Alena Kirana adalah seorang aktris papan atas yang berada di puncak popularitasnya. Namun,
sebuah kesalahan yang terjadi di satu malam yang dilakukan bersama seorang pria misterius yang ternyata adalah sutradara
sekaligus pewaris tunggal konglomerat dan sangat kejam kepada wanita yg berani menganggu hidupnya, Adrian Dewangga. Ketakutan akan hancur karirnya tidak dia pedulikan asalkan dia selamat dari pria ini . Alena memilih mengundurkan diri dan menghilang total dari panggung hiburan, bersembunyi sangat jauh dari orang-orang yang dia kenal.
Di sana, dia hidup dalam kesunyian, dia melahirkan dan membesarkan dua anak perempuan kembar yang cantik Kiara dan Kiana. Enam tahun berlalu, rahasia yang terkunci rapat itu mulai koyak ketika takdir
membawa Adrian kembali ke hadapannya, menuntut jawaban atas malam kelam yang tak pernah bisa dia lupakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Jaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jalur Baru Sang Putra Mahkota
Pendar cahaya kebiruan dari layar komputer jinjing di ruang kerja atas Vila Uluwatu memantulkan garis wajah Adrian yang dingin namun penuh konsentrasi. Di balik dinding kaca tebal yang menghadap langsung ke arah gulita Samudra Hindia, hanya ada suara dengung halus dari pendingin ruangan dan ketukan jemari Adrian yang ritmis di atas meja jati. Malam telah larut, namun bagi seorang Adrian Dewangga, waktu di atas kertas jam dinding sama sekali tidak memiliki arti ketika sebuah perang terbuka sedang berlangsung di Jakarta.
Di seberang panggilan video terenkripsi yang menggunakan jalur satelit privat, jajaran direksi agensi independennya di Jakarta serta perwakilan hukum dari platform *streaming* digital global yang berbasis di Singapura tampak menyimak dengan takzim. Wajah-wajah di dalam kotak layar monitor itu tampak tegang, menyadari bahwa keputusan yang diambil malam ini akan mengubah peta distribusi industri perfilman nasional.
"Kontrak eksklusif distribusi digital global sudah ditandatangani secara elektronik oleh kedua belah pihak lima menit yang lalu, Tuan Adrian," lapor Baskara, yang mendampingi tim IT dan keuangan di kantor pusat Jakarta. "Pihak platform global memberikan slot penayangan utama atau premium banner di seratus dua puluh negara serentak. Kampanye pemasaran digital skala masif akan dimulai dalam hitungan jam, tepat ketika bursa saham Asia dibuka esok pagi."
Adrian menyandarkan punggungnya pada kursi kerja kayu jati yang kokoh. Sepasang mata elangnya menyalang tajam, mengamati satu per satu wajah rekan bisnisnya di layar. "Bagus. Bagaimana dengan reaksi dari pihak jaringan bioskop domestik yang berada di bawah tekanan ayahku?"
Baskara menghela napas pendek sebelum membetulkan letak kacamata minusnya. "Sesuai prediksi Anda, Tuan Besar Baskoro mencoba menekan asosiasi bioskop lokal untuk mengeluarkan pernyataan boikot resmi atas film kita. Mereka menggunakan dalih pelanggaran kontrak sepihak. Namun, begitu rilis berita mengenai kerja sama eksklusif kita dengan platform global pecah di Singapura satu jam lalu, situasi langsung berbalik seratus delapan puluh derajat.
Saham jaringan bioskop domestik milik rekanan Dewangga Group justru ikut terombang-ambing di pasar sekunder. Industri menyadari bahwa boikot domestik dari ayah Anda sama sekali tidak memiliki taring untuk membendung karya kita di kancah internasional."
Sebuah senyuman tipis, penuh kemenangan taktis yang elegan dan dingin, terukir di sudut bibir Adrian. Itu adalah senyuman seorang predator yang berhasil membalikkan jebakan pemburunya menjadi sebuah senjata mematikan.
"Ayahku terbiasa menguasai pasar dengan cara konvensional, Baskara. Dia mengira dengan mendikte jalur fisik, memiliki bangunan gedung bioskop, dan mengancam jalur kredit perbankan domestik, dia bisa menghentikan langkahku," ujar Adrian, suaranya terdengar begitu bariton dan penuh dengan otoritas yang mutlak. "Dia lupa bahwa di era digital ini, perbatasan wilayah bisa ditembus dalam satu klik. Dunia sudah berubah, dan Dewangga Group terlalu lambat untuk menyadari bahwa mereka tidak lagi memiliki monopoli atas selera penonton global."
Adrian memajukan tubuhnya, menatap lurus ke arah kamera web. "Pastikan seluruh hak royalti awal dan dana jaminan dari platform Singapura langsung dialihkan ke rekening jaminan privat kita di Overseas Chinese Banking Corporation (OCBC).
