**Tiga tahun Arunika mengorbankan segalanya demi cinta—memutus hubungan dengan keluarga konglomeratnya sendiri demi menikahi Damar Notonegoro, pria dingin yang tak pernah benar-benar melihatnya.**
Sampai di pesta ulang tahun sang Eyang, ipar yang sedang hamil terjatuh ke kolam, dan Arunika dituduh sebagai pelakunya. Di depan seluruh keluarga besar, ia dipaksa bersimpuh minta maaf, dihina, dibiarkan berlutut semalaman di tengah hujan—dan Damar, suaminya, tak sedikit pun membelanya.
Malam itu Arunika berhenti menangis. *"Aku mau cerai. Tidak sepeser pun harta Notonegoro yang kuminta."*
Yang tak mereka tahu: perempuan yang mereka injak-injak ini adalah **putri Keluarga Prawira**—pewaris kerajaan bisnis triliunan. Dan ia pulang bukan untuk menyerah, melainkan untuk membalas semuanya.
Saat ia bangkit sebagai direktur Semesta Group, saat seluruh Jakarta menyadari siapa dirinya sebenarnya, satu per satu yang dulu meremehkannya mulai tersedak ludah sendiri. Bahkan Damar—mantan suami yang dulu begitu dingin—kini berlutut memohon rujuk.
Tapi terlambat. Karena kini ada **Mahesa Adiwangsa**, konglomerat muda paling berkuasa di kota ini, yang setiap hari mengirim mawar untuknya, yang berani berkata di depan semua orang:
*"Aku pilih kamu. Dan anakmu."*
Antara mantan suami yang menyesal dan pria yang mencintainya tanpa syarat, antara masa lalu yang ingin menyeretnya kembali dan masa depan yang menjanjikan dunia—
**Pilihan Arunika tak pernah goyah. Pertanyaannya: beranikah Notonegoro menanggung akibat telah melepaskan perempuan seperti dia?**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
# Bab 26
## Kartu di Antara Bunga
Pertemuan tiga orang di Kuningan tidak berubah menjadi keributan.
Arunika tidak memberi ruang untuk itu.
Saat Damar memanggil namanya lagi, ia hanya berkata, "Pak Damar, jika Notonegoro memiliki kepentingan dalam forum ini, silakan hubungi sekretariat asosiasi. Jika ini urusan pribadi, saya tidak membahasnya di ruang kerja."
Mahesa tidak menambahkan apa pun.
Justru itu yang paling Arunika ingat.
Ia tidak mengambil kesempatan untuk mempermalukan Damar. Tidak memamerkan kedekatan yang belum ada. Tidak menjadikan kecemburuan orang lain sebagai panggung. Ia hanya berdiri di samping, tenang, membiarkan Arunika menentukan batas sendiri.
Damar sempat maju satu langkah, wajahnya penuh kalimat yang belum siap keluar. Namun Arunika sudah memberi isyarat kepada Tari.
"Kita ada rapat lanjutan dengan asosiasi," katanya.
"Nika, aku hanya ingin bicara sebentar."
"Saya sudah menjawab jalurnya."
Gilang memegang bahu Damar sebelum situasi menjadi tontonan. "Damar, jangan di sini."
Arunika tidak menunggu apakah Damar akan mendengar atau tidak. Ia berjalan keluar bersama Tari, melewati Mahesa tanpa berhenti. Di ambang pintu, Mahesa hanya menundukkan kepala sedikit. Tidak ada senyum menang, tidak ada komentar tajam, tidak ada kalimat yang membuat Damar tampak lebih kecil.
Sore itu, di mobil, Tari sempat bertanya, "Bu, perlu saya blokir semua permintaan pribadi dari Pak Damar?"
"Masukkan ke jalur umum."
"Seperti proposal?"
"Seperti gangguan yang belum perlu diberi prioritas."
Tari mencatat tanpa ekspresi. "Baik, Bu."
Arunika melihat keluar jendela. Anehnya, yang terus muncul di pikirannya bukan wajah Damar saat tertahan di pintu, melainkan sikap Mahesa yang memilih diam. Dalam hidupnya, terlalu banyak orang memakai diam untuk menghukum. Mahesa memakai diam untuk memberi ruang.
