Novel ini adalah sekuel dari Novel My Secret Agent yang mengisahkan tentang Fey dan Gian.
Novel The Best Sniper, akan membahas mengenai Ryuga, putra pertama Fey dan Gian yang mengikuti jejak sang Ibunda yang berkarier di dunia Agen Rahasia.
Tak hanya membahas tentang karier cemerlang dari Ryuga, namun juga akan membahas perjalanan cinta dari si Pemimpin Pasukan Agen Rahasia.
Selain tokoh Ryuga, Author juga akan membahas tentang dua tokoh lain yaitu adik kandung Ryuga dan juga sahabat - sahabat yang kocak dan tengil. Mereka tentu akan ikut mewarnai kisah hidup Ryuga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4. Pertemuan
"Ada masalah, Kak?" Tanya Bryan yang menghampiri Ryu di lapangan tembak dengan membawa dua botol minuman dingin. Ia lalu melemparkan satu botol minuman pada Seniornya itu.
"Gak ada, cuma gak bisa tidur aja." Jawab Ryu. Ia kemudian menghampiri Bryan dan duduk di sebelahnya.
"Seisi markas juga tau, kalo Kak Ryu tiba - tiba di sini tanpa ada jadwal latihan, pasti karena ada sesuatu yang mengganggu." Kata Bryan yang membuat Ryuga terkekeh.
Sejak dulu, kedekatan dan kekompakan para Agen Rahasia memang tak perlu di ragukan lagi. Agen Rahasia adalah rumah dan keluarga kedua mereka. Kedekatan mereka bukan hanya sebagai rekan, tetapi seperti saudara yang dilahirkan dari rahim yang sama.
"Gak ada apa - apa." Kata Ryu meyakinkan.
"Beneran?" Tanya Bryan dengan tatapan penuh selidik. Ia tentu tak percaya begitu saja dengan jawaban Seniornya.
"Sebenernya ada sesuatu yang lagi gue pikirin." Kata Ryu.
"Ada pesan masuk dari nomor asing yang ngajak gue ketemuan di Cafe." Cerita Ryu.
"Bukannya hal kayak gitu biasa, ya? Mungkin orang yang lo kenal, Kak." Komentar Bryan yang di jawab gelengan oleh Ryu.
"Kalau pesan itu masuk ke sim card biasa, gue pasti gak akan kepikiran. Masalahnya, ini pesan masuk ke sim card khusus." Kata Ryu yang membuat mata Bryan langsung terbelalak.
"Serius? Gimana bisa ada pesan masuk selain dari orang dalam kita? Itupun gak semua orang dalam kita tau nomor sim card khusus." Cerocos Bryan.
"Nah, lo jadi bertanya - tanya, kan? Sama, gue juga dari tadi gitu." Kata Ryu.
"Terus, gimana, Kak?" Tanya Bryan.
"Ya mau gue temuin lah, gue panasaran." Jawab Ryuga yang kemudian beranjak dari tempatnya duduk.
"Gue ikut dong, Kak. Gue udah selesai jaga kok." Kata Bryan yang juga penasaran.
"Gak usah, tidur aja, sana." Sahut Ryu.
"Ah! Pelit banget lo, Kak. Kalo ada apa - apa kan, seenggaknya lo gak sendirian." Bujuk Bryan.
"Emang kenapa kalo sendirian? Sendirian juga gue gak takut." Jawab Ryu sambil terkekeh.
"Ish! Kak Ryu!" Seru Bryan yang terus mengekori Ryuga.
Pada akhirnya, Ryuga pun turut membawa Bryan yang sedari tadi terus membujuk Ryu dengan berbagai macam rayuan hingga wajah memelasnya. Sebenarnya, Ryu tak keberatan sama sekali jika Bryan ikut, ia memang sengaja menjahili Bryan yang sudah terlanjur penasaran.
Pukul delapan pagi, mereka berdua pun pergi dari Markas dengan menggunakan mobil milik Bryan. Keduanya mampir sarapan di salah satu warung nasi uduk langganan mereka, sebelum menuju ke Cafe tempat Ryu berjanji untuk bertemu.
"Lo gak bilang sama Sir El dulu, Kak?" Tanya Bryan saat mereka sampai di Cafe.
"Enggak." Jawab Ryu.
"Eh! Nanti kalo ada apa - apa, gimana?" Tanya Bryan yang menahan tangan Ryu saat Seniornya itu hendak turun dari mobil.
"Kan gue gak sendiri." Jawab Ryu yang kemudian turun dengan memakai topi dan masker.
"Buset! Emang agak lain orang itu. Heran gue, sama pola pikirnya." Kata Bryan yang kemudian segera turun dari mobilnya dan menyusul Ryu ke dalam Cafe.
Sesampainya di Cafe, Ryu dan Bryan pun duduk di tempat terpisah, namun tak terlalu jauh agar Bryan bisa terus mengawasi pergerakan Ryu dan orang yang akan menemuinya,
Berbeda dengan Ryu yang tampak sangat santai, Bryan justru terlihat lebih gelisah. Selain penasaran, ia juga tentu merasa was - was. Takut sesuatu yang buruk akan menimpa Seniornya.
Bryan selalu mendongak penuh harap setiap ada pengunjung cafe yang masuk. Tentu saja, ia tak sabar menunggu kedatangan tamu Ryuga. Sementara Ryuga masih terlihat santai sembari sesekali melihat jam yang melingkar di tangannya.
