[cp akan terlambat]
negara : Indonesia
sinopsis:
Mati setelah seumur hidup bekerja sendirian itu melelahkan. Ketika Olyvia Arabella membuka mata, ia kembali ke usia 20 tahun—tepat saat calon ibu mertua menyodorkan amplop "uang perpisahan" yang ternyata hanya berisi seratus ribu. Dunia sudah gila: nilai uang menurun 10.000 kali lipat, dan hanya Olyvia yang sadar karena rekening bank masa depannya ikut terbawa. Sekarang ia menjadi satu-satunya konglomerat di dunia yang mendadak miskin. Tapi kekayaan tak membuat hidupnya lebih mudah, terutama saat para pria dari masa lalunya kembali—kali ini dalam keadaan jauh lebih melarat. Balas dendam tak cukup dengan uang. Tapi setidaknya, Olyvia bisa membeli waktu untuk memilih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teman China Ingin Berkunjung ke Indonesia
Malam itu Olyvia sedang duduk di ruang kerjanya, ditemani secangkir teh melati dan suara gemericik air dari kolam renang yang terdengar samar melalui jendela kaca. Ia baru saja menyelesaikan satu modul penting dari proyek AI-nya ketika ponselnya bergetar dengan pola yang tidak biasa.
Getaran panjang. Panggilan video grup dari WeChat.
Olyvia mengerutkan kening. Siapa yang meneleponnya lewat WeChat? Hanya teman-teman lamanya dari China yang punya kontaknya di sana. Tapi ia sudah lama tidak aktif. Setahun lebih.
Ia melirik layar. Nama-nama yang muncul di sana membuat jantungnya berdetak lebih cepat.
Liu Meixiang, Zhao Lihua, Sun Xiaowen, Wu Yating, Zhang Wei, Wang Junjie, dan... Xiao Han.
Tujuh nama. Tujuh teman yang ia kenal saat program pertukaran mahasiswa di Shanghai dua tahun lalu. Mereka semua satu jurusan Artificial Intelligence, satu kelompok riset, satu circle pertemanan. Mereka adalah orang-orang yang membuat Olyvia jatuh cinta pada budaya China, pada bahasa Mandarin, dan pada mimpi-mimpi besar di dunia teknologi.
Dan sekarang mereka meneleponnya. Bersamaan.
Ya Tuhan. Ini serius?
Olyvia buru-buru merapikan rambutnya, menarik napas dalam, lalu menekan tombol hijau.
Layar terbelah menjadi delapan kotak kecil. Satu per satu wajah-wajah familiar itu muncul. Ada yang di kamar, ada yang di perpustakaan, ada yang di kafe. Dan semuanya langsung bereaksi begitu melihat Olyvia.
(disini karena Videocall, pakai bahasa Indonesia aja lah ya. Malas bolak-balik ke google translate)
Liu Meixiang , gadis dengan rambut bob pendek dan mata bulat besar, langsung menjerit histeris. "OLYVIA! OMG! AKHIRNYA KAMU ONLINE!"
Zhao Lihua , yang berkacamata dan selalu tampak tenang, ikut tersenyum lebar. "Kita pikir kamu sudah mati. Setahun gak ada kabar."
Sun Xiaowen , si centil dengan suara lembut, menimpali. "Kita kirim pesan gak dibalas. Telepon gak diangkat. Kita sampai mau lapor polisi internasional."
Olyvia tertawa, tapi ada rasa bersalah di hatinya. "Maafin aku. HP lamaku rusak. Gak bisa install WeChat lagi. Aku baru beli HP baru minggu lalu."
Wu Yating , yang paling pendiam dan anggun, mengangguk paham. "Kita khawatir, Oly. Kamu baik-baik saja kan?"
Olyvia mengangguk. "Baik. Sangat baik, malah."
Zhang Wei , cowok tinggi dengan wajah jenaka, menyela. "Eh, bentar. Gue perhatiin... lo kok beda ya, Oly? Maksud gue... lo cantik banget sekarang."
Semua mata di layar langsung tertuju pada Olyvia. Ia bisa melihat mereka semua menyipitkan mata, mendekatkan wajah ke kamera, dan menatapnya dengan ekspresi tidak percaya.
Wang Junjie , cowok berkacamata yang selalu jadi penengah, ikut mengamati. "Zhang Wei bener. Lo kelihatan... glowing? Itu istilahnya ya?"
