Seorang gadis yang terpaksa menjadi pengantin pengganti sang kakak demi melunasi hutang sang ayah, Maureen terpaksa menggantikan kakak nya sebagai mempelai. Maureen dinikahi oleh Alarick Carlson, pria yang digambarkan kejam dan buruk rupa. Awalnya Arik memilih Maura, sang kakak untuk menjadikan nya istri.
Setelah mengetahui lelaki yang akan dinikahi nya buruk rupa dan selalu mengunakan topeng yang terlihat sangat mengerikan, sang kakak menolak untuk menikahi pria tersebut. Sehingga kedua orang tua nya yang sangat menyayangi dan membanggakan sang kakak, enggan menyerahkan Maura putri kesayangan mereka.
Kini Maureen harus menghadapi pernikahan yang sarat misteri dan ketidakpastian dari suami nya. Mampukah ia menjalankan takdir yang dipaksakan kepada nya? Dan mampu kah Maureen bertahan dengan pernikahan yang dilandasi keterpaksaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ausilir Rahmi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Namun baru saja dia berjalan, terdengar suara Arik yang membuat langkah nya terhenti dalam sekejap. "Aku ingin kita berbicara setelah aku selesai mandi!" ucap Arik tegas.
Jantung Maureen seperti berhenti berdetak, saat mendengar perintah sang suami dengan nada bariton berat yang penuh penekanan.
"Ba-baiklah mas, aku akan menunggu di ruang tengah atas." ucap Maureen setuju, perlahan dia memutar badan dan menatap wajah Arik, mereka berdua saling memandang.
"Bagus! Malam ini kau tidur di kamar sebelah." Ketus Arik berjalan dengan wajah datar dan sikap nya yang semakin dingin.
Maureen yang masih mematung, ia menatap nanar punggung Arik yang semakin menjauh dari pandangan nya.
Hati nya sangat dilema antara permintaan sang ibu dan keinginan hati kecil nya. Bagaimana bisa dia menjalani pernikahan seperti ini.
Tidak ada rasa cinta atau pun perhatian layak nya pasangan suami istri pada umum nya, membuat hati Maureen semakin meradang. Sebagai seorang wanita biasa bohong jika Maureen tidak sedih.
"Kenapa? Aku merasa pernikahan ini bukanlah yang indah. Tapi seperti penjara yang penuh keasingan," lirih Maureen memejamkan kedua mata indah nya, ingin sekali dia pergi sejauh mungkin.
Tapi bayangan sang ibu yang terus menekan. Membuat ia berpikir seribu kali untuk menyerah. Terlebih lagi saat membayangkan hati ayah nya yang begitu cemas terhadap perusahaan mereka.
"Tidak! Aku tidak boleh menyerah. Oh iya mas Arik suka camilan manis, sebaik nya aku mandi dulu lalu mencoba untuk membuatkan nya," Tegas Maureen terlihat bersemangat lagi.
****
Di sisi lain Brayan yang masih berada di kediaman Carlson. Dia terlihat serius berbincang dengan kekasih-nya Gisella tentang pernikahan mereka.
"Mas! Aku yakin jika kamu lebih dulu memberikan cicit untuk Oma, pasti dia akan mengubah keputusan agar kamu yang lebih berhak memimpin perusahaan," Usul Gisel yang sengaja memprovokasi kekasih nya dengan penuh obsesi.
"Kau benar honey! Aku juga berpikir seperti itu. Tidak yakin mereka segera memiliki bayi. Melihat wajah kak Arik yang seperti itu pasti istri nya ketakutan lebih dulu dan tidak mungkin mau melayani nya sebagai seorang istri," decih Brayan memancarkan senyum sinis penuh kebencian pada kakak nya.
Meskipun mereka tumbuh sebagai tiga bersaudara tanpa kekurangan apa pun, tetap saja Brayan tidak terima jika Arik lebih unggul dan lebih banyak mendapatkan perhatian dari kedua orang tua nya.
"Kau benar Gisel jadi sebaik nya kau memberi ku bayi setelah kita menikah. Agar bisa menggeser posisi kak Arik, sudah cukup dia menempati posisi itu," Geram Brayan, kedua mata nya memerah sampai kedua tangan nya terkepal.
"Tentu saja sayang karena yang pantas menjadi pimpinan itu kamu bukan kakak mu yang jelek itu," bujuk Gisel sembari memeluk tubuh Brayan dari belakang.
Brayan memutar badan, dia menyeringai saat melihat Gisel yang terus menggoda nya. "Tentu saja aku lebih layak dan sempurna, jadi bersabarlah setelah kita menikah, semua yang harus menjadi milik ku sudah pantas nya aku rebut dari nya," cecar Brayan mengeram, perlahan ia menyangkup dagu lancip Gisel dan baru saja akan menyambar bibir kekasih nya.