Jangan biarkan ada sepeser pun celah bagi divisi kepatuhan Dewangga Group di Jakarta untuk mengklaim atau membekukan aset operasional agensiku dengan alasan sengketa domestik. Jika mereka mencoba menyentuh satu rupiah pun uang stafku, tuntut mereka atas tindakan sabotase korporasi."
"Dimengerti, Tuan Adrian. Tim hukum kami di Singapura sudah mengunci klausul tersebut. Segalanya sudah dalam kendali penuh," jawab Baskara dengan nada penuh rasa hormat sebelum akhirnya memutuskan sambungan video interaktif tersebut.
Adrian menutup laptopnya dengan bunyi klik yang sunyi. Ia memijat pelipisnya perlahan, merasakan sisa-sisa ketegangan yang sempat menumpuk di kepalanya selama berjam-jam bertempur di balik layar administrasi finansial. Namun, kelelahan fisik itu seolah menguap begitu saja ketika ia memikirkan wanita yang berada di lantai bawah vila ini.
Adrian berdiri, melangkah lebar keluar dari ruang kerja atas yang dingin menuju paviliun tengah. Begitu ia menuruni anak tangga batu alam, hembusan angin sore yang hangat dari arah laut langsung menyergap indra penciumannya, membawa aroma garam yang segar dan ketenangan yang sangat ia butuhkan.
Di sana, di bawah naungan atap kayu sabetan yang estetik, Alena sedang duduk di sofa panjang bersama Dokter Saras.
"Kondisi perkembangan kantung kehamilan Nyonya Alena sangat stabil, Adrian," ujar Dokter Saras begitu menyadari kehadiran sang aktor utama. Dokter paruh baya itu tersenyum hangat, merapikan beberapa berkas medis ke dalam tasnya.
"Stres pasca-teror paket di Jakarta kemarin sudah sepenuhnya hilang dari sistem biologisnya. Tekanan darahnya kembali normal, dan nutrisi dari sup ayam semalam juga terserap dengan sangat baik oleh janinnya."
"Terima kasih banyak, Dokter. Saya sangat menghargai dedikasi Anda untuk tinggal di sini," sahut Adrian lembut, sebuah nada suara yang hanya ia keluarkan ketika berbicara di dekat Alena.
"Itu sudah menjadi tugas saya, Tuan Adrian. Saya akan kembali ke paviliun medis di sebelah timur untuk menyiapkan vitamin tambahan untuk esok pagi. Permisi," pamit Dokter Saras seraya melangkah pergi diikuti oleh dua orang perawat privat yang selalu siaga di belakangnya.
Sepeninggalan tim medis, suasana di paviliun tengah berubah menjadi sangat sunyi. Hanya ada suara deburan ombak dari bawah tebing yang berjarak ratusan meter di bawah mereka. Adrian berjalan mendekat, lalu mengambil posisi duduk di kursi tunggal yang terletak tepat di samping sofa Alena. Matanya langsung tertuju pada wajah cantik istrinya yang kini tampak jauh lebih hidup, dengan binar mata bening yang tidak lagi dipenuhi oleh bayang-bayang ketakutan murni seperti di Menteng.
"Kamu terlihat lebih segar sore ini," buka Adrian, memecah keheningan dengan tatapan yang begitu teduh.
Alena menoleh, melempar sebuah senyuman tipis yang tulus. "Udara di Uluwatu ini benar-benar sebuah keajaiban, Adrian. Di Jakarta, aku merasa seolah-olah setiap tarikan napasku diawasi oleh ribuan pasang mata dan lensa kamera.
Tapi di sini... aku bisa merasakan kebebasan yang sesungguhnya." Alena melirik ke arah tangan Adrian yang diletakkan di atas lutut. "Bagaimana rapatmu dengan Jakarta? Aku melihat Baskara sangat sibuk di telepon sejak siang tadi."
Adrian mengulurkan tangannya, meraih jemari lentik Alena dan menggenggamnya dengan kehangatan yang mantap. "Semuanya sudah selesai, Alena. Kita sudah menandatangani kontrak distribusi digital global dengan platform di Singapura. Ayahku mencoba melakukan boikot total di seluruh bioskop Indonesia, tapi langkahnya terlambat. Film kita akan tayang di seratus dua puluh negara secara serentak bulan depan tanpa perlu menyentuh satu pun layar bioskop milik rekanan Dewangga Group."
Alena membelalakkan matanya kecil, ada rasa tidak percaya sekaligus kekaguman yang luar biasa besar mencuat di dalam dadanya. "Seratus dua puluh negara? Adrian... itu berarti kamu justru memperluas jangkauan pasarmu menjadi internasional karena boikot ini?"
"Tepat sekali," Adrian membawa tangan Alena ke depan dadanya, membiarkan wanita itu merasakan detak jantungnya yang konstan dan tenang.
