"""Kamu tidak perlu disukai semua orang. Cukup aku yang menyukaimu.""
Berawal dari sebuah jebakan yang memaksanya bangun di ranjang Arka Surya, hidup Lina Chen seketika berubah 180 derajat. Dari seorang anak ""pembawa sial"" menjadi seorang ratu yang bertatah di kerajaan Surya.
Meski terduduk di kursi roda, pewaris muda konglomerat itu mampu melindungi Lina dari setiap serangan, baik itu dari ibunya yang kejam, mantan tunangan brengsek, hingga musuh-musuh tersembunyi.
Namun, semua itu malah menumbuhkan rasa curiga di hati Lina dan semakin menguat ketika Lina bangun dengan pinggang remuk setelah malam pernikahannya. Bagaimana bisa seseorang yang cacat begitu gesit?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
Bab 26
Ketahuan! Arka Ternyata Hatinya Kecil
Ruang privat restoran itu seharusnya menjadi tempat makan malam yang tenang.
Namun dengan Mega yang membawa daftar pertanyaan seperti penguji sertifikasi, Lina yang menahan senyum, dan Arka yang menjawab semua pertanyaan dengan wajah serius, suasananya lebih mirip wawancara calon suami nasional.
"Pertanyaan berikutnya," kata Mega sambil menusuk dessert pandan. "Kalau Lina ingin tetap mengajar meski kamu bisa membiayai dia seumur hidup?"
"Dia tetap mengajar," jawab Arka. "Aku hanya memastikan dia tidak pulang terlalu lelah."
"Kalau dia mau resign?"
"Aku dukung."
"Kalau dia mau buka sekolah?"
"Aku bantu cari tanah."
Lina batuk kecil. "Itu sudah dilakukan."
Mega menoleh cepat. "Apa?"
Arka minum air dengan tenang. "Tanah BSD."
Mega menatap Lina. "Kamu punya tanah?"
Lina memijat pelipis. "Ceritanya panjang."
"Aku baru tahu sahabatku sekarang kolektor tanah."
Arka tampak puas. "Nilai saya?"
Mega menunjuknya dengan sendok. "Jangan terlalu percaya diri. Kamu masih punya aura bahaya."
"Aura bahaya bisa digunakan untuk melindungi Lina."
"Bisa juga membuat Lina takut."
Kalimat itu membuat Arka diam. Lina menatap Mega, sedikit terkejut. Sahabatnya tidak hanya bercanda. Ia benar-benar mengawasi titik yang paling halus.
Arka menoleh pada Lina. "Kalau aku membuatmu takut, bilang."
Lina mengangguk pelan. "Aku akan coba."
Mega akhirnya tersenyum. "Baik. Nilai naik."
Makan malam berjalan lebih ringan setelah itu. Arka memesan dessert tambahan untuk Mega, sesuai prediksi Reza. Mega pura-pura tidak terkesan, tetapi menghabiskan semuanya. Lina melihat dua orang paling penting dalam hidup barunya duduk satu meja tanpa saling menjatuhkan, dan dadanya terasa hangat.
Namun kehangatan itu tidak bertahan lama di luar ruang privat.
Saat Arka menerima panggilan sebentar di koridor, Lina mendengar potongan kalimat.
"Pak Wulan? Iya, saya Arka. Tadi istri Anda menyebut saya si pincang di lobi."
Lina berhenti.
Mega yang berjalan di sampingnya ikut berhenti.
Arka berdiri di sudut koridor dengan kursi roda terkunci. Wajahnya sangat tenang.
"Tidak, saya tidak marah. Hanya memberi tahu. Mungkin Pak Wulan bisa mengingatkan beliau bahwa saya memang pincang, tetapi pendengaran saya masih baik."
Mega menutup mulut.
Lina menatap Arka tidak percaya.
Arka menutup telepon, lalu berbalik. Ia melihat Lina.
Hening.
"Kamu mengadu?" tanya Lina.
"Memberi klarifikasi."
"Pada suami Nyonya Wulan?"
"Tepat."
Mega tertawa sampai bahunya berguncang. "Pak Arka, kamu ini ternyata hatinya kecil."
Arka tidak tersinggung. "Untuk hal tentang Lina dan hinaan yang tidak perlu, iya."
"Tapi Nyonya Wulan tadi membantuku," kata Lina.
"Maka aku tidak mempermalukannya langsung. Aku hanya memberi tahu suaminya."
Lina ingin menegur, tetapi entah mengapa ia justru ingin tertawa. Pria yang tadi menjawab pertanyaan pernikahan dengan matang ternyata bisa mengadu seperti anak sekolah karena disebut si pincang.
"Arka."
"Aku tidak akan melakukan lebih jauh."
"Janji?"
"Untuk Nyonya Wulan, iya."
"Untuk orang lain?"
"Tergantung."
Mega langsung mengangkat jempol. "Jujur. Nilai naik lagi."
Setelah makan malam, Arka memperkenalkan Reza pada Mega.
"Reza mungkin akan menghubungi kamu sesekali," kata Arka. "Untuk hal sekolah. Aku tidak ingin Lina selalu menanggung semuanya sendiri."
Mega menyipitkan mata. "Atau kamu ingin memantau Lina lewat aku?"
Reza menunduk sopan. "Dua-duanya, Nona Mega."
