NovelToon NovelToon
Hamil Anak Para Ceo Kaya

Hamil Anak Para Ceo Kaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Balas Dendam / CEO
Popularitas:20.7k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

Warning ***+

~~~

Mayang Puspita Sari, seorang lulusan SMP dari kampung, pindah ke ibu kota dengan tujuan menyelamatkan adiknya yang sakit keras dan menopang ekonomi keluarga. Setelah berjuang mencari pekerjaan di kota yang keras, ia akhirnya mendapatkan kesempatan sebagai ibu pengganti - pekerjaan yang memberinya hidup berkecukupan dan biaya pengobatan yang cukup untuk adiknya.

Seiring waktu, Mayang malah merasa senang dengan pekerjaannya karena semua keinginannya tercapai dan bayarannya sangat besar, meskipun ia tidak menyadari bahwa pilihan ini akan membawa konsekuensi emosional dan moral yang tidak terduga nanti.


~~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

26

***

Pagi itu, Menara Mega Kuningan menjadi saksi bisu runtuhnya sebuah parasit. Seperti yang dijanjikan Aditya, tiga mobil hitam tanpa plat nomor resmi berhenti di lobi.

Sekelompok pria bersetelan kaku dengan surat perintah penangkapan menerobos masuk ke penthouse. Baskara, . baru saja terbangun dengan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya, diseret keluar hanya dengan mengenakan kaus kutang dan celana pendek.

Mayang berdiri di balkon lantai atas, memegang cangkir kopi porselennya dengan tangan yang sangat stabil. Ia menyaksikan Baskara melolong, memaki, dan memohon belas kasihan saat tubuhnya didorong kasar ke dalam mobil. Tidak ada air mata. Hanya ada rasa puas yang dingin saat ia melihat pintu mobil itu tertutup, membawa pergi salah satu kesalahan terbesar dalam hidupnya.

Namun, kelegaan itu hanya bertahan beberapa detik. Sebuah pesan singkat masuk ke ponselnya.

“Pembersihan selesai, Nyonya M. Sekarang, saatnya penyerahan diri. Mobil jemputanku sudah ada di parkiran bawah. Jangan bawa apa-apa, kecuali tubuhmu yang indah itu.” Aditya.

Mayang memejamkan mata. Ia tahu, satu monster telah pergi, dan monster yang jauh lebih cerdas kini sedang membukakan pintu kandangnya.

**

Perjalanan menuju Puncak terasa seperti perjalanan menuju akhir dunia. Mobil mewah yang menjemputnya memiliki kaca yang sangat gelap, mengisolasi Mayang dari hiruk pikuk Jakarta yang mulai ia kuasai. Saat mobil itu memasuki gerbang sebuah vila tersembunyi yang dikelilingi kabut tebal dan hutan pinus, jantung Mayang berdegup kencang.

Vila itu bergaya arsitektur modern minimalis dengan dominasi kaca dan batu alam, namun atmosfernya terasa sangat purba. Begitu Mayang melangkah turun, ia segera menyadari ada yang salah.

"Di mana anak-anakku?" tanya Mayang langsung kepada kepala pelayan wanita yang menyambutnya dengan wajah tanpa ekspresi.

"Tuan Aditya sudah mengatur segalanya, Nyonya. Nona Aira dan Nona Rani berada di sebuah vila terpisah, hanya beberapa kilometer dari sini. Mereka dijaga oleh pengasuh terbaik dan tim keamanan medis," jawab wanita itu datar. "Tuan tidak ingin ada 'gangguan' suara tangisan bayi selama proses pemujaan berlangsung."

Mayang mengepalkan tinjunya. Aditya telah memutus urat nadinya. Tanpa anak-anaknya di sisinya, ia hanyalah seorang tawanan yang tidak memiliki daya tawar.

"Dia menyandera mereka," desis Mayang.

"Tuan menyebutnya sebagai 'manajemen fokus', Nyonya," sahut suara berat dari arah tangga.

Aditya muncul. Ia tidak lagi mengenakan setelan jas auditornya. Ia memakai jubah sutra berwarna gelap yang longgar, memperlihatkan aura dominasi yang selama ini ia sembunyikan di balik seragam negara. Ia berjalan mendekati Mayang, memegang sebuah kotak beludru kecil.

