NovelToon NovelToon
Terikat Dengan Cinta Atau Takdir

Terikat Dengan Cinta Atau Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:884
Nilai: 5
Nama Author: Ulfa Zahra

Ardian dan kebahagiaan nya.
Kembali berkumpul dengan putrinya serta menikah dengan wanita yang merubah dirinya menjadi pria dengan pribadi yang baik, membuatnya sangat bahagia walaupun cerita masalalu yang sedikit demi sedikit terbuka.
Jidan dan kisah cintanya.
Tidak sama seperti tuannya yang memilih berlabuh ke hati lain dan berdamai dengan masalalu nya. Jidan malah terjebak dengan perasaan nya yang belum benar-benar mencintai wanita lain. Seakan takdir berputar-putar ditempat nya, membuat Jidan selalu terjebak dengan perasaan sendiri, walaupun ada hati lain yang menariknya untuk beralih.
Bagaimana kisah selanjutnya? Simak yuk, biar nggak penasaran bagaimana kisah mereka selanjutnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ulfa Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Setelah menyelesaikan urusannya di kampus. Yaya meneruskan perjalanannya ke kota B. Di mana dia akan menyelesaikan pekerjaannya di sana selama beberapa hari.

Setibanya di kota B Yaya tidak langsung beristirahat melainkan dia langsung memantau proyeknya. Setelah dirasa aman barulah Yaya memutuskan untuk singgah ke apartemennya yang berada di lantai enam belas.

Yaya langsung merebahkan dirinya di atas sofa setibanya dia di unitnya. Rasanya lelah sekali setelah melakukan perjalanan menggunakan mobil dan langsung singgah ke proyek pembangunan. Padahal dia bisa menggunakan pesawat tapi Yaya lebih tertarik dengan mobil yang memakan waktu beberapa jam-jam.

"Ah rasanya capek sekali." ucap Yaya dengan mata tertuju ke arah langit-langit ruangan tamu. Dari kampus tanpa istirahat dia kembali pergi ke kota B. Luar biasa secapek apa dia.

Matanya terpejam menikmati hawa dingin dari Aceh, setelah setengah hari berada di luar dan di bawah trik panas matahari akhirnya dia bisa merasakan hawa dingin juga. Belum benar-benar dia tertidur suara perutnya berbunyi membuat Yaya kembali membuka matanya.

"Good Yaya, kamu sampai lupa makan setengah hari ini." ucapnya saat mengingat kalau dia belum ada makan apapun makanan berat sejak tadi pagi. Lantaran terlalu sibuk dia sampai lupa untuk sarapan dan ini waktu makan siang juga. Yaya bangun dari tidur nya dengan malas serta mata ngantuk, dia bisa merasakan perut nya terasa sakit. Seperti nya asam lambung nya kambuh karena kecerobohannya sendiri.

"Yaya buat penyakit saja." Lirinya seraya berdiri dari duduk nya. Kaki melangkah keluar dan pergi ke arah dapur. Tapi saat dia buka pintu lukas dia bisa melihat kulkas itu kosong. Ia baru mengingat kalau dia tidak perna mengisi kulkas itu karena jarang berada di apartemen. Jika berada di kota B Yaya akan membeli makanan jadi atau makan di luar.

"Haa, sebaiknya aku pergi keluar sebelum aku jatuh pingsan disini." ucapnya seraya meraih tasnya yang berisi dompet dan juga ponsel.

*****

Yaya menatap ruko sederhana yang menjadi tempat berhenti nya siang ini. Ruko sederhana yang terdapat gerobak nasi bertuliskan aneka makanan. Walaupun sederhana, tapi ruko itu terlihat bersih dan rapi. Kaki nya berayun masuk ke dalam ruko itu. Kedatangannya langsung disambut oleh aroma harum dari rempah-rempah, membuat perutnya yang kosong seketika kembali berbunyi.

Dari semua tempat yang ada, gadis itu memilih warung sederhana sebagai tempat singgah nya saat ini. Banyak restoran mewah yang menawarkan tempat tenang dan juga kemewahan tapi Yaya malah memilih warung pinggir jalan sebagai tempat singgahnya. Padahal jika dibandingkan dengan kehidupannya yang serba ada itu sangat jauh berbeda dari segi tempat itu.

"Pak, mau nasi campur satu." ucap Yaya memesan makanan setelah tadi dia membaca beberapa menu.

