Di kota yang kecil damai, sebuah pabrik mochi terkenal meluncurkan produk terbaru mereka yaitu mochi viral yang dalam sekejap menjadi sensasi di media sosial.
namun tidak ada yang tahu ,di balik manis itu tersimpan hal yang mengerikan.
shila menyaksikan sendiri bagaimana teman-teman nya yang makan mochi itu kejang-kejang dan hilang kendali. lalu berubah menjadi sesuatu yang bukan lagi manusia.
kota yang dulunya tenang berubah jadi neraka yang di penuhi oleh mereka.
terjebak di dalam sekolah dengan berapa teman nya yang selamat. shila harus mengambil keputusan :tetap sembunyi atau melarikan diri demi menemukan keluarga nya.
𝐊𝐚𝐦𝐮 𝐡𝐚𝐫𝐮𝐬 𝐭𝐞𝐫𝐮𝐬 𝐛𝐞𝐫𝐥𝐚𝐫𝐢... 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐬𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐬𝐚𝐭𝐮 𝐝𝐢 𝐚𝐧𝐭𝐚𝐫𝐚 𝐦𝐞𝐫𝐞𝐤𝐚!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ariyanteekk09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 28
Gibran berdiri di dekat jendela, matanya memperhatikan ke luar dengan serius. Di bawah sana, terlihat jelas para zombie mulai bergerak keluar dari gedung. Mereka berjalan bergerombol, seperti memiliki tujuan yang sama.
“Sayang, ayo kita cari orang yang selamat. Siapa tahu masih ada,” ajak Gibran pelan.
Shila yang berdiri di belakangnya terlihat ragu.
“Apa para zombie itu sudah pergi, sayang?”
Gibran mengangguk yakin.
“Sudah. Ayo kita keluar… ternyata benar, selama ini mereka bersembunyi di sini.”
Tanpa membuang waktu, pasangan suami istri itu pun keluar dari unit milik Aira. Mereka sengaja tidak mengajak Aira, membiarkan gadis itu tetap di dalam untuk mengenang barang-barang orang tuanya.
Di sisi lain, Riska juga bersiap keluar. Ia menggenggam tangan April dan Airin dengan erat.
“Ayo, kita keluar sekarang,” ucap Riska tegas.
Keduanya mengangguk, meski terlihat takut.
Ceklek…
Pintu mereka terbuka bersamaan dengan pintu unit sebelah.
Semua langsung terdiam.
Ternyata… unit yang ditempati Riska selama ini bersebelahan dengan apartemen milik Aira.
“Shila…” panggil Riska pelan.
Deg.
Shila membeku di tempat. Ia tak kalah
terkejut melihat sosok di depannya.
“Tante…” lirihnya.
Mereka saling menatap cukup lama, seolah memastikan satu sama lain bukan ancaman.
“Kalian manusia, kan?” tanya Airin polos.
Gibran tersenyum tipis.
“Iya, kami manusia. Ternyata masih ada yang belum jadi zombie.”
Riska menghela napas lega.
“Tante nggak nyangka ketemu kalian di sini…”
“Tante ada di sini juga ternyata,” ucap Shila masih belum sepenuhnya percaya.
Riska langsung menatapnya serius.
“Kamu ngapain di sini, Shila? Ini bukan tempat yang aman.”
Shila menegakkan bahunya.
“Aku dan suamiku memang sengaja datang ke sini, Tante. Kami mau cari tahu semuanya.”
“Astaga, Shila… kamu cari mati,” kata Riska cemas.
“Zombie-zombie di sini itu berbahaya. Nggak sama seperti yang ada di kota kita.”
Shila mengangguk pelan.
“Aku tahu kok, Tante… Tante selama ini tinggal di sini?”
“Iya,” jawab Riska. “Tante tinggal di sini. Mereka ini April dan Airin. Mereka juga terjebak di apartemen ini… dan orang tua mereka sudah berubah jadi zombie.”
April menunduk, sementara Airin memeluk lengannya erat.
Suasana mendadak hening. Pertemuan tak terduga itu membuat mereka sadar…
Mereka tidak sendirian.
Namun di tempat seperti ini bertemu manusia lain bukan hanya soal keberuntungan… tapi juga awal dari bahaya yang lebih besar.
Pertemuan itu terasa canggung sekaligus menegangkan. Lorong apartemen yang sunyi kini dipenuhi tatapan penuh tanya di antara mereka.
Shila masih menatap Riska, seakan tidak percaya bisa bertemu di tempat seperti ini. Sementara Gibran berdiri di samping istrinya, tetap waspada, matanya sesekali melirik ke ujung lorong.
April menggenggam erat tangan Airin, bersembunyi sedikit di belakang Riska.
“Aku kira… sudah nggak ada lagi yang selamat di sini,” ucap Gibran pelan.
Riska menghela napas panjang.
“Masih ada… tapi nggak banyak. Dan yang bertahan… harus benar-benar hati-hati.”
Airin menatap Gibran dan Shila dengan polos.
