NovelToon NovelToon
Dua Wajah Dibalik Satu Lencana

Dua Wajah Dibalik Satu Lencana

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / TKP
Popularitas:316
Nilai: 5
Nama Author: Chocolate Chase

Menceritakan tentang seorang mantan pembunuh berantai, yang di bebaskan untuk membantu polisi dalam memecahkan sebuah kasus, yang kemudian membuat dirinya secara resmi menjadi konsultan khusus kepolisian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chocolate Chase, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Topeng Sang Pembunuh

Ruang tunggu kantor polisi Sektor Tujuh terasa sesak oleh ketegangan yang mendadak memuncak. Arthur dan Manuel baru saja melangkah keluar dari lorong ruang interogasi ketika mereka melihat kedua pria berjas hitam itu berdiri di dekat meja petugas. Postur tubuh mereka tegak, namun ada keluwesan yang tidak wajar pada cara mereka berdiri.

Arthur menyipitkan mata hijaunya. Otaknya yang brilian langsung memproses ratusan detail mikro dalam hitungan detik. Ia memperhatikan cara kedua pria itu membagi pandangan mereka untuk menutupi seluruh sudut ruangan, posisi tangan mereka yang sedikit menggantung di dekat saku dalam jas, serta kapalan tebal yang tidak lazim di buku buku jari mereka. Ini bukan tangan seorang pengacara yang terbiasa memegang pena dan dokumen. Ini adalah tangan mereka yang terbiasa mencabut nyawa.

"Manuel," bisik Arthur, suaranya sangat pelan namun tajam seperti sembilu. "Jangan sentuh senjatamu. Mereka bukan pengacara dari firma Sterling dan Partners."

Manuel menoleh, tangannya yang semula hendak menyentuh sarung pistol di pinggangnya langsung membeku. "Lalu siapa mereka?"

"Mereka adalah pembunuh bayaran," jawab Arthur datar, ingatan kelamnya sebagai mantan pembunuh berantai langsung mengenali aura kematian yang menguar dari kedua pria tersebut. "Mereka dikirim bukan untuk membela tahanan di dalam ruangan itu, melainkan untuk membungkamnya secara permanen sebelum kita bisa menggalinya."

Seolah menyadari bahwa penyamaran mereka telah terbongkar oleh tatapan analitis Arthur, kedua pria berjas hitam itu serentak mengubah ekspresi wajah mereka. Senyuman profesional yang palsu lenyap, digantikan oleh tatapan dingin dan kosong. Tanpa peringatan, tangan kanan mereka bergerak secepat kilat ke balik jas, mencabut dua bilah pisau belati hitam yang tidak memantulkan cahaya.

Petugas di meja depan terkesiap dan panik, namun Arthur mengangkat satu tangannya untuk menahan Manuel dan para polisi lokal yang hendak mencabut senjata api mereka.

"Simpan senjata kalian," perintah Arthur dengan nada yang menggetarkan. "Tembakan di ruang sempit ini hanya akan melukai petugas lain dan memberi mereka kesempatan untuk menyandera seseorang. Biar aku yang menangani mereka."

Sebelum Manuel sempat memprotes, Arthur sudah melangkah maju. Tanpa senjata, tanpa pelindung, hanya bermodalkan tangan kosong dan pemahaman mendalam tentang anatomi manusia.

Pembunuh bayaran pertama menerjang lebih dulu, mengarahkan tusukan pisau belati lurus ke arah ulu hati Arthur. Gerakan itu sangat cepat dan presisi, dirancang untuk membunuh dalam satu detik. Namun, bagi Arthur yang memproses pergerakan seperti sebuah persamaan matematika, tusukan itu terlihat sangat lambat.

Arthur memiringkan tubuhnya ke samping, membiarkan bilah pisau itu meleset beberapa milimeter dari jaketnya. Dalam gerakan yang mengalir tanpa jeda, tangan kiri Arthur menyambar pergelangan tangan sang pembunuh, sementara telapak tangan kanannya menghantam titik saraf radial di lengan pria itu dengan kekuatan yang terukur.

Bunyi retakan tulang terdengar mengerikan. Pembunuh pertama menjerit tertahan, jari jemarinya mati rasa seketika, dan pisau belati itu terjatuh ke lantai. Tanpa memberi ampun, Arthur menyapu kaki pria itu dengan tendangan rendah yang menghancurkan tempurung lututnya, membuatnya ambruk ke lantai dengan wajah pucat menahan sakit yang luar biasa.

Pembunuh kedua, melihat rekannya dilumpuhkan dalam kurang dari tiga detik, langsung mengubah taktik. Ia tidak menyerang dari depan, melainkan berputar ke sisi buta Arthur, mengayunkan belatinya secara horizontal menuju leher Arthur.

Arthur tidak menoleh. Insting purbanya mengambil alih. Ia merunduk tepat di bawah lintasan bilah tajam itu, lalu berputar pada poros kakinya. Siku kanannya melesat ke atas, menghantam rahang bawah sang pembunuh dengan dampak yang mengguncang otak pria itu di dalam tengkoraknya. Saat pria itu terhuyung ke belakang dengan pandangan kabur, Arthur melangkah maju, mencengkeram kerah kemejanya, dan membantingnya keras ke atas meja kayu petugas dengan teknik bantingan yang mematikan.

Pria itu terbatuk, matanya berputar ke belakang, dan langsung kehilangan kesadaran sebelum sempat menyentuh permukaan meja.