"Ayahku mengira dia bisa memiskinkan ku dan memaksaku berlutut kembali ke Jakarta dengan cara mengunci likuiditas domestik. Dia tidak sadar bahwa tindakannya justru memaksaku untuk memutus seluruh rantai ketergantungan agensiku dari bayang-bayang namanya. Mulai hari ini, Adrian Dewangga bukan lagi sebuah nama yang bisa didikte oleh kekuasaan dinasti Baskoro."
Alena menatap lekat-lekat ke dalam manik mata hitam pekat milik suaminya. Di dalam pendar lampu taman yang mulai menyala otomatis, sosok Adrian tampak begitu perkasa, bukan hanya karena bentuk fisiknya yang atletis sebagai seorang aktor utama, melainkan karena kekuatan karakter dan keteguhan prinsipnya sebagai seorang pria yang menolak untuk kalah oleh keadaan.
Namun, di balik rasa kagum itu, setitik rasa bersalah kembali mengetuk dinding hati Alena. Ia menurunkan pandangannya ke arah perutnya yang masih dilapisi oleh kain gaun katun longgar.
"Adrian... apakah semua ini benar-benar tidak akan membebani masa depanmu?" bisik Alena, suaranya terdengar sedikit bergetar oleh emosi yang tertahan. "Kamu melepaskan hak warismu, memindahkan seluruh asetmu ke luar negeri, dan menyatakan perang terbuka terhadap pria paling berkuasa di industri ini... semuanya hanya karena malam itu. Hanya karena janin yang sedang bertumbuh di dalam rahimku ini."
Adrian menghentikan gerakan tangannya, menatap Alena dengan sorot mata yang mendadak berubah menjadi sangat dalam dan intens. Ia memajukan tubuhnya, memegang kedua belah bahu Alena dengan sentuhan yang lembut namun memiliki penekanan yang sangat kuat agar wanita itu tidak bisa berpaling dari tatapannya.
"Dengarkan aku dengan baik, Alena Putri," ujar Adrian, setiap katanya diucapkan dengan artikulasi yang lambat dan sarat akan penegasan mutlak seorang kepala keluarga. "Jangan pernah sekali pun kamu berpikir bahwa tindakan perlindunganku ini adalah sebuah beban atau bentuk keterpaksaan. Menikahimu dan membawa dirimu pergi ke atas tebing Uluwatu ini adalah keputusan paling rasional dan paling jantan yang pernah aku ambil sepanjang dua puluh enam tahun hidupku."
Adrian menurunkan salah satu telapak tangannya dari bahu Alena, membawanya turun perlahan hingga bertumpu dengan sangat lembut di atas permukaan perut Alena yang hangat.
"Anak ini bukan sebuah kesalahan atau noda yang harus disembunyikan dengan rasa bersalah. Dia adalah darah dagingku, penerus dari garis keturunanku yang sah di mata hukum dan Tuhan. Melindungimu dan melindunginya dari kekejaman dunia luar di Jakarta bukan lagi sekadar klausul dari perjanjian kontrak satu tahun kita; melainkan sudah menjadi hukum alam dari naluriku sebagai seorang suami dan calon ayah."
Sentuhan tangan Adrian di perutnya, dikombinasikan dengan kata-kata proklamasi yang begitu maskulin, seketika membuat pertahanan batin Alena runtuh total. Air mata keharuan yang sejak tadi ia tahan kini menetes perlahan membasahi pipinya yang merona alami. Namun, kali ini air mata itu tidak membawa rasa takut atau keputusasaan, melainkan sebuah rasa haru yang teramat dalam karena menyadari bahwa ia telah menemukan sebuah pelabuhan yang paling kokoh di tengah badai kehidupan yang kotor di luar sana.
"Terima kasih, Adrian..." isak Alena lembut, membiarkan dirinya condong ke depan dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Adrian yang hangat. Ia melingkarkan kedua tangannya di punggung suaminya, memeluk pria itu dengan seluruh rasa percaya yang kini telah tumbuh seutuhnya di dalam dadanya.
Adrian menyambut pelukan itu dengan kehangatan yang protektif. Ia membekap kepala Alena dengan telapak tangan kanannya, mencium puncak kepala istrinya berulang kali dengan penuh rasa sayang yang mendalam.
Di bawah sisa-sisa pendar matahari senja Uluwatu yang perlahan tenggelam di balik garis cakrawala laut, dua jiwa yang awalnya dipertemukan oleh sebuah tragedi di malam hotel yang gelap kini telah resmi melebur menjadi satu kesatuan yang utuh, siap menghadapi badai apa pun yang akan dikirimkan oleh Jakarta dari arah barat. Jalur baru telah resmi dibuka, dan sang putra mahkota kini telah menjelma menjadi seorang raja di atas kerajaannya sendiri demi melindungi takdir suci di dalam rahim sang istri.