dr. Nayla Azzura percaya satu hal bahwa cinta tidak pernah benar-benar tinggal.
Menjadi salah satu saksi pernikahan orangtuanya yang hancur sejak usianya masih kecil, membuat Nayla tumbuh menjadi perempuan yang dingin, mandiri, dan sulit mempercayai siapapun. Baginya, memiliki pasangan hanya pandai memberi harapan sebelum akhirnya meninggalkan.
Sampai akhirnya sebuah tragedi kecelakaan kerja mempertemukan Nayla dengan Arsen Mahardika, pengusaha muda yang keras kepala, hangat dan yang paling mengganggu adalah usianya tiga tahun lebih muda dari Nayla.
Awalnya Nayla mengganggap semua hanya lelucon biasa, tapi bagaimana mungkin jika lelaki yang usianya lebih muda tapi pandai bicara tentang sebuah keseriusan?.
Namun Arsen berbeda, iya tidak datang membawa janji besar justru ia datang dengan sejuta kesabaran. Saat Nayla menjauh, menunggu saat Nayla merasa takut, dan membuktikan bahwa tidak semua rumah berakhir hancur.
Karena terkadang... Lelaki yang lebih muda justru lebih tahu cara men
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 - Tempat Pulang
Hujan sudah turun sejak sore tadi, rintiknya bahkan sudah membasahi halaman rumah sakit dan memantulkan cahaya lampu-lampu kota yang sudah mulai menyala. Langit kelabu membuat suasana terasa lebih sunyi dari biasanya, di lantai tiga ruang operasi Nayla baru saja melepas masker bedahnya.
Kedua bahunya terasa berat, tangannya sedikit gemetar karena berdiri selama berjam-jam. Operasi itu berlangsung hampir enam jam, tim medis bahkan sudah mengerahkan kemampuan terbaik yang mereka miliki.
Namun.... Mereka tetap tidak berhasil menyelamatkan pasien, Nayla memejamkan mata beberapa detik. Sebagai seorang dokter, ia tahu bawa tidak semua nyawa bisa diselamatkan.
Nayla tahu,
Nayla mengerti,
Bahkan Nayla sudah mempelajari sejak menjadi mahasiswa kedokteran, tetapi mengetahui dan merasakan secara langsung adalah dua hal yang berbeda. Rasa kehilangan itu tetap ada, dan malam ini terasa lebih berat dari biasanya.
" dok... dokter tidak apa-apa?" seorang perawat menghampiri Nayla dengan wajah cemas.
" Aku baik-baik aja, sus..." Nayla membuka kedua matanya, memberikan senyuman tipis.
Perawat itu tahu jika senyuman itu dipaksakan, tapi ia juga tahu bahwa seorang dokter sering kali tidak memiliki kemewahan untuk menunjukkan kesedihannya di depan orang lain.
" Terimakasih sudah berjuang bersama tadi, Sus ..." ucap Nayla.
" Kamu yang berterima kasih kepada dokter" perawat itu mengangguk pelan.
Nayla hanya menganggukkan kepalanya pelan sebagai jawaban, setelahnya kini kakinya melangkah keluar meninggalkan ruang operasi.
Koridor rumah sakit mulai sepi, jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Nayla berjalan pelan menuju ruang dokter untuk mengambil tasnya.
Tubuhnya lelah terapi yang lebih melelahkan adalah pikirannya saat ini, ia terus mengingat wajah keluarga pasien yang menunggu di luar ruangan operasi. Tangisan mereka, tatapan penuh harap yang berubah menjadi duka semuanya masih terbayang dengan begitu jelas.
Nayla menarik nafas panjang lalu meraih ponselnya, ada satu pesan masuk yang belum di buka.
" Aku di lobby, enggak usah buru-buru"
Nayla menatap layar ponselnya beberapa detik, entah kenapa pesan dari Arsen membuat dadanya terasa lebih ringan saat ini.
