NovelToon NovelToon
CAGE THE REBEL : MENJINAKKAN SANG PEWARIS IBLIS

CAGE THE REBEL : MENJINAKKAN SANG PEWARIS IBLIS

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:167
Nilai: 5
Nama Author: Senja_Puan

*Arsenio Yudhistira*, CEO muda yang memimpin Yudhistira Group dengan tangan besi, mewarisi karisma dingin dan reputasi intimidatif sang ayah. Tumbuh dalam dinasti yang kaku, Arsenio meyakini bahwa dominasi adalah kunci mutlak untuk menaklukkan segala hal—termasuk wanita.

Namun, superioritasnya goyah saat berhadapan dengan *Kiera*, seorang gadis pragmatis yang kebal terhadap pesona gelap sang tiran. Alih-alih terintimidasi oleh taktik posesif kaum elite, Kiera dengan blak-blakan justru menuntut realitas: menyodorkan kertas tagihan sewa tempat tinggalnya yang menunggak. Keangkuhan sang pewaris pun runtuh, memaksanya bertekuk lutut menjadi sosok yang penuh obsesi jenaka demi menjinakkan sang pemberontak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2. Vonis sang tiran

Detik itu juga, sisa-sisa es batu dari gelas Kiera meluncur pelan dari puncak hidung Arsenio, jatuh berdenting di atas lantai granit. Suara sekecil itu terdengar begitu nyaring di lobi Yudhistira Tower yang mendadak sunyi senyap. Tidak ada yang berani bernapas. Dua petugas keamanan di dekat pintu masuk bahkan mematung, membayangkan badai kiamat yang sebentar lagi akan meratakan gedung megah ini. Para resepsionis yang biasanya sibuk menerima telepon kini menggantung gagang telepon mereka begitu saja, menatap pemandangan di tengah lobi dengan mata membelalak horizontal.

"Kam—kamu..." Suara Arsenio keluar seperti desisan ular berbisa yang sedang sariawan.

Wajahnya yang biasa mulus tanpa cela—hasil perawatan rutin di klinik kecantikan kelas atas di Swiss—kini berlumuran cairan cokelat pekat. Bau kafein yang terlalu pekat dan manisnya susu sasetan murah menusuk hidungnya, memicu alarm kepanikan di dalam otaknya yang mengidap *germaphobe* akut. Namun, di atas rasa jijiknya yang luar biasa terhadap bakteri, ego raksasa sang CEO jauh lebih terluka. Bagaimana bisa seorang Arsenio Yudhistira, pusat semesta, mahakarya visual ciptaan Tuhan yang paling sempurna, ditumbangkan secara tragis oleh gadis yang penampilannya mirip gembel premium?

Kiera, yang masih setengah terlungkup di atas dada bidang pria itu, mengerjapkan mata beberapa kali. Alih-alih langsung menangis ketakutan atau meminta maaf dengan histeris seperti perempuan di drama televisi, otak Kiera yang magang di bagian lambe turah malah merespons hal lain terlebih dahulu.

*Wah, dadanya keras juga. Minimal rajin nge-gym dua puluh jam sehari ini mah. Berasa meluk tembok beton,* batin Kiera dalam hati. Begitu sepasang matanya menangkap tatapan sehitam legam milik Arsenio yang memancarkan aura ingin memutilasi orang saat itu juga, Kiera buru-buru menyengir lebar, menampilkan barisan giginya yang rapi tanpa dosa.

"A-Astagfirullah! Maaf, Mas! Saya benar-benar tidak sengaja! Lagian Masnya juga sih, jalan kok tegak banget kayak penggaris besi, kan saya jadi gak kelihatan!" ceplos Kiera tanpa saringan sama sekali.

Arsenio membelalakkan mata hingga rasanya mau keluar. *Dia memanggil saya MAS?! Dan dia menyalahkan SAYA?! Di gedung SAYA sendiri?!*

"Singkirkan tubuh kotormu dari atas saya sekarang juga!" bentak Arsenio, suaranya bergetar hebat menahan murka yang sudah siap meledak.

Dengan gerakan serampangan dan panik, Kiera buru-buru berusaha bangkit berdiri. Namun, karena telapak tangan Kiera sudah kepalang licin terkena tumpahan es kopi, ia sempat kehilangan tumpuan di atas dada Arsenio. Secara tidak sengaja, lutut kanannya menekan kuat perut *sixpack* Arsenio yang terbalut kemeja basah.