Ia belum tahu harus menamainya apa.
Tetapi ia mengingatnya.
Beberapa hari setelahnya, bunga tetap datang.
Tetapi Arunika mulai memperhatikan bahwa yang berbahaya bukan bunganya.
Yang berbahaya adalah kartu di antaranya.
Senin pagi, rangkaian kecil lavender tiba bersama satu amplop tipis. Tari membukanya setelah mendapat izin. Di dalamnya hanya ada tiga baris.
Vendor baru yang menawarkan sistem keamanan gudang memakai anak perusahaan lama Cakra Mandiri.
Cek akta perubahan pemegang saham bulan Maret.
Jangan tanda tangan sebelum nomor tiga diverifikasi.
Arunika membaca kartu itu dua kali.
"Mbak Tari."
"Saya sudah minta legal cek akta," jawab Tari, seolah ia juga mulai terbiasa bahwa bunga Mahesa berarti pekerjaan tambahan.
Satu jam kemudian, hasilnya keluar.
Vendor itu memang berganti nama, tetapi pemegang saham pengendalinya masih keluarga yang sama dengan Cakra Mandiri. Kalau Semesta menerima proposal mereka, audit lama akan masuk kembali melalui pintu baru.
Arunika menutup dokumen dengan pelan.
"Tolak."
"Dengan alasan konflik kepentingan?"
"Dan minta mereka tidak mengajukan ulang sebelum struktur kepemilikan bersih."
Tari mencatat. "Baik, Bu."
Ia berhenti sebentar, lalu menatap lavender di meja samping. "Saya pindahkan ke lobi?"
Arunika melihat bunga itu.
Warnanya tidak mencolok. Wanginya tipis, hampir tidak ada.
"Biarkan di sana dulu."
Tari tidak tersenyum. Profesional sekali. Terlalu profesional untuk seseorang yang jelas ingin tersenyum.
Keputusan itu menyelamatkan Semesta dari rapat panjang yang tidak perlu. Vendor tersebut sudah menyiapkan presentasi besar pada sore hari, lengkap dengan testimoni pelanggan dan paket diskon yang terdengar terlalu manis. Setelah legal mengirim surat penolakan resmi, dua perusahaan lain tiba-tiba menarik diri dari daftar vendor cadangan.
Tari membawa laporan itu menjelang makan siang.
"Mereka terhubung, Bu."
"Tentu."
"Kalau kita tidak mengecek akta, mereka mungkin masuk bertiga dan saling pura-pura bersaing."
Arunika menatap lavender di meja samping. "Mahesa tahu pola mereka."
"Atau tahu siapa yang menggerakkan mereka."
Kalimat Tari membuat Arunika diam.
Itu kemungkinan yang lebih besar. Dan lebih berbahaya.
Mahesa tidak hanya mengumpulkan informasi. Ia memahami jaringan. Orang yang memahami jaringan biasanya berada lebih dekat dengan pusat permainan daripada yang ia tunjukkan.
Arunika menyimpan pikiran itu, bukan sebagai rasa takut, tetapi sebagai catatan.
Pria yang terlalu mudah dibaca membosankan.
Pria yang terlalu sulit dibaca bisa menjadi masalah.
Mahesa, sejauh ini, berada di tempat yang tidak nyaman di antara keduanya.
Rabu, bunga berikutnya adalah tulip kuning, dikirim ke ruang arsip, bukan ruang kerja. Kartu hitamnya terselip di antara map lama.
Orang yang menyembunyikan dokumen biasanya tidak membuang salinan. Mereka memindahkannya ke tempat yang dianggap membosankan.
Rak B, map pajak reklame, tahun dua tahun lalu.
Tari menemukannya lebih dulu.
Di rak B, di antara berkas pajak reklame yang seharusnya tidak berhubungan dengan gudang Jakarta Utara, ada fotokopi perjanjian tambahan dengan Lintas Garda. Tanda tangan Surya ada di halaman terakhir. Ada satu klausul yang memberi konsultan lama hak menunda serah dokumen bila pembayaran "jasa percepatan" belum dilunasi.
Klausul itu tidak sah.
