Di Benua Langit Azure, kekuatan bela diri dan kedalaman Qi menentukan segalanya. Ye Chen, seorang jenius dari keluarga cabang klan Ye, dikhianati dan "Akar Roh" miliknya dicuri oleh saudara sepupunya sendiri demi ambisi klan utama. Menjadi cacat dan dibuang ke pinggiran desa, nasibnya berubah ketika sebuah meteorit hitam jatuh di dekatnya. Meteorit tersebut menyimpan warisan dari "Kaisar Kekosongan" dari era kuno, memberikannya seni kultivasi terlarang yang tidak membutuhkan Akar Roh, melainkan menyerap energi bintang. Ye Chen kini harus merangkak dari bawah, bersembunyi dari musuh-musuh kuat, dan menapaki jalan kultivasi untuk membalas dendam serta mencari kebenaran di balik hancurnya para Dewa Kuno
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Menginggalkan Sangkar dan Datangnya Utusan Benua Tengah
Malam hari setelah insiden itu, Paviliun Daun Hijau kembali tenang.
Di ruang peracikan, Su Yue sedang menatap Lin Chen yang tengah asyik memakan apel di atas kursi kayu. Gadis itu menopang dagunya dengan kedua tangan, matanya menyipit penuh selidik.
"Kau tahu, Lin Chen," Su Yue membuka suara. "Akting pura-pura panik dan prihatin di depan Pemimpin Sekte tadi benar-benar pantas mendapat penghargaan tingkat dewa. Kalau aku tidak melihat sendiri bagaimana kau mematahkan tulang Tetua Agung dengan satu telapak tangan, aku pasti akan ikut percaya ceritamu."
Lin Chen mengunyah apelnya dengan santai. "Di dunia kultivasi, kekuatan fisik memang penting, Kakak Senior. Tapi kemampuan memutarbalikkan fakta adalah pusaka pertahanan yang paling tidak terkalahkan."
Su Yue memutar bola matanya, tapi tak urung senyum tipis mengembang di bibirnya. "Klan Ye sekarang sudah hancur. Tetua Agung cacat, sumber daya mereka dipotong. Pemimpin Sekte bahkan berencana mengirim murid-murid klan itu ke perbatasan tambang spiritual sebagai hukuman."
"Mereka menuai apa yang mereka tanam," jawab Lin Chen datar. Baginya, urusan dengan Klan Ye sudah dianggap debu yang tertiup angin.
"Muridku, jangan terlalu santai," Suara Guru Lin Tian mendadak bergema di kepala Lin Chen. Proyeksi sang guru muncul, melayang menatap langit malam dari balik jendela. "Balas dendammu di kota kecil ini memang sudah selesai. Tapi kau harus ingat, Pemimpin Sekte ini baru mencapai setengah langkah Jiwa Baru Lahir, dan dia sudah merasa seperti raja dunia."
Lin Tian mendengus meremehkan. "Di Benua Tengah, anjing penjaga gerbang dari sekte bintang lima bahkan memiliki kekuatan tingkat Jiwa Baru Lahir! Inti Bintang Petir milikmu baru sebatas embrio. Kau butuh lautan badai petir, api surgawi tingkat tinggi, atau esensi murni dari naga kuno untuk mematangkannya. Tempat kecil ini sudah tidak bisa memberimu apa-apa lagi."
Lin Chen mengangguk setuju dalam hati. Sekte Pedang Awan ibarat kolam dangkal, sedangkan ia adalah naga laut yang baru saja terbangun. Sudah saatnya ia pergi.
Tepat saat Lin Chen sedang memikirkan cara untuk pamit, suara Lonceng Emas sekte tiba-tiba berdentang tiga kali dengan nada yang sangat panjang dan megah.
TENG... TENG... TENG...
Su Yue langsung terlonjak dari kursinya. "Lonceng Penyambutan Tamu Agung? Pemimpin Sekte baru saja keluar dari pelatihan, siapa tamu yang berani datang larut malam begini dan disambut semegah itu?"
"Mari kita lihat," ucap Lin Chen sambil melempar sisa apelnya.
Di Aula Utama Sekte Pedang Awan, suasana sangat tegang.
Pemimpin Sekte Liu Zhen yang baru saja pamer kekuatan siangnya tadi, kini berdiri menunduk dengan sikap sangat hormat—bahkan cenderung menjilat—di hadapan seorang pemuda berpakaian jubah putih keemasan.
Di dada pemuda itu, tersulam lambang sebuah menara dengan sembilan bintang yang bersinar. Pemuda itu terlihat baru berusia awal dua puluhan, tapi auranya... benar-benar mematikan! Ia sudah berada di tahap Inti Emas Puncak, dan hawa Qi-nya jauh lebih padat daripada Pemimpin Sekte Liu Zhen.
"Utusan dari Kuil Alkemis Suci Benua Tengah..." Liu Zhen berkeringat dingin. "Sungguh sebuah kehormatan bagi sekte kecil kami menyambut kehadiran Tuan Muda Han."
Pemuda bernama Han Lie itu hanya mendengus pelan, bahkan tidak repot-repot membalas penghormatan Liu Zhen. Matanya menyapu sekeliling aula dengan tatapan bosan dan merendahkan, layaknya manusia kota besar yang menatap kandang babi di pedesaan.
"Aku tidak punya waktu berbasa-basi, Liu Zhen," kata Han Lie dengan nada arogan. "Kudengar dari laporan cabang bahwa di sekte pelosokmu ini, ada seorang gadis muda yang berhasil memunculkan fenomena 'Awan Pil' tingkat dua. Benarkah itu?"
"B-Benar, Tuan Muda Han! Namanya Su Yue, ia adalah..."
"Panggil dia ke sini. Sekarang," potong Han Lie dingin.
