Harsa tak pernah membayangkan bahwa hari paling bahagia dalam hidupnya akan berubah menjadi luka yang tak akan pernah sembuh.
Di saat ia menanti kelahiran buah hatinya bersama sang istri tercinta, Nadin, takdir justru merenggut segalanya. Sebuah kecelakaan kecil di kafe menjadi awal dari tragedi besar. Nadin mengalami pendarahan hebat di usia kandungan sembilan bulan, memaksanya menjalani operasi darurat.
Di ambang hidup dan mati, Nadin tak memohon untuk dirinya sendiri.
Ia justru meminta sesuatu yang menghancurkan hati Harsa, memintanya untuk menikahi adiknya sendiri, Arsyi.
Demi putri mereka, Melodi.
Harsa menolak. Baginya, tak ada yang bisa menggantikan Nadin. Namun, permintaan itu menjadi wasiat terakhir sebelum Nadin menghembuskan napas terakhirnya.
Akankah, Harsa menepati janji pada wanita yang telah tiada atau justru mempertahankan hatinya pada masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Malam sudah lewat tengah ketika mobil itu akhirnya berhenti di halaman rumah. Dan Harsa turun dengan langkah yang tidak lagi stabil. Dari balkon lantai dua tepat di depan kamar Melodi, Arsyi berdiri diam. Tangannya mencengkeram pagar besi, matanya menatap ke bawah.
Keningnya langsung berkerut.
“Dia … mabuk?” gumamnya pelan.
Cara Harsa berjalan itu terlalu jelas. Langkahnya berat, tubuhnya sedikit oleng, bahkan untuk berdiri tegak pun ia harus menahan diri. Untuk beberapa detik, Arsyi hanya diam. Namun, ketika melihat Harsa hampir tersandung di dekat mobil hatinya bergerak. Tanpa berpikir panjang, ia berbalik dan bergegas turun. Langkahnya cepat menuruni tangga.
Di ruang bawah, Mbak Sari yang baru keluar dari dapur langsung terkejut melihat Arsyi.
“Bu Arsyi?”
Arsyi tidak berhenti. “Saya saja, Mbak. Biar saya yang bantu.”
Nada suaranya cepat, sedikit tegang.
Mbak Sari mengangguk, meskipun masih terlihat khawatir. “Iya, Bu.”
Arsyi melangkah menuju pintu depan. Tangannya sempat berhenti di gagang
Saat pintu terbuka, udara malam langsung masuk.
Harsa berdiri dan sedikit membungkuk, satu tangan bertumpu di pintu satunya. Napasnya berat, wajahnya pucat, dan matanya setengah terpejam.
Arsyi melangkah mendekat.
“Kak Harsa…”
Suara itu pelan namun cukup untuk membuat Harsa mengangkat wajahnya. Pandangan mereka bertemu. Namun, cara Harsa melihatnya sangat berbeda.
“Nadin…” gumam Harsa lirih.
Arsyi membeku, langkahnya terhenti. Matanya melebar sedikit.
“Akhirnya … kamu datang,” lanjut Harsa pelan, suaranya serak.
Arsyi tidak langsung menjawab, dadanya terasa sesak.
“Nadin…” ulangnya lagi.
Dan kali ini ia benar-benar berdiri di hadapan Arsyi. Tangannya perlahan terangkat, menyentuh pipi Arsyi.
“Kamu … beneran di sini,” bisiknya.
Arsyi memejamkan mata sejenak, sentuhan itu bukan untuknya dan itu terasa sangat jelas sentuhan untuk kakaknya yang sudah tiada.
“Kak Harsa…” suaranya pelan, bergetar, “ini aku, Arsyi.”
Namun Harsa menggeleng pelan. “Jangan…” katanya lirih. “Jangan bilang kamu akan pergi lagi…” Kalimat itu menghancurkan sesuatu di dalam diri Arsyi.
Matanya mulai berkaca-kaca namun ia menahannya.
“Kak…” ucapnya lagi, kali ini lebih tegas, “aku Arsyi.”
Harsa terdiam.
Namun, kesadarannya tidak cukup kuat untuk membedakan.
“Nadin…” bisiknya lagi.
Air mata Arsyi akhirnya jatuh. Menahan tubuh Harsa yang mulai kehilangan keseimbangan.
“Ayo masuk,” ucapnya pelan.
Harsa tidak melawan, dia justru sedikit bersandar pada Arsyi. Pada tubuh yang ia kira milik seseorang yang sudah tidak ada. Dengan susah payah, Arsyi membimbing Harsa masuk ke dalam rumah.
Langkah mereka pelan. Mbak Sari yang melihat dari dalam langsung mendekat.
“Ya Allah, Pak Harsa…” gumamnya.
“Ambil air hangat, Mbak,” ucap Arsyi cepat. “Dan handuk.”
“Iya, Bu!” Mbak Sari segera berlari ke dapur.
Sementara itu Harsa masih setengah sadar.
“Nadin…” panggilnya lagi, suaranya semakin lemah.
Arsyi tidak menjawab.
“Jangan pergi…” ucap Harsa lirih.
Arsyi terdiam, menatap tangan yang mencengkeramnya.
“Aku capek…” lanjut Harsa. “Jangan tinggalin aku lagi…”
Arsyi menggigit bibir bawahnya.
“Aku di sini,” jawabnya pelan.
“Kak … pelan,” bisiknya, berusaha tetap tenang meskipun hatinya bergetar.
“Nadin…” gumam Harsa lagi, suaranya semakin lemah.
Arsyi memejamkan mata sejenak. Lalu membukanya kembali. Mbak Sari kembali dari dapur dengan handuk dan air hangat.
“Bu, ini—”
“Tolong…” potong Arsyi pelan, “bisa bantu buka pintu kamar tamu?”
“Iya, Bu, iya.”
Mbak Sari segera berjalan lebih dulu, membuka pintu kamar tamu di lantai bawah.
Arsyi menuntun Harsa masuk. Langkah mereka tidak seimbang. Sesekali Harsa hampir jatuh, dan Arsyi harus menahannya dengan seluruh tenaga yang ia punya.
“Dikit lagi…” ucap Arsyi pelan. Akhirnya mereka sampai di tepi ranjang. Arsyi perlahan mendudukkan Harsa. Tubuh pria itu langsung terkulai. Kepalanya menunduk. Napasnya berat, Arsyi berdiri di depannya beberapa detik.
“Bu … airnya,” ujar Mbak Sari pelan, menyerahkan baskom kecil dan handuk.
Arsyi mengangguk. “Terima kasih, Mbak.”
Mbak Sari ragu sejenak. “Apa perlu saya bantu, Bu?”
Arsyi menggeleng perlahan.
“Tidak usah, saya saja.”
“Tapi—”
“Mbak,” potong Arsyi lembut, “tolong lihat Melodi di atas, ya.”
Mbak Sari langsung mengangguk. “Iya, Bu. Baik.”
Sebelum pergi, ia sempat menatap Harsa dengan khawatir, lalu kembali ke atas.
Pintu kamar tertutup.
Arsyi menarik napas panjang. Lalu berjongkok di depan Harsa.
“Kak … minum dulu,” ucapnya pelan. Ia mencoba menyodorkan air. Namun, Harsa hanya menggeleng lemah.
“Nggak mau…” gumamnya.
Arsyi menghela napas.
“Harus, biar mendingan.”
Ia mencoba lagi namun Harsa justru menepis pelan.
“Pusing…”
Arsyi menunduk sebentar, lalu mengangguk kecil.
“Ya sudah…”
Ia mengambil handuk, mencelupkannya ke air hangat, lalu memerasnya perlahan. Dengan hati-hati ia mengangkat wajah Harsa. Harsa terbaring di atas ranjang. Napasnya tidak teratur, sesekali tubuhnya bergerak gelisah.
Arsyi yang sempat hendak keluar akhirnya berhenti di dekat pintu. Entah kenapa kakinya tidak melangkah pergi. Ia menoleh, menatap kembali ke arah ranjang. Dan melihat Harsa seperti seseorang yang sedang berjuang di dalam tidurnya sendiri.
“Kak…” panggilnya pelan. Tidak ada jawaban. Namun, beberapa detik kemudian Harsa bergerak.
Alisnya mengerut. Tangannya terangkat sedikit seolah mencari sesuatu.
“Nadin…” gumamnya lirih.
Arsyi membeku, jantungnya berdegup lebih cepat. Ia menunduk sejenak. Namun langkahnya justru mendekat. Ia berdiri di sisi ranjang dan menatap wajah pria itu.
“Kak … ini aku,” ucapnya pelan, hampir berbisik. “Arsyi.”
Namun, Harsa menggeleng pelan dalam kondisi setengah sadar.
“Jangan pergi…” bisiknya.
Tangannya bergerak dan kali ini berhasil menggenggam pergelangan tangan Arsyi.
Arsyi terdiam.
Tatapannya jatuh pada tangan yang menggenggamnya.
“Aku capek…” lanjut Harsa, suaranya serak. “Aku … nggak kuat kalau kamu pergi lagi…”
Air mata Arsyi jatuh lagi, Harsa perlahan membuka mata.
“Nadin…” bisiknya lagi.
Dan kali ini ia menarik tangan Arsyi. Membuat Arsyi sedikit kehilangan keseimbangan. Tubuhnya condong ke depan. Hampir jatuh tepat di sisi Harsa.
“Kak…” suara Arsyi gemetar.
Namun Harsa tidak melepas, tangannya berpindah. Menahan, seolah takut kehilangan lagi.
“Jangan pergi…” ucapnya lirih.
“Kak … jangan…” bisiknya pelan.
“Kak…” panggilnya pelan.
Namun, tiba-tiba tangan Harsa bergerak. Menangkap pergelangan tangan Arsyi.
Arsyi terkejut. “Kak—”
Belum sempat ia menarik diri, tubuhnya sudah tertarik mendekat. Hampir jatuh di atas ranjang.
“Kak Harsa…” suaranya gemetar.
Namun, Harsa justru menatapnya. Dalam keadaan setengah sadar. Dengan mata yang tidak benar-benar melihatnya.
“Nadin…” bisiknya.
Arsyi membeku.
Semua tubuhnya terasa kaku.
“Aku kangen…” lanjut Harsa lirih, tangannya masih menahan Arsyi agar tidak menjauh.
Arsyi menggeleng pelan.
“Kak … ini aku—”
“Jangan pergi lagi…”
Satu kalimat itu membungkam semua penolakan. Arsyi mencoba menjauh. Tangannya berusaha melepaskan diri.
“Kak … jangan … ini salah…”
Namun, Harsa tidak benar-benar mendengar.
Atau tidak mampu memahami. Tangannya menahan, tubuhnya mendekat. Dan bibirnya terus berbisik kata-kata yang bukan untuknya.
“Aku cinta kamu, Nad…"Setiap kata menusuk.
“Kak … tolong…” suaranya semakin lemah.
Harsa mencengkeram wajah Arsyi dengan tangan kasar, bibirnya tak henti menekan bibir Arsyi yang memberontak lemah. Tubuh Arsyi bergetar, berusaha melawan namun kekuatan Harsa jauh lebih dominan.
"Lepaskan aku, Kak Harsa!" desis Arsyi, suaranya tercekik di tenggorokan, namun pria itu tak menggubris permohonannya. Di antara kecupan yang memaksa itu, terdengar lirih suara Arsyi yang merintih, penuh kepedihan dan ketakutan.
Tiba-tiba, Harsa berbisik dengan nada dingin, "Nadin..." Nama itu terucap begitu saja, menusuk kalbu Arsyi lebih dalam daripada apa pun. Air matanya mulai menetes, rasa sakit bukan hanya karena tubuhnya yang dipaksa, tapi juga karena sebutan nama perempuan lain.