"Sumpah ya, cuma pake kaos, jaket sama celana gitu doang bisa ganteng banget." Kata Bryan yang kali ini justru salah fokus saat menatap ke arah Ryuga yang tampak bersinar.
Tak hanya Bryan, beberapa pengunjung dan staf cafe pun kerap kali mencuri pandang ke arah Ryuga yang tampak sangat mempesona dengan wajah tampan dan gaya santainya.
Saat sedang tak fokus itu, tiba - tiba ada orang yang langsung duduk di hadapan Ryuga. Bryan sendiri sempat tak berkedip saat melihat orang yang tiba - tiba duduk di depan Ryuga.
"Lah, kesini mau ngedate? Gue di bohongin?" Batin Bryan saat melihat seorang wanita cantik duduk di depan Ryuga.
"Cantik banget, gila! Tapi, kapan Kak Ryu deket sama cewek? Kok gak bilang sama kita - kita? Apa dia sengaja mau pamer sama gue?" Batin Bryan lagi.
Sementara itu, Ryu sedikit menegakkan duduknya ketika tamunya datang. Ia menatap penuh selidik ke arah wanita cantik yang terlihat sporty itu. Tak jauh berbeda dengannya, wanita itu tampak sangat santai saat berhadapan dengannya.
"Gue gak salah orang, kan?" Tanya Wanita itu sambil menuliskan kode Agen milik Ryu di kertas note yang ia bawa.
Ryu tersenyum sambil meremas kertas kecil itu dan menyimpannya di dalam saku jaketnya. Ia pun mengangkat kedua alisnya sebagai kode kalau apa yang di tulis oleh wanita itu benar.
"Gak apa - apa, kita disini?" Tanya Wanita itu.
"It's O.K." Jawab Ryuga.
Namun, wanita itu seperti tak percaya begitu saja. Ia meraba bagian bawah meja dengan gayanya yang anggun. Namun, tiba - tiba gerakannya terhenti oleh tangan Ryuga yang menahannya di balik meja.
"Gak ada apa - apa, gak usah khawatir. Gak ada alat apapun di meja ini." Kata Ryuga yang kemudian melepaskan tangan wanita itu sambil tersenyum tipis. Sangat tipis hingga hampir tak nampak.
"Langsung aja ke intinya. Waktu gue gak banyak, nona Gladys." Kata Ryuga kemudian.
Ternyata, ia sudah mengetahui nama wanita itu. Tak hanya nama, ia pun tau profesi dari wanita itu dan tak terkejut jika ternyata Gladys yang menghubunginya.
Gladys pun tersenyum. Nampaknya ia juga tak terkejut jika Ryuga mengenalnya, karena mereka memang pernah beberapa kali bertemu di pertemuan khusus, meskipun tak saling bicara.
Gladys adalah salah satu anggota agen intel dari BIN. Sama dengan Agen Rahasia, identitas asli Gladys dan beberapa rekannya yang bekerja di bawah divisi yang sama pun dirahasiakan.
"Ada pekerjaan yang harus kita lakukan secara rahasia." Gladys memulai tugasnya.
"Kenapa gak melalui Pimpinan?" Tanya Ryuga.
"Sir El udah tau. Dan beliau yang minta gue harus langsung menyampaikan ke lo." Jawab Gladys yang berbicara santai dengan Ryu.
"Kenapa gue?" Tanya Ryu.
"Gue juga gak tau alasan pastinya. Gue cuma ngejalanin apa yang di tugasin ke gue dan gue harap, lo gak mempersulit tugas gue." Kata Gladys sambil menatap ke arah Ryu.
Tatapannya terlihat sangat tegas dan mengintimidasi. Namun, Ryu tampak santai dan tetap tenang menghadapi wanita di depannya. Tentu, ia sama sekali tak terpengaruh dengan tatapan intimidasi dari wanita di depannya itu.
Ryu kemudian mencondongkan tubuhnya ke arah Gladys hingga nafas hangatnya terasa di kulit wajah Gladys. Ryu lalu menggeser gelas berisi minuman yang belum ia minum ke hadapan Gladys.
"Gue gak akan mempersulit pekerjaan, selama tujuan dan tugasnya jelas. Tentu, harus untuk kepentingan Negara." Lirih Ryu.
Gladys pun menggeser sedotan di dalam gelas itu ke arah bibirnya dan dengan santai menyeruput minuman yang di berikan Ryuga sambil menatap mata Ryuga. Gladys menunjukkan jika ia serius dan tak takut dengan ancaman apapun.
Melihat gerakan dan tatapan wanita di hadapannya, membuat Ryu menarik tubuhnya, lalu kembali bersandar di sandaran sofa.
Sementara itu di kursi lain, Bryan justru menutup separuh wajahnya dengan buku menu yang ada di meja. Ryu dan wanita itu seperti memiliki kedekatan yang cukup 'intim' di mata Bryan yang terus mengawasi gerak - gerik mereka.
"Bjir! Bener - bener ya, Kak Ryu. Bisa - bisanya dia pamer kemesraan di sini. Mana cantik banget lagi, pacarnya." Komentar Bryan yang tak mengalihkan pandangannya dari Ryu dan wanita yang bersama Seniornya.
abang cemburu berat ini 🤣
help 🤣🤣🤣🤣
lanjut kak author