Seluruh peristiwa itu terjadi dalam waktu kurang dari sepuluh detik. Ruang tunggu kembali hening, hanya dipecahkan oleh suara erangan pelan dari pembunuh pertama yang memegang lututnya yang hancur. Arthur berdiri tegak di antara kedua tubuh yang tak berdaya itu, napasnya bahkan tidak terdengar memburu. Ia menepuk tepuk debu yang menempel di jaket hitamnya dengan santai.

Manuel menurunkan tangannya yang masih bersiaga, menatap Arthur dengan campuran rasa kagum dan ngeri. "Kau benar benar tidak berubah, Arthur. Gaya bertarungmu masih sama cepat dan mematikannya."

"Mereka terlalu mengandalkan senjata, Manuel. Mereka lupa bahwa tubuh manusia memiliki ratusan titik kelemahan yang tidak bisa dilindungi oleh sebilah pisau," balas Arthur tenang, menatap Sersan Rodriguez yang masih terpaku di sudut ruangan. "Sersan, borgol mereka, sita senjata mereka, dan masukkan mereka ke sel terpisah. Jangan biarkan siapa pun mendekati mereka."

"Si... siap, Konsultan Rutherford!" jawab Sersan Rodriguez dengan suara bergetar, segera bergerak bersama dua petugas lain untuk mengamankan kedua pembunuh bayaran tersebut.

Tepat saat Manuel hendak memeriksa dompet salah satu pembunuh untuk mencari identitas palsu mereka, pintu otomatis kantor polisi terbuka. Langkah kaki yang mantap dan berirama terdengar mendekat.

Elena melangkah masuk ke dalam lobi. Rambut pirangnya yang tergerai indah kontras dengan seragam taktis gelap yang kini ia kenakan. Sepasang mata birunya langsung menyapu ruangan, mencatat meja yang hancur, dua pria berjas yang sedang diborgol, dan Arthur yang berdiri tenang di tengah kekacauan tersebut. Ia tidak tampak terkejut sebab ia sudah tahu betul siapa rekan kerjanya.

"Kalian berdua selalu membuat kerusuhan di mana pun kalian pergi," komentar Elena dengan aksen Rusianya yang samar namun terdengar jelas, sambil berjalan mendekati mereka. Di tangannya, ia membawa sebuah komputer tablet federal yang layarnya menyala terang.

"Kami hanya sedang memberikan pelajaran tata krama kepada beberapa pengacara yang salah alamat," jawab Arthur dengan senyuman miringnya. "Apakah kau meninggalkan markas hanya untuk melihat kami bekerja, Elena?"

Elena mendengus pelan, lalu mengaktifkan layar komputernya dan menampilkannya kepada Arthur dan Manuel. "Aku datang karena aku berhasil meretas basis data utama dari firma hukum Sterling dan Partners. Dan kalian tidak akan percaya apa yang kutemukan di dalam peladen rahasia mereka."

Manuel mendekat, matanya menatap layar yang menampilkan ribuan baris kode dan dokumen keuangan yang terenkripsi. "Apa ini? Bukankah firma hukum itu memiliki sistem keamanan siber tingkat militer?"

"Sistem keamanan mereka memang kuat, tapi arsiteknya membuat satu kesalahan fatal karena mereka menggunakan jaringan yang sama untuk menyimpan data klien resmi dan data operasi gelap mereka," jelas Elena, jari jemarinya mengetuk layar untuk memunculkan sebuah bagan jaringan yang rumit. "Aku berhasil menembus lapisan enkripsi mereka satu jam yang lalu. Sterling dan Partners bukanlah firma hukum biasa. Mereka adalah ujung tombak legal dari Perusahaan Aethelgard."

Arthur menatap bagan tersebut, matanya yang hijau berkilat tajam saat otaknya mulai menghubungkan setiap titik. "Jadi, firma hukum ini yang selama ini mencuci uang hasil kejahatan korporat Aethelgard, sekaligus menyediakan pembunuh bayaran untuk membersihkan siapa pun yang menghalangi jalan mereka."

"Tepat sekali," konfirmasi Elena, lalu ia menggeser layar untuk menampilkan sebuah foto profil dan dokumen transfer bank. "Dan lihatlah siapa yang menandatangani perintah transfer dana untuk kedua pembunuh bayaran yang baru saja kau lumpuhkan itu. Dana itu ditransfer dari rekening pribadi Direktur Operasional Aethelgard, tepat dua jam sebelum Elias Thorne ditemukan tewas di apartemennya."

Manuel mengangguk perlahan, rahangnya mengeras. "Ini adalah bukti langsung. Kita sekarang memiliki koneksi yang jelas antara pembunuhan Thorne, pembunuh bayaran ini, dan petinggi Aethelgard."

"Ini baru langkah pertama, Manuel," kata Arthur, menatap layar komputer tablet Elena dengan tatapan yang penuh perhitungan. "Mereka mengirim pembunuh bayaran ke kantor polisi karena mereka panik. Mereka tahu tahanan di ruang interogasi itu memegang kunci yang bisa meruntuhkan seluruh kerajaan mereka. Sekarang, saatnya kita masuk kembali ke ruangan itu dan memaksa tahanan kita untuk berbicara, sebelum Aethelgard mengirim sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada dua pria berjas hitam."

Arthur berbalik dan melangkah kembali menuju lorong ruang interogasi, dengan Manuel dan Elena mengikuti tepat di belakangnya. Permainan catur berdarah di pusat keuangan negara ini baru saja dimulai, dan Arthur Rutherford selalu bermain untuk menang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!