Liu Meixiang memotong. "GLOWING BANGET! Oly, lo inget gak dulu pas di Shanghai kita selalu bilang lo itu cantik alami cuma kurang perawatan. Kita sampe rencana mau bawa lo ke dokter kecantikan dan spa. Tapi lo nolak terus karena katanya pacar lo gak suka lo kelamaan di luar."
Nama "pacar" langsung membuat ekspresi Olyvia sedikit berubah. Tapi ia cepat tersenyum lagi. "Aku inget. Dan aku nyesel dulu nolak ajakan kalian."
Zhao Lihua mengangkat alis. "Nyesel? Kenapa?"
Olyvia menghela napas. "Ceritanya panjang. Tapi intinya... aku udah putus sama pacarku."
Keheningan sejenak. Tujuh wajah di layar menatapnya dengan berbagai ekspresi. Simpati, terkejut, dan... satu wajah yang susah payah menahan sesuatu.
Xiao Han.
Pria itu duduk dengan tenang di sudut layarnya, mengenakan kemeja putih sederhana. Rambut hitamnya sedikit berantakan, rahangnya tegas, matanya teduh tapi tajam. Ia adalah tipe pria yang tidak perlu banyak bicara untuk membuat orang menoleh. Selama ini ia hanya diam, sesekali tersenyum kecil mendengar celotehan teman-temannya. Tapi begitu Olyvia mengucapkan kata "putus", ada kilatan di matanya yang tidak bisa ia sembunyikan.
Olyvia tidak menyadarinya. Ia terlalu sibuk menanggapi reaksi heboh yang lain.
Liu Meixiang berseru, "PUTUS?! Pacar lo yang dulu selalu ngatur-ngatur itu? Yang gak suka lo keluar malam? Yang bikin lo buru-buru pulang ke Indonesia tanpa ikut kita ke spa?!"
"Iya, dia."
Wu Yating menggeleng pelan. "Aku selalu bilang dia bukan orang yang tepat buat kamu."
Sun Xiaowen menimpali, "Oly, jujur ya. Dulu pas kita ketemu pacarmu waktu dia video call, kita semua udah gak suka. Dia kayak... gimana ya... terlalu mengontrol."
Zhang Wei mengangguk setuju. "Gue juga. Mukanya kayak orang gak tulus. Senyumnya dibuat-buat."
Wang Junjie menambahkan, "Tapi kita gak enak ngomong. Lo kelihatan cinta banget sama dia."
Olyvia menghela napas. "Aku bodoh dulu. Sekarang aku udah sadar. Dan aku udah move on. Benar-benar move on."
Ia melihat sekilas ke arah Xiao Han. Pria itu masih diam, tapi sudut bibirnya sedikit terangkat. Hampir tidak terlihat, tapi Olyvia yang sekarang lebih peka menangkapnya.
Tunggu, Apa dia... Terlihat senang?
Liu Meixiang mengalihkan pembicaraan. "Oke, lupakan mantan. Sekarang kita mau bahas yang penting. Oly, lo sekarang tinggal di mana?"
"Surabaya. Kota terbesar kedua di Indonesia."
Zhao Lihua membuka sesuatu di layarnya. "Surabaya... penerbangan dari Shanghai ada langsung gak ya?"
Olyvia mengerutkan kening. "Penerbangan? Kalian mau kemana?"
Wu Yating tersenyum misterius. "Ke Surabaya, Oly. Ke rumah lo."
Olyvia terbelalak. "HAH?!"
Sun Xiaowen bertepuk tangan kegirangan. "Kita udah rencana dari bulan lalu! Kita mau liburan bareng lagi kayak dulu. Dan karena lo gak bisa ke China, kita yang ke Indonesia!"
Zhang Wei menyeringai. "Gue udah cari info. Dari Shanghai ke Surabaya ada penerbangan langsung. Cuma butuh waktu enam jam."
Wang Junjie mengangguk. "Kita berangkat bulan depan. Pas lo libur semester. Kita mau seminggu aja kok."
Olyvia masih tidak percaya. "Kalian serius? Tujuh orang sekaligus?"
Liu Meixiang mengangguk semangat. "Serius! Kita udah kangen banget sama lo. Setahun gak ada kabar, kita pikir lo ilang ditelan bumi. Begitu lo muncul lagi dengan wajah glowing dan kabar lo udah jomblo, kita makin penasaran!"
