Aku pikir bekerja keras demi keluarga adalah bentuk cinta terbesar yang bisa kuberikan.
Setiap hari aku berangkat sebelum matahari terbit dan pulang saat langit telah gelap. Semua kulakukan agar suamiku hidup nyaman dan masa depan keluarga kami terjamin. Aku menahan lelah, mengubur keinginan pribadi, bahkan mengorbankan waktu bersama orang yang paling kucintai.
Namun, pengorbananku ternyata tidak dihargai.
Di saat aku sibuk bekerja dan berjuang untuk kami, suamiku justru sibuk memberikan perhatian, waktu, dan cintanya kepada wanita lain. Pengkhianatan itu menghancurkan kepercayaan yang telah kubangun selama bertahun-tahun.
Yang lebih menyakitkan, wanita itu bukanlah orang asing.
Saat rahasia demi rahasia mulai terungkap, aku dihadapkan pada pilihan sulit: mempertahankan pernikahan yang telah retak atau meninggalkan pria yang pernah menjadi seluruh duniaku.
Mampukah cinta bertahan setelah dikhianati? Atau ada luka yang memang tidak ditakdirkan untuk sembuh?
"Aku Sibuk
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velin Agustiningtias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 31 kehangatan adik dan kakak
Pagi itu Nadia kembali menginjakkan kaki di rumah keluarga Mahendra. Di kedua tangannya terdapat beberapa kotak berisi makanan hangat, buah-buahan, dan teh herbal yang dulu sering disukai mantan ayah mertuanya. Ia tahu tidak ada makanan yang mampu menghilangkan duka, tetapi setidaknya ia berharap mantan ibu mertuanya mau menjaga kesehatan di tengah kehilangan yang begitu besar.
Suasana rumah masih dipenuhi kesedihan. Beberapa bunga ucapan belasungkawa masih tersusun di teras, sementara ruang tamu yang dahulu sering dipenuhi tawa kini terasa begitu lengang. Begitu melihat Nadia memasuki rumah, ibu Adrian perlahan berdiri. Matanya kembali memerah.
"Nadia..."
bisiknya lirih.
Tanpa banyak kata, Nadia menghampiri dan menggenggam kedua tangan wanita itu.
"Saya hanya ingin memastikan Ibu makan."
ucap Nadia lembut.
"Beliau pasti juga tidak ingin melihat Ibu terus menyiksa diri."
Mendengar kalimat itu, air mata ibu Adrian kembali jatuh. Ia mengangguk pelan sambil memeluk Nadia. Untuk pertama kalinya setelah kepergian suaminya, ia merasakan sedikit ketenangan dari sosok yang dulu sering ia sakiti.
Tidak lama kemudian Anna berlari turun dari lantai atas. Wajahnya yang sejak beberapa hari dipenuhi kegelisahan seketika berubah sedikit lega saat melihat Nadia.
"Kak Nadia."
Anna langsung memeluknya.
"Aku sudah menunggu Kakak datang."
Nadia mengusap punggung Anna perlahan.
"Ada apa?"
tanyanya lembut.
Anna melirik ke arah ruang keluarga, memastikan ibu dan yang lain tidak mendengar. Kemudian ia mengajak Nadia masuk ke ruang kerja kecil yang berada di samping perpustakaan.
Begitu pintu tertutup, Anna langsung menceritakan semuanya.
Mulai dari melihat Adrian keluar dari ruang kerja ayah pada malam hari, cangkir bergambar wajah ayah yang ditemukan berisi bekas kopi, CCTV yang ternyata tidak merekam karena sedang rusak, hingga pengakuan pembantu bahwa terakhir kali ayahnya justru meminum teh yang diantarkan Bianca menggunakan cangkir yang sama.
"Aku benar-benar bingung, Kak."
ucap Anna dengan mata berkaca-kaca.
"Semuanya terasa tidak masuk akal."
"Tapi aku juga tidak punya bukti untuk menuduh siapa pun."
Nadia mendengarkan tanpa menyela sedikit pun. Sebagai seorang pengacara, ia sudah terbiasa menghadapi cerita yang dipenuhi dugaan, tetapi ia juga tahu bahwa dugaan bukanlah bukti.
Ia menatap Anna dengan tenang.
"Kalau memang ingin mencari kebenaran..."
ucap Nadia pelan.
"...kita harus mengumpulkan fakta, bukan menyimpulkan lebih dulu."
Anna mengangguk.
"Aku juga berpikir begitu."
Dari dalam tasnya, Anna kemudian mengeluarkan sebuah kantong plastik bening yang disegel sederhana.
"Ini cangkir yang kutemukan."
bisiknya.
"Dan sisa cairan yang masih ada di dalamnya."
"Aku menyimpannya karena takut kalau nanti diperlukan."
Nadia memandang kantong tersebut beberapa saat.
Ia menerimanya dengan hati-hati.
"Kita tidak boleh menyentuh atau mengubah isinya lagi."
ucap Nadia.