"Selamat datang di rumah barumu, Mayang. Atau harus kupanggil... rahimmku?" Aditya tersenyum, sebuah senyuman yang tidak mencapai matanya yang penuh obsesi.

**

Malam di vila itu sunyi, hanya suara gesekan dahan pinus yang tertiup angin. Aditya membawa Mayang ke sebuah ruangan luas yang hanya berisi sebuah tempat tidur besar di tengahnya, menghadap langsung ke lembah kabut melalui dinding kaca.

Aditya memaksa Mayang untuk menanggalkan seluruh pakaian mewahnya dan hanya mengenakan sehelai kain sutra tipis yang nyaris transparan. Ia ingin melihat setiap inci kulit Mayang, setiap bekas luka dari persalinan sebelumnya, seolah-olah ia sedang memeriksa sebuah kanvas yang akan segera ia lukis kembali.

"Kau tahu, Mayang," Aditya memutar segelas wiski tua, matanya menatap tajam ke arah perut Mayang yang rata. "Aku sudah memimpikan momen ini sejak aku melihatmu pergi dari desa. Aku membayangkan bagaimana rasanya menjadi pria yang menanamkan benihnya pada dewi yang dipuja oleh seluruh penguasa Jakarta."

Mayang mencoba berdiri tegak, meski kakinya gemetar. "Kau bilang kau berbeda dari mereka, Adit. Tapi kau menyandera anak-anakku. Kau memaksaku masuk ke sini. Kau sama menjijikkannya dengan Aris dan Gunawan."

Aditya tertawa pelan, suara tawanya terdengar kaku di ruangan yang luas itu. "Aku berbeda karena aku tidak butuh hartamu. Aku tidak butuh sahammu. Aku hanya butuh pengabdian murnimu. Aku ingin kau melahirkan putraku dengan cara yang paling terhormat... dan paling menyakitkan yang bisa kau tanggung. Aku ingin melihat rintihanmu menjadi doa bagiku."

Aditya melangkah maju, mencengkeram pinggang Mayang dan menariknya hingga tubuh mereka bersentuhan erat.

"Anak-anakmu akan aman, selama kau menjadi 'Dewi Kelahiran' yang patuh. Tapi jika kau mencoba melawan... mereka akan hilang dalam sejarah, seperti halnya Baskara yang kini sedang membusuk di sel bawah tanah."

Mayang merasakan napas panas Aditya di lehernya. Rasa muak menjalar di seluruh syarafnya, namun ia memaksakan diri untuk tetap tenang. Di balik rintihan yang mulai dipaksakan oleh sentuhan kasar Aditya, otak Mayang bekerja seperti mesin audit yang dingin.

"Jadi, apa langkah pertamamu, Tuan Auditor?" tanya Mayang dengan nada sinis yang menggoda, sebuah taktik lama yang ia pelajari dari dunia hitam Jakarta. "Apakah kau akan langsung menanamkan benihmu, atau kau ingin aku merintih terlebih dahulu?"

Aditya menatapnya dengan pandangan lapar. "Aku ingin kau sadar sepenuhnya bahwa mulai malam ini, rahimmu bukan lagi milik Rahayu Group. Ia adalah milikku. Aku ingin kau mengonsumsi ramuan kesuburan yang sudah disiapkan oleh dokter pribadiku. Aku ingin kehamilan ini menjadi yang paling sempurna."

****

Bersambung...

1
Mak e Tongblung
tiap bab selalu sama , tertindas lalu menuruti kemauan aditya terus berpikiran balas dendam. tapi bab selanjutnya gitu lgi tanpa ada pergerakan yg buat mayang bisa lepas dr aditya.
MARWAH HASAN
wehhh ini cerita menegangkan
Mak e Tongblung
Aira atau Laras nama anaknya
Uthie
Tertarik mampir 👍👍👍👍👍
Uthie
benar-benar jadi iblis 😌
Uthie
Waowww
Uthie
Gak mikir apa soal nantinya anak-anak tsb 😌
Uthie
hmmm
Uthie
mengejar dunia itu cuma ada kecapean yg tak berujung 😁
Uthie
Gila sihhh 😁
Uthie
menarik 👍😏
Uthie
Waowww
Uthie
Apakah akan selamanya??? 😏
Uthie
Hmmmm.... godaan dan ujian dunia😌
Uthie
coba mampir 👍👍
Heresnanaa_: hai kak, happy reading yaa🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!