Begitu pintu lift terbuka, Nayla langsung melihat Arsen seperti biasa. Duduk dikursi lobby sambil membaca sesuatu di ponselnya, saat menyadari Nayla susah keluar Arsen langsung berdiri dengan tatapan yang langsung berubah.
" Sudah bisa pulang?" tanya Arsen lembut, ia mengenal wajah itu... Wajah Nayla yang sedang berusaha terlihat kuat.
Nayla mengangguk lemah, tidak seperti biasanya kali ini tidak ada senyuman, tidak ada candaan, dan Arsen tidak bertanya apapun.
" Loh, Ar..." ucap Nayla kaget ketika Arsen hanya mengambil tas kerja Nayla tanpa diminta.
" Biar aku yang bawa, Nay" ucap Arsen dan kali ini Nayla tidak menolak karena malam ini ia terlalu lelah untuk berpura-pura terlihat baik-baik saja.
Perjalanan pulang diisi keheningan namun bukan yang canggung, melainkan keheningan yang hangat dan nyaman. Arsen sengaja mematikan radio, ia tahu kadang seseorang tidak membutuhkan sebuah pertanyaan, namun hanya butuh ditemani.
Sesampainya di depan rumah Nayla, Arsen mematikan mesin mobil namun tidak langsung membuka pintu seperti biasanya.
" Nay... Mau masuk sekarang atau masih perlu waktu?" tanya Arsen dengan tatapan lembut.
" Hmm... Boleh minta tambahan waktu?" Nayla menatap halaman rumahnya lalu menggeleng pelan.
" Ayo... Ikut aku supaya kamu bisa melepaskan lelahnya di tempat yang tepat" Arsen tersenyum tipis meraih tangan Nayla.
" Mau kemana, Ar?" tanya Nayla.
" Halam belakang, ada kursi yang rindu untuk ditemani dengan segelas coklat hangat" jawab Arsen sekenanya.
Halaman belakang rumah Nayla masih sama, dengan bangku kayu yang selalu menjadi saksi ketika Nayla menceritakan tentang proses perjalanan hidup dan seluruh perasaannya ketika sedang tidak baik-baik saja.
Malam ini bangku itu kembali menjadi tempat terbaik untuk Nayla, hujan sudah berhenti dan udara masih terasa dingin. Ayah Nayla yang melihat mereka dari balik jendela hanya tersenyum kecil, beliau sengaja tidak menghampiri karena merasa saat ini mereka butuh waktu berdua.
Ayah Nayla tahu dan percaya jika Nayla dan Arsen masih menghargai kepercayaan yang telah ia berikan, sehingga tidak akan terjadi hal-hal negatif yang akan terjadi.
Arsen yang tadi pamit untuk ke dapur kini telah kembali, dengan tangan yang membawa dua cangkir coklat hangat.
" Tadi Ayah yang buat coklat hangat ini untuk kita" ucap Arsen yang kini mulai mendudukkan dirinya disalah satu kursi kosong.
" Terimakasih" Nayla tersenyum setelah menerima coklat hangat.
Suara jangkrik terdengar samar ditambah hembusan angin yang pelan, Arsen dan Nayla masih menikmati hangatnya coklat yang baru saja membasahi tenggorokan.
" Ar..." Nayla akhirnya berbicara.
" Hmmmm..." jawab Arsen.
" Hari ini aku kehilangan pasien... Aku tahu dokter tidak bisa menyelamatkan semua orang..." suara Nayla terdengar bergetar, Arsen hanya menatapnya lembut tanpa memotong atau menyela.
" Aku juga tahu semua tindakan yang aku lakukan tadi sudah sesuai prosedur, tapi rasanya tetap saja sakit.... Setiap ada pasien yang meninggal aku selalu bertanya apa masih ada hal yang bisa aku lakukan?" Nayla menunduk.
Arsen masih diam mendengarkan dengan baik, karena terkadang memang inilah cara terbaik ketika menemani seseorang yang sedang berada di titik terendahnya.
