Lahirnya seorang pangeran yang cerdas dan berbakat seharusnya menjadi keberuntungan suatu kerajaan ataupun kekaisaran, tetapi yang terjadi justru keberadaannya dianggap sebagai ancaman nyata oleh berbagai pihak yang mendambakan kekuasaan semu.
Melalui sebuah konspirasi, sang pangeran harus mengalami musibah. Ia yang sebelumnya dikenal cerdas dan berbakat, berakhir menjadi seorang pangeran yang tidak berguna.
Dengan kondisinya itu, sang pangeran diusir dari istana dan dibuang ke Gerbang Timur, tempat di mana para keluarga istana yang dianggap sampah diasingkan.
Namun, di balik musibah yang terjadi, Gerbang Timur menjadi titik balik kebangkitan sang pangeran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muzu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemampuan Baru
Kalian kenapa? Tenang saja, tadi aku hanya penasaran mencobanya,” tutur Qin Zhao seraya menatap keenamnya dengan serius.
Goziro mendongak ke arah anak-anaknya sambil mengisyaratkan untuk bersiap memulai pertarungan.
“Tuan, bersiaplah!” ucapnya lalu kembali ke mode tempur.
“Bagus, ini yang aku tunggu!” seru Qin Zhao.
Dari atas, Qinzu melontarkan petir berbarengan dengan lontaran bola api dari keempat bocah monster.
Duar! Duar! Duar!
“Ha-ha-ha! Ini menggelikan! Serang aku dengan kuat, Qinzu!”
Beberapa puluh langkah dari hadapan Qin Zhao, Goziro melesat dengan rahang yang terbuka dan langkah yang terbantu oleh bentangan sayap.
Qin Zhao menyeringai lalu melompat dan memukul dagu bawah Goziro. Kecepatan dari lompatan Qin Zhao tak dapat dirasakan Goziro yang rahangnya seketika terkatup paksa dan tubuhnya terpental jauh ke udara lalu jatuh berdebam dengan keras.
“Ayo lagi!” tantang Qin Zhao.
Goziro menggerung keras. Kobaran api di tubuhnya semakin besar dan ia terbang cepat menyerang Qin Zhao yang kali ini berdiri diam untuk menguji daya tahan tubuhnya.
Sementara kelima monster di atas terus melontarkan bola energi yang disertai kilatan petir.
Ledakan demi ledakan dari serangan para monster menciptakan banyak lubang kawah yang membuat Qin Zhao harus berlompatan ke sana kemari.
“Lebih intens lagi!” Qin Zhao merasa serangan dari para monster terlalu lambat dan intensitasnya sangat kurang.
Keempat anak monster secara naluri membentuk formasi segi empat di udara dan saling bertukar posisi. Serangan bola api dari keempatnya menjadi mirip seperti hujan meteor.
Qin Zhao menyeringai memperhatikannya, tetapi ia lupa pada ancaman terdekatnya. Meski langkahnya yang cepat mampu menghindari setiap serangan yang dikerahkan Goziro, sambaran petir dari Qinzu berhasil menyulitkannya.
Alhasil, cakar tajam Goziro berhasil mengunci tubuh Qin Zhao dan membawanya melayang terbang ke atas langit.
Seakan memahami yang dilakukan ibunya, keempat monster mengatupkan rahang menggigit tubuh Qin Zhao dan menariknya dengan keras.
Pada waktu yang bersamaan, Qinzu ikut serta dengan menggulung tubuh Qin Zhao dan meledakkannya dengan kilatan petir.
Akan tetapi, aksi yang dilakukan Qinzu malah membuat keempat anak monster yang tengah menggigit tubuh Qin Zhao tergulung badai petir.
Sesuatu yang buruk pun tak dapat dihindari, tubuh keempat anak monster terpanggang hidup-hidup dan satu per satu dari keempatnya berjatuhan.
Melihat itu, Goziro melemparkan tubuh Qin Zhao lalu menukik tajam menghampiri keempat anaknya yang terus mengeluarkan asap.
