NovelToon NovelToon
Love Mercenary Killer

Love Mercenary Killer

Status: tamat
Genre:Mafia / Cinta pada Pandangan Pertama / Tamat
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: bgreen

Penculikan yang salah berujung pada malam panas. Lalu, wanita menghilang. Obsesi sang pembunuh bayaran dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bgreen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25

Malam itu, suasana di dalam kamar utama terasa hening dan hangat. Cahaya lampu redup menerangi ruangan luas itu, menciptakan bayangan lembut di atas dinding. Setelah memastikan Reith — atau yang sering dipanggil Rey — terlelap dalam tidurnya di kamar sebelah, Rex kembali masuk dan menutup pintu perlahan agar tidak menimbulkan suara.

Maple sedang duduk di tepi tempat tidur, memandang ke luar jendela kaca yang memperlihatkan taman yang remang-remang diterangi lampu taman. Mendengar langkah kaki Rex, ia menoleh dan menghela napas panjang.

Rex berjalan mendekat, lalu duduk di sampingnya dan melingkarkan lengan kekarnya ke bahu wanita itu, menariknya mendekap ke dalam pelukannya.

“Besok aku akan pergi ke markas Zayn Smith,” ucap Rex memulai percakapan, suaranya rendah namun tegas. “Aku akan meminta pertolongannya untuk menempatkan pengawal tambahan di sini. Selama aku tidak ada, dia dan anak buahnya akan bertugas menjagamu dan Rey.”

Maple menegang sedikit, lalu mendongak menatap wajah pria itu. “Apa kau akan pergi setelah itu?”

Rex mengangguk perlahan, tatapannya menjadi tajam dan serius. “Ya. Malam itu juga, setelah segala sesuatunya siap, aku akan memimpin pasukan untuk menyerang markas Ordo Wolf dan keluarga Vandross. Kau dan Rey tidak bisa terus-menerus bersembunyi. Jika mereka masih hidup, mereka tidak akan pernah berhenti mencari kalian.”

Mendengar hal itu, dada Maple terasa sesak. Rasa bersalah yang selama ini ia pendam kembali meluap. Ia membenamkan wajahnya di dada bidang Rex, suaranya terdengar terguncang. “Rex… maafkan aku. Semua ini terjadi karenaku. Jika saja aku tidak kembali ke sini, jika saja aku tidak terlibat dalam urusan ini, kau dan Rey tidak akan berada dalam bahaya seperti ini.”

Rex mengangkat dagunya, memaksa Maple menatap matanya. Ia mengusap lembut pipi wanita itu dengan jemarinya yang kasar namun penuh kelembutan.

“Sst… jangan bicara seperti itu,” bisiknya lembut namun tegas. “Ini bukan salahmu. Sejak awal, mereka sudah memiliki niat buruk. Mereka memanfaatkanmu untuk mendapatkan tujuan mereka. Bahkan jika kau tidak ada, perseteruan ini tetap akan terjadi cepat atau lambat. Aku tidak bisa membiarkan mereka terus hidup dan mengancam orang-orang yang paling aku cintai.”

Tangan Maple memegang erat jas tidur Rex, seolah takut jika ia melepaskannya, pria itu akan lenyap begitu saja. “Aku takut, Rex… Aku sangat takut sesuatu terjadi padamu. Bagaimana jika mereka lebih kuat dari yang kita duga? Bagaimana jika…”

“Tenanglah,” potong Rex lembut, lalu mencium keningnya dengan lembut. “Aku sudah menghadapi bahaya yang jauh lebih besar selama bertahun-tahun. Kali ini pun aku akan baik-baik saja. Apapun yang terjadi, aku harus mengalahkan mereka agar kita bisa hidup dengan tenang — kau, aku, dan juga Rey. Kita berhak memiliki masa depan yang damai.”

Maple menggeleng pelan, matanya berkaca-kaca. “Berjanjilah padaku. Kau harus kembali dengan selamat. Jangan tinggalkan aku dan Rey sendirian. Kita baru saja bersatu kembali, jangan biarkan ini berakhir begitu saja.”

Rex tersenyum tipis, senyum yang hanya muncul untuk wanita ini. Ia meremas bahu Maple dengan mantap. “Aku janji. Aku akan kembali. Tidak ada yang bisa menghentikanku untuk pulang ke rumah ini, ke kalian berdua.”

Mereka berdua hanya berdiam diri dalam pelukan itu, menikmati kehangatan satu sama lain sebelum badai benar-benar melanda. Perlahan, rasa lelah mulai menguasai tubuh mereka, dan tanpa sadar keduanya terlelap dalam tidur yang gelisah namun didasari rasa percaya.

*

Pagi harinya, sinar matahari London yang agak redup menembus celah tirai jendela. Di ruang makan yang luas dan megah, suasana terasa lebih tenang namun tetap terasa ada beban yang mengambang di udara. Rey duduk di kursi tingginya, dengan semangat menyantap sarapannya sambil sesekali mengajukan pertanyaan tak berarti yang membuat Maple tersenyum kecil.

Rex duduk di ujung meja, sesekali menatap keluarga kecilnya dengan tatapan lembut yang jarang ia tunjukkan pada orang lain. Setelah menghabiskan sarapannya, ia meletakkan peralatan makannya dan berdiri.

“Aku harus berangkat sekarang,” ucapnya pelan.

Maple langsung berdiri dan mengantarnya ke pintu utama. Rex menunduk dan mengecup kening Maple dalam-dalam, sebagai tanda perpisahan sementara. Lalu ia berjongkok setinggi anaknya, menatap wajah polos Rey.

“Jaga dirimu dan Ibu baik-baik, Son. Jangan membuat masalah dan dengarkan apa yang dikatakan Ibu, oke?” pesan Rex lembut.

