NovelToon NovelToon
Dewa Primordial Yang Mahakuasa

Dewa Primordial Yang Mahakuasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Fantasi / Action
Popularitas:177
Nilai: 5
Nama Author: DaoisttjmlCe

Q adalah makhluk hidup. Q adalah esensi alam semesta.

Dengan semakin berkembangnya tenaga uap dan mesin, siapa yang bisa mendekati sosok Master Q? Terselubung dalam kabut dan kegelapan, siapa atau apa kejahatan yang mengintai dan berbisik di telinga kita?

Terbangun dengan serangkaian kebingungan dan misteri, Bagas Pratama mendapati dirinya bereinkarnasi ke tubuh seorang remaja bernama Rostav Zertu di dunia yang dipenuhi oleh lautan dan dikuasai oleh mesin uap, bajak laut, meriam, serta Ramuan, Q, dan Anomali.

Ikuti kisah Rostav Zertu dalam menghadapi bahaya dan misteri yang mengincarnya, saat terlibat dengan organisasi-organisasi rahasia yang ada di dunia.

Ini adalah kisah dari "Kapten Mawar Hitam".

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DaoisttjmlCe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26 - Siapa Sebenarnya Aku?

"Yah, memang beginilah kapal ini. Selama ini aku berlayar hanya mengandalkan dorongan angin. Tak heran kecepatannya begitu lambat," ujar Rostav sambil menggulung kembali peta.

Dia terdiam sejenak, merenungkan ucapannya sendiri. Memang, jauh di dalam hati, dia merasa kesal dengan lambannya kapal ini. Ukurannya pun tidak besar, di atas dek hanya berdiri dua layar yang menopang perjalanan mereka. Ruang bagian dalamnya juga sempit dan jauh dari kata nyaman.

Rostav mengembuskan napas panjang. Dengan rasa frustrasi yang semakin mengusik pikirannya, dia bergumam dalam hati, 'hah... andai saja aku tahu cara mengoperasikan mesin di ruang permesinan, mungkin perjalanan ini akan jauh lebih mudah. Atau setidaknya, ada buku panduan yang bisa menjelaskan cara menyalakannya.'

Hari masih pagi tapi Rostav sudah dibuat kesal dengan kapal ini. Selama ini dia tidak mempermasalahkan dengan kecepatan kapal yang lamban, karena memang dia sebenarnya masih asing dengan dunia ini, ditambah jarak dengan Hutan Akar Malam Abadi masih sangat jauh. Tapi, setelah kedatangan Cia, dia sudah mengetahui sedikit hal tentang dunia ini dan Laut Mayat. Mendengar Cia mengeluhkan kecepatan kapal yang lamban, membuat Rostav kembali memikirkannya, dan entah kenapa hal itu juga membuatnya kesal.

Cia melangkah ke kasur Rostav dan duduk di sana, merasakan empuknya kasur itu dibandingkan dengan kasur di kamarnya. Memang seperti inilah perbedaan kualitas kamar Kapten dengan kamar awak kapal. Dia menatap Rostav sambil bersandar di dinding dan bertanya, "apa kapal ini tidak ada mesin atau semacamnya? Waktu kita di dek kapal, aku sempat melihat berbagai pipa kuningan yang menjorok keluar dari badan kapal. Dan di buritan terdapat banyak sekali cerobong asap. Apa benar kapal ini tak memiliki ruang mesin atau semacamnya?"

Rostav bersandar di meja dan mengelus dagunya, tak dapat menahan diri untuk tidak berpikir, 'walaupun dia Ras Athu, tapi dia tahu cukup banyak tentang kapal, bahkan tahu tentang ruang mesin. Jika aku menunjukkan jalannya, apa dia bisa menyalakan mesin di sana? Aku sempat mengeceknya, dan di sana hanya terdapat tiga tombol di sebuah rangkaian mesin yang rumit. Aku tidak ingin bereksperimen menekannya satu per satu. Bisa saja diantara salah satu tombol itu, ada tombol untuk peledakan diri sendiri, membuat kapal ini hancur. Tidak mustahil ada sistem seperti itu.'