Tetapi cukup untuk dipakai menekan staf yang tidak paham hukum.
Arunika membaca halaman itu sambil berdiri. Lututnya terasa sedikit pegal setelah terlalu lama bergerak dari rapat ke arsip, tetapi ia tidak menunjukkannya. Ia hanya memindahkan berat badan dan menutup map.
"Surya memakai klausul palsu untuk menakut-nakuti tim lama."
"Kemungkinan besar, Bu."
"Serahkan ke legal. Tambahkan ke berkas audit internal."
"Baik."
Tari mengambil map itu, lalu berkata hati-hati, "Pak Mahesa tahu terlalu banyak."
"Saya tahu."
"Apakah itu mengganggu?"
Arunika menatap tulip kuning di atas meja arsip.
"Sangat."
Jawabannya jujur.
Yang membuatnya gelisah bukan karena Mahesa mendekat. Banyak pria mendekat setelah namanya berubah menjadi Prawira. Yang membuatnya gelisah adalah Mahesa tidak mendekat lewat pintu yang mudah ia tutup.
Ia tidak memuji harta.
Tidak meminta kesempatan karena iba.
Tidak menagih balasan.
Ia hanya mengirim hal-hal yang membuat kerja Arunika lebih bersih.
Jumat sore, bunga terakhir minggu itu datang saat hujan turun tipis di kaca gedung Semesta.
Kali ini bukan mawar. Bukan anggrek. Bukan bunga mahal yang mudah difoto.
Hanya melati kecil dalam mangkuk keramik, wangi lembutnya seperti rumah lama di Surabaya setelah hujan.
Arunika menyentuh tepi mangkuk itu tanpa sadar.
Kartunya lebih panjang.
Saya tahu Anda tidak suka dibantu dengan cara yang membuat Anda tampak lemah.
Saya juga tahu Anda tidak membutuhkan penyelamat.
Jadi saya tidak datang sebagai penyelamat.
Saya hanya memberi peta kecil jika jalannya memang sedang berkabut.
Di bawahnya, ada satu catatan bisnis lagi.
Jangan percaya jadwal rapat ulang dengan Lintas Garda hari Senin. Orang yang akan datang bukan pengambil keputusan. Minta nama Rauf hadir, atau batalkan.
Arunika membaca sampai akhir.
Di bagian paling bawah, ada kalimat yang bukan alamat, bukan peringatan, bukan jawaban teknis.
Saya membantu tidak untuk meminta balasan.
Kecuali Anda ingin memberi.
Tari, yang berdiri di seberang meja, pura-pura sibuk dengan tablet.
Arunika menatap kartu itu lama.
Ia seharusnya kesal.
Kalimat itu jelas menggoda. Mahesa tetap Mahesa, pria yang bisa membuat satu kartu terasa seperti panggung kecil. Tetapi kali ini, di balik gaya itu, ada sesuatu yang tidak bisa ia sangkal.
Ia tidak sedang memaksa masuk.
Ia sedang membiarkan Arunika memilih apakah pintu itu akan dibuka.
"Bu?" Tari bertanya pelan.
Arunika meletakkan kartu itu di atas meja.
"Batalkan rapat kalau Rauf tidak hadir."
"Baik."
"Dan..."
Tari menunggu.
Arunika melihat hujan tipis di kaca, lalu mangkuk melati kecil di meja. Untuk pertama kali, ia tidak menyuruh bunga itu dipindahkan ke lobi.
"Simpan kartu-kartu sebelumnya dalam satu map."
Tari mengangkat alis sedikit. "Untuk arsip?"
Arunika kembali membuka laptop, wajahnya tenang.
"Untuk evaluasi."
Tari menunduk, tetapi kali ini senyumnya tidak sepenuhnya berhasil disembunyikan.
Arunika membiarkan senyum itu lewat tanpa menegur. Kata evaluasi terdengar cukup dingin untuk menyelamatkan harga dirinya, tetapi ia tahu ada alasan lain. Untuk pertama kali, ia ingin membaca ulang jejak seseorang bukan karena harus mencari kesalahan, melainkan karena ingin memahami cara orang itu berpikir.
Di luar, hujan menipis.
Di meja Arunika, bunga melati tetap tinggal.