
Dinarta Firdaus: baik kakak terimakasih sudah mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!