Sementara Qin Zhao yang terlentang di bawah kubangan merasa puas dengan latihannya kali ini.
“Ah, ini menyenangkan!” serunya lalu bangkit menghampiri Goziro yang sedang menjilati tubuh keempat anaknya.
“Ya ampun, bocah-bocah pada gosong!” Qin Zhao merasa lucu melihatnya lalu mendongak menatap Qinzu yang terdiam. “Kau terlalu bersemangat sampai teman-temanmu pun kausambar!” tegurnya.
Qin Zhao kemudian mengusapi tubuh keempat monster yang secara ajaib menyembuhkannya.
“Kau tidak perlu khawatir, Nyonya Goziro,” kata Qin Zhao setelah memastikan energi vital di keempat anak monster masih baik-baik saja.
Melihat keempat anak Goziro berangsur pulih, Qinzu melayang turun dan bersembunyi di belakang Qin Zhao.
“Latihan hari ini cukup. Kalian semua pulihkan tenaga,” kata Qin Zhao yang langsung menoleh ke belakang.
“Qinzu, bisakah tubuhmu mengecil? Aku ingin menjelajahi alam ini,” imbuhnya.
Seketika tubuh Qinzu mengecil seukuran lempengan batu yang biasa diduduki Qin Zhao.
“Anak pintar,” puji Qin Zhao, “ayo bawa aku menjelajah!” Qin Zhao melompat menaikinya.
“Tubuhmu ternyata sangat empuk,” kekeh Qin Zhao begitu duduk di atas monster awan dan menepuknya.
Luasnya alam dimensi membuat Qin Zhao semakin takjub. Namun, selama penerbangan, dirinya tidak menemukan objek lain selain tanah kering berbukit.
Perbukitan yang menjulang itu pun tinggal sedikit karena sebagian besar telah hancur terkena gelombang kejut dari aura monster Qin Zhao.
“Apa kamu pernah melihat sesuatu selain bukit-bukit tandus ini?” tanya Qin Zhao penasaran.
Laju terbang Qinzu seketika melambat, dan tiba-tiba saja ia bermanuver ke suatu tempat di atas permukaan air yang terbentang luas, lalu melayang rendah hingga menimbulkan riak air yang bergelombang.
“Ternyata alam ini memiliki laut, tetapi kenapa warnanya hijau?”
Pupil mata Qin Zhao berubah warna dan memperhatikan kedalaman laut hingga ke dasarnya.
“Sampai ke dasar laut, aku tidak menemukan keberadaan makhluk hidup di dalamnya.” Qin Zhao merasa alam dimensi yang diberikan Kael merupakan alam kekosongan yang harus ditatanya sendiri.
“Sepertinya harus aku sendiri yang menentukan penghuni alam ini,” gumamnya.
Berada di atas permukaan air laut membuat Qin Zhao teringat pada momen dirinya terjatuh begitu keluar dari pesawat yang membawanya.
“Kebetulan aku ingin belajar berenang di dalam air,” ucapnya seketika. “Qinzu, tunggu aku di sini!”
Qin Zhao melompat terjun dan menirukan gerakan ikan dengan menggoyangkan kedua kaki yang dirapatkannya ke kanan dan ke kiri.
Hanya itu yang ia tahu soal berenang di dalam air. Meski terlihat lucu gaya berenangnya itu, tetapi gerakannya mampu membawa tubuhnya menyusuri kedalaman lautan.
“Yuhuuu!” Qin Zhao memutar tubuhnya di dalam air.
Setelah merasa cukup puas berada di kedalaman laut, Qin Zhao kembali ke permukaan dan melompat menaiki Qinzu.
“Kawan, aku sekarang bisa berenang,” ucapnya mengabari. “Ayo lanjutkan penjelajahan kita!”
Setelah hampir seluruhnya terjelajahi, Qin Zhao memutuskan untuk melanjutkan pelatihannya. Namun sebelum itu, ia temui Goziro yang sedang mengipasi keempat anaknya.