Melihat Rostav terdiam sambil mengelus dagunya, Cia tahu dia sedang berpikir jadi dia hanya memilih untuk menunggunya sampai dia mengatakannya sendiri. Tapi di dalam, pikirannya tak henti-hentinya menebak-nebak, 'jika kapal ini memiliki ruang mesin, kenapa dia tidak menggunakannya? Apa dia kehabisan bahan bakar? Atau sebenarnya dia tidak tahu cara menyalakan mesinnya? Tidak, kurasa itu tidak mungkin, atau... mungkin? Dia bilang bahwa dia Kapten kapal ini, tapi aku meragukan hal itu. Kapal ini kosong seolah-olah tak pernah ada seorang pun yang menghuninya. Juga, dia bahkan tidak tahu seberapa bahaya Laut Mayat, dan dia juga tidak mengetahui apa itu Q, Master Q, dan Laut Primordial, padahal dia sendiri sudah menjadi Master Q. Siapa sebenarnya orang ini? Asal-usulnya terlalu misterius.'

Cia menebak-nebak di dalam pikirannya, tapi semakin dia memikirkannya, semakin misterius pula asal-usul dari Rostav. Tapi dia segera mengesampingkan pikiran itu saat Rostav akhirnya berkata, "sebenarnya Kapal ini punya ruang permesinan. Hanya saja aku tidak tahu cara menyalakannya."

Ucapan Rostav justru membuat rasa penasaran Cia semakin memuncak. Ada sesuatu yang terasa janggal. Bagaimana mungkin seseorang yang mengaku sebagai Kapten kapal ini tidak mengetahui cara menyalakan mesin di kapalnya sendiri?

Cia, yang memang tidak pernah bisa menahan rasa ingin tahunya, akhirnya melontarkan pertanyaan yang sejak tadi mengganjal di benaknya, "katamu kau kapten kapal ini. Tapi kenapa kau tidak tahu cara mengoperasikan mesinnya? Apa kau benar-benar pemilik kapal ini?

"Dan lagi, kau juga tidak tahu betapa berbahayanya Laut Mayat maupun ikan bersisik emas. Bahkan kau bertanya padaku tentang Q, Master Q, dan Laut Primordial, seolah-olah itu semua adalah hal yang asing bagimu.

"Entah kenapa, aku merasa kau seperti seseorang yang terisolasi dari dunia ini... seolah-olah kau berasal dari tempat yang sama sekali berbeda."

Dia menyilangkan tangan di depan dada, menatap Rostav dengan dalam. "Jadi, siapa kau sebenarnya?"

Mendengar rentetan pertanyaan dari Cia, Rostav hanya bisa terdiam. Tubuhnya mematung di tempat. Tidak ada bantahan, tidak ada penjelasan, bahkan tidak ada kebohongan yang keluar dari mulutnya.

Sebagai seseorang yang bertransmigrasi ke dunia asing ini, bagaimana mungkin dia bisa menjawab?

Rostav menundukkan pandangan. Pikirannya dipenuhi berbagai pertanyaan yang bahkan hingga kini belum menemukan jawaban.

'Siapa sebenarnya... aku...? Bagas Pratama, Rostav Zertu?' Rostav bertanya dengan dirinya sendiri. Pikirannya tiba-tiba kacau, seolah-olah ada ombak ganas yang menghantam kepalanya.

'Siapakah... aku...?' dia tertawa getir dalam kebingungannya. Dia merasa tersesat. Dia bagaikan seekor binatang terluka yang harus bertahan hidup sendirian, seperti seseorang yang telah kehilangan ingatan dan menolak untuk mempercayai apa yang sedang dilihatnya. Seperti pohon tua yang lupa akan usianya. Seperti air di telapak tangan yang akan lenyap begitu saja saat dilemparkan.

'Apakah ini takdir...?' Ini persis seperti gumpalan rambut yang kusut, pangkalnya tidak ditemukan, begitu pula ujungnya.

'Aku hanya mewarisi ingatan tentang kehidupanku di Bumi, serta secuil informasi mengenai nama dan usia Rostav Zertu. Selain itu, tidak ada apa-apa.

'Aku tidak tahu siapa Rostav sebenarnya. Aku tidak tahu masa lalunya, asal-usulnya. Aku tidak tahu bagaimana dia bisa berada di tempat seberbahaya ini. Aku juga tidak tahu kenapa dia sendirian di kapal ini,' semakin dia memikirkannya, semakin banyak kejanggalan yang bermunculan. 'Siapa yang meracik Ramuan itu dan meninggalkan secarik pesan di dalam peti ruang penyimpanan?