Tiba-tiba saja terdengar suara benda jatuh dari depan kamar, membuat mereka tersontak kaget.
"Siapa itu?" Panggil Brayan.
"Sayang! Jangan sampai ada orang yang mendengar perkataan kita. Bisa-bisa nanti pembicaraan kita barusan bisa sampai pada ayah dan ibu mu, bisa gawat nanti!" ucap Gisel panik.
Brayan segera membuka pintu kamar nya, untuk memastikan suara apa yang tadi mereka dengar. Tapi sayang nya tidak ada orang hanya terlihat guci yang pecah dan seekor kucing yang melintas.
"Brayan! Siapa yang menguping?" Tanya Gisel menghampiri seraya menatap penuh selidik.
Brayan menghela nafas kasar, dia terlihat kesal lalu menjawab pertanyaan kekasih nya. "Tidak ada orang, hanya seekor kucing saja." ucap Brayan.
Gisel yang belum yakin, dia perlahan membuka pintu dan memastikan dengan mata kepala nya sendiri. Dan benar hanya ada seekor kucing saja.
"Kurang ajar! Dasar kucing sialan membuat orang kaget saja. Tapi untung saja bukan orang yang menguping," Umpat Gisel kesal.
Brayan segera menarik tangan nya, lalu menegur agar Gisel bisa menjaga sikap saat mereka masih ada di rumah kedua orang tua nya.
"Honey! Pelan kan sedikit suara mu. Jangan sampai orang rumah mendengar, apa lagi kedua orang tua ku dan nenek ku." ucap Brayan mengingatkan.
Gisel segera menutup mulut dengan kedua tangan nya, karena suara nya yang keras hampir mengundang perhatian orang rumah.
Baru saja mereka membahas, Marisa yang tadi mendengar suara kebisingan di dalam kamar Brayan membuat wanita paruh baya itu pun tanpa sungkan mengetuk pintu.
Tok...tok...
"Brayan! Ada apa dengan kalian tadi? Jangan bilang kalian sedang ribut. Dan satu lagi Gisel. Sebaik nya sebelum kalian menikah jangan tidur dalam satu kamar yang sama," Tegur nyonya Marisa masih setia berdiri di depan pintu.
Brayan berdecak kesal, lalu terpaksa membuka pintu kamar. Terlihat ibu nya memasang wajah muram membuat nya menelan saliva karena merasa tidak enak hati.
"Mami ada apa?" Tanya Brayan dengan sikap pura-pura polos.
Gisel yang baru ikut keluar, segera meminta maaf karena telah berisik dengan alasan tadi mereka memainkan sebuah permainan saja.
Mendengar hal itu nyonya Marisa hanya menggelengkan kepala, karena tidak habis pikir dengan sikap mereka berdua yang menurut nya terlalu ke kanak-kanakan.
"Brayan! Gisel jangan mengulang hal konyol seperti ini lagi, bersikaplah seperti kakak mu Arik yg tidak pernah membuat orang lain berisik," Gerutu nyonya Marisa lalu kembali lagi ke kamar untuk beristirahat.
Setelah sang ibu pergi Brayan masih menatap penuh kebencian, setiap kali Arik yang harus di jadikan panutan untuk nya. "Arik! Lagi, aku sangat benci!" ucap Brayan dengan penuh kebencian.
\*\*\*\*
Dan di saat yang sama, Maureen berjalan dengan langkah pelan. Setelah dia membersihkan diri. Jantung nya berdegup sangat kencang saat mencoba membawa secangkir kopi panas dan satu piring roti bakar yang sengaja dia buat.
Meskipun ragu, gadis berparas cantik itu pun menarik nafas dalam-dalam saat membawa nampan yang ada di tangan nya.
Melihat Arik yang tengah berdiri di balkon dengan balutan kimono handuk yang sedang menghisap filter rokok sebagai teman penghilang kantuknya.
"Ma-mas Arik! Maaf sudah membuat mu menunggu," sesal Maureen memanggil tergagap.
Kedua alis tebal Arik terangkat, saat mendengar suara lembut Maureen. Dengan spontan lelaki berwajah misterius dan bersikap arogan itu dengan aura yang membunuh membuat Maureen ragu. Tapi dia berusaha untuk mencoba.
"Apa yang kau bawa itu?" Tanya Arik menatap penuh selidik.
Maureen yang sangat gugup berusaha tetap tenang lalu menjelaskan. "Aku sengaja membuatkan secangkir kopi panas dan camilan. Mas bisa coba dulu sambil aku ingin bicara tentang beberapa hal," ujar Maureen memulai topik pembicaraan.
Berharap apa yang akan dia inginkan bisa di kabulkan oleh Arik, karena bagi nya tawaran dari bos nya tadi itu sangat berarti. Dan itu bisa menjadi awal yang baik untuk karir dan juga impian nya.
\*
Bersambun.....................