“Kau tidak perlu lagi mengorbankan energi dan tubuhmu untuk membesarkan mereka. Aku akan mencari cara untuk itu,” kata Qin Zhao merasa iba melihat monsternya kesusahan sendiri.
“Terima kasih, Tuan,” balas Goziro senang.
Kali ini Qin Zhao berlatih di atas puncak bukit tertinggi.
Dengan memakai pedang warisan, ia mencoba untuk menaikkan level jurus “Pedang Gerbang Timur” ke tingkat berbeda.
Caranya menggenggam pedang tidak lagi bertumpu pada pergelangan tangan. Ia ingin gerakan pedang lebih fleksibel dalam melancarkan serangan maupun bertahan.
Berbagai variasi gerakan ia peragakan dan dimodifikasinya sampai mendapatkan pemahaman yang berbeda.
“Semua ini tidak berarti apa-apa sampai aku mendapatkan lawan bertarung untuk mengetahui efektifitasnya,” ucapnya mengakhiri sesi latihan, lalu melanjutkan dengan mendalami ilmu warisan lainnya.
Karena bukan seorang kultivator, semua warisan dari leluhurnya hanya sekitar dua puluh persen yang berguna untuknya, dan itu pun sebatas teknik pertarungan.
Untuk teknik ilusi dan formasi tidak bisa digunakannya, sementara teknik alkimia tidak menjadi daya tarik oleh sebab tidak benar-benar merasa diperlukan, sedangkan ia sendiri masih menyimpan banyak pil kultivasi.
Qin Zhao berdiri sambil menutup mata di atas puncak bukit.
“Belajar tanpa guru memang susah, tetapi aku akan belajar dari pengalaman,” ucapnya bertekad.
Setelah itu, ia memanggil Qinzu dan menghampiri Goziro.
“Pelatihanku kali ini sudah cukup. Terima kasih atas bantuanmu, Nyonya Goziro,” kata Qin Zhao seraya mengusap lembut wajah si monster.
Qin Zhao kembali ke tempatnya di atas lempengan batu. Ia dikejutkan dengan banyaknya makanan yang tersaji.
“Nyonya, apa kau yang membawakan semua ini?” tanya Qin Zhao melalui transmisi suara.
“Betul, Tuan. Setiap hari aku sendiri yang akan mengantarnya untuk Tuan,” sahut Zhi Ruo di tengah kesibukannya menyeleksi para calon pekerja.
“Tapi kenapa ada arak? Aku kan masih kecil.”
“Kecil?” protes Qin Zhao.
Zhi Ruo bingung. Setahunya Qin Zhao sudah berada di usia 20-an.
“Maaf, Tuan. Ke depannya tidak akan aku bawakan arak lagi. Apa Tuan ingin memesan sesuatu?”
“Bawakan kembang gula sama kue ya!”
Seketika kening Zhi Ruo mengerut, sementara Qin Zhao begitu lahap menghabiskan semua makanan yang tersaji di hadapannya.
“Ah, sudah lama aku tidak makan enak,” ucapnya setelah menghabiskan semuanya.
Setelah itu, ia aktifkan mata penjelajah dan melihat aktivitas di Paviliun Hitam yang dipenuhi oleh orang-orang yang melamar pekerjaan.
“Wah, banyak pelamar yang datang!” Qin Zhao senang melihatnya.
Qin Zhao kemudian mengedarkan penglihatannya menyusuri setiap area di luar wilayah Gerbang Timur.
Aku ingin tahu kemampuan penglihatanku sampai mana, pikirnya seraya terus memperluas jangkauan hingga memasuki wilayah Kota Feiyun.
“Kembang gula!” Wajah Qin Zhao memerah begitu melihatnya. “Apa aku bisa mengambilnya?”
Seperti sebelumnya ketika ia menjitak kepala seorang wanita sampai membuatnya hancur, Qin Zhao mencoba mengambil setusuk kembang gula melalui pikirannya.
“Eh berhasil!” serunya lalu melahap sebiji kembang gula.
Beruntungnya, si penjual tidak menyadari jika satu tusuk kembang gula miliknya telah hilang.