Wu Yating menambahkan dengan nada lebih tenang, "Kita mau lihat hidup lo sekarang, Oly. Kita mau jalan-jalan di Surabaya. Lo bisa jadi tour guide kan?"
Olyvia tertawa, kali ini tawa bahagia. "Tentu! Kalian mau ke mana aja? Aku anterin."
Sun Xiaowen langsung heboh. "Aku mau ke pantai! Pantai di Indonesia kan cantik-cantik!"
Zhang Wei menimpali, "Gue mau coba makanan lokal. Yang pedes-pedes."
Wang Junjie mengangkat tangan. "Gue mau lihat kampus lo. Siapa tau bisa kolaborasi riset."
Zhao Lihua menatap Olyvia dengan senyum. "Aku cuma mau ngobrol panjang sama lo. Kayak dulu."
Dan Xiao Han... ia akhirnya membuka suara. Suaranya dalam, tenang, dengan aksen Mandarin yang lembut. "Aku mau lihat apa yang bikin kamu berubah, Olyvia. Kamu terlihat... berbeda. Lebih hidup."
Olyvia menatap Xiao Han lewat layar. Ada sesuatu dalam nada bicaranya yang membuat dadanya sedikit hangat. Dia selalu begitu. Dulu juga. Pendiam, tapi kata-katanya selalu tepat sasaran.
"Aku tunggu kalian semua," kata Olyvia akhirnya. "Aku akan siapkan semuanya. Tempat tinggal, transportasi, itinerary. Kalian tinggal duduk manis."
Liu Meixiang bersorak. "YES! Oly emang yang terbaik!"
Mereka mengobrol lebih lama, merencanakan detail kunjungan. Tanggal, durasi, tempat yang ingin dikunjungi. Olyvia mendengarkan dengan antusias, sesekali memberi masukan. Di sela-sela obrolan, ia melirik Xiao Han yang lebih banyak diam, tapi matanya tidak pernah lepas dari layar.
Dia dulu suka sama gue. Gue tau. Tapi gue terlalu buta sama Arjuna buat nyadar. Sekarang?
Ia menggelengkan kepala pelan. Oly, fokus. dia itu cuman temen. Jangan geer.
Setelah hampir satu jam, panggilan video akhirnya ditutup dengan janji untuk terus berkomunikasi. Olyvia menatap layar ponselnya yang kini kembali ke halaman utama. Senyum masih mengembang di bibirnya.
Teman-teman gue dari China mau datang. Ke rumah gue. Ke istana gue.
Ia menatap sekeliling ruang kerjanya yang mewah. Lalu membayangkan reaksi mereka saat melihat rumahnya.
Mereka bakal shock. Terutama Liu Meixiang. Dia pasti bakal teriak-teriak histeris lagi.
Ponselnya bergetar. Kali ini pesan pribadi dari Xiao Han.
Xiao Han: Olyvia, wo hen gao xing ni xian zai guo de hen hao. (Aku sangat senang kamu sekarang hidup dengan baik.)
Olyvia membalas.
Olyvia: Xie xie ni, Xiao Han. Wo ye hen qi dai jian dao ni men. (Terima kasih. Aku juga sangat menantikan bertemu kalian.)
Xiao Han: Wo... ye hen qi dai. (Aku... juga sangat menantikan.)
Olyvia menatap pesan itu. Ada jeda aneh sebelum kata "ye". Seolah Xiao Han ingin mengatakan sesuatu yang lain, tapi menahannya.
Atau gue yang terlalu banyak mikir?
Ia meletakkan ponsel dan berjalan ke tepi kolam renang. Malam itu, bulan purnama menggantung rendah di langit Surabaya. Angin malam membawa aroma bunga dari taman tropisnya.
Bulan depan rumah ini bakal rame. Tujuh tamu dari China. Gue harus siapin kamar. Untung ada tujuh kamar tidur utama.
Ia tersenyum membayangkan ekspresi teman-temannya saat melihat istananya. Tapi ada satu bayangan lain yang mengganggu pikirannya. Bayangan Xiao Han yang menatapnya dengan mata teduh dan kata-kata yang selalu tepat sasaran.
Gue gak boleh baper. Dia itu cuma temen. Temen yang dulu suka sama gue. Yang sekarang mungkin masih suka. Tapi...
Ia menggelengkan kepala dan memutuskan untuk berenang. Air kolam yang dingin mungkin bisa mendinginkan pikirannya yang tiba-tiba kacau.