"Kalau memang nanti perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium, sampel harus tetap dalam kondisi sebaik mungkin agar hasilnya bisa dipertanggungjawabkan."
Anna mengangguk cepat.
"Jadi... Kakak mau membantuku?"
Nadia menarik napas panjang.
"Aku akan membantu mencari kebenaran."
jawabnya tegas.
"Tapi ingat, Anna."
"Selama belum ada hasil pemeriksaan dan bukti lain yang mendukung, kita tidak boleh menuduh Adrian, Bianca, atau siapa pun."
"Kita cari faktanya terlebih dahulu."
Mata Anna mulai berkaca-kaca.
"Terima kasih, Kak."
Nadia menggenggam tangan Anna dengan lembut.
"Kalau memang ini hanya kecelakaan, kita akan menerimanya."
"Namun kalau ternyata ada sesuatu yang disembunyikan..."
Tatapan Nadia berubah serius.
"...maka kebenaran berhak untuk ditemukan, siapa pun yang nantinya terlibat."
Anna menggenggam kedua tangannya begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Sejak kepergian ayahnya, kesedihan di dalam dirinya perlahan berubah menjadi tekad untuk mencari jawaban. Setiap potongan kejadian yang diingatnya kembali berputar di kepalanya, membuat keyakinannya semakin kuat bahwa masih ada sesuatu yang belum terungkap.
Matanya yang memerah menatap Nadia dengan penuh emosi.
"Kak Nadia..."
ucapnya lirih namun tegas.
"Kalau nanti terbukti Ayah meninggal bukan karena benar-benar jatuh dari tangga..."
Anna berhenti sejenak, berusaha menahan air mata yang kembali memenuhi pelupuk matanya.
"Kalau memang ada seseorang yang sengaja mencelakakan Ayah..."
suaranya mulai bergetar.
"Aku tidak akan pernah melepaskannya."
"Aku akan membuat orang itu mempertanggungjawabkan semuanya."
Nadia memahami kemarahan Anna. Kehilangan sosok ayah secara mendadak memang dapat memunculkan begitu banyak pertanyaan dan emosi. Namun sebagai seorang pengacara, ia juga tahu bahwa kemarahan tanpa bukti hanya akan memperkeruh keadaan.
Anna menghela napas panjang sebelum kembali berkata,
"Entah kenapa... aku masih mencurigai Bianca."
"Terakhir yang mengantar teh ke Ayah memang dia."
"Dan sejak awal dia juga selalu terlihat ingin mendapatkan pengakuan dari keluarga ini."
"Aku tidak tahu kenapa, tapi firasatku mengatakan ada sesuatu yang disembunyikannya."
Nadia perlahan menggeleng.
Ia menggenggam tangan Anna dengan lembut agar gadis itu sedikit lebih tenang.
"Anna."
ucapnya pelan.
"Dengarkan aku."
"Di dunia hukum, firasat tidak pernah cukup."
"Curiga juga bukan bukti."
Anna menundukkan kepala.
"Tapi semua ini terlalu banyak kebetulan."
bisiknya.
Nadia mengangguk pelan.
"Aku tahu."
"Dan justru karena itulah kita harus berhati-hati."
"Kalau kita terburu-buru menuduh seseorang tanpa bukti, bukan hanya penyelidikan yang akan berantakan, tetapi orang yang tidak bersalah juga bisa menjadi korban."
Anna terdiam cukup lama.
Emosinya perlahan mulai mereda.
Nadia melanjutkan dengan suara yang tetap tenang.
"Kalau memang ada kejanggalan, kita cari satu per satu jawabannya."
"Kita periksa bukti yang ada."
"Kita cocokkan setiap keterangan."
"Kalau perlu, kita minta bantuan pihak yang berwenang untuk melakukan penyelidikan."
"Tapi sampai semua itu jelas..."
Nadia menatap mata Anna dengan serius.
"...jangan pernah menyebut nama siapa pun sebagai pelaku."
"Karena sekali tuduhan itu keluar, kita tidak bisa menariknya kembali."
Anna menarik napas panjang sebelum akhirnya mengangguk pelan.
"Aku mengerti, Kak."
"Aku akan menahan diri."
"Tapi aku juga tidak akan berhenti mencari kebenaran."
Senyum tipis muncul di wajah Nadia.
"Itu yang seharusnya dilakukan."
"Bukan membalas dengan amarah."
"Melainkan menemukan kebenaran melalui bukti."
Di dalam hati Nadia sendiri mulai tumbuh rasa penasaran. Rangkaian peristiwa yang diceritakan Anna memang menyisakan banyak pertanyaan. Namun ia mengingatkan dirinya untuk tetap berpegang pada fakta. Sampai ada bukti yang dapat diverifikasi, kematian mantan ayah mertuanya masih belum bisa disimpulkan sebagai kecelakaan ataupun tindak pidana. Hanya penyelidikan yang cermat yang dapat menjawab pertanyaan itu.
