NovelToon NovelToon
Pernikahan Yang Bukan Untuku

Pernikahan Yang Bukan Untuku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Diam-Diam Cinta
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: gigiwww

Lunaria Wulandari terpaksa menggantikan kakaknya yang kabur di hari pernikahan. Demi menyelamatkan nama keluarga, ia harus menikah dengan Alex Lucas Dimitri—pria dingin dan penuh rahasia yang sejak awal tidak pernah menginginkan dirinya.

Awalnya Luna hanya dianggap pengganti. Namun semakin lama bersama, hubungan mereka berubah menjadi sesuatu yang sulit dijelaskan. Sayangnya, saat hati mulai saling menerima, masa lalu datang menghancurkan segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26 Presentasi Pertama

Hari berikutnya suasana di lantai 23 jauh lebih sibuk dari biasanya.

Sejak pagi, Luna sudah duduk di depan laptopnya sambil memeriksa slide presentasi untuk kesekian kalinya.

Matanya mulai lelah.

Namun rasa gugup membuatnya sulit berhenti mengecek.

"Kalau kamu buka slide itu lagi, mungkin huruf-hurufnya bisa pindah sendiri."

Suara Sisil membuat Luna menoleh.

"Aku gugup."

jawab Luna jujur.

Sisil meletakkan segelas kopi di mejanya.

"Wajar."

"Hari ini direksi datang."

Luna langsung menghela napas panjang.

Itulah yang membuatnya tegang.

Hari ini seluruh konsep Family Gathering akan dipresentasikan di hadapan para kepala divisi dan jajaran direksi.

Termasuk...

Alex.

---

Pukul sembilan pagi.

Amanda keluar dari ruangannya.

"Semua siap?"

tanyanya.

Seluruh tim mengangguk.

Meskipun sebenarnya tidak semua merasa siap.

Amanda lalu menatap Luna.

"Presentasinya kamu."

Jantung Luna langsung berdetak lebih cepat.

"Iya, Bu."

"Kamu pasti bisa."

Luna mengangguk pelan.

Namun telapak tangannya mulai dingin.

---

Di sisi lain.

Rita yang sedang duduk di mejanya terlihat tidak senang.

Sejak kemarin ia sudah mendengar bahwa Luna yang akan mempresentasikan konsep utama acara.

Dan itu membuatnya kesal.

Sangat kesal.

Menurutnya posisi itu seharusnya diberikan kepada staf senior.

Bukan kepada seseorang yang bahkan belum genap dua bulan bekerja.

"Aneh."

gumam Rita pelan.

Adel yang duduk di sebelahnya mengangkat kepala.

"Kenapa?"

"Luna."

Adel langsung mengerti.

"Kamu masih mikirin itu?"

"Ya jelas."

Rita menyandarkan tubuhnya ke kursi.

"Kenapa Amanda begitu percaya sama dia?"

Adel hanya mengangkat bahu.

Namun sebenarnya ia juga memiliki pertanyaan yang sama.

---

Pukul sepuluh tepat.

Seluruh tim memasuki ruang rapat utama di lantai 40.

Ruangan itu jauh lebih besar dibanding ruang meeting biasa.

Di dalam sudah hadir beberapa kepala divisi.

Direktur operasional.

Direktur keuangan.

Ryan.

Dan tentu saja...

Alex.

Begitu melihat suaminya duduk di ujung meja rapat, Luna langsung berusaha mengalihkan pandangan.

Mereka memang sudah sepakat untuk tetap profesional di kantor.

Namun tetap saja rasanya aneh.

---

Amanda membuka rapat terlebih dahulu.

"Selamat pagi semuanya."

Beberapa orang mengangguk.

Amanda lalu menjelaskan secara singkat tujuan pertemuan hari itu.

Setelah itu ia menoleh ke arah Luna.

"Untuk pemaparan konsep acara, akan disampaikan oleh Lunaria Wulandari."

Beberapa pasang mata langsung mengarah kepadanya.

Luna berdiri.

Jantungnya berdebar.

Namun ia berusaha tetap tenang.

---

Saat berdiri di depan layar presentasi, Luna sempat melirik ke arah Alex.

Pria itu hanya menganggukkan kepala pelan.

Sebuah isyarat sederhana.

Namun cukup membuat Luna merasa lebih tenang.

Ia menarik napas.

Lalu mulai berbicara.

"Selamat pagi semuanya."

"Saya akan mempresentasikan konsep Family Gathering dan Anniversary ke-35 Dimitri Group."

---

Slide pertama muncul.

Tema acara.

Growing Together, Building The Future.

Luna menjelaskan filosofi tema tersebut.

Bagaimana perusahaan berkembang bersama seluruh karyawan selama tiga puluh lima tahun.

Dan bagaimana acara itu akan menjadi bentuk apresiasi terhadap seluruh keluarga besar Dimitri Group.

Suasana ruangan perlahan menjadi lebih fokus.

Beberapa kepala divisi mulai mencatat.

Yang lain memperhatikan dengan serius.

---

Semakin lama.

Rasa gugup Luna mulai menghilang.

Ia mulai menikmati presentasinya.

Menjelaskan konsep panggung.

Alur acara.

