Sabrina Maureen mati sebagai pembunuh bayaran.
Dia bangun… sebagai wanita hamil yang sedang sekarat.
Di dalam tubuh Sabrina Tanjung, pewaris konglomerat yang disekap kakaknya sendiri, dia tidak diberi waktu untuk memahami takdir barunya.
Bayinya lahir di lantai dingin. Darah mengalir. Dan kematian menunggu di depan pintu.
Tapi mereka lupa satu hal.
Dia bukan korban.
Dengan bayi di pelukannya, Sabrina melarikan diri dari neraka, hanya untuk jatuh ke tangan Adrianus Halim, sang taipan, pewaris imperium bisnis yang dingin, manipulatif, dan terbiasa mengendalikan segalanya.
Termasuk dirinya.
Adrian mengurungnya dalam pernikahan paksa.
Kakaknya menginginkan kematiannya.
Dan sindikat yang dulu ia layani… kini memburunya.
Semuanya terhubung.
Berkolaborasi untuk menghancurkannya.
Dunia mengira Sabrina akan tunduk.
Mereka salah.
Karena wanita ini pernah membunuh untuk bertahan hidup...
dan sekarang, dia punya alasan untuk menjadi lebih kejam.
Membunuh… atau kehilangan anaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3. Tangki Air
Tali pusar itu putus dengan satu sayatan presisi dari pecahan kaca.
Darah kental menyembur pelan. Merah gelap menodai pergelangan tangannya. Aroma besi seketika merajai udara sempit di bawah meja rias, mengalahkan bau apak debu pegunungan. Sabrina menjepit pembuluh daging berdenyut itu dengan telunjuk dan ibu jari kirinya, menahan aliran kehidupan di sana. Giginya menggigit sisa kawat karatan, melilitkannya rapat-rapat ke ujung tali pusar. Tarik. Ikat mati. Putus sudah jangkar fisik yang menyatukan mereka di liang lahir.
"Gue nggak mau mati konyol gara-gara cecunguk ini!" Teriakan Haryo membelah malam di luar sana. Hantaman sepatu bot ke pintu utama terdengar makin beringas. Engsel atas mulai berderit patah memisahkan diri dari kusen bata.
Bayi di pangkuannya menggigil hebat. Lemak verniks putih yang melumuri sekujur kulit merahnya mulai membeku diterpa angin gunung dari lubang ventilasi. Suhu tubuhnya merosot drastis. Hipotermia adalah malaikat pencabut nyawa paling efisien bagi anak yang lahir di atas lantai ubin kotor tak bertuan.
Sabrina butuh kain. Segera. Gaun sutranya hancur berantakan direndam cairan ketuban dan sisa pendarahan.
Sorot matanya menyapu gelapnya ruangan. Ada bayangan kain menjuntai tebal di atas kepalanya. Gorden beludru kotor menutup jendela kecil di samping meja rias. Sabrina meraih ujungnya kasar.
Brak! Rel kayunya rontok ke ubin. Kain lapuk seberat batu itu jatuh menutupi wajahnya, membawa ribuan partikel debu dan sarang laba-laba yang menusuk saraf hidung. Jangan bersin. Tahan.
Lilit. Bungkus bayinya cepat-cepat. Ia membenamkan tubuh mungil beralas beludru tebal itu tepat ke celah payudaranya. Transfer panas instan. Kehangatan kulit bertemu kulit menyulut insting mamalia dasar yang selama ini mati di dalam jiwa Maureen.
"Napas pelan, Jagoan," bisiknya nyaris tanpa suara. Bibir pucatnya mengecup dahi basah itu. "Kita main petak umpet sebentar."
BRAAAK!!
Daun pintu jati di seberang ruangan hancur berkeping. Menghantam dinding dengan suara memekakkan telinga. Dua sosok raksasa menyerbu masuk menembus kepulan debu sisa dobrakan. Senter halogen di genggaman mereka menyapu liar membakar kegelapan.
"Bangsat! Darah semua!" Pria kedua meludah jijik ke lantai. Cahaya kuning silau menyorot langsung genangan merah pekat tempat Sabrina bersalin beberapa detik lalu.