Anna menatap Nadia dengan mata yang kembali dipenuhi air mata. Sejak kecil ia memang tidak memiliki kakak perempuan. Karena itulah, ketika Nadia menikah dengan Adrian, ia begitu bahagia. Nadia bukan hanya menjadi kakak iparnya, tetapi juga menjadi tempatnya bercerita, meminta nasihat, bahkan berbagi rahasia yang tidak pernah berani ia sampaikan kepada siapa pun.
Kini, setelah perceraian itu terjadi, Anna merasa akan kehilangan Nadia untuk kedua kalinya.
Ia menggenggam tangan Nadia erat-erat, seolah takut wanita di hadapannya akan menghilang jika dilepaskan.
"Kak..."
bisiknya lirih.
"Jangan pergi ke Surabaya."
"Tetaplah di sini."
"Aku masih membutuhkan Kakak."
"Setelah Ayah pergi... aku benar-benar merasa sendirian."
Air mata Anna kembali jatuh.
"Aku tidak peduli lagi kalau Kakak sudah bukan istri Kak Adrian."
"Bagiku, Kakak tetap keluargaku."
"Kakak tetap kakak yang paling baik yang pernah kumiliki."
Mendengar pengakuan itu, hati Nadia terasa sesak. Matanya ikut memerah. Ia mengusap lembut rambut Anna seperti yang selalu dilakukannya sejak gadis itu masih kuliah.
"Anna..."
ucapnya pelan.
"Kamu akan selalu menjadi adik yang kusayangi."
"Perceraian tidak akan menghapus semua kenangan kita."
Nadia tersenyum tipis, meski senyum itu dipenuhi kesedihan.
"Tapi aku tidak bisa tetap tinggal di sini."
Anna menggeleng kuat.
"Kenapa?"
"Rumah ini juga rumah Kakak."
Nadia menghela napas panjang.
"Bukan lagi."
jawabnya lembut.
"Statusku sudah berubah."
"Aku dan Adrian sudah bercerai."
"Aku bukan lagi bagian dari keluarga Mahendra."
Kalimat itu membuat Anna semakin erat memeluk Nadia.
"Tidak."
ucapnya sambil menangis.
"Aku tidak akan menganggap Kakak orang lain."
"Kakak tetap keluarga kami."
Nadia perlahan melepaskan pelukan itu lalu menggenggam kedua pipi Anna.
"Hubungan keluarga tidak selalu ditentukan oleh surat nikah."
katanya lembut.
"Di hatiku, kamu tetap adikku."
"Dan Ayah... akan selalu menjadi orang yang kuanggap seperti ayahku sendiri."
"Tapi aku juga harus melanjutkan hidupku."
Nadia menundukkan pandangannya ke arah perutnya yang mulai menunjukkan tanda-tanda kehamilan.
"Aku harus memikirkan masa depan anakku."
"Aku ingin membesarkannya di lingkungan yang tenang."
"Setiap sudut kota ini mengingatkanku pada begitu banyak luka."
"Kalau aku terus bertahan di sini, aku tidak akan pernah benar-benar bisa memulai hidup yang baru."
Anna menggigit bibirnya kuat-kuat.
Ia tahu Nadia benar.
Memaksa seseorang tetap tinggal di tempat yang penuh kenangan pahit bukanlah bentuk kasih sayang.
Melihat Anna mulai terdiam, Nadia kembali menggenggam tangannya.
"Meski aku pindah ke Surabaya..."
ucapnya sambil tersenyum hangat.
"...bukan berarti kita kehilangan hubungan."
"Kamu bisa meneleponku kapan saja."
"Datang menemuiku kapan saja."
"Dan kalau kamu benar-benar membutuhkan bantuanku, aku akan tetap datang."
Air mata Anna kembali mengalir, tetapi kali ini ia mengangguk pelan.
"Janji?"
tanyanya dengan suara bergetar.
Nadia mengangkat jari kelingkingnya sambil tersenyum.
"Janji."
Anna langsung mengaitkan jari kelingkingnya dengan jari Nadia, seperti kebiasaan mereka sejak dulu setiap kali membuat sebuah janji.
Di balik senyum yang akhirnya muncul di wajah Anna, keduanya sama-sama memahami bahwa hubungan mereka telah melampaui ikatan sebagai kakak ipar dan adik ipar. Perceraian memang memutus hubungan hukum antara Nadia dan keluarga Mahendra, tetapi tidak mampu menghapus kasih sayang yang selama bertahun-tahun tumbuh di antara mereka. Bagi Nadia, Anna akan selalu menjadi adik yang ingin ia lindungi. Dan bagi Anna, tidak akan ada siapa pun yang mampu menggantikan tempat Nadia sebagai kakak perempuan yang paling ia sayangi.
coba ada yg kasih klarifikasi tentang gosip di kantornya Nadia, paling ngga namanya bersih sebelum dia pindah