"Baik mbak, silahkan di tunggu." jawab bapak itu tersenyum ramah."Mbaknya bisa mencari tempat duduk di sana." Sambil menunjuk ke arah tempat duduk yang kini telah diisi oleh orang-orang.

Yaya melangkah masuk ke dalam ruko itu dan mencari tempat duduk. Padahal sudah jam dua siang tapi warung itu masih penuh dengan pelanggan. Yaya menelusuri setiap meja dengan matanya sampai dia mendapati satu meja kosong. Tapi sebenarnya tidak kosong karena terdapat seseorang yang membelakangi nya. Karena lapar dan semua meja penuh, Yaya memutuskan untuk bergabung dengan orang asing itu.

"Maaf mas, saya ikut bergabung disini soalnya mejanya penuh__" perkataan Yaya seketika terhenti saat menyadari siapa orang di depannya itu.

"Duduklah, aku juga sudah hampir selesai." jawab orang itu yang tidak lain adalah jidan.

"Ah iya, Kak Jabir." Yaya duduk di depan Jidan, dimana pria itu sedang menyantap makanan nya.

Kedua nya saling diam saat suasana canggung hadir di tengah-tengah kedua nya. Tidak saling sapa setelah sekian lama tidak berjumpa. Kedua nya seperti orang asing yang tidak saling mengenal padahal kedua nya perna sedekat itu.

Jidan sendiri diam-diam melirik ke arah tangan Yaya lebih tepat nya ke arah jari manisnya. Melihat itu rasa tidak nyaman di dadanya seperti tusukan yang menyadarkan nya kalau wanita itu sudah bertunangan dan akan menjadi milik seseorang. Gadis yang masih dia cintai sampai sekarang, walaupun ada gadis yang mencoba untuk dia dekati. Hanya saja hatinya masih di tempat lain.

"Sendiri?"

Yaya mengangkat kepala nya menatap ke arah Jidan setelah mendengar pertanyaan pria didepannya itu. Dia melihat ke sekitar nya mencoba memastikan kalau pria itu berbicara dengan dirinya atau ke orang lain. Melihat Jidan menatapnya, Yaya menunjuk diri nya sendiri dengan alis naik ke atas, tanda kalau dia bertanya.

"Iya aku bertanya pada mu. Bukan ke orang lain?" jawab jidan.

Menyadari itu yaya merubah posisi nya menjadi duduk dengan tegang, mencoba tidak canggung saat berbicara dengannya."Iya aku sendiri."

"Tidak bersama tunanganmu?"

Rasa nya Yaya seperti ditampar akan kenyataan kalau dia sudah bertunangan tapi diam-diam malah bercerita dengan pria yang dia sukai."Tidak, aku sendirian. kebetulan ada pekerjaan yang harus aku panatau disini selama beberapa hari. Jadi nya aku sendirian." jawab Yaya tersenyum canggung.

Keduanya kembali diam, sampai Jidan kembali bersuara."Btw selamat untukmu, semoga hubungan kamu dengan tunanganmu langgeng terus dan lancar sampai hari H nanti."

Yaya tidak menjawab, dia menatap manik itu dengan tatapan kecewa. Jidan hanya mendoakannya yang terbaik padahal yang diharapkannya pria itu mau membantunya lepas dari hubungan ini.

Apa ia salah terlalu berharap pada pria yang jelas-jelas menolak nya?

"Kenapa malam diam, Yaya?" Tanya Jidan melihat gadis itu tidak menjawab.

"Ahm tidak apa-apa. Terimakasih untuk doa nya." Beda jawaban yang keluar dari mulutnya, maka hatinya malah kecewa."Bagaimana denganmu? Apakah sudah ada nama baru?"

Jidan tersenyum kecil."Ya, doakan yang terbaik."

"Siapa perempuan beruntung itu." Ada rasa cemburu dengan jawaban Jidan, yang entah kenapa ada rasa tidak rela dalam hati nya.

"Nanti kamu akan tau." Jawab jidan sambil berdiri dari duduknya."Aku duluan, Yaya." Ucapnya sebelum melangkah meninggalkan tempat itu.

"Iya kak, hati-hati." Jawab Yaya tersenyum. Jidan meninggalkan meja itu, sementara Yaya hanya bisa menatap punggung pria. Dulu mereka sangat akrab, bahkan sampai menjalin kasih, tapi sekarang mereka terasa sangat asing.

"Rasa ini masih sama, tapi entah kenapa aku merasa akan sulit jika ingin seperti dulu lagi." gumam Yaya menatap jidan dengan seduh.

Bersambung….

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!