“Kalian mau pergi ya?”
Shila tersenyum tipis, berusaha menenangkan.
“Iya… rencananya kita mau cari orang lain yang mungkin masih selamat.”
April langsung menggeleng cepat.
“Jangan sekarang…” Semua mata tertuju padanya.
“Kenapa?” tanya Gibran.
April menelan ludah, lalu berkata pelan,
“Kalau mereka keluar malam… itu bukan berarti aman…”
Gibran mengernyit.
“Maksudnya?”
Riska melanjutkan dengan suara serius,
“Zombie di sini beda. Mereka bukan pergi tanpa tujuan… mereka seperti… dipanggil.”
Deg.
Shila dan Gibran saling pandang.
“Dipanggil?” ulang Shila.
Riska mengangguk pelan.
“Setiap tengah malam, mereka keluar berkelompok… tapi sebelum subuh, mereka kembali lagi ke dalam gedung.”
“Ke dalam?” Gibran mulai merasa ada yang tidak beres.
“Iya,” jawab Riska. “Seolah-olah… apartemen ini adalah sarang mereka.”
Suasana langsung berubah tegang.
Airin memegang tangan kakaknya lebih erat.
“Dan kalau ada manusia yang ketahuan keluar…”
April melanjutkan dengan suara bergetar,
“Mereka bakal ngejar… bareng-bareng.”
Gibran terdiam sejenak, lalu menghembuskan napas.
“Berarti tadi… kita hampir bikin kesalahan.”
Shila mengangguk pelan.
“Iya… kita kira mereka benar-benar pergi.”
Riska menatap mereka dengan serius.
“Kalian beruntung masih hidup sampai sekarang.”
Beberapa detik semua terdiam.
Lalu Shila melangkah sedikit mendekat ke Riska.
“Tante… kita nggak bisa terus sembunyi,” ucapnya tegas.
“Kita harus cari tahu siapa dalang di balik semua ini.”
Gibran menambahkan,
“Dan kami yakin… semua ini ada hubungannya sama seseorang.”Riska menatap mereka dalam-dalam.
“Siapa?”
Shila menjawab tanpa ragu,
“Rainal.”
Nama itu membuat suasana semakin berat.
Riska tampak terkejut.
“Rainal…? Jadi benar… ini semua ulah manusia?”
Gibran mengangguk.
“Dan dia mungkin ada di gedung ini.”
April langsung panik.
“Kalau begitu kita harus pergi dari sini!”
Namun Shila menggeleng.
“Justru sebaliknya…” katanya pelan.
“Kalau pusatnya di sini… kita nggak boleh kabur.”
Gibran tersenyum tipis.
“Kita hancurin dari dalam.”
Airin menatap mereka dengan mata besar.
“Kalian… berani banget…”
Shila menunduk sedikit, lalu tersenyum tipis.
“Bukan berani… tapi terpaksa.”
Riska akhirnya menghela napas panjang.
“Kalau begitu… kita harus kerja sama,” ucapnya.
Gibran mengangguk.
“Setuju.”
Shila menatap satu per satu wajah di depannya—Riska, April, dan Airin.
Kini mereka bukan lagi orang asing.
Mereka adalah… orang-orang yang selamat.
Namun tanpa mereka sadari… Di ujung lorong yang gelap…
Sepasang mata kosong memperhatikan mereka. Diam. Tidak bergerak.Seolah sedang…mengawasi.
******
teguh, rainal dan satu orang seumuran dengan pak heru menuju apartemen, ternyata di sana ada ruang bawah tanah tempat di jadikan laboratorium oleh rainal.
"mas duluan aja kesana, aku mau bertemu dengan riska dulu" kata teguh.
"ayok kita kesana bersama karena du unitmu lah pintu masuk ke laboratorium itu" kata rainal.
"baiklah" teguh langsung mengirim pesan pada riska tentang dia pulang.
tingg
"*sayang aku sudah di depan bersama mas rainal.. tolong siapkan minuman*".
setelah membaca pesan teguh, riska langsung khawatir dan tidak bisa menghilangkan kecemasan nya.. shila pun menyadari itu.
" kalian sembunyi dulu. prof teguh akan sampai sebentar lagi.. tante tahu kamu penasaran shila.. tante akan cerita kan semua nya bukan sekarang " jelas riska.
"aku tunggu tante.. april, airin ayok ikut kami masuk kesini. tenang aja kalian aman" ajak shila.
April menatap riska untuk bertanya dan riska langsung mengangguk. dia tidak mau teguh tahu kalau ada yang selamat selain dirinya.
"ini tante pakai. kami akan pantau dari kamar sebelah" shila memberikan riska cincin yang ada camera nya.. tidak ada yang tahu di cincin itu ada camera.
shila dan yang lainya pun segera masuk kembali ke apartemen aira, sedangkan riska kembali juga ke unit nya dengan campur aduk.
"Tuhan tolong lindungi anak-anak itu.. mereka jangan sampai ketahuan oleh teguh dan yang lainnya" doa riska.