*BRUK!*

"Ugh!" Arsenio mendesis tertahan, matanya hampir memutih karena pasokan oksigennya terhenti sesaat.

"Eh, maaf keteken! Tapi jujur ya Mas, perutnya keras banget. Lumayan buat nahan shockbreaker motor," tambah Kiera dengan polosnya saat akhirnya ia berhasil berdiri tegak dengan kedua kaki yang agak gemetar.

Setelah berhasil berdiri, Kiera baru bisa melihat dengan jelas kekacauan besar yang baru saja ia perbuat. Tas kainnya robek total di bagian bawah, membuat seluruh isinya berhamburan tak bersisa. Sebuah map cokelat miliknya kini mengambang mengenaskan di atas genangan kopi instan. Namun, pemandangan paling luar biasa dan mengerikan tetaplah pria yang kini sedang bangkit berdiri dengan keanggunan yang dipaksakan.

Arsenio berdiri tegak, berusaha setengah mati mempertahankan harga dirinya yang sudah terjun bebas ke inti bumi. Setelan jas Tom Ford ratusan juta miliknya benar-benar hancur. Kemeja putihnya yang biasa kaku kini menempel lekat di kulit karena basah kuyup, mencetak bentuk tubuh atletisnya dengan sangat jelas.

"Tisu! Ambilkan saya tisu antiseptik sekarang juga!!" raung Arsenio ke arah jajaran stafnya yang masih mematung.

Mendengar bentakan itu, sekretaris pribadinya langsung berlari kencang bagai atlet sprinter yang sedang mengejar medali emas Olimpiade. Ia menyodorkan sebotol cairan pembersih tangan harian dan seonggok tisu steril dengan tangan gemetar. Arsenio menyambarnya dengan kasar, lalu mulai menggosok wajah tampannya dengan gerakan kalap dan penuh denda.

"Kamu tahu siapa saya?!" desis Arsenio tajam, menunjuk wajah Kiera dengan jarinya yang gemetar karena higienitasnya dinodai oleh rakyat jelata. "Saya Arsenio Yudhistira! Dunia ini berputar karena saya yang mengizinkannya! Dan kamu... kamu baru saja menodai aset negara!"

Kiera menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal. Alih-alih gemetar mendengar nama besar itu, Kiera justru menatap noda kopi yang melebar di jas Arsenio dengan ekspresi menilai. Maklum, sebagai warga biasa yang tidak pernah membaca koran bisnis, nama "Arsenio Yudhistira" terdengar seperti nama tokoh fiksi ilmiah atau nama model jam tangan di matanya. Kiera sama sekali tidak menyadari kalau pria tinggi, tampan, dan super galak di hadapannya ini adalah CEO pemilik takhta tertinggi di gedung tempat ia melamar kerja.

"Ya maaf, Pak Arsenio. Saya tahu saya salah. Tapi kalau dipikir-pikir dengan kepala dingin, noda kopinya artistik kok. Kayak motif abstrak baju-baju desainer di Paris Fashion Week. Eksklusif, cuma ada satu di dunia dan Bapak yang pakai."

"Kamu bercanda?!" Arsenio hampir berteriak, suaranya naik satu oktav. Napasnya memburu cepat. Ego NPD (*Narcissistic Personality Disorder*)-nya menolak keras untuk terlihat kalah atau diledek oleh manusia remah rengginang seperti gadis di hadapannya ini. "Jas saya ini harganya bisa buat beli franchise kopi yang kamu tumpahin tadi beserta seluruh ruko-rukonya di Jakarta! Bahkan jika kamu menjual seluruh organ tubuhmu hari ini, kamu tidak akan pernah mampu membayar sepotong kain yang sudah kamu kotori ini!"

Kiera mencibir pelan, bibirnya maju beberapa senti. Ia berbisik, namun sayangnya suaranya terdengar cukup jelas di keheningan lobi. "Hih, sombong amat. Paling juga kalau dicuci pakai sabun colek dan dikucek dikit noda kopinya langsung hilang. Lagian kalau organ tubuh saya dijual, malah bisa buat beli gedung ini beserta isinya tahu. Ginjal sekarang harganya mahal di pasar gelap, Pak."

"Apa kamu billing?! Coba ulangi?!"

Mata Arsenio berkilat penuh amarah, memandang jijik ke arah gadis asing yang tidak tahu sopan santun ini. Baginya, perempuan di hadapannya ini hanyalah penyusup atau orang asing tersesat yang merusak harinya yang sempurna. Tidak terlintas sedikit pun di benak sang CEO bahwa gadis berantakan ini adalah salah satu kandidat yang terjadwal bertemu dengannya hari ini.

