NovelToon NovelToon
ANAK HASIL PERSELINGKUHAN

ANAK HASIL PERSELINGKUHAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Cerai / Penyesalan Suami
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: NeyNaa

Perselingkuhan di balas dengan selingkuh, hingga menghasilkan buah hati dalam hubungan terlarang!!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NeyNaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Luka yang Semakin Dalam

Beberapa hari setelah Dito dan Rara tinggal bersama nenek mereka di kampung, rumah terasa jauh lebih sepi dari biasanya. Tidak ada lagi suara rebutan remote televisi, tidak ada langkah kaki kecil yang berlarian dari ruang tamu ke kamar, dan tidak ada tawa yang dulu sering memenuhi setiap sudut rumah. Kesunyian itu justru membuat hubungan Sulis dan Irwan semakin terasa canggung. Mereka hanya berbicara seperlunya, sekadar membahas makan, tagihan, atau urusan rumah tangga. Selebihnya, mereka hidup seperti dua orang asing yang kebetulan tinggal di bawah satu atap.

Awalnya Irwan tidak terlalu memikirkan keberadaan anak-anak. Ia mengira Sulis hanya mengajak mereka berlibur beberapa hari ke rumah neneknya. Namun ketika satu minggu berlalu dan Dito serta Rara belum juga pulang, rasa heran mulai muncul dalam benaknya.

"Kapan Dito sama Rara balik?" tanyanya suatu sore.

Sulis yang sedang melipat pakaian menjawab tanpa menoleh. "Belum tahu."

"Maksudnya?"

"Mereka masih nyaman di sana."

Jawaban singkat itu membuat Irwan mengernyit. "Kenapa nggak diajak pulang?"

Sulis menarik napas pelan sebelum menjawab, "Mereka lebih tenang di kampung."

Kalimat itu langsung membuat wajah Irwan berubah. "Apa maksudmu?"

Sulis tidak menjawab. Namun diamnya justru membuat Irwan semakin tersulut.

Beberapa hari terakhir, Irwan memang sedang berada di bawah tekanan. Usahanya terus menurun, pelanggan berkurang, sementara tagihan semakin menumpuk. Ditambah hubungan rumah tangganya yang memburuk, emosinya menjadi jauh lebih mudah meledak.

"Aku tanya baik-baik."

"Aku juga jawab baik-baik."

"Tapi kenapa anak-anak belum pulang?"

Sulis akhirnya meletakkan pakaian yang sedang dilipat. Ia tahu percakapan itu tidak akan berakhir begitu saja.

"Mereka takut."

Ruangan mendadak hening.

Irwan menatap istrinya tajam. "Apa?"

"Mereka takut sama keadaan di rumah."

Kalimat itu terasa seperti tamparan bagi harga diri Irwan. Rahangnya mengeras.

"Aku ayah mereka."

"Mereka anak-anak yang bisa punya rasa takut."

Nada suara Sulis tetap tenang. Namun justru ketenangan itulah yang membuat Irwan semakin kesal. Dalam pikirannya, Sulis sedang menyalahkannya. Sedang menjauhkan anak-anak darinya. Sedang membuatnya terlihat seperti seorang ayah yang buruk.

"Jadi sekarang kamu mau memisahkan aku dari anak-anakku?"

"Aku nggak pernah bilang begitu."

"Tapi itu yang kamu lakukan!"

Suara Irwan mulai meninggi. Sementara Sulis mulai merasa percakapan ini mengarah ke sesuatu yang tidak baik.

"Aku cuma ingin mereka tenang."

"Kamu sengaja!"

"Aku memikirkan kondisi mereka."

"Kamu memikirkan dirimu sendiri!"

Bentakan Irwan menggema di ruang tamu. Sulis berdiri dari kursinya. Dadanya mulai berdebar. Ia mengenali tatapan itu. Tatapan yang pernah ia lihat sebelumnya, saat kemarahan mulai mengambil alih akal sehat Irwan.

"Kamu nggak pernah mikir gimana perasaanku."

Sulis menahan emosi yang mulai naik. "Perasaanmu?"