" Aku tahu pertanyaan itu tidak akan mengubah apapun yang terjadi, tapi tetap saja muncul..." Mata Nayla mulai berkaca-kaca dengan nadanya semakin bergetar.
" Maaaff" sampai akhirnya air mata pertama jatuh dan Nayla buru-buru mengusapnya.
" Hei... Jangan minta maaf" Arsen menggelengkan kepalanya cepat.
" A... Ak... Aku .."
" Kamu boleh sedih itu hal yang wajar, Nay" kalimat sederhana itu langsung meruntuhkan seluruh pertahanan Nayla.
Kini Nayla menangis tapi bukan sebuah tangisan keras, bukan isak yang meledak-ledak, melainkan tangisan pelan yang selama ini ia tahan.
" Aku capek, Ar..." suara itu terdengar begitu lirih dan rapuh.
Dan untuk pertama kalinya Nayla mengakui kelelahannya didepan seseorang, Arsen langsung menggeser duduknya sedikit lebih dekat. Namun Arsen tidak memeluk Nayla, tidak menggenggam tangannya karena ia berusaha untuk menghormati batas yang masih dijaga oleh Nayla.
" Aku bangga sama kamu, Nay" Arsen duduk disampingnya memastikan bahwa dirinya tidak kemana-mana.
" Bangga?" Nayla mengangkat wajahnya.
" Iya, bangga"
" Kenapa?" tanya Nayla bingung.
" Karena hari ini kamu tetap berjuang sampai akhir, bukankah itu sebuah pencapaian terbaik?" ucap Arsen.
" Tapi pasiennya....tidak selamat, Ar" jawab Nayla.
" Tapi itu bukan berarti kamu gagal, kamu berjuang, kamu bertahan, kamu sudah memberikan usaha dan harapan sampai detik terakhir...itu bukan sebuah kegagalan" jawab Arsen dengan tenang.
Air mata Nayla kembali mengalir namun kali ini bukan karena ia merasa sendirian, melainkan karena akhirnya ada seseorang yang memahami isi hatinya tanpa menghakimi.
Suasana kembali hening, langit mulai memperlihatkan bintang-bintang yang sebelumnya tertutup awan.
" Ar, terimakasih ya" ucap Nayla.
" Untuk apa?"
" Karena kamu tidak memaksa aku untuk menjadi orang yang kuat, kamu membiarkan aku mengeluh dan merasa lelah" ucap Nayla yang kini menatap wajah laki-laki yang berada disampingnya.
" Setiap orang memiliki hak untuk merasa lelah, Nay... Apalagi perempuan memiliki perasaan yang lebih peka jadi tidak perlu kuat karena proses menjadi kuat buak secara instan semua ada prosesnya dan menangis bahkan merasa lelah itu bukan salah satu nilai mutlak seseorang menjadi lemah" jawab Arsen yang membalas tatapan Nayla.
Tanpa berpikir panjang kini Nayla menyandarkan kepalanya perlahan dibantu Arsen untuk kedua kalinya, jantung Arsen berdetak lebih cepat namun ia tidak bergerak sedikitpun karena tidak ingin mengganggu kenyamanan Nayla.
" Sebentar aja, Ar... Aku pinjam pundak kamu" bisik Nayla.
" Aku tidak akan kemana-mana, selama ada aku jangan pernah mengkhawatirkan apapun... Semua akan baik-baik aja" Arsen memberanikan diri merangkul bahu Nayla sehingga jarak mereka semakin dekat tanpa celah.
Malam itu tidak ada ciuman diantara keduanya, hanya seorang perempuan yang akhirnya menemukan tempat untuk beristirahat. Dan seorang laki-laki yang memilih untuk tetap tinggal menjadi bahu sebagai penopang yang kokoh.
Di balik jendela rumah, Ayah Nayla memandangi mereka dengan mata yang mulai lembab.
" Akhirnya ada yang menemani anak Ayah untuk pulang yang sesungguhnya" beliau tersenyum kecil.