Kiera melirik jam tangan murahnya yang melingkar di pergelangan tangan, lalu menghela napas panjang yang terdengar sangat kentara. Wajahnya mendadak berubah datar dan lelah. Debat kusir dengan pria asing yang gila hormat ini mulai terasa membuang-buang waktu yang sangat berharga untuknya.

"Aduh, Pak, maaf banget ya. Saya sebenarnya mau-mau aja sih dengerin Bapak pamer kekayaan dan ngamuk-ngamuk ala drama fiksi sampai sore. Tapi sayangnya, jadwal saya hari ini padat sekali. Ada hal yang jauh lebih penting di hidup saya daripada ngeladenin ego raksasa Bapak yang lagi tantrum kayak anak TK," potong Kiera dengan nada sesantai mungkin.

Arsenio melotot sempurna, pasokan napasnya tertahan di tenggorokan karena syok. "Hal... lebih penting? Kamu meremehkan saya?!"

"Iya, penting banget. Berkas saya udah hancur kebanjiran kopi gara-gara tabrakan tadi, jadi saya harus buru-buru pergi buat urusan saya. Lagian saya gak betah lama-lama di sini, belum kerja aja udah disuguhin bapak-bapak galak yang gak ramah lingkungan," sahut Kiera telak, tanpa ada rasa takut sedikit pun.

Sambil mengabaikan wajah Arsenio yang mulai memerah padam seperti kepiting rebus yang siap dihidangkan, Kiera merogoh kantong jaket denimnya yang longgar. Ia mengeluarkan selembar kertas putih kecil yang agak lecek—sisa kertas coretan acak dari tasnya—lalu dengan cepat menuliskan deretan angka menggunakan pulpen yang untungnya masih selamat dari tragedi tumpahan kopi tadi.

*SREKK!*

Kiera melangkah maju dua langkah, mendekati tubuh Arsenio yang masih mematung karena amarah. Dengan berani, ia menyelipkan kertas putih kecil itu langsung ke dalam saku kemeja basah Arsenio, tepat di bagian dada.

"Ini nomor telepon saya. Sebagai bentuk tanggung jawab karena saya bukan pengecut yang suka lari dari masalah, silakan hubungi kalau Bapak beneran mau minta ganti rugi cuci jas atau apa pun itu. Tapi tolong dicicil ya Pak, jangan langsung minta seharga ruko, saya bisa miskin mendadak tujuh turunan," ucap Kiera tenang. "Ya sudah, saya duluan ya Pak Arsenio yang terhormat. Permisi!"

Tanpa menunggu jawaban atau makian lanjutan dari pria itu, Kiera membungkuk cepat, memungut sisa tas kainnya yang robek beserta map cokelatnya yang basah tanpa membiarkan Arsenio melihat apa isinya, lalu berbalik dan melenggang pergi meninggalkan lobi dengan langkah santai. Kiera melangkah keluar gedung dengan terburu-buru, berniat mencari tempat fotokopi terdekat untuk mencetak ulang berkas lamarannya agar tidak terlambat menghadiri wawancara penting dengan 'CEO Yudhistira Group' yang kabarnya sangat menakutkan itu.

Arsenio mematung di tempatnya berdiri selama hampir dua menit penuh. Rahangnya jatuh sejatuh-jatuhnya. Untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupnya yang bergelimang kemewahan dan kekuasaan, seorang gadis asing baru saja mencampakkannya begitu saja di depan umum, meninggalkannya dalam kondisi basah kuyup berlumuran kopi murah hanya demi selembar kertas lecek.

 

Satu jam kemudian, di dalam kamar bilas privat super mewah milik sang CEO yang terletak di lantai teratas Yudhistira Tower.

Arsenio tidak berhenti menggerutu sejak pertama kali ia menginjakkan kakinya di ruangan berlantai marmer Italia tersebut. Suara gerutuannya yang penuh emosi bahkan mengalahkan gemercik air hangat dari *shower* berlapis emas murni di kamar mandi tersebut.

"Bisa-bisanya... berani-beraninya gembel premium itu memperlakukan saya seperti itu?!" gerutu Arsenio dengan nada tinggi sambil menggosok lengan kanan dan kirinya menggunakan spons mandi sampai kulitnya memerah, merasa masih ada kuman imajiner dari kopi murah yang menempel di tubuh sucinya.