"Iya!" Irwan menunjuk dirinya sendiri. "Anak-anakku jauh dari rumah. Aku bahkan nggak bisa lihat mereka setiap hari."

Sulis menatap suaminya beberapa saat sebelum berkata pelan, "Kalau memang begitu, kenapa dulu kamu nggak pikirkan perasaan mereka waktu mereka menangis lihat kita bertengkar?"

Kalimat itu menjadi pemicu terakhir.

Irwan yang sudah dipenuhi emosi kehilangan kendali. Pertengkaran yang awalnya hanya berupa adu mulut berubah menjadi keributan yang jauh lebih buruk. Dalam ledakan amarah sesaat, ia melakukan tindakan yang membuat Sulis terhuyung dan mengalami luka di wajahnya akibat vas bunga yang di lepar Irwan mendarat tepat di pipinya.

Sulis memegangi wajahnya dengan napas gemetar. Ia merasakan darah mengalir dari bagian yang terluka. Namun bukan rasa sakit fisik yang membuatnya membeku. Melainkan kenyataan bahwa kejadian serupa kembali terulang. Untuk kedua kalinya.

Beberapa detik setelah itu, suasana mendadak sunyi. Irwan sendiri tampak terkejut dengan apa yang baru saja terjadi. Napasnya memburu dan wajahnya pucat. Sementara Sulis berdiri beberapa langkah darinya sambil menahan tangis. Tidak ada teriakan. Tidak ada makian. Hanya kesunyian yang terasa jauh lebih menyakitkan.

Perlahan Sulis mengambil tisu dari atas meja dan mengusap darah yang menetes. Tangannya gemetar. Namun matanya tidak lagi dipenuhi kemarahan. Yang tersisa hanyalah kekecewaan yang sangat dalam. Ia menatap Irwan, pria yang dulu ia nikahi dengan penuh cinta. Pria yang bekerja siang malam demi keluarga. Pria yang selalu membuatnya merasa aman. Kini sosok itu terasa seperti orang yang sama sekali berbeda.

Tanpa mengatakan apa pun, Sulis berjalan menuju kamar dan mengunci pintunya dari dalam. Ia duduk di tepi ranjang sambil memandangi pantulan wajahnya di cermin. Air mata jatuh perlahan. Bukan karena luka di wajahnya, melainkan karena sebuah kesadaran yang semakin sulit ia abaikan. Bahwa rumah tangga mereka tidak lagi berada dalam masa sulit biasa. Ada sesuatu yang telah rusak sangat dalam.

Malam itu tidak benar-benar berakhir ketika Sulis masuk ke kamar. Ia masih duduk di tepi ranjang dengan tubuh gemetar. Di luar kamar terdengar langkah kaki Irwan mondar-mandir. Beberapa menit kemudian terdengar ketukan keras di pintu.

"Sulis, buka pintunya."

Tidak ada jawaban.

"Sulis!"

Suara Irwan semakin keras, tetapi Sulis tetap diam. Ia sudah terlalu lelah untuk bertengkar lagi. Terlalu lelah untuk menjelaskan sesuatu yang berkali-kali tidak pernah didengarkan.

Ketika Irwan akhirnya berhasil masuk ke kamar, suasana kembali memanas. Dengan emosi yang belum reda, ia terus menuduh Sulis sengaja menjauhkan anak-anak darinya. Ia menyalahkan Sulis atas keadaan rumah tangga mereka, seolah semua masalah yang terjadi berpusat pada satu orang. Pada Sulis.

Padahal jauh di dalam hati, Irwan tahu kenyataannya tidak sesederhana itu. Namun kemarahan sering kali membuat seseorang mencari kambing hitam. Dan malam itu, Sulis menjadi sasaran seluruh kemarahan yang selama ini ia pendam.

Melihat situasi yang semakin buruk, Sulis tidak lagi membalas. Ia tidak berteriak. Tidak melawan. Ia hanya menangis dalam diam.

Melihat itu, Irwan justru semakin kesal.

"Kenapa nangis?"

Tidak ada jawaban.

"Aku tanya kenapa nangis?"

Perlahan Sulis mengangkat wajahnya. Matanya merah dan penuh kelelahan. Namun bukan ketakutan yang terlihat di sana, melainkan kesedihan yang sangat dalam.

