Guntur Hidayat dan Ali Hidayat awalnya bersekolah di SMA yang mayoritas dihuni anak orang kaya. Karena keterbatasan biaya, keduanya terpaksa putus sekolah. Mereka lalu membantu kakak tertua mereka, Faris Hidayat — sosok yang disegani, ahli memperbaiki dan memodifikasi motor, serta diam-diam pandai mengembangkan uang lewat saham terindeks. Bersama orang tua mereka, Bapak Wijaya Hidayat dan Simbok Arum Sari, ketiga bersaudara ini berjuang membangun masa depan lewat bengkel kecil mereka. Membuktikan: keberhasilan tidak harus selalu lewat bangku sekolah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Jangan Kayak Kembang Api Malam Lebaran Cemerlang Sebentar Lalu Mati Ge
Pagi itu udara masih lembap, embun masih menempel di daun pisang dan atap jerami di sekitar bengkel. Belum jam enam lewat sepuluh menit, Faris Hidayat sudah duduk santai di bangku kayu tua, kaki disilang, rokok Gajah Baru Kertek sudah mengepul pelan di bibirnya. Matanya setengah terpejam, tapi telinganya sudah tajam mendengar suara dari kejauhan.
Tak lama kemudian, terdengar suara mendekat yang bikin burung‑burung di pohon sebelah terbang ketakutan: greng‑breng‑brumm‑kret, suaranya meledak keras sekali begitu lewat di depan jalan masuk, tapi baru sampai jarak 200 meter, nadanya sudah menurun drastis, berubah jadi lemah dan terputus‑putus kayak orang yang habis berteriak seharian tanpa minum air.
Begitu motor itu berhenti di halaman, pemudanya turun sambil mengipas lehernya yang terasa panas. Faris Hidayat melirik sekilas, lalu menyapa dengan gaya sengklek dan nyeleneh khasnya, suaranya berat tapi bikin orang langsung mengerti maksudnya:
Wah… ini bawa mesin atau bawa kembang api yang dipasang di atas roda? Di awal meledak terang, bikin semua orang menoleh kagum, tapi baru beberapa detik cahayanya hilang, suaranya habis, tinggalkan cuma asap dan bau yang tidak sedap! Persis kayak tadi: kerasnya cuma di hidung, baru jalan sedikit sudah lemas kayak kuda yang ditarik melewati rawa berlumpur!”
Tanpa menunggu jawaban, Faris Hidayat melangkah ke GL Herk merah mudanya yang berdiri tenang di sudut bengkel. Ia putar kunci kontak pelan‑pelan: dang… dang… gor‑gor…, suaranya keluar teratur, berat dan padat, makin jauh makin terasa mantap sampai ke ujung jalan sepanjang 500 meter, nadanya tidak berubah sedikit pun dari awal sampai akhir.
Ini namanya tenaga yang dibangun bertahap, bukan dipaksakan meledak sekaligus,” ucapnya sambil menepuk kepala silinder mesin pelan‑pelan. “Kalau kamu setel mesin cuma supaya suaranya menggelegar di awal, itu sama kayak membakar kembang api: semua bahan diledakkan dalam sekejap, hasilnya terlihat gagah sebentar, tapi habis itu tidak ada lagi yang tersisa buat melanjutkan perjalanan. Sedangkan cara kita — biarkan tenaga terbentuk perlahan, keluar merata, tahan lama, sampai jarak jauh pun masih bernyanyi teratur.”
Pemuda itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal, mukanya bingung setengah percaya. “Bang Faris Hidayat… kata teman saya, makin keras suaranya, makin kencang larinya. Kenyataannya malah cepat panas, boros bensin, dan cepat lemas di tengah jalan?”
Faris Hidayat menyeringai tipis, lalu mengangkat sebatang ranting kering untuk memberi gambaran yang lebih nyeleneh tapi masuk akal:
Itu omongan orang yang otaknya masih kayak anak kecil yang baru lihat kembang api! Coba lihat ini ranting — kalau dibakar dengan api besar sekaligus, langsung terbakar habis dalam sekejap, abunya terbang hilang. Tapi kalau dibakar dengan api kecil dan teratur, dia menyala lama, panasnya terasa sampai jauh, dan bisa dipakai memasak sampai nasi matang sempurna. Begitu juga mesin ini! Kalau dipaksa meledak di awal, tenaganya habis percuma, kalau dikeluarkan bertahap, dia tahan sampai ujung lintasan.”
Ia memberi isyarat pada Guntur membuka bagian karburator dan saluran pembuangan. Jari‑jarinya yang kasar tapi teliti menunjuk ke jarum pelampung yang terlalu tinggi dan busi yang sudah menghitam tebal sisa pembakaran tidak sempurna.
