NovelToon NovelToon
Terperangkap Cinta Duda Kaya

Terperangkap Cinta Duda Kaya

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mengubah Takdir / Duda
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Hidup Dara runtuh dalam satu hari.
Pekerjaannya hilang tanpa peringatan. Perusahaan tempatnya kerja kini terancam bangkrut dan harus mem-PHK semua karyawannya termasuk Dara. Kini Dara merasa hidupnya runtuh, karena disaat yang sama Ibunya sedang di rawat di rumah sakit dan butuh biaya yang sangat besar. Di titik terendahnya, Dara hanya punya dua pilihan: bertahan atau menyerah.
Kini Takdir membawanya ke sebuah perusahaan besar, di sana ia menjadi sekretaris pribadi seorang CEO dingin, perfeksionis, dan penuh rahasia.
Pria itu setelah di khianati mantan istrinya tidak lagi percaya pada cinta. Namun sejak kehadiran Dara, sekretaris baru yang berani, tulus, dan penuh tekad, kini hatinya mulai goyah.
Bagaimana kelanjutan kisah mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 1 : Apa? PHK?

Dara menatap gedung kantornya dengan senyum yang merekah. Karena hari ini waktunya ia menerima gajinya, namun begitu ia melangkah masuk ke dalam lobby, suasana langsung terasa berbeda.

Beberapa karyawan berdiri berkelompok, wajah mereka pucat. Ada yang menunduk, ada yang menyeka air mata diam-diam. Di sudut ruangan, dua orang tampak memasukkan barang-barang pribadi ke dalam kardus.

Dara mengernyit bingung. “Ada apa sih…?” gumamnya pelan.

Jantungnya mulai berdetak tidak nyaman. Tanpa pikir panjang, ia berjalan cepat menuju area kerja. Matanya langsung mencari satu sosok yang ia kenal paling dekat dengannya yaitu Nina. Nina sedang berdiri di dekat mejanya, memegang tas dengan mata sembab.

“Nina!” panggil Dara, napasnya sedikit terengah. “Ini… ini kenapa? Kok semua orang kelihatan sedih? Memangnya ada apa sih?”

Nina menoleh pelan, tatapannya kosong. Ia hanya menggeleng, lalu tersenyum pahit. “Dara…” suaranya lirih. “Mending lo langsung temuin bos aja deh.”

Dara mengerutkan kening. “Kenapa emangnya?”

Nina menelan ludah, lalu berkata pelan, hampir seperti kehilangan tenaga. “Perusahaan udah nggak bisa dipertahanin… kayaknya bangkrut.”

Kalimat itu menghantam Dara seperti petir.

“Dan…” Nina melanjutkan dengan suara bergetar, “kita semua di-PHK.”

Dunia Dara seperti berhenti berputar. “Nggak mungkin…” bisiknya.

Dadanya mendadak sesak, napasnya terasa pendek. Hari ini ia harus membayar biaya rumah sakit ibunya. Sudah dua bulan ibunya terkena stroke ringan. Semua tabungan Dara sudah terkuras. Gaji bulan ini adalah satu-satunya harapan.

Dara mengepalkan tangannya. “Gue… gue harus ketemu bos,” katanya pelan, tapi tegas.

Nina hanya menatapnya dengan tatapan penuh iba. “Semoga lo kuat ya, Ra…”

Langkah Dara terasa berat saat berjalan menuju ruang direktur. Lorong yang biasanya terasa biasa saja kini terasa begitu panjang dan menekan. Tangannya sempat gemetar saat mengetuk pintu.

“Masuk.” Suara itu terdengar datar.

Dara membuka pintu perlahan. Di dalam, sang bos duduk di kursinya. Wajahnya terlihat lelah, jauh berbeda dari biasanya yang tegas dan penuh wibawa.

“Dara,” ucapnya singkat.

Dara berdiri kaku di depan meja. “Pak… apa perusahaan ini benar...” suaranya nyaris pecah.

Sang bos menarik napas panjang, lalu mengangguk. “Benar Dara, perusahaan mengalami kerugian besar. Kami sudah berusaha mempertahankan, tapi tidak berhasil.”

Setiap kata terasa seperti pisau.

“Mulai hari ini… operasional dihentikan.”

Dara menahan napas..“Lalu… gaji saya, Pak?” tanyanya pelan, penuh harap.