Tak lama kemudian, Su Yue tiba di aula, diikuti oleh Lin Chen yang berjalan tenang di belakangnya layaknya bayangan tak terlihat. Begitu melihat lambang menara sembilan bintang di dada Han Lie, Su Yue langsung menahan napas. Itu adalah faksi alkemis terkuat di seluruh Benua Langit Azure!
Mata Han Lie langsung tertuju pada wajah cantik Su Yue. Sekilas kilatan penuh minat melintasi matanya, tapi ia segera menyembunyikannya di balik topeng keangkuhannya.
"Kau yang bernama Su Yue?" tanya Han Lie. "Lumayan untuk ukuran orang udik. Menara Alkemis Suci akan mengadakan Turnamen Seratus Api di Ibukota Benua Tengah bulan depan. Kami mengundang seluruh alkemis muda berbakat. Jika kau berhasil masuk sepuluh besar, kau akan diangkat menjadi murid inti di Menara Suci."
Han Lie melemparkan sebuah token emas ke kaki Su Yue. Token itu berdenting nyaring di lantai batu.
"Ambil itu. Itu adalah token pendaftaranmu," ucap Han Lie. Ia lalu tersenyum sinis. "Tapi ingat, Ibukota Benua Tengah bukanlah tempat bermain anak-anak. Perjalanan ke sana melewati Hutan Kematian Seribu Petir. Tanpa pengawal Inti Emas, gadis lemah sepertimu hanya akan jadi makanan monster sebelum sampai di gerbang kota."
Han Lie maju selangkah, menatap Su Yue dengan tatapan memonopoli. "Jika kau bersedia melayaniku malam ini dan menjadi selirku... aku sendiri yang akan mengawalmu dengan pedang terbangku. Bagaimana?"
Mendengar pelecehan terang-terangan itu, wajah Su Yue langsung memerah karena marah. Pemimpin Sekte Liu Zhen hanya bisa menundukkan kepala, tidak berani membela Su Yue karena takut menyinggung Kuil Alkemis Suci.
"Terima kasih atas tawarannya, Utusan Han," jawab Su Yue dengan gigi terkatup rapat, menahan amarahnya. "Tapi saya akan pergi ke Ibukota Benua Tengah dengan kemampuan saya sendiri. Saya tidak butuh pengawalan dari Anda, apalagi menjadi selir siapa pun!"
Wajah Han Lie seketika menjadi suram. Di Ibukota, tidak ada wanita yang berani menolaknya. Di sekte pelosok ini, seekor semut betina justru berani menampar wajahnya?
"Lancang!" Han Lie membentak. Aura Inti Emas puncaknya meledak, menekan langsung ke tubuh Su Yue. "Kau pikir kau siapa?! Menolak kebaikanku sama saja dengan mencari mati!"
Wusss!
Han Lie mengangkat tangannya, berniat menampar wajah cantik Su Yue untuk memberinya 'pelajaran' tentang hierarki dunia kultivasi.
Pemimpin Sekte memejamkan mata, tak berani melihat. Su Yue mencoba mundur, tapi tekanan aura itu mengunci kakinya.
Namun, sebelum telapak tangan Han Lie mendarat di pipi Su Yue...
Sebuah tangan yang dihiasi bekas luka halus tiba-tiba muncul dari udara kosong dan mencengkeram pergelangan tangan Han Lie dari samping. Cengkeraman itu begitu ringan, tanpa sedikit pun fluktuasi Qi spiritual.
Tapi anehnya, tangan Han Lie yang dilambari kekuatan Inti Emas Puncak itu berhenti mendadak, seolah baru saja menabrak gunung baja yang tak tergoyahkan.
Semua orang di aula terkesiap. Han Lie menoleh dengan kaget.
Di sampingnya, pemuda berpakaian pelayan abu-abu sedang berdiri santai. Matanya yang hitam pekat menatap Han Lie dengan tatapan yang sangat datar, sedatar menatap sebongkah batu di pinggir jalan.
"Utusan Han," suara Lin Chen terdengar tenang, namun menggema dengan nada dingin yang membuat bulu kuduk berdiri. "Nona Su bilang dia tidak butuh pengawalanmu. Pendengaranmu terganggu, atau otakmu yang memang lambat memproses kata-kata?"
Han Lie membelalakkan matanya. Seorang pelayan fana tanpa Qi berani menyentuh tangan sucinya?!
"Lepaskan tangan kotor—!" Han Lie mencoba menarik tangannya dan memaki.
Tapi Lin Chen tidak repot-repot mendengarkan ocehan pemuda arogan itu. Ia hanya memutar sedikit pergelangan tangannya.
KRETAK!
Suara tulang patah yang sangat jernih bergema di dalam aula yang sunyi senyap itu. Wajah Han Lie seketika berubah ungu. Matanya melotot, dan sebuah jeritan tertahan keluar dari tenggorokannya. Patahnya tidak main-main, tulang lengannya benar-benar remuk menjadi serpihan di dalam kulitnya!
"Ah... maaf," ucap Lin Chen dengan wajah tanpa ekspresi, melepaskan tangan Han Lie yang kini terkulai lemas seperti mie basah. "Sepertinya utusan dari Ibukota tulangnya lumayan renyah."
Pemimpin Sekte Liu Zhen hampir pingsan melihat adegan itu. Utusan Kuil Suci dipatahkan tangannya oleh pelayan sektenya?! Ini bencana besar!
Namun, di dalam benak Lin Chen, Guru Lin Tian sedang tertawa gila-gilaan.
"Hahaha! Hutan Kematian Seribu Petir?! Kau dengar itu, Muridku?! Tempat itu adalah lokasi yang sempurna untuk Inti Bintang Petirmu! Ibukota Benua Tengah... mari kita buat tempat itu gempar.