Permainan keluarga.

Zona anak-anak.

Booth foto.

Doorprize.

Sampai konsep video perjalanan perusahaan selama tiga puluh lima tahun.

---

Ryan yang duduk di dekat Alex sampai mengangguk beberapa kali.

"Bagus juga."

bisiknya.

Alex tidak menjawab.

Namun matanya tetap tertuju pada Luna.

---

Di belakang ruangan.

Rita menggenggam pulpennya sedikit lebih erat.

Karena semakin lama presentasi berlangsung, semakin jelas bahwa Luna memang menguasai materinya.

Dan itu membuatnya tidak nyaman.

---

Luna berpindah ke slide berikutnya.

"Kami juga merancang sistem registrasi digital agar antrean peserta lebih efisien."

Beberapa kepala divisi terlihat tertarik.

Direktur operasional bahkan langsung mengangkat tangan.

"Bagaimana jika jaringan internet bermasalah?"

Pertanyaan pertama.

Dan cukup sulit.

---

Ruangan langsung hening.

Semua menunggu jawaban Luna.

Luna berpikir beberapa detik.

Lalu menjawab dengan tenang.

"Kami menyiapkan sistem cadangan berupa daftar registrasi offline yang sudah dicetak sebelumnya."

"Sehingga proses tetap bisa berjalan meskipun terjadi gangguan jaringan."

Direktur operasional mengangguk puas.

"Bagus."

Luna langsung merasa sedikit lega.

---

Pertanyaan demi pertanyaan mulai berdatangan.

Tentang keamanan acara.

Tentang kapasitas lokasi.

Tentang anggaran.

Tentang pengelolaan peserta.

Namun Luna berhasil menjawab hampir semuanya dengan baik.

Karena selama beberapa hari terakhir ia benar-benar mempersiapkan diri.

---

Sampai akhirnya Alex berbicara.

Untuk pertama kalinya sejak rapat dimulai.

"Jika jumlah peserta melebihi estimasi awal, apa langkah antisipasinya?"

Suara pria itu terdengar tenang.

Profesional.

Seolah mereka tidak memiliki hubungan apa pun di luar kantor.

Dan Luna menghargai itu.

---

Luna tersenyum kecil.

"Kami sudah menyiapkan skenario tambahan sebesar lima belas persen dari estimasi peserta."

"Baik dari sisi konsumsi, tempat duduk, maupun merchandise."

Alex mengangguk.

Tidak ada ekspresi khusus.

Namun Ryan yang duduk di sebelahnya melihat sudut bibir pria itu sedikit terangkat.

Tanda bahwa ia puas dengan jawabannya.

---

Setelah hampir satu jam.

Presentasi akhirnya selesai.

"Terima kasih."

ucap Luna.

Lalu kembali duduk di kursinya.

Jantungnya masih berdebar.

Namun kali ini karena lega.

---

Ruangan menjadi hening beberapa detik.

Lalu direktur keuangan berbicara.

"Konsepnya menarik."

"Kami hanya perlu beberapa penyesuaian anggaran."

Amanda langsung mencatat.

---

Direktur operasional juga mengangguk.

"Dari sisi teknis cukup matang."

Luna hampir tidak percaya mendengarnya.

---

Kemudian semua mata tertuju kepada Alex.

Sebagai CEO, keputusan akhirnya tetap berada di tangannya.

Alex membuka beberapa lembar dokumen.

Lalu menatap seluruh peserta rapat.

"Saya setuju konsep ini dilanjutkan."

Kalimat sederhana.

Namun langsung membuat napas Luna terasa lega.

---

"Namun lakukan revisi kecil pada bagian registrasi dan alur transportasi peserta."

lanjut Alex.

Amanda mengangguk.

"Baik, Pak."

---

Rapat pun selesai.

Orang-orang mulai meninggalkan ruangan.

Beberapa kepala divisi bahkan sempat menghampiri Luna.

"Presentasi yang bagus."

"Kerja bagus."

"Pertahankan."

Membuat Luna semakin percaya diri.

---

Namun tidak semua orang senang.

Di sudut ruangan.

Rita berdiri dengan wajah yang sulit dibaca.

Ia melihat bagaimana direksi memuji Luna.

Bagaimana Amanda tersenyum bangga.

Dan bagaimana konsep yang dibawakan Luna langsung disetujui.

Perasaan iri mulai tumbuh semakin besar.

Karena dalam waktu kurang dari dua bulan...

Perhatian yang selama ini ia inginkan justru diberikan kepada seorang karyawan baru.

Dan Rita tidak menyukai hal itu sama sekali.

Sementara Luna yang sedang berbicara dengan Sisil tidak menyadari satu hal.

Presentasi hari ini bukan hanya membuat namanya mulai dikenal para petinggi perusahaan.

Tetapi juga membuat beberapa orang mulai menjadikannya target.

Dan itu bisa menjadi masalah besar di kemudian hari.

1
Alia Chans
"Menulis cerita ini membutuhkan waktu berjam-jam, tetapi satu like mungkin mampu menghapus lelah itu dalam sekejap. Semangat ✍️☺👈
wulaniii
gais like dan beri gift dungs biar semangat 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!