NovelToon NovelToon
Aku Pergi Dan Tak Kembali

Aku Pergi Dan Tak Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Yanti Topato

Mona Gradies, wanita 26 tahun yang ceria, blak-blakan, dan sedikit ceroboh, tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah bekerja di Aditama Group—perusahaan milik Wira Aditama, seorang CEO berusia 30 tahun yang dikenal dingin, tegas, berwibawa, dan gila kerja.
Di balik sikapnya yang tampak sempurna, Wira menyimpan dunia yang penuh kontrol, aturan, dan jarak dari siapa pun. Namun Mona hadir seperti gangguan yang tidak bisa ia atur—berisik, ceroboh, tapi jujur dan hangat.
Awalnya hanya kesalahan kecil dan perdebatan sepele di kantor. Tapi semakin lama, batas profesional dan perasaan mulai kabur.
Hingga satu peristiwa mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanti Topato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 26- Di meja makan keluarga Aditama

Di Meja Makan Keluarga Aditama

Ruangan makan keluarga Aditama terasa terlalu besar bagi Mona. Lampu kristal di atas meja memantulkan cahaya hangat, tapi itu sama sekali tidak membantu menenangkan dirinya. Apalagi setelah semua orang melihat Wira menggenggam tangannya tadi.

Mona benar-benar ingin menghilang.

“Duduklah,” ujar Ratih Aditama tenang.

“Iya, Bu…” Mona duduk perlahan di kursi yang disediakan pelayan.

Dan masalahnya… kursi itu tepat di samping Wira. Tentu saja, Mona melirik pria itu kecil, sementara Wira terlihat santai seolah tidak terjadi apa-apa.

Pria menyebalkan.

***

Makan malam dimulai dengan suasana formal. Beberapa anggota keluarga besar Aditama juga hadir malam itu. Paman, bibi, sepupu dan Mona langsung sadar satu hal... ia benar-benar berada di lingkungan orang kaya raya.

Percakapan mereka tentang bisnis, investasi, dan relasi luar negeri membuat Mona semakin merasa kecil.

“Mona kerja sudah berapa lama dengan Wira?” tanya salah satu tante Wira ramah.

“Baru beberapa bulan, Tante.”

“Betah?”

Mona tersenyum kecil. “Lumayan.”

Wira yang sedang minum langsung melirik. “Lumayan?”

Mona langsung panik. “Maksud saya… nyaman.”

Beberapa orang tertawa kecil melihat reaksi mereka dan itu justru membuat Mona makin malu.

Namun suasana mulai berubah saat salah satu pria paruh baya membuka percakapan lain.

“Jadi benar ya, keluarga Prasetyo kembali menghubungi kita?”

Ruangan langsung sedikit lebih hening.

Wira langsung terlihat tidak tertarik, sementara Ratih tetap tenang.

“Mereka hanya membahas kerja sama bisnis.”

“Termasuk Sandra?” tanya wanita lain.

Mona langsung menunduk perlahan. Nama itu lagi dan entah kenapa… ia langsung merasa tidak nyaman duduk di sana.

“Bukankah mereka cocok?” lanjut pria tadi. “Keluarga setara, bisnis kuat.”

Rahangan Wira langsung sedikit mengeras. “Aku sudah bilang itu selesai.”

“Tapi Sandra perempuan baik.”

“Aku tidak sedang mencari pendapat.” Nada suara Wira tetap tenang, namun seluruh meja langsung diam.

Mona bisa merasakan ketegangan itu dan untuk pertama kalinya… ia merasa keberadaannya di sana mulai menjadi masalah.

Tak lama kemudian, salah satu wanita menatap Mona sambil tersenyum tipis.

“Maaf kalau tante terlalu jujur.”

Deg

“Tapi dunia keluarga besar seperti ini memang rumit.”

Mona menggenggam jemarinya di bawah meja. “Saya mengerti, Tante.”

“Bagus kalau mengerti.” Kalimat itu terdengar sopan, namun maknanya jelas dan Mona mulai merasa sesak.

Sementara Wira yang menyadari perubahan wajah Mona langsung berkata dingin, “Cukup.”

Semua orang langsung diam.

Wira meletakkan sendoknya pelan. “Dia tamuku.”

Nada suaranya tidak tinggi, tapi cukup membuat suasana berubah.

Ratih memperhatikan putranya beberapa detik tanpa bicara dan Mona justru merasa semakin tidak nyaman karena semua perhatian sekarang tertuju padanya.

Beberapa menit kemudian, Mona akhirnya berdiri pelan. “Maaf… saya ke toilet sebentar.”

Tanpa menunggu jawaban, ia langsung keluar dari ruang makan. Begitu pintu tertutup...

Mona langsung menghela napas panjang, dadanya terasa berat.

“Aku memang tidak cocok di sini…” bisiknya pelan.

Ia berjalan menuju balkon samping rumah untuk mencari udara. Angin malam terasa dingin, tapi setidaknya lebih nyaman dibanding tatapan orang-orang tadi.

“Mau kabur?” Suara itu membuat Mona menoleh.

Wira berdiri di belakangnya. Masih dengan ekspresi tenang khasnya.

“Bapak ngagetin.”

“Kamu tidak pandai sembunyi.”

Mona tersenyum kecil lelah. “Maaf kalau saya bikin suasana jadi aneh.”

Wira langsung mengernyit. “Kamu tidak melakukan kesalahan apa pun.”

“Tapi mereka benar.”

“Mereka hanya terlalu ikut campur.”

Mona menatap Wira pelan. “Pak…”

“Apa?”

“Kalau nanti semuanya jadi sulit… gimana?”

Tatapan Wira langsung melembut sedikit. Pria itu berjalan mendekat perlahan, sampai berdiri tepat di depan Mona.

“Dengar baik-baik.”

Deg

“Aku tidak pernah membawa perempuan mana pun ke rumah ini.”

Mona langsung membeku. “Hah?”

“Kamu yang pertama.”

Jantung Mona langsung kacau karena dari semua kalimat romantis yang pernah ia dengar… yang satu ini terasa paling serius.

“Kenapa?” bisiknya pelan.

Wira menatapnya lurus. “Karena aku tidak berniat main-main.”

Deg

Lagi dan lagi. Pria ini benar-benar berbahaya, namun sebelum Mona sempat menjawab...

Suara langkah kaki terdengar dari belakang.

“Kalian di sini rupanya.” Ratih muncul di ambang pintu balkon.

Tatapannya bergantian antara Mona dan Wira, lalu perlahan… ia tersenyum tipis.

“Saya boleh bicara sebentar dengan Mona?”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!