Sang bos terdiam sejenak, lalu mendorong sebuah amplop ke arah Dara. “Ini pesangon dan sisa gaji yang bisa kami berikan.”

Tangan Dara gemetar saat mengambilnya. Ia membuka sedikit… dan dadanya langsung terasa makin sesak..“Pak… ini…” suaranya bergetar, “ini hanya setengahnya…”

Sang bos menunduk. “Perusahaan tidak mampu membayar penuh.”

Dara menatap amplop itu lama. Pandangannya mulai kabur. Ibunya, rumah sakit, dan biaya yang belum terbayar. Semua berputar di kepalanya. Air mata akhirnya jatuh tanpa bisa ditahan. Ia menggigit bibir, berusaha tetap berdiri tegak meski dunia rasanya runtuh.

“Maaf, Dara,” ucap sang bos pelan.

Dara mengangguk lemah. “Terima kasih, Pak…” Suaranya hampir tidak terdengar.

Ia berbalik, melangkah keluar dari ruangan itu dengan langkah kosong. Di luar, suara tangisan masih terdengar di mana-mana.

Dara kembali ke mejanya dengan langkah yang terasa hampa. Kursi yang selama ini ia duduki setiap hari kini terasa asing. Semua yang dulu terlihat biasa… sekarang terasa seperti kenangan yang akan segera hilang.

Ia menarik napas panjang, lalu mulai mengemasi barang-barangnya satu per satu. Foto kecil dirinya bersama ibunya ia ambil dari sudut meja. Tangannya sempat terhenti saat menatap foto itu. Senyum ibunya yang hangat terasa begitu jauh dari kenyataan hari ini.

“Bu… aku harus kuat,” bisiknya pelan.

Ia memasukkan foto itu ke dalam tas. Beberapa alat tulis, buku catatan, dan mug kesayangannya ikut masuk ke dalam kardus. Air matanya jatuh lagi… tanpa suara.

“Ra…” Suara itu membuat Dara menoleh.

Nina berdiri di sana, membawa tasnya, wajahnya masih sembab tapi berusaha tersenyum. Nina melangkah mendekat.

“Ra yang sabar ya…” ucapnya pelan. “Gue juga pusing banget nih.”

Dara tersenyum tipis, meski matanya masih berkaca-kaca. “Iya, Nin…”

Nina melirik kardus di meja Dara, lalu bertanya lirih, “Setelah ini lo mau ke mana, Ra?”

Dara terdiam sejenak. Pertanyaan itu… sederhana, tapi terasa begitu berat. Ia menunduk, lalu menjawab pelan. “Gue kayaknya mau cari kerjaan di mana aja deh… yang penting kerja.”

Ia menarik napas, mencoba menahan sesak di dadanya. “Soalnya… gue harus bayar rumah sakit ibu gue.”

Nina langsung terdiam. Wajahnya berubah penuh rasa bersalah. “Yang sabar ya, Ra…” katanya pelan. “Maaf ya… gue belum bisa bantu.”

Dara menggeleng cepat. “Jangan gitu, Nin. Lo juga lagi susah.”

Nina tersenyum lemah. “Gue paling abis ini… pulang aja ke desa,” lanjutnya pelan. “Nggak tau mau ngapain lagi di sini.”

Hening sejenak di antara mereka.

Suasana kantor yang biasanya ramai kini hanya diisi suara langkah kaki pelan dan isak tangis yang sesekali terdengar. Dara menutup kardusnya. Ia mengangkat kardus itu, lalu menatap sekeliling untuk terakhir kalinya. Kini semua itu hanya tinggal kenangan.

Nina menyentuh lengannya pelan. “Ra…”

Dara menoleh.

“Kita pasti bisa lewatin ini,” ucap Nina, mencoba tegar.

Dara menatap sahabatnya itu, lalu tersenyum kecil. “Iya… harus bisa.”

Meski dalam hatinya, ia sendiri tidak yakin.

Beberapa menit kemudian, mereka berjalan keluar gedung bersama..Langkah mereka pelan, seolah belum siap benar-benar meninggalkan semuanya.