Mega terdiam, lalu tertawa. "Setidaknya jujur."
Mereka bertukar WhatsApp. Lina menatap Arka dengan curiga.
"Jangan gunakan Mega sebagai mata-mata."
"Aku akan gunakan dia sebagai sistem peringatan dini."
"Itu sama saja."
"Lebih sopan."
Lina menggeleng, tetapi tidak benar-benar marah. Ada sisi lucu dari cara Arka mencoba menjaga semua pintu hidupnya.
Di parkiran, Madam Hong masuk ke mobilnya dengan wajah gelap. Sopir menutup pintu, tetapi ia langsung membentak agar tidak berangkat dulu.
Ia mengambil ponsel dan menelepon nomor yang seharusnya tidak ia hubungi lagi.
Pak Hartono mengangkat setelah beberapa dering. Suaranya serak, lemah karena masih dirawat.
"Apa lagi?" katanya.
"Kamu mau membalas Arka?"
Pak Hartono tertawa pahit. "Aku tidak sebodoh itu."
"Kamu pejabat. Kamu punya jaringan. Masa takut pada pria kursi roda?"
"Pria kursi roda itu punya semua file kotorku."
Madam Hong menutup mata, menahan amarah. "Kalau kamu terus takut, dia akan menghancurkanmu pelan-pelan. Kita perlu menyerang titik yang dia lindungi."
"Lina?"
"Kariernya. Nama baiknya. Guru yang dicurigai orang tua murid akan hancur tanpa kita menyentuhnya."
Pak Hartono diam.
Madam Hong tersenyum dingin. "Kamu punya mantan istri yang mudah terbakar emosinya, kan? Dan anakmu sekolah di sana."
"Jangan libatkan anakku."
"Terlambat. Semua orang sudah melibatkan Lina karena kamu."
Pak Hartono bernapas berat. "Apa yang kamu mau?"
"Buat kondisi. Buat orang tua murid merasa Lina berbahaya. Aku akan urus sisanya."
Di ujung sana, Pak Hartono tidak langsung menjawab. Namun diamnya cukup bagi Madam Hong.
Ia menutup telepon dan menatap keluar kaca mobil.
Malam ini ia kalah di lobi restoran.
Besok, Lina akan belajar bahwa kalah di ruang sosialita berbeda dari kalah di tempat kerja.
Di dalam restoran, Lina sama sekali tidak tahu percakapan itu. Ia masih duduk bersama Arka dan Mega, tertawa kecil saat Mega menawar nilai sertifikasi seperti sedang menawar harga sayur.
"Sertifikasi sementara," kata Mega akhirnya.
Arka mengangkat alis. "Sementara?"
"Audit berkala. Suami yang baik harus lulus terus, bukan cuma lulus saat baru menikah."
Arka menatap Lina. "Saya setuju."
Lina merasa hangat menyebar di dada. Arka tidak menganggap Mega merepotkan. Ia tidak tersinggung saat diuji. Ia justru seperti memahami bahwa sahabat Lina adalah bagian dari hidup Lina yang tidak perlu disingkirkan.
Itu detail kecil, tetapi bagi Lina besar.
Sebab terlalu banyak orang selama ini memintanya memilih: keluarga atau diri sendiri, Kenzie atau harga diri, diam atau dianggap durhaka. Malam ini Arka duduk di tengah semua itu dan berkata lewat sikapnya bahwa Lina boleh punya semuanya.
Suami. Sahabat. Suara sendiri.
Lina tidak tahu di luar sana Madam Hong sedang menyiapkan serangan baru. Untuk beberapa menit yang langka, ia hanya menikmati dessert pandan, tawa Mega, dan Arka yang diam-diam mencatat makanan mana yang paling ia sukai.
Di catatan ponsel Arka, sudah tertulis tiga hal: Lina tidak suka terlalu manis, Mega bisa dibujuk dengan dessert pandan, dan Madam Hong kehilangan kendali jika Lina terlihat bahagia.
Catatan ketiga membuatnya menatap pintu.
"Ada apa?" tanya Lina.
"Tidak apa-apa."
Mega menyipitkan mata. "Jawaban pria yang sedang menyembunyikan sesuatu."
Arka tidak menyangkal. "Saya sedang menyembunyikan rencana agar makan malam istri saya tidak rusak."
Mega terdiam, lalu menunjuk Lina. "Oke. Yang ini boleh."
Lina menatap Arka lebih lama. Ia tahu ada banyak pintu dalam kepala pria itu yang belum terbuka untuknya. Namun malam ini, untuk pertama kalinya, ia tidak merasa semua rahasia berarti bahaya untuk dirinya.
Kadang rahasia juga bisa menjadi payung.
Lina masih belum terbiasa berteduh. Tapi malam itu ia mulai belajar tidak selalu menolak ketika seseorang membuka payung untuknya.
Apalagi jika orang itu tahu kapan harus berdiri di depan, dan kapan cukup berjalan di samping.
Itu pelajaran baru bagi Lina.
Pelajaran yang tidak pernah diajarkan rumah Chen.
Tapi mungkin bisa dipelajari di rumah baru.
Pelan-pelan, tanpa hukuman.
Tanpa takut ditinggalkan.
Itu sudah cukup.
Untuk malam ini.
Besok belum tentu.
ceritamu kereeen thort
Biar Maya belajar dari kesalahannya.