Rey mengangguk cepat, lalu memeluk leher ayahnya erat-erat. “Daddy juga harus hati-hati. Cepatlah pulang.”

“Pasti,” jawab Rex sambil mengelus kepala putranya.

Setelah berpamitan, Rex melangkah keluar dan masuk ke dalam mobil hitam yang sudah menunggu di halaman. Mobil itu melaju perlahan keluar dari gerbang besar, meninggalkan Maple yang berdiri memandang hingga kendaraan itu menghilang di ujung jalan.

*

Beberapa jam kemudian, Rex tiba di markas Zayn Smith — sebuah bangunan tua namun kokoh yang terletak di kawasan industri yang sepi di pinggiran kota. Zayn dikenal luas di dunia bawah London sebagai sosok yang dingin, kejam, dan tidak memiliki belas kasihan. Namun ia juga dikenal menjunjung tinggi janji dan rasa hormat pada mereka yang setara dengannya.

Begitu Rex masuk, Zayn sudah menunggunya di ruang kerja yang luas dan berbau asap cerutu.

“Kau datang lebih cepat dari yang kuduga,” ucap Zayn tanpa senyum, matanya tajam menatap Rex.

“Aku butuh bantuanmu, Zayn,” jawab Rex langsung pada intinya. “Malam ini aku akan menyerang Ordo Wolf dan keluarga Vandross. Selama aku tidak ada, aku ingin kau menempatkan pasukan terbaikmu untuk menjaga kediamanku. Aku tidak ingin ada celah sedikit pun bagi mereka untuk menyerang rumah dan mencelakai istri serta anakku.”

Zayn terdiam sejenak, meniupkan asap cerutunya perlahan. Banyak orang yang takut padanya, namun permintaan Rex bukanlah hal yang mudah. Menjaga keluarga seseorang berarti mempertaruhkan nyawa dan reputasi. Namun setelah menimbang, Zayn mengangguk mantap.

“Aku mengerti posisimu. Perseteruan ini sudah melibatkan kita semua,” ucap Zayn. “Baiklah, aku setuju. Aku akan mengirimkan lima orang pengawal terbaikku — mereka adalah orang-orang yang tangguh dan sulit dikalahkan. Selama mereka berada di sana, tidak ada penyusup yang bisa masuk tanpa izin.”

“Terima kasih,” ucap Rex singkat, tahu bahwa ucapan terima kasih lebih dari itu tidak diperlukan di antara mereka.

Setelah membahas rincian tugas, Rex segera kembali melaju menuju tempat pertemuan yang telah disepakati.

*

Sore hari menjelang malam, langit London berubah menjadi kelabu gelap. Di sebuah gudang tua yang terbengkalai, Rex bertemu dengan Orion Gordon dan pasukan inti yang telah dipersiapkan. Semua pria di sana mengenakan pakaian serba gelap, membawa senjata api dan pisau dengan rapi dan terlatih.

Orion melangkah mendekat, wajahnya serius namun tenang. “Semua sudah siap, Rex. Kami sudah memantau pergerakan mereka sejak pagi. Sebagian besar pasukan inti Ordo Wolf berkumpul di markas utama mereka di pinggiran kota. Mereka tidak menyangka kita akan menyerang malam ini.”

Rex mengangguk, matanya menyala dengan api kemarahan dan tekad. “Kita serang markas Ordo Wolf terlebih dahulu. Mereka adalah akar dari sebagian besar kekacauan ini. Setelah mereka lumpuh, kita lanjutkan ke kediaman utama keluarga Vandross. Ingat, tujuan kita bukan hanya mengusir, tapi memastikan mereka tidak bisa bangkit lagi.”

“Siap!” jawab semua orang serentak dengan suara rendah namun penuh semangat.

Mereka pun bergerak dalam kelompok-kelompok kecil menuju lokasi yang dituju, memanfaatkan kegelapan malam sebagai perlindungan.

*

Ketika jarum jam menunjuk pukul sebelas malam, suasana di sekitar kawasan hutan dan bangunan tua yang menjadi markas Ordo Wolf terasa sangat sunyi. Hanya terdengar suara angin yang berdesir di antara pepohonan.

Namun keheningan itu pecah seketika.

Suara tembakan pertama meledak memecah keheningan malam, diikuti oleh suara ledakan kecil yang menjatuhkan gerbang besi pembatas. Para penjaga yang sedang berjaga terkejut dan langsung bereaksi, namun mereka terlambat.

“Serang!” teriak Rex dengan suara lantang.

Baku tembak pun terjadi dengan cepat dan ganas. Suara dentuman peluru, teriakan, dan pecahan kaca bergema memenuhi area tersebut. Ordo Wolf memang memiliki pasukan yang banyak, namun mereka lengah dan tidak siap menghadapi serangan mendadak yang terorganisir dengan sangat baik.

Rex dan Orion memimpin pasukan dari depan, bergerak lincah dan terlatih menghindari serangan balik. Setiap langkah mereka terarah, setiap tembakan tepat sasaran. Namun di tengah keganasan pertempuran itu, pikiran Rex sesekali melayang pada Maple dan Rey — mengingatkannya bahwa ia harus tetap hidup dan kembali pulang.

Di dalam markas yang mulai terbakar dan hancur, pertarungan semakin mendekati ruang inti tempat para pemimpin mereka berkumpul. Perang baru saja dimulai, dan malam itu baru akan menjadi awal dari pertarungan terakhir yang menentukan nasib semua pihak.

Bersambung...

1
Nia Nara
Cepat yaa… express sekali 🤣
Nia Nara
Ceritanya bagus thor..
Mia Camelia
lanjut lagi thor🥰👍
perahu kertas
😯😯
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!