"Dia pikir dia siapa? Berani sekali dia bilang ada hal yang jauh lebih penting daripada mendengarkan saya?! Saya ini Arsenio Yudhistira! Pusat perhatian semua orang! Mahakarya visual!" pekiknya kesal pada dinding kamar mandi yang bisu.

Ia keluar dari kamar mandi dengan handuk putih bersih berbahan katun mesir yang melilit pinggangnya, lalu berjalan mondar-mandir di atas karpet beludru abu-abu sambil terus mengomel panjang pendek, seolah sedang merapalkan mantra kutukan kuno untuk Kiera. Ego NPD-nya benar-benar tercabik-cabik dan ternoda karena diremehkan oleh seorang wanita yang bahkan mengenakan jaket denim kusut dan celana jins robek.

Setelah mengenakan setelan jas pengganti berwarna hitam pekat yang tidak kalah mahal dari jas Tom Ford sebelumnya, Arsenio duduk di kursi kebesarannya dengan rahang yang masih mengatup rapat. Amarahnya masih berada di puncak menara tertinggi.

*TOK! TOK! TOK!*

Pintu ruang kerja yang besar itu terbuka lambat, menampilkan wajah cemas dan pucat dari sang sekretaris pribadi yang membawa sebuah map dokumen tebal di dadanya.

"M-maaf mengganggu waktu Anda, Pak Arsenio. Sesuai dengan jadwal yang sudah diatur dengan matang sejak seminggu yang lalu, hari ini ada agenda wawancara langsung untuk para kandidat kepala administrasi" lapor sekretaris itu dengan suara super pelan, sangat takut jika suaranya akan memicu ledakan bom waktu yang sedang tertahan di dada sang bos.

Arsenio menggebrak meja kerjanya yang terbuat dari kayu jati kuno dengan pelan namun tegas, membuat sekretarisnya tersentak kaget di tempat. "Tunda! Batalkan semua jadwal wawancara hari ini! Mood saya sudah hancur berantakan gara-gara makhluk sialan yang ada di lobi tadi! Saya tidak mau melihat muka siapa pun untuk hari ini!"

"T-tapi Pak, kandidat pertama yang lolos seleksi berkas administrasi sudah menunggu di ruang tunggu sejak satu jam yang lalu. Ini berkas profil dan CV lengkapnya..." Dengan tangan yang gemetar hebat, sekretaris itu memberanikan diri meletakkan map profil di atas meja kerja Arsenio, sengaja membukanya agar sang bos bisa langsung melihat halaman pertama dokumen tersebut.

Arsenio mendengus kesal, sudah membuka mulutnya lebar-lebar siap membentak sekretarisnya agar segera keluar dari ruangan. Namun, saat sepasang matanya tak sengaja turun dan menangkap sebuah foto formal berukuran 4x6 yang tertempel rapi di pojok kanan atas kertas berkas tersebut, kata-kata makiannya mendadak tertelan kembali di tenggorokan.

Di foto berlatar belakang merah itu, tampak seorang gadis dengan rambut yang kali ini disisir sangat rapi dan mengenakan kemeja formal putih yang kancingnya terpasang sempurna sampai ke atas. Wajah di foto itu tersenym manis dan anggun ke arah kamera, namun Arsenio tidak akan pernah bisa melupakan struktur wajah, bentuk mata yang bulat, dan aura menyebalkan dari gadis yang baru saja menyiramnya dengan kopi dan mencampakkannya di lobi satu jam yang lalu.

Di bawah foto itu, tertera sebuah nama dengan jelas:

**Nama: Kiera Anandita**

**Posisi yang Dilamar: Kepala Administrasi**

Arsenio menatap foto dan nama itu lekat-lekat tanpa berkedip. Amarah yang tadinya membakar dadanya hingga mendidih mendadak surut seketika, digantikan oleh rasa puas dan gembira yang luar biasa mendebarkan di dalam hatinya. Perlahan tapi pasti, sebuah senyuman *smirk* yang penuh kelicikan dan kepuasan absolut menghiasi wajah tampannya yang kini sudah kembali bersih dan segar. Dunia ternyata berputar terlalu cepat di bawah kendalinya, dan mangsa yang paling ia cari baru saja berjalan masuk sendiri dengan sukarela ke dalam kandang singa yang lapar.

"Panggil dia masuk ke ruangan saya sekarang juga," desis Arsenio lambat-lambat dengan suara baritonnya yang berat, sementara jemari kanannya mulai mengetuk permukaan meja kayu dengan ritme yang lambat namun mematikan. "Biar saya sendiri yang turun tangan untuk mewawancarainya langsung."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!