Di depan pintu, mereka berhenti. Nina menarik Dara ke dalam pelukan. “Jaga diri lo ya, Ra…”

“Lo juga, Nin…”

Pelukan itu terasa lama. Seolah keduanya tahu… setelah ini, hidup akan membawa mereka ke arah yang berbeda. Saat mereka melepaskan pelukan, mata keduanya sudah kembali basah.

Dara tersenyum, meski hatinya berat. “Semoga kita ketemu lagi dengan keadaan yang lebih baik.”

Nina mengangguk..“Aamiin…”

Dara melangkah pergi, sendirian. Dengan satu kardus di tangan… dan ribuan beban di hati. Namun ia tahu, ia tidak punya waktu untuk jatuh terlalu lama. Karena di suatu tempat, Ibunya sedang menunggu.

Dara sampai di depan kosannya. Bangunan sederhana bercat krem itu tampak biasa saja, tapi hari ini terasa berbeda… lebih sunyi dan dingin.

Dara membuka pintu kamarnya perlahan. Aroma ruangan yang sedikit pengap menyambutnya. Ia meletakkan kardus di lantai, lalu menutup pintu di belakangnya.

Tak ada suara selain detak jam dinding yang terdengar begitu jelas. Dara berdiri beberapa saat, menatap kamarnya yang sempit. Kasur kecil di sudut ruangan, meja belajar yang penuh kertas, dan lemari tua yang sedikit terbuka.

Semua terasa sama… tapi hidupnya sudah berubah. Perlahan, Dara duduk di tepi kasur. Tangannya masih memegang amplop dari kantor. Ia membukanya lagi, menatap isinya dengan mata kosong.

“Ini… nggak akan cukup…” bisiknya lirih.

Bayangan ibunya di rumah sakit kembali terlintas. Wajah pucat itu, tangan yang lemah… dan senyum yang selalu mencoba menenangkan Dara.

Air mata kembali jatuh. Namun kali ini, Dara cepat mengusapnya. “Nggak boleh lemah, Ra…” gumamnya pelan. “Lo nggak punya waktu buat nangisin ini.”

Ia menarik napas dalam-dalam, lalu berdiri. Dara berjalan ke meja belajarnya. Ia menyalakan laptop yang sudah cukup tua. Layarnya sempat berkedip beberapa kali sebelum akhirnya menyala.

Cahaya dari layar itu menerangi wajah Dara yang masih lelah, tapi kini mulai terlihat tekad. Ia membuka file CV miliknya.

Beberapa detik ia hanya menatap layar. Lalu, tangannya mulai bergerak..Ia memperbaiki isi CV, menambahkan pengalaman kerja, merapikan kata-kata, memastikan semuanya terlihat lebih profesional. Sesekali ia menghapus, mengetik ulang, menghela napas… tapi tidak berhenti.

Waktu berjalan tanpa terasa, malam semakin larut. Satu lamaran selesai. Dara mulai membuka berbagai situs lowongan kerja. Ia mengirim lamaran ke mana saja yang sekiranya sesuai, bahkan yang di luar bidangnya.

“Yang penting kerja…” gumamnya.

Matanya mulai terasa perih. Punggungnya pegal. Tapi ia tetap bertahan. Hingga akhirnya, Dara bersandar di kursi.

Ia menatap layar laptop yang masih menyala. Puluhan lamaran sudah terkirim.

“Besok…” katanya pelan. “Gue harus keluar.”

Ia mengambil buku kecil, lalu mulai menulis daftar tempat yang akan ia datangi. Perusahaan, toko, kantor kecil… semua ia catat.

Besok, ia tidak hanya menunggu. Ia akan mencari, dengan usahanya sendiri. Setelah selesai, Dara menutup buku itu perlahan. Ia mematikan laptop, lalu berjalan ke arah kasur.

Tubuhnya terasa sangat lelah. Namun hatinya… sedikit lebih kuat. Dara berbaring, menatap langit-langit kamar.

“Bu… tunggu aku ya…” bisiknya pelan. “Aku pasti dapet kerja.”

Matanya perlahan terpejam. Di balik lelahnya hari ini, tersimpan harapan kecil.

1
Arditya
gemes banget sama Alexander ngeselin🤣
Amoera
Aaaa... ini Alexander kereennn😍
Amoera
kerenn banget thoor
Amoera
Top banget dara😍
Amoera
Aldi kerenn banget😍
Amoera
Aldi kerenn banget😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!