Lihat ini ya… bensinnya dibanjiri masuk kayak air hujan yang meluap ke selokan sempit. Pembakarannya terjadi terlalu cepat, tidak sempat menggerakkan piston dengan tenaga penuh, malah meledak keluar lewat knalpot jadi suara greng‑breng yang bising tapi kosong. Kalau kita turunkan sedikit alirannya, atur supaya udara masuk seimbang, nanti suaranya berubah jadi dang‑dang… gor‑gor… — itu tandanya tenaga terbentuk dengan benar, tidak terbuang percuma, sampai 500 meter pun masih lari enteng kayak angin lewat pematang sawah!”
Sambil menyetel ulang satu per satu bagiannya, Faris Hidayat terus mengoceh dengan gaya khasnya yang bikin Guntur, Ali, dan Bima yang kebetulan datang lagi ikut mendengarkan sambil menahan tawa:
Ingat baik‑baik pesan ini, jangan sampai lupa kayak orang lupa membawa dompet saat mau belanja: **Kalau suaranya dang‑dang, berarti tenaganya tersimpan rapi dan siap dipakai kapan saja. Kalau suaranya gor‑gor, berarti pembakarannya pas dan tenaganya keluar teratur. Kalau sudah berubah jadi kret‑kret‑breng, berarti dia sudah kehabisan tenaga sebelum sampai tujuan — sama kayak orang yang banyak bicara di awal tapi tidak ada bukti di akhir: cuma bikin ribut sebentar, lalu hilang tanpa jejak!”
Setelah selesai disetel dan diperiksa dua kali untuk memastikan tidak ada yang terlewat, Faris Hidayat memutar gas perlahan dari putaran paling rendah sampai penuh: dang… dang… gor‑gor‑gor…, naiknya bertahap, tidak melonjak mendadak, asapnya tipis dan bening, getarannya terasa halus di tangan tanpa terasa kasar.
Coba sekarang lari sampai ujung jalan 500 meter, jangan dipaksa gas penuh dari awal — biarkan dia mengatur iramanya sendiri sesuai kemampuannya,” perintahnya santai sambil menyandarkan punggung kembali ke tiang bengkel.
Pemuda itu menuruti, meluncur perlahan keluar halaman. Suara yang tadinya meledak dan cepat melemah kini berubah teratur, makin jauh makin terdengar mantap dan bulat, sampai di ujung jalan pun masih jelas terdengar tanpa pecah atau serak. Saat kembali lagi, wajahnya berseri‑seri sampai terlihat gigi depannya:
Wah… bedanya jauh sekali Bang Faris! Sekarang tarikannya halus, mesinnya tidak terasa panas lagi, bensinnya juga tidak boros. Sampai di ujung jalan suaranya masih sama enaknya, tidak berubah sedikit pun!”
Belum sempat mereka beristirahat sejenak, datang lagi sekelompok pemuda dari desa sebelah membawa dua motor sekaligus. Suaranya kacau balau: satu breng‑breng‑kret, satu lagi greng‑dang‑brumm, persis kayak suara orang bertengkar di pasar pagi.
Faris Hidayat melirik sekilas lalu menyambut dengan candaan yang bikin semua orang di bengkel ketawa lepas:
Wah… bawa dua motor atau bawa dua kaleng bekas yang dipukul‑pukul? Suaranya kayak kembang api yang salah pasang — meledak di tempat sendiri, tidak terbang ke atas, malah bikin asap dan bau menyengat! Sudah pasti disetel supaya terlihat gagah di awal, tapi lupa kalau perjalanan itu butuh tenaga yang tahan lama, bukan cuma pamer sesaat!”
Ia segera memeriksa bagian demi bagian, mengatur ulang campuran bensin dan udara, membersihkan saluran yang tersumbat, sampai akhirnya kedua motor itu berubah suaranya menjadi teratur: dang… dang… gor… gor…, mantap dan jelas sampai ke ujung halaman.
Saat pekerjaan selesai dan matahari mulai naik menyinari seluruh halaman bengkel, Faris Hidayat berdiri tegak, mengelap tangannya dengan kain lap yang sudah usang tapi bersih, lalu bicara tegas namun tetap dengan gaya sengklek yang jadi ciri khasnya:
Jadi intinya begini… baik nyetel mesin maupun menjalani hidup, jangan mau yang cemerlang sebentar saja. Jangan jadi kayak kembang api yang habis dalam sekejap, tapi jadilah kayak api di tungku yang menyala teratur, panasnya terasa lama, dan bisa membawa manfaat sampai ke ujung perjalanan. Kalau sudah teratur dan pas, hasilnya akan bertahan — sampai jarak 500 meter, sampai ke hari‑hari mendatang, sampai ke banyak orang yang kita bantu. Kalau cuma mengandalkan pamer tenaga di awal saja, ujung‑ujungnya cuma habis tanpa bekas, persis suara keras yang terbawa angin lalu hilang begitu saja.”
Di sudut bengkel, GL Herk merah muda berdiri tenang seolah mengangguk setuju, siap kapan saja membuktikan bahwa tenaga yang teratur dan bertahap akan selalu sampai ke tujuan, tidak pernah habis di tengah jalan.