"Aku nggak nangis karena sakit."

Kalimat itu membuat Irwan terdiam.

Sulis tertawa kecil. Tawa yang terdengar lebih mirip tangisan.

"Aku nangis karena nyesel."

"Nyesel apa?"

Sulis menunduk. "Nyesel karena aku terus bertahan."

Irwan mengernyit.

"Apa maksudmu?"

Sulis memejamkan mata, mengingat semua tahun yang telah mereka lalui bersama. Saat masih miskin. Saat membangun usaha dari nol. Saat mereka saling mendukung. Saat Irwan masih menjadi pria yang begitu ia banggakan.

"Aku bertahan waktu kita nggak punya apa-apa," katanya pelan.

Air matanya kembali jatuh.

"Aku bertahan waktu usaha hampir bangkrut. Aku bertahan waktu kamu selingkuh. Aku bertahan demi anak-anak."

Irwan tidak menyela. Untuk pertama kalinya malam itu, ia hanya mendengarkan.

"Tapi sekarang aku nggak kenal lagi siapa orang yang ada di depanku."

Suara Sulis nyaris berbisik.

"Orang yang aku nikahi dulu nggak pernah bikin anak-anak takut. Orang yang aku nikahi dulu nggak pernah bikin aku merasa nggak aman di rumah sendiri."

Kalimat demi kalimat menghantam hati Irwan lebih keras daripada teriakan. Karena semuanya adalah kebenaran yang selama ini berusaha ia abaikan.

Sulis mengusap air matanya. "Aku bukan sedih karena luka ini."

Ia menunjuk wajahnya yang masih memar.

"Aku sedih karena aku habiskan bertahun-tahun mempertahankan seseorang yang sekarang bahkan nggak peduli kalau aku terluka."

Irwan menundukkan kepala. Untuk sesaat, tidak ada kata-kata yang mampu keluar dari mulutnya.

Malam itu tidak ada lagi pertengkaran. Tidak ada lagi bentakan. Hanya dua orang yang duduk dalam kesunyian. Satu dipenuhi penyesalan, satu lagi dipenuhi luka.

Namun meski suasana telah tenang, sesuatu telah berubah di dalam hati Sulis. Jika sebelumnya ia masih berharap Irwan akan kembali menjadi pria yang dulu ia cintai, kini harapan itu mulai memudar. Perlahan. Sedikit demi sedikit.

1
Yati Adek
dasar janda bolong wkwkwk
NeyNaa: wkwkwkw tenangin diri kak 🤣🤣
total 1 replies
Yati Adek
dasar janda gatal
Yati Adek
memang perempuangktau malu
NeyNaa: mksh ud mmpir kak 😄
total 1 replies
Neriya Naura
Si lakor kayaknya pke guna2, si iwan ampe segitunya, author matiin tu lakor, gatal bgt....
Si sulis juga demen bgt masih betah am tu laki...
NeyNaa: jgn emosi kak 🤭
total 1 replies
NeyNaa
ud buta sma cnta, efeknya amnesia 🤭
Lili Amalia
laki2 klau sdh mulai mengalami puber ke 2 atau apapun itu alasannya, TDK akan bisa mendengar nasihat dari siapapun.
kalau kata aku sih biar saja mreka ,dan s istri minta talak 3 dan cari cuan sebanyak banyaknya tuk menyenangkan diri sendiri dan anak. Ngapain bertahan dg laki2 tdk setia. najis .
꧁𖣔⃟⃝⃞𒈙᭄404᭄𒈙⃞⃝𖣔꧂: 🕺🏻💃🏻🤙🏻👍🏻
total 3 replies
Neriya Naura
Gak tau malu bgt 🤭
Neriya Naura
Ni si pastri gatel ya gak ketulungn, gatel+gak tau malu, si iwan juga silau bgt ama godaan janda🤭, lemah bgt imannya.
NeyNaa: tenangkan dirimu kak...🤭
total 1 replies
Neriya Naura
Cerita menarik, makin seru, si suami naksir janda gatel...
Neriya Naura
Si pastri gatel bgt sih.... 🤭
NeyNaa
seru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!