'Siapa yang membuat roti-roti keras dan menyiapkan alat pancing? Siapa yang mengisi lemari dengan pakaian yang pas untukku dan juga Cia? Siapa yang menyusun buku berisi informasi tentang ekosistem Laut Mayat? Siapa yang menggambar peta ini dan meninggalkan kompas di kapal?'

Semua benda yang dia temukan seolah hadir pada waktu yang tepat, menyediakan apa yang dia butuhkan untuk bertahan hidup.

Rostav mengepalkan tangannya tanpa sadar.

'Kenapa rasanya... kenapa semua ini seolah-olah telah dipersiapkan sebelumnya? Seakan-akan ada seseorang yang mengetahui kedatanganku dan sengaja menyiapkan segala sesuatu agar perjalananku menjadi lebih mudah?

Pikiran itu membuat bulu kuduknya meremang. Untuk pertama kalinya, Rostav merasa bahwa misteri terbesar di kapal ini bukanlah Laut Mayat atau pun makhluk-makhluk mengerikan yang menghuninya.

Melainkan dirinya sendiri.

Rostav menghela napas dan mengesampingkan pikiran itu terlebih dulu. 'Sekarang, apa yang harus aku lakukan? Bagaimana caraku menjawab pertanyaannya jika aku sendiri juga ingin menanyakan hal yang sama?' Rostav menggigit bibir bawahnya dengan cukup kuat, hal ini jelas membuatnya berpikir lebih keras dari sebelumnya, dan dipenuhi oleh kebingungan dan kebuntuan. 'Bagaimana jika aku mengatakan hal tersebut...' Rostav mengangguk, tidak ada salahnya untuk mencoba.

Dia menatap ke arah Cia yang memandanginya dengan rasa penasaran tinggi, dan berkata, "aku punya hak untuk tidak menjawab."

Cia memiringkan kepalanya saat mendengar jawaban itu. Dari reaksinya, jelas Rostav tahu Cia tidak puas dengan jawabannya.

"Kenapa kau tidak mau mengatakannya?" Cia berusaha mendesak Rostav. "Aku akan jujur padamu, aku akan mendesakmu sampai kau menjawabnya. Kita sudah bersumpah atas nama Sang Ilahi untuk tidak menyakiti satu sama lain. Hal itulah yang membuatkan berani untuk menanyakan hal itu padamu. Jika kau melanggar sumpah dan berusaha menyakitiku, kau akan terkena hukuman."

'Walaupun aku tidak tahu mengenai Dewa Primordial Yang Mahakuasa. Tapi fakta bahwa kita bisa saling melihat lambang Sang Ilahi tak dapat dihiraukan, hal itu menunjukkan bahwa Dewa Primordial Yang Mahakuasa itu benar-benar ada. Hanya saja aku tidak pernah mendengar informasi apa pun tentang-Nya,' Cia mengoreksi dalam hati.

'Sial, apa aku harus mengatakan yang sebenarnya padanya?' Rostav menjadi lebih panik, keringat dingin segera membasahi wajahnya. Tapi akhirnya, setelah berpikir dalam waktu yang cukup lama, Rostav akhirnya menghela napas dan menjawab, "kau bertanya siapa sebenarnya diriku?"

"Hmm," Cia berdehem sambil mengangguk. Dia menahan kepalanya dengan kedua tangannya yang sikunya dia letakkan di paha.

"Aku menawarkanmu untuk menggunakan Q Sumpah Segel Teratai, untuk menunjukkan bahwa aku tidak berbohong," Rostav memberanikan diri untuk melakukannya, yakin bahwa dia tidak akan terkena efeknya.

Cia sendiri, tak dapat menyembunyikan rasa terkejutnya, dan akhirnya bertanya, "kau yakin?" dia tak menyangka kalau Rostav akan menawarkan dirinya menggunakan Q, untuk membuktikan apa yang dia katakan adalah kebenaran.

Rostav mengangguk singkat.

Alasan lain dia melakukannya adalah, karena dia penasaran dan ingin melihat seperti apa bentuk Q itu. Apakah sesuai seperti namanya, Sumpah Segel Teratai, apakah bentuknya seperti bunga teratai?

1
anggita
klo bisa novelnya dipromosikan Thor, biar dikenal pembaca NT.
anggita: ga pa" ijin promo aja. ditempat kami bebas. banyak kok teman" author yg promo dsini.
total 2 replies
anggita
ikut dukung like👍 iklan☝aja, moga novelnya lancar👌.
Blueria: semangat gann🔥
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!