"Cari cepat! Belum jauh dia!" Ujung sepatu Haryo menendang tumpukan kursi kayu sampai hancur berantakan. "Nyonya Kania minta kepalanya malam ini juga! Kalau bayi itu masih hidup, Adrian Halim bakal ngulitin kita berdua pakai alat potong rumput!"
Waktu melarikan diri tersisa nol.
Otot paha Sabrina kebas total. Rahangnya mengatup rapat. Perlahan, dibantu sisa tenaga lengannya, ia menyeret bokongnya mundur. Menyusuri dinding berjamur menuju celah hitam lorong sempit di sayap kiri gudang. Kamar mandi. Ruangan itu tidak memiliki pintu, hanya lengkungan beton lembap yang menguapkan aroma pesing dan lumut busuk ke udara.
Tulang kemaluannya berderit nyeri setiap kali panggulnya bergeser mundur. Robekan jalan lahirnya bergesekan langsung dengan kerikil ubin tajam. Darah segar menetes lurus ke lantai, meninggalkan jejak seret memanjang bak lukisan iblis di belakang rute kaburnya.
"Periksa kolong ranjang! Bongkar lemarinya sekalian!"
"Licin banget lantai ini, asu! Hati-hati langkah lo!" Langkah bot mereka berderap menghancurkan sisa-sisa pecahan cermin di ruangan depan.
Sabrina tiba di ambang kamar mandi. Matanya beradaptasi memindai isi ruangan sempit itu. Ada kloset jongkok retak menempel di sudut tergelap. Tepat di atas kloset itu, terpasang sebuah tangki air plastik tua setinggi dada pria dewasa. Tutup bagian atasnya raib entah ke mana. Benda bulat itu dibiarkan bersandar menopang pada dua balok beton tebal peninggalan zaman kuli bangunan.
Posisinya menyempil nyaris menyentuh plafon. Sulit dijangkau sapuan cahaya lurus. Itu satu-satunya titik buta memadai.
Masalahnya, posisinya terlalu tinggi. Membutuhkan daya angkat otot inti ekstra. Sesuatu yang mutlak mustahil dilakukan oleh rahim perempuan yang baru memuntahkan bayi dengan status pendarahan aktif.
Pecahan kaca tajam ia selipkan aman ke balik bra renda kirinya. Dingin logam menusuk kulit dadanya. Tangan kanannya mencengkeram bibir penopang beton penuh tenaga. Memindahkan seluruh poros kekuatan pada satu tumpuan lengan.
Tarik napas dangkal. Kunci otot perut. Angkat badan.
Siksaan neraka tumpah merobek saraf tulang belakangnya. Rahimnya berkontraksi brutal menolak gaya gravitasi. Gumpalan darah hitam sebesar kepalan tangan lolos meluncur jatuh ke ubin berbunyi plap basah. Keringat asin membanjiri dahi. Visi matanya memudar putih sepersekon detik akibat merosotnya tekanan sirkulasi darah ke otak.
Naik. Harus naik atau mati dipenggal.
Lutut kanannya berhasil berpijak ke atas dudukan beton. Dorong pinggul ke atas. Ia melempar sisa bobot tubuhnya menyusup jatuh ke mulut tangki plastik berbau apak itu. Tangan kirinya memeluk bayinya sangat protektif, memastikan tidak ada benturan di kepala lunak sang anak.
Sempit. Dasar tangki berkerak keras lumut mati. Lututnya harus ditekuk rapat menekan ulu hati. Memaksa postur tubuhnya menyerupai posisi meringkuk janin di dalam rahim berdarah. Dinding plastik melengkung itu memeluk punggungnya erat.
"Cari ke arah belakang! Mana jejak larinya?!" Teriakan Haryo bergema memantul dari tembok. Senter menyala menyambar lubang pintu kamar mandi.
"Sini, Yo! Darahnya nyeret ke lorong sini nih!"
Langkah bot mendekat agresif. Bau tembakau kretek menyengat masuk menginvasi udara tipis di sekitar Sabrina. Dia menahan napas mutlak. Telapak tangan kanannya yang kotor membekap ringan hidung dan mulut bayi di dadanya, menyisakan ruang pertukaran oksigen setipis benang.
Sorot lampu halogen menyambar membabi buta ke ubin kotor kamar mandi.
"Setan. Genangan darahnya mandek di sini." Ujung sepatu bot Haryo menendang pinggiran kloset jongkok, menggetarkan dinding tangki air dari bawah kaki Sabrina. "Liat tuh, ada gumpalan daging jatuh. Menjijikkan."
"Plasentanya kali," pria kedua menyahut ngeri bergidik mundur. "Gila aja, ini cewek siluman? Pendarahan kayak orang disembelih begini masa bisa ngilang tembus tembok?"
"Senterin atas bak mandinya!" Belati panjang menggaruk dasar bak keramik yang pecah. Suaranya melengking menyayat gendang telinga di ruang gema.
"Kosong, Yo! Kering kerontang isinya cuman pasir doang."
"Jendelanya! Cek ventilasi angin atas bak itu!"
"Sempit banget ukurannya gila, mana muat buat bahu orang dewasa lewat?"
"Kacanya udah bolong itu, bego. Pasti dia maksa keluar lewat situ narik oroknya! Lo kira naluri betina kalau lagi kepepet nggak bisa gila?" Haryo berdecih membuang ludah. "Luar sana langsung tebing hutan jurang. Paling lari sepuluh meter terus mati nyungsep kehabisan darah dimakan babi hutan."
"Terus gimana kita bawa mayatnya ke Kania? Orang gila itu minta bukti kepala Sabrina."
"Keluar lo! Sisir ke bawah tebing pakai lampu lo. Cari sampai dapet bangkainya malam ini juga." Haryo mengusap wajah kasarnya frustrasi. "Halim itu maniak. Lo inget kasus saingan bisnisnya yang dicor hidup-hidup jadi pondasi jembatan tol pelabuhan? Gue nggak mau nyusul ke sana."
"Iya, iya, gue cari ke luar sekarang."
Sabrina mengunci rapat tulang rusuknya yang gemetar. Suhu malam merambat ganas dari balik plastik tangki. Ujung jari kaki telanjangnya mati rasa. Kebas tanpa respons motorik. Namun tepat di pusat letak jantungnya berdetak, bayi itu memancarkan panas memabukkan. Sebuah irama detak kencang menabrak kulit pucatnya berulang-ulang, menghidupkan mesin pembunuhnya yang sempat lumpuh.
Beban taktis terburuk sepanjang riwayat pembunuhan Maureen. Membawa bayi menangis di wilayah musuh sama dengan mengalungkan lonceng kematian.
Langkah sepatu berderap menjauh dari kamar mandi menuju luar halaman. Tapi Haryo tidak ikut keluar. Suara per pegas ranjang tua di kamar luar berderit keras memikul beban pantat pria itu.
Haryo membagi taktik penjagaan lapangan. Dia bertahan sentral di pusat gudang, memblokir satu-satunya jalur utama ke pintu luar. Preman ini bodoh, miskin teknik, tapi insting jalanannya merepotkan eksekusi senyap.
Sembari menahan posisi menekuk melipat perut, pelumas darah segar terus merembes keluar dari rahim Sabrina. Bau anyir berpusar pekat di ruang sempit mengalahkan aroma debu. Dia menelan ludah paksanya sendiri. Oksigen menipis drastis.
Di celah payudaranya, gorden tebal itu mendadak bergerak kasar.
Bayi ini mewarisi DNA dominan arogansi Adrianus Halim. Darah predator absolut yang tidak betah dikurung dalam kegelapan maupun keputusasaan. Sepasang tinju mungil meronta liar menggores kulit dari balik belitan beludru kotor. Kuku tipisnya mencari jalan keluar memukul tulang rusuk ibunya sendiri.
Anak ini marah. Oksigen di bawah dekapannya terasa sesak. Dia